Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 71


__ADS_3

Areno menghampiri Arani yang baru saja keluar dari kelas hendak bergegas ke kantin untuk mengisi perutnya.


“Eh Areno, kenapa?”


“Ran, kamu kenapa udah berangkat duluan dan nggak bilang sama aku sih?”


Areno meraih tangan Arani yang akan bergegas ke kantin di jam istirahat. Tadi Areno terlambat jadi belum bisa langsung bicara pada Arani tentang alasan Arani yang tidak mau berangkat bersamanya.


“Kamu kenapa nggak mau berangkat sama aku? Hmm? Kamu berangkat duluan, terus kamu nggak bilang,”


“Aku lagi mau berangkat ke sekolah sama Papa, emang salah ya?”


“Ya nggak salah, Aranique,” ujar Areno sambil mengusap salah satu wajah Arani dengan lembut sambil berkata “Tapi paling nggak, kamu ngomong dong biar aku nggak kaget gitu pas sampai rumah kamu. Tadi untungnya aku kebetulan ketemu sama Ria, dan Ria yang kasih tau aku kalau kamu udah berangkat sama Papa kamu, kata Ria, kamu juga punya alasan berangkat sendiri. Kamu bilang, aku lagi nggak sekolah. Kamu bohong banget. Jelas-jelas aku nggak ngomong gitu,”


“Ya makanya udah sih, nggak usah datang-datang ke rumah aku bisa nggak? Kita perginya sendiri-sendiri aja. Soalnya aku lagi pengen berangkat sama Papa jadi ya udah aku bilang aja kamu nggak sekolah biar aku nggak sama kamu,” ujar Arani yang mengundang tawa kecil Areno.


“Tapi aku pengen antar jemput kamu. Emang kenapa sih? Kamu marah sama aku ya? Hmm? Aku minta maaf deh kalau gitu. Tolong jangan marah lagi ya,”


“Aku udah maafin, tapi jujur aku masih kesal tau,”


“Apa sih? Siapa yang marah? Orang aku nggak marah sama kamu kok,”


“Ya udah bagus kalau begitu,”


“Padahal aku pengen berangkat bareng kamu tapi kamu nya malah udah berangkat duluan,”


“Aku lagi pengen berangkat sama Papa, jangan ganggu quality time aku sama Papa deh,”


“Aku nggak ganggu kok, kalau kamu bilang ya udah aku berangkat sendiri nggak usah jemput kamu tapi masalahnya kamu nggak bilang,”

__ADS_1


“Ya udah lah nggak usah dibahas lagi, aku mau pergi ke kantin dulu,”


Areno langsung menghalangi langkah kaki kekasihnya. Arani langsung berdecak pelan. Sebenarnya apa lagi yang diinginkan Areno? Mereka sudah baik-baik saja dan sebenarnya sebelum ini memang baik-baik saja ‘kan? Tapi kenapa Arani mau ke kantin sendiri tidak mengajaknya? Areno jadi kesal sekarang.


“Kenapa lagi sih? Aku mau ke kantin, lapar nih,”


“Ayo sama aku,”


Arani diam sebentar menatap Areno dengan tatapan datar. Melihat tatapan Areno yang sepertinya berharap sekali Ia mengangguk, Arani langsung berdecak.


“Ngapain mau ke kantin juga?”


“Ya makan lah, Cantik, masa mau—“


“Ya udah deh ayo,”


Arani merotasikan bola matanya yang mengundang tawa sang kekasih. Tanpa mengatakan apapun lagi Arani bergegas ke kantin.


Areno segera menyusul dengan cepat. Dan tanpa aba-aba merangkul bahu Arani namun Arani langsung mengusir tangan Areno dari bahunya.


“Ih emang kenapa sih? Kok nggak mau aku rangkul? Padahal aku rangkul doang,”


“Nggak mau, ngapain sih? Ini ‘kan di sekolah,”


“Eh iya lupa, lagi di sekolah ya?”


Areno langsung menjauhkan lengannya dari bahu sang kekasih kemudian terkekeh pelan. “Ya udah deh daripada tambah badmood ya ‘kan, lebih baik jalan sendiri-sendiri aja,”


“Aku nggak badmood. Tapi kalau kamu ganggu aku, ya aku bakal badmood lah,”

__ADS_1


“Emang siapa yang mau ganggu sih, Ran? Duh kamu pikirannya negatif deh ke aku,”


“Udah ah, ngobrol sama kamu bisa nggak selesai-selesai. Perut aku udah lapar nih, mau ngisi perut di kantin,


Arani dan Areno berjalan ke kantin bersamaan. Arani duduk di salah satu kursi, dan Areno menyusul duduk berhadapan dengan Arani. “Mau pesan apa?” Tanya lelaki itu pada perempuan yang tiba-tiba Ia jadikan pacar karena membuatnya tertarik, walaupun mereka tidak dekat sama sekali di awal.


“Nasi goreng,”


“Nasi goreng aja? Terus minumnya apa?”


“Minumnya es teh,”


“Okay tunggu bentar ya, aku pesan dulu,”


“Eh aku mau takoyaki juga deh,”


“Iya aku pesenin,”


“Tapi bayar sendiri-sendiri aja, jangan kamu yang pesenin, tapi kamu juga yang bayar. Kalau kamu mau bayarin, berarti nggak usah pesenin aku. Biar aku sendiri yang pesan,”


“Heh jangan! Aku aja yang pesen, iya bayar sendiri-sendiri, tenang aja,”


“Jangan iya-iya doang kamu. Aku ikut deh pesannya,”


“Jangan, nanti kursinya diambil lho,”


“Ya nggak apa-apa, ambil aja, masih ada tempat lain,”


Daripada lelaki itu yang membayar, lebih baik Arani ikut memesan, sekaligus membayar. Ia tidak mau Areno mengeluarkan uang terus untuknya. Semalam dibelikan brownies dan hampir saja seblak yang Ia beli bersama adiknya dibayarkan oleh Areno juga.

__ADS_1


__ADS_2