Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 45


__ADS_3

“Nggak ada lah, baru sama kamu doang,”


Arani menganggukkan kepalanya. Ia percaya-percaya saja. Ia hargai penjelasan kekasihnya itu. Lagipula kalaupun bohong Ia tidak mau ambil pusing.


Pesanan mereka datang dan mereka langsung berdoa bersama kemudian menyantap mie ayam yang sudah menggoda sejak disajikan di atas meja oleh pelayan kantin.


“Hmm bikin mata aku ijo ngeliatnya,”


“Jadi mata ijo tuh bukan cuma kalau ngeliat uang aja ya?”


“Nggak, ngeliat makanan juga bisa ijo kalau mata aku ya, nggak tau mata orang lain. Ijo juga atau bisa warna warni kayak pelangi,”


Areno tertawa mendengar itu dan tanpa sengaja Ia tersedak. Arani langsung sigap memberikan air minum.


“Duh, makanya hati-hati, Areno. Jangan ketawa dulu bisa nggak sih? Bikin panik aja,”


Areno berusaha menahan tawa yang sebenarnya belum habis tapi karena Ia tak mau tersedak lagi jadi Ia berusaha untuk menahan tawanya itu.


“Ya gimana nggak ketawa ya. Kamu lucu banget sih abisnya “


“Lucu darimana coba? Emang aku ngelucu ya barusan?”


“Ya nggak sih. Eh tapi kamu khawatir ya sama aku?” Tanya Areno sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang kekasih yang barusan Ia lihat memang benar-benar panik ketika Ia tersedak. Bahkan sampai berdiri dengan posisi membungkuk ke arahnya menyerahkan air minum. Dari ekspresi wajah saja tidak bisa dibohongi kalau Arani tadi memgkhawatkrkan dirinya.


“Nggak,”


“Duh aku kok punya pacar gengsinya gede banget ya,”


“Ya iyalah aku khawatir. Pake nanya lagi. Aku takut kamu kenapa-napa lho,”


“Makasih perhatiannya tapi aku baik-baik aja kok,” ujar Areno sambil menyentuh lembut punggung tangan Arani yang berada di atas meja sebelah dengan mangkuk mie ayamnya.


“Makanya jangan ketawa dulu, ngobrol juga dilarang sebenarnya,”


“Tapi aku nggak bisa kalau nggak sambil ngobrol sama kamu,”


“Hmm iya sama sih. Aku nggak begitu suka hening kalau makan. Sukanya ada obrolan dikit-dikit gitu, biar kerasa makin hangat. Ya walaupun itu nggak boleh ya? Baiknya makan tuh diam nggak ngomong,”


“Iya baiknya sih gitu cuma emang ada yang kurang gitu kalau misalnya kita nggak ngobrol,”


Arani mengangguk membenarkan ucapan kekasihnya itu. Ia dibua terkejut ketika tiba-tiba Areno menyentuh sudut bibitnya sambil terkekeh.


“Kamu makan berantakan nih,”


“Oh iya maaf,”


“Nggak apa-apa, malah lucu,”


“Kayak bebek ya?”


“Aku nggak ngomong gitu lho ya,”


“Hahahaha langsung takut gitu sih,”


“Yantakut kamu salah paham. ‘Kan nggak enak kalau salah paham,”

__ADS_1


“Eh kamu nggak follback instagram adek kelas tadi sekarang aja?”


Areno sampai tersedak mendapat pertanyaan itu. Arani sampai geleng-geleng kepala. Selama makan dengannya, sudah dua kali Areno tersedak.


“Ini sebenarnya kamu karena makan sama aku atau gimana? Kok batuk mulu jadinya?”


“Ya abisnya aku kaget dengar kamu ngomong gitu,”


Areno langsung meneguk air minum dengan rakus dan setelah rasa gatal di tenggorokan dan panas di hidungnya hilang, barulah Ia mendekatkan telunjuknya dengan bibir.


“Kenapa?“ tanya Arani.


“Kayaknya emang nggak ditakdirin ngomong deh,”


Arani menahan tawanya. Ternyata Areno sekarang jera bicara. Ingin fokus makan saja dan itu bagus juga bagi Arani.


Setelah bicara, dan minum barulah Areno kembali mengajak kekasihnya itu bicara. “Dah, aman nggak keselek lagi,”


Arani juga sudah selesai makan dan minum. Ia menghembuskan napas lega sambil mengusap perutnya yang terasa kenyang.


“Nah kalau udah makan jadi boleh ngobrol deh, nggak takut keselek lagi. Kamu sih malah nanyain soal instagram itu. Aku jadi keselek untuk yang kedua kalinya,”


“Ih kok nyalahin aku sih?”


“Ya kamu ngapain tanya itu tiba-tiba?”


“Emang salah ya?”


“Ya…nggak sih. Tapi aku nggak follback mereka deh, kalau yang aku follow back cuma satu orang nanti yang lain gimana?”


“Ya ampun yang artis, banyak bener kayaknya yang belum di follow back,”


Areno tertawa mendengar kekasihnya mengejek. Ia tidak membenarkan banyak orang yang tidak Ia ikuti balik atau Ia follow back.


“Coba aku liat siapa aja yang belum di follow back,”


“Dikit lah, aku bukan artis,”


“Kamu sombong ih,”


“Sombong itu nggak bisa dinilai hanya dari sosial media, pacarku yang cantik,”


“Ya lagian kenapa nggak pada di follow back?”


“Yang aku follow back biasanya yang aku kenal aja, nah kalau sebaliknya ya nggak. Aku rasa banyak orang juga begitu deh. Aku juga follow instagram orang yang aku kenal, kalau yang nggak kenal nggak usah,”


“Artis-artis nggak difollow gitu?”


“Sejauh ini belum follow artis,”


“Tokoh-tokoh besar gitu?”


“Oh ada kalau itu ya paling pemain bola. Itu aja sih yang kita nggak saling kenal tapi aku follow. Lagian aku jarang banget buka akun instagram aku. Males aktif sosmed,”


“Ya pantes sih, namanya juga cowok ya. Emang jarang yang suka sosmed,”

__ADS_1


“Follow back dong, ‘kan yang pada follow pasti cewek-cewek cantik,”


“Nggak ah, kan nggak kenal, nanti yang ada di mata-matain aku nya. Lagian nggak usah cari yang cantik, orang di depan aku udah cantik banget,”


“Dih, kok bucin banget sih?”


“Oh iya dong,”


“Kamu sendiri banyak follow cowok ganteng ya? Nggak apa-apa deh. Yang penting aku pemenang nya, iya ‘kan?”


“Hahaha sok tau, sosmed aku juga cuma buat teman-teman,”


“Oh sama ternyata. Bagus deh kalau gitu, biar yang asing jauh-jauh, eh tapi yang nggak asing juga jangan dekat deh,”


“Dih posesif banget,”


“Nggak, Cantik,”


“Yuk masuk kelas,”


Areno mengulurkan tangannya ke arah Arani yang sudah berdiri hendak meninggalkan kantin.


“Apa?”


“Gandeng dong,”


“Lah pake gandeng segala. Emang kita truk gandeng,”


“Iya nggak apa-apa, ayo buruan gandneg tangan aku,”


“Harus? Eh ini di sekolah lho,”


“Ya cuma gandeng doang bentar. Ah kelamaan banget kamu,”


Akhirnya Areno yang inisiatif meraih tangan kekasihnya lalu mereka berjalan meninggalkan kantin menuju kelas.


“Areno, diliatin yang lain. Nggak enak tau,”


Arani hendak melepaskan tangan Areno karena merasa diperhatikan oleh siswa-siswa lain. Arani tidak nyaman dengan itu makanya Ia ingin lepaskan genggaman tangan Areno akan tetapi Areno tetap menggenggam tangan kekasihnya itu.


“Areno—“


“Ya emang kenapa sih? Suka-suka aku lah,”


“Ih jangan gini, nggak enak diliatin mereka tau,”


“Ya mereka biar tau juga kalau aku mih pacar kamu,”


“Ih nggak perlu juga kali orang tau,”


“Lho emang kenapa?”


“Tapi kayaknya mereka udah pada tau deh,”


“Ya udah biar makin tau,”

__ADS_1


“Ih ampun deh, Areno. Kenapa jadi lebay gini? Aku malu tau,”


Arani masih merasa tidak nyaman ketika ada yang memperhatikan mereka selama berjalan ke kelas karena Areno masih menggenggam tangannya.


__ADS_2