
“Yeay ketemu sama kakak!”
Ria langsung memeluk kakaknya yang baru saja turun dari bus. Ria erat-erat memeluk kakak satu-satunya itu.
“Kakak gimana kabarnya?”
“Baik, ah nggak usah nanya gitu orang cuma pergi sehari,”
“Ih tapi ‘kan tetap aja aku penasaran kakak gimana kabarnya,”
“Iya baik, Dek,”
“Eh Nak itu kaki kamu kenapa?”
Helen baru sadar kalau di atas kaos kaki anaknya terlihat ada sedikit perban. Rasa khawatir muncul, begitu Radi dan Ria yang kaget melihat kaki Arani ada perbannya. Walaupun tertutupi oleh kaos kaki tapi tetap maish ada perban yang kelihatan.
“Kaki aku baik-baik aja, cuma seidkit sakit jadinya pakai perban deh biar hangat aja gitu maksudnya makin sembuh deh nanti,”
“Ya Allah, sakit kenapa? Kok bisa sih?”
“Tante, Om,“
Tiba-tiba Salsa mernagkul Arani dan menyapa orangtua Arani. Salsa mencium tangan Helen dan Radi kemudian tersenyum.
“Sebelumnya aku minta maaf. Aku kemarin itu nggak sengaja jatuhin kayu ke kakinya Arani,”
“Ya Allah, Nak,” Helen langsung membelalakkan kedua matanya. Ia semakin cemas. Sebagai orangtua khususnya Ibu, tidak mungkin bisa tenang setelah tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku nggak sengaja ngelakuin itu,”
“Jadi Salsa itu udah bilanga was sama aku, Ma, Pa tapi aku nya tetap mutar badan aku terus akhirnya nggak sengaja nabrak Salsa dan semua yang Salsa bawa jatuh deh. Tapi tenang aja, kaki aku nggak sakit lagi kok. Ini dipakein perban sama Salsa supaya makin hilang sakitnya,”
Tadinya Arani tidak mau memceritakan kejadian sesungguhnya pada Helen maupun Radi. Tapi karena Salsa tiba-tiba datang dan berkata jujur, akhirnya mau tidak mau Arani juga terbuka.
“Aku minta maaf, Tante, Om. Aku nggak sengaja,”
“Salsa nggak salah, Ma, Pa. Aku yang nggak hati-hati juga. Salsa udha suruh aku minggir tapi aku nya malah balik badan gitu terus kita tabrakan deh, ya wajar aja kalau Salsa kaget dan spontan lepasin kayunya,”
“Maafin Salsa ya, Om, Tante,”
“Iya nggak apa-apa ‘kan nggak sengaja. Beda cerita kalau sengaja. Tapi makasih ya kamu udha ngakuin kesalahan kamu, kamu udha minta maaf juga, plus kamu udah bantu Arani pakai perban,”
“Sama-sama, Tante. Aku minta maaf udha bikin Arani jadi sakit pulang-pulang padahal dia baik-baik aja pas berangkat,”
“Nggak apa-apa, yang namanya musibah kan nggaka da yang tau mau datang kapan.l,” jawab Helen dengan lembutnya smabil tersenyum mengusap puncak kepala Salsa.
“Ini pertama kali diobatin sama panitia, terus kalau ganti perban sama Salsa deh. Makasih ya udah obatin gue, Sal,”
“Sama-sama, sekali lagi gue minta maaf ya, semoga kondisi kaki lo makin membaik,”
“Aamiin, makasih doanya,”
Salsa tersenyum setelah itu kembali menghampiri kedua ornagtuanya yangs udha menjemput. Tadi niatnya akan langsung pulang tapi Ia tidak tenang kalau belum menemui orangtua Arani untuk mengakui kesalahannya yang tidak disengaja sekaligus meminta maaf pada mereka.
“Ada-ada aja musibahnya kakak ikut kegiatan pramuka. Nih jangan-jangan Mama Papa nggak izinin kakak lagi untuk ikut kegiatan sekolah,”
“Eh jangan ngomong gitu dong, Dek. Ah kamu nyumpahin aja deh,”
“Bukan nyumpahin soalnya Mama Papa nggak mau ini keulang lagi,”
“Nggak kok, ini musibah aja. Nggak keulang lagi Insya Allah,”
“Hai, Om, Tante,”
Disaat Aranis edang berusaha meyakinkan orangtuanya bahwa Ia baik-baiks aja supaya ke depannya kalau ada kegiatan di luar lagi Ia tetap diizinkan, tiba-tiba datang sosok lelaki yang sudah biasa diliat oleh Helen dan Radi.
“Hai, Areno. Gimana kegiatannya?”
“Seru banget, Om,”
“Alhamdulillah, kamu sehat nih pulangd ari Bogor?”
“Alhamdulillahs ehat, Om. Arani malah yang sakit, tuh kakinya diperban tapi syukurnya nggak kenapa-napa,”
“Oh iya, Areno sempat bawa aku ke rumah sakit bareng Salsa sama Kak Dewi panitia untuk periksain kaki aku padahal aku udha bilang kalau aku nggak apa-apa, tapi teyap aja dibawa ke rumah sakit, Areno nih yang maksa,” ujar Arani menceritakan pada ornagtuanya bahwa kakinya sudah diperiksa.
“Terus gimana hasilnya? Nggaka danyang retak atau apa ‘kan?”
“Nggak ada, Ma. Semua aman, cuma nyeri aja, tapis ekarang duah sehat kok kaki aku nya,”
“Makaish ya, Areno,”
“Sama-sama, Tante,”
“Makaish ya, Bang. Semoga Abang baik terus sama kakak aku,” ucap Ria dengan tulusnya. Ternyata Areno turut andil juga ketika Arani sedang tidak baik-baik saja.
“Sama-sama, Dek,”
“Aku khawatir kenapa-napa di dalamnya, jadi aku paksa aja ke rumah sakit karena kebetulan vila kita juga nggak jauh-jauh dari rumah sakit,”
“Makaish udah bantu Arani, semoga kebaikan kamu dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda aamiin,”
“Aamiin, makasih doanya, Tante,”
“Ya udah kami panit ya, Ren. Kamu udha dijemput?”
“Udah, tapi aku dijemput driver aja, Mama Papa lagi jenguk saudara aku yang sakit,”
“Semoga secepatnya diangkat Allah penyakitnya ya, Ren, titip salam untuk Mama Papamu,”
“Siap, Om nanti aku sampein,”
“Ya udha kalau gitu kami pamit pulang dulu ya,”
“Iya, Om hati-hati,”
Areno tersenyum menatap Arani yang menatapnya juga. “Aku duluan ya,” pamit Arani padanya yang langsung Ia tanggapi dnegan anggukan kepala.
“Banyak istirahat ya jangan terlalu sering dipakai dulu itu kakinya, harus banyak diistirahatin kata dokter, kamu harus ingat,”
“Iya aku ingat,”
Radi tiba-tiba berjongkok di depan anaknya dan Ia menunjuk punggungnya sendiri. “Kenapa, Pa?”
“Naik, Papa gendong ke mobil,”
“Ah nggak usah, Papa. Aku bisa sendiri,”
“Nggak dong, harus Papa gendong ayo buruan naik ke punggung Papa,”
Akhirnya Arani naik ke ata sounggung papanya itu. Roa dan Helen terkekeh melihat Arani digendong. Radi tidka berubah, maishs aja ingin memastikan anaknya tidka kesulitan, dan kesakitan. Radi tahu kalau dipakai berjalan kaki anaknya masih menimbulkan rasa nyeri jadi selagi Ia bisa bantu, maka akan Ia bantu untuk meredakan nyeri yang dirasakan oleh anaknya itu.
Areno diam-diam memperhatikan bagaimana baiknya Radi dalma memperlakukan anak pertamanya. Arani benar-benar diperlakukan layaknya seorang princess.
“Gue harus belajar dari nyokapnya Arani. Gue nggak skan mungkin bisa nyamain Om Radi, tapi setidaknya gue haru jadi cowok yang mirip sama Om Radi yang treat anaknya kayak princess banget. Nggak sekali dua kali gue liat gimana perlakuannya Om Rady ke Arani,”
Diam-diam Areno belajar bagaimana memperlakukan anak perempuan dengan baik, Melihat baiknya Radi terhadap Arani menjadi peringatan juga untuknya bahwa kalau Ia macam-macam, Radi ada di barisan paling depan untuk Arani. Ia tidak boleh membuat Arani sedih ataupun terluka karena akan berurusan dengan papanya Arani.
******
“Kakak, langsung istirahat ya,”
“Iya, Ma,”
“Mau aku temenin nggak, Kak? Barangkali aja kakak butuh sesuatu nanti di kamar terus pelru bantuan aku,”
Arani terkekeh mendnegar tawaran adiknya. Yang tumben tidak gengsi. Dengan terang-terangan menunjukkan rasa khawatir dan juga berinisiatif untuk memberikannya bantuan.
“Nggak usah, Dek. Kamu tenang aja, kakak bisa gerak sesndiri kok,”
“Tapi ‘kan kata dokter jangan banyak dipakai dulu kakinya, kalau nggak salah Bang Aren tadi bilang gitu deh,”
“Aman, Dek. Kamu tenang aja,”
“Kakak pokoknya harus sayangs ama kalinya lho, jangan capek-capek dulu!”
“Iya cerewet. Kamu kenapa cerewet banget ya?”
“Ya karena aku nggak tega liat kaki kakak sakit kayak gitu, ntar kita nggak bisa berantem lagi,”
“Ih malah berantem yang dipikirin,”
“Hehshehe bercanda kok, Mamaku sayang,”
“Ya udah ayo kita tinggalin kakak di kamarnya biar istirahat,”
Ria menganggukkan kepalanya. Radi mengusap lembut kaki anaknya sebentar setelah itu Ia ikut keluar dari kamar anak pertamanya itu.
Mereka bertiga keluar dari kamar memberikan waktu untuk Arani beristirahat. Pasca melewati perjalanan pulang dari Bogor ke Jakarta lumayan melelahkan bagi badan Arani dan kakinya. Orangtua dan adiknya itu tahu Arani pelru istirahat, terutama kakinya, jadi mereka harus segera pergi dari kamar Arani.
__ADS_1
“Mama, Papa, kira-kira makanan atau minuman aoa yang bikin rasa sakit hilang? Aku pengen minta Mama Papa untuk beliin kaka itu,” ujar Rao setelah keluar dari kamar kakaknya. Entah kenapa Ia ingin memberikan sesuatu kepada Arani, yang barangkali bisa menghilangkan rasa nyeri kakaknya dan untuk memyambut kepulangannya Arani juga.
“Beli aja minuman boba,” saran Helen.
“Tapi itu ‘kan kesukaannya aku,”
“Iya tapi kakak ‘kan juga suka, masa iya kakak nggak suka?”
“Oh gitu, ya udah kita beliin boba, terus makanannya apa?”
“Martabak aja,” tambah Helen yang lagi-lagi disetujui oleh Ria.
“Okay-okay, itu aja,”
“Beliin juga untuk anaknya yang satu, Ma. Takut Ria kepengen liat kakaknya minum boba,”
“Ya pasti dong, Papa. Mana mungkin Mama nggak beliin untuk anak Mama yang satu lagi. Mama ‘kan selalu berusaha adil. Apa yang Arani makan, Insya Allah Ria juga makan, “
“Yeayy aku mau dibeliin boba asyik,”
“Kayak orang yang jarang minum boba padahal sering banget, Nak,”
“Heheheh aku ‘kan suka boba, Pa,”
“Ya udah Mama pesan sekarang deh,”
“Nanti aja kalau kakak udah keluar dari kamar,”
“Barangkali kakak udah lapar, Sayang,”
“Oh iya ya,“
Helen langsung memesan martabak dan juga minuman untuk mereka satu rumah. Kalau satu penghuni beli maka, yang lain juga beli.
“Ditungguin ya pesanan kita, Dek. Dengar-dengar abang kurirnya,”
“Okay, Ma. Aku di ruang tamu aja deh, biar kedengaran kalau ada yang manggil,”
Ria langsung bergegas ke. ruang tamu, dan berbaring di sofa sambil memainkan ponselnya. Ia akan menunggu kedatangan boba minuman kesayangannya.
******
Arani baru tidur kurang lebih tiga puluh menit, tiba-tiba ada yang menghubunginya. Ia malas untuk menjawab namun karena penasaran Ia ambil ponslenya itu dan ternyata adalah Vevi yang menelponnya.
“Halo, Vi,”
“Halo, gimana keadaan lo? Istirahat ya, ini udah di rumah ‘kan?”
“Udah kok, makasih ya,”
“Okay, banyak istirahat lo ya, jangan macam-macam! Berarti lo tuh nggak bisa sekolah dulu hari senin besok. ‘Kan lagi sakit kakinya,”
“Sebenarnya udah nggak sakit lagi sih, aman-aman aja,”
“Tapi takut ya sakit lagi, Ran. Mending ikutin apa kata dokter dulu deh untuk beberapa hari ke depan jangan terlalu banyak kegiatan yang pakai kaki,”
“Gue bosan dong kalau nggak ada kegaitan pakai kaki, masa iya jalan aja dilarang,”
“Demi kebaikan lo juga, Arani cantik. Jangan susah deh kalau dibilangin,”
“Lo tuh nggak boleh sakit! Sepi tau kalau nggak ada lo,”
“Cie uang oaling nggak bisa kalau nggak ada gue,”
“Ah rese lo!”
“Hahahaha canda. Lo ganggu tidur gue ah.
Barusan gue lagi tidur tau,”
“Ya ampun gue nggak tau. Sorry ya, okay deh gue tutup teleponnya. Yang penting gue udah tau keadaan lo gimana. Bye, Ran, istirahat ya jangan lupa!”
“Iya cerewet,”
Panggilan pun berakhir Arani kembali memejamkan mata, namun ada lagi yang mengusiknya yaitu suara adiknya yang izin membuka pintu.
“Kakak, aku punya sesuatu buat kaka. Ini dibeliin Mama Papa sih sebenarnya tapi aku diminta untuk antar ini langsung ke kakak,”
“Apa itu? Kamu ganggu aja ah,”
“Iya maaf, Kak. Aku dikasih pesan soalnya,”
“Wah, martabak sama boba,”
“Kaka senang ‘kan? Nih kakak makan ya, udha aku bawain piring juga supaya kakak gampang makannya,”
“Makasih banyak, Mama Papa dimana?”
“Di bawa lagi makan martabak juga,”
“Kamu udah makan?”
“Belum,”
“Ya udah sini temenin kakak makan, kakak malas ke meja makan,”
“Iya emang nggak dibolehin juga sama Mama tau. Disuruhnya kamak istirahat aja di kamar ya makanya ini aku bawain ke kamar kakak ‘kan,”
“Yeay makasih ya,”
Arani mencubit pipia diknya itu hingga meringis kesakitan. “Bukannya dikaish apa kek gitu sebagai balasan, ini malah dicubit,”
“Iya itu balasannya,”
“Dih mana ada balasannya nyubit,”
Arani terkekeh dan sekarang Ia menjawil dagu adiknya. “Makasih ya, adekku yang cantik. Mau dibalas pakai apa?”
“Hmm nggak usah deh, nggak tega mintanya ornag lagi sakit gini kok,”
“Apa balasannya buruan bilang mumpung kakak baik nih,”
“Hahaha aku bercanda, Kak. Ngapain aku minta balasan or ag aku nggak abis ngapa-ngapain,”
“Ya ini kamu udah jadi pengantar makanan buat kakak,”
“Ikhlas kok aku, Kak. Jadi kakak tenang aja, okay?”
“Beneran ikhlas nggak nih?”
“Iya beneran lah,”
“Oh gitu, Alhamdulillah deh kalau emang ikhlas. Kakak senang, sekarang kita makan bareng ya?”
“Iya ayo,”
“Tapi kita nggak apa-apa makan di kamar kakak nih? Di tempat tidur lagi,”
“Di bawah aja yuk, Dek. Mama ‘kan paling nggak suka kalau makan di tempat tidur karena jorok,”
“Iya makany di basah aja deh,”
Ria langsung membantu kakaknya untuk turun, dan Ia juga membawa martabak dan minuman mereka ke bawah.
Dua anak perempuan itu makan nersama di atas permadani yang lembut. Terbiasa makan di meja makan, jadi rasanya aneh kalau makan di tempat tidur kecuali kalau memang benar-beanr sakit sampai tak bisa bangun.
Mama mereka selalu mengajarkan kalau makan itu di tempatnya. Tapi berhubung kali ini Arani sedang sakit kakinya, jadi tak bisa ke meja makan. Meski begitu, Arani dan Ria tetap mencari tempat selain tempat tidur untuk makan.
“Kakak, di sana gimana ceritanya? Kakak belum banyak cerita, sekarang ceritain dong,”
“Di sana ya? Hmm…senang sih kakak,”
“Seru nggak?”
“Seru dong pastinya,”
“Terus kakak sama Bang Aren pasti berduaan mulu ya?”
“Hah? Ya nggak lah, Dek. Boro-boro berduaan orang kita sibuk sama kegiatan yang udah dirancang kok,”
“Oh begitu ya kirain sibuk berduaan hehehe,”
Arani menggelengkan kepalanya. Ia dan Areno tidak ada waktu untuk berduaan, mereka sibuk dengan kegaitan yang telah dirancang eh panitia.
“Nggak mau juga berduaan,”
“Kenapa emang?”
“Ya nggak apa-apa, ngapain berduaan? Orang ada teman-teman kok malah berduaan? Kayak nggak punya teman aja,”
__ADS_1
“Ya bagus deh jadi kakak nggak bucin, fokus sama kegiatan sekolah,”
“Kalau mau bucin ya mendingan jangan ke Bogor aja sekalian,”
“Aku aja yang ke Bogor harusnya ya,”
“Kamu nggak diajak tapi, Dek,”
“Kata Papa, nanti kapan-kapan kita mau buat api unggun. Soalnya aku bilang ke Papa kalau aku juga pengen api unggun kayak kakak sama teman-teman kakak. Kata Mama nanti buat kalau kita lagi nginap di vila kita, Kak. Yeayy aku nggak sabar,”
Ria bercerita dengan antusiasnya. Ia bercerita pada kakaknya tentang ucapan sang ayah saat Ia menggebu-gebu ingin merasakan suasana ketika api unggun juga.
“Jadi Papa mau bikin api unggun juga?”
“Iya katanya tapi belum tau kapan sih, Kak. Kata Ayah kalau kita lagi nginap di vila,”
“Ya udah minggu depan aja kita nginap di vila,”
“Ya udah kakak bilang aja sama Mama Papa. Aku nggak berani tau,”
“Kenapa nggak berani?”
“Kakak aja sana, masa aku tiba-tiba ngajakin ke villa?”
“Ya emang kenapa? Nggak apa-apa dong, Dek. Mama Papa pasti nurutin ya asalkan liat keadaan dulu. Kalau misalnya bisa pasti diturutin tapi kalau nggak bisa ya nanti-nanti dulu berarti,”
“Coba bikang dulu deh nanti sama Papa Mama. Aku nggak maksa bulan depan yang penting kapan-kapan bisa ngerasain api unggun,”
“Api unggun mah nggak dirasain, Dek. Kalau dirasain bahaya, bisa kepanasan satu badan,”
“Hahahaha kakak!”
“Ya lagian kamu ada-ada aja,”
Disaat kaka beradik itu sibuk mengobrol, tiba-tiba Helen datang dan Ia tersenyum melihat dua anaknya akrab sekali. Sedang makan berdua sambil mengobrol.
“Duh anak Mam pintar banget. Kalau lagi akur gini enak deh diliatnya. Coba kalau lagi mode berantem. Beuh Mama pengen cubit satu-satu rasanya,”
“Hai, Ma. Sini gabung,”
“Mama udah makan di bawah tadi. Mama ke sini amu liat kakak udha makan atau belum, terus kok si adek nggak turun-turun. Eh ternyata lagi makan sama kakaknya berdua. Duh so sweet banget kakak adek ini ya. Gini dong aku, Mama jadi senang liatnya. Jangan keseringan debat, Mama jadi pusing,”
“Soalnya kakak lagi sakit jadi aku nggak mau berantem,”
“Ih kamu nyebelin banget, Dek,”
“Kalau kakak udah nggak sakit tetap aku-akur lah, Sayang,”
“Iya, Mama, Insya Allah tapi,”
”Nurut, Dek. Sebagai anak yang baik kamu harus nurut,”
“Kakak juga lah,”
Di tengah obrolan mereka ponsel Arani tiba-tiba berbunyi. Arani berdecak pelan dan langsung meriah ponselnya tanpa berdiri, Ia hanya memanjangkan tangannya saja karena kebetulan Ia duduk membelakangi nakas dimana Ia meletakkan ponselnya.
“Ganggu aja deh!”
“Siapa?”
“Areno nih,”
“Ya udah jawab aja,”
“Ih ganggu dia. Ngapain coba telepon-telepon? Aku lagi makan,”
“Ya barangkali aja ada perlu sama kamu. Jangan galak-galak gitulah. Ingat dia baik sama kamu,”
Arani menghembuskan napas kasar. Ia langsung menggeser panel hijau untuk menerima panggilan dari kekasihnya.
“Halo, Ren,”
“Hai, lagi ngapain? Aku ganggu nggak?”
“Ganggu! Ngapain telepon aku?”
“Ih kakak kok kamu gitu sih,”
Helen berbisik mengingatkan anak pertamanya yang menyahuti sang kekasih dengan galak.
”Iya maaf,” ucap Arani sambil berbisik juga.
“Beneran ganggu nih? Emang kamu lagi apa? Kamu tidur ya?”
“Tadi udah sempat tidur bentar. Terus sekarang lagi makan martabak, mau?”
“Nggak, makasih. Aku juga lagi makan martabak kok,”
“Hah? Kamu lagi makan martabak? Kok bisa?”
“Hahahaha jodoh kali ya jadi kebetulannya unik. Kamu makan, aku juga makan, terus jenis makanannya sama. pula,”
“Kok bisa sama sih?”
“Ya mana aku tau,”
“Ih kamu yang ngikutin ya?”
“Lah, aku ngikutin kamu? Nggak, mana aku tau kalau kamu lagi makan martabak juga. Ini aku beneran lagi makan martabak sama minuman thaitea boba,”
“Ih kok sama-sama boba juga sih?”
“Seriusan?”
“Iya,”
“Hahahaha,”
Areno puas tertawa karena benar-benar kebetulan yang aneh tapi nyata. Bisa-bisnaya Ia dan Arani makan dan minum yang sama.
“Berarti kita cuma beda tempat aja nih, makan sama minumnya samaan,”
“Iya kamu ngikutin aku nih pasti,” Arani masih tidak percaya.
“Nggak, sumpah. Gimana caranya aku ngikutin kamu sih? Aku aja nggak tau kamu lagi makan,”
“Ya udah deh lupain,”
“Clba ya aku kirim foto makan sama minum aku nih biar kamu percaya,”
“Iya coba, sekarang kita udahan dulu ngobrolnya,”
Arani menyudahi sambungan teleponnya bersama sang kekasih lalu tak lama kemudian Ia mndapat pesan dari Areno berupa ganbar makan dan minum yang sesuai dnegan perkataan Areno barusan. Sekarang gantian Arani yang memotret martabak dan minuman bobanya.
Dibalas dengan emoji ketawa oleh Areno. Ternyata mereka memang benar-benar sedang menikmati makan dan minum yang sama, setelah dibuktikan dengan foto.
“Ih kok bisa sama sih?”
“Apa yang sama?” Tanya Ria dan Helen bersamaan.
“Masa Areno juga makan martabak sama minum boba,”
“Lah kok bis akimpak gitu?”
“Iya aku juga bingung, Ma,”
“Cie so sweet banget,”
“Apa sih, Dek? Aneh deh sweet darimana coba?”
“Sweet lah orang kalian makan dan minumnya sama,”
“Cie cie cie,”
“Si adek mulai usil deh sama kakak,”
“Hehehe ampun, ibu negara,”
“Kebetulannya aneh banget ya, Ma. Masa dia juga makan martabak dan minum boba padahal kita nggak saling bilang,”
“Itu mungkin pertanda kalau kakak sama Bang Areno berjodoh,”
“Hadeh, mulai deh bahas-bahas jodoh. Jangan sok tau, Dek,”
“Lah emang iya. Buktinya bisa kebetulan gitu. ‘Kan banyak makanan sama minuman lain, kok bisa-bisanya Kakak sama Bang Aren samaan?”
“Ya mana aku tau,”
“Makanya aku bilang, itu pertanda jodoh kali. Mudah-mudahan kalau emang Bang Aren yang terbaik, kakak sama Bang Aren jodoh dunia akhirat, aamiin,”
__ADS_1