
“Ayo ih buruan, kamu lama deh padahal cuma milih minuman,”
“Ran, aku nggak pernah cerewetin kamu kalau kamu lagi milih. Kamu parah sih,”
Arani tertawa menyaksikan Areno yang kesal karena Ia minta untuk cepat memilih minuman di dalam kulkas. Mungkin sudah tiga menit Areno diam di depan lemari pendingin sebuah minimarket dekat kampus, hanya untuk memilih minuman.
Arani sudah pikih makanan ringan, sudah pikih minuman juga sementara Areno minuman pun belum memilih.
Sejak tadi Areno mengikuti kemana Arani melangkah. Setelah Arani menyuruhnya untuk cari kesibukan sendiri barulah Ia jalan-jalan mencari makanan atau minuman yang diinginkan. Arani tidak lama memilih makanan ringan dan minuamn sementara kelasihnya masih terpaku di depan kulkas.
“Aku bingung nih mau minum apaan,” ujar Aremo sambil memggaruk kepalanya.
“Ya udah minum air gunung aja deh kamu, ke gunung langsung sana biar nggak bingung,”
Areno terbahak mendengar ucapan Arani yang kini berdiri di sebelahnya sambil memasang wajah datar.
“Kamu kesel sama aku nih ceritanya?”
“Nggak, cuma bosen aja nungguin kamu di delan kulkas. Lama ya milihnya. Biasa yang lama milih itu cewek lho, tapi ternyata kamu cowok juga bisa lama kalau milih-milih sesuatu,”
__ADS_1
“Ya iyalah, semua manusia itu bisa bingung, bisa bimbang mau pilih yang mana,” ujar Areno yang tidak pernah berpikir bahwa yang suka lama memilih ini itu adalah perempuan tapi tidak tahunya laki-laki juga bisa lama kalau memilih sesuatu karena yang namanya manusia wajar saja merasa bimbang.
“Ya udah ini aja deh,” putus Areno sambil mengulurkan tangan hendak mengambil minuman dalam kaleng dan Arani langsung membelalakkan kedua matanya dan spontan mencubit pinggang Areno.
“Aw sakit tau. Apaan sih? Kok aku dipukul, Ran? Kamu mau kekerasan dalam hubungan pacaran nih ceritanya? Hmm?”
Areno menatap kekasihnya dengan sorot kesal. Tadi Ia diminta untuk cepat, giliran Ia ingin mengambil minuman Arani tiba-tiba mencubitnya otomatis Ia tdiak jadi mengambil minuman yang menjadi pilihannya.
“Aku tau itu ada alkoholnya ‘kan? Ngapain beli itu sih? Minuman yang lain ada tuh,”
“Tapi mau ini,”
“Areno apaan sih? Jangan yang itu, ntar mabok lho,”
“Ya sekarang nggak boleh! Udah deh pilih yang lain aja nggak usah aneh-aneh. Ntar ngefly kan bahaya. Kamu masih mau nyetir ya ke rumah aku. Dan aku nggak mau mati muda,”
“Ini sih nggak berat, Ran,” jawab Areno dengan santai. Arani tetap menggeleng walaupun kategorinya ringan, Arani tidak ingin Areno minum itu disaat minuman lain masih banyak jenisnya.
“Mending ambil jus aja tuh , buat kesehatan, daripada yang itu bikin sakit,” ujar Arani sambil menunjuk botol jus buah. Daripada yang membuat mabuk lebih baik yang membuat sehat saja.
__ADS_1
“Nggak mau,” tolak Areno mentah-mentah.
Areno sebenarnya hanya bercanda. Ia tidak benar-benar menginginkan minuman itu. Hanya saja Ia senang membuat Arani kesal sekaligus cemas.
“Aku nggak sampai mabok kok minum ini, Ran, rasanya tuh enak cobain deh makanya jangan langsung—“
“Hih, aku mah nggak mau minum yang aneh-aneh. Kamu sendiri pintar banget ya ingetin aku untuk hati-hati kalau misal datang ke party nggak boleh minum inilah itulah, eh kamu sendiri ternyata begitu,” sindir Arani dengan sinisnya. Areno tertawa dan langsung menarik ujung hidung Arani yang runcing.
“Kamu khawatir ya sama aku?”
“Takut kamu terbang abis minum itu,”
“Biasanya sih gitu tapi abis itu balik lagi,”
Arani melirik sinis dan itu mengundang tawa Areno. “Nggak deh, aku cuma canda doang kok,” kata lelaki itu sambil merangkul bahu kekasihnya.
“Kamu jangan galak-galak gitu dong, takutnya aku nggak bisa nahan kemauan buat nikahin kamu sekarang, soalnya kamu perhatian banget, dan bikin gemes kalau udah cerewet galak,”
“Sembarangan kalau ngomong. Udah deh jangan ngomong yang aneh-aneh. Buruan ambil minuamn yang bener! Jangan yang aneh-aneh,”
__ADS_1
“Areno, Arani! Eh nggaks engaja ketemu di dini,”
Mereka berdua langsung menoleh ke sumber suara perempuan yang tiba-tiba menyapa mereka.