Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 52


__ADS_3

“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, Bang Aren silahkan masuk,”


“Makasih, Bi,”


Areno datang ke rumah Arani menepati perkataannya dan yang menyambut kedatangannya adalah Bibi.


“Bentar ya, Bibi kasih tau si kakak dulu kalau ada pacarnya datang,”


“Makasih, Bi,”


“Sama-sama,”


Bibi langsung bergegas ke kamar Arani. Ia ketuk pintu kamar Arani setelah dipersilahkan masuk barulah Ia membuka pintu kamar, tapi tetap di depan pintu yang hanya Ia buka sedikit.


“Kak, ada Bang Aren di bawah,”


“Oh iya makasih, Bi,”


“Sama-sama,”


“Lho, Areno datang ke sini mau jenguk kamu? Emang udah selesai sekolah?” Tanya Helen pada putrinya itu.


“Udah, Ma. Dia langsung ke sini,”


“Ya amlun anak itu, nggak capek apa ya? Baru juga selesai sekolah, eh udah datang ke sini. Gimana nih? kamu ‘kan nggak bisa turun,“


“Mama aja yang temuin Areno,”


“Ya udah kalau gitu Mama ke bawah sekarang,” ujar Helen seraya menggunakan sandal eumahnya sebelum menutuskan untuk meninggalkan anak pertamanya itu di kamar sebentar untuk menemui Areno.


Areno yang sebelumnya duduk, langsung bangkit begitu melihatnya dan Areno segera mencium tangannya.


“Ren, maaf ya Arani nya lagi Tante larang dulu naik turun tangga, dia dipingit di kamarnya sendiri, maaf ya jadi Tante deh yang nemuin kamu,”


“Oh gitu, Iya nggak apa-apa, Tante. Ini aku bawa makan ringan buat Arani tadi aku nanya dia mau apa tapi dia bilang nggak mau apa-apa. Aku bingung, ya udah deh aku beli ini aja. Maaf ya, Tante kalau salah,”


“Ya Allah, kenapa sih sellau aja mau ngerepotin diri sendiri, Ren? Udah sijawab nggak mau apa-apa tapi kok tetap beli? Harusnya nggak usah, Ren, Arani udah makan juga,”


“Hehe nggak apa-apa, Tan, buat dia kalau iseng,”


“Makasih ya, Ren,”


“Sama-sama, Tante. Oh iya kalau aku mau liat keadaannya Arani langsung boleh nggak, Tante? Tapi kalau nggak boleh juga nggak apa-apa kok. Aku cuma penasaran aja kakinya sekarang gimana. Kalau video call ‘kan belum tentu Rani unjukkin semuanya,”


Sebenarnya Areno sungkan juga mau datang ke kamar Arani, walaupun pasti Ia diawasi, tapi baru kali ini Ia mau ke kamar perempuan. Izinnya deg-degan setengah mati. Ia pikir tidak boleh tapu tenryata Ia diperbolehkan dan Ia senang. Ia bisa melihat keadaan Arani secara langsung.


“Oh boleh kok, ayo naik ke atas kalau gitu. Ini dari kamu kasih langsung aja sama Arani,”


“Iya, Tan,”


Areno membawa kantong belanjaannya ke atas mengikuti langkah kaki Helen. Akhirnya Ia menginjakkan kaki di lantai dua dumah kekasihnya itu. Baru tau kalau beginilah keadaan lantai dua rumah Arani. Rapi, semua tertata dengan baik, bersih, dan cocok menjadi rumahnya sepasang suami istri plus dua anak perempuan.


Di depan pintu kamar Arani, ada nama tulisan ‘Ar’ yang membuat Areno tersenyum. Seperti kamar anak kecil ada namanya. Areno sempat melihat ke kamar di sebelah Arani. Dan di sepan pintunya ada tulisan ‘Ri’ Areno baru tahu kalau mereka punya kamar yang bersebelahan.


Helen membuka pintu kamar Arani lebar-lebar dan mempersilahkan Areno masuk. Begitu Areno masuk, harum khas Arani langsung menyambutnya. Kamar Arani yang rapi dan bersih membuat Areno sempat berdecak kagum sebelum akhirnya Ia harus fokus pada Arani yangs aat ini menatapnya dengan sorot mata yang bingung.


“Kok kamu di sini?”


“Eh kok ngomong gitu? Areno mau liat keadaan kamu langsung katanya,”


“Oalah, kirain mau apa kesini,”


“Ini aku bawain makanan ringan,” ujar Areno seraya meletakkan kantong belanjaannya di nakas sebelah ranjang Arani. Kemudian Areno mengamati kaki Arani yang membengkak dan merah.


“Duh kok jadi bengkak gitu ya, Ar?”


“Iya, semalam udah dibawa lagi ke rumah sakit di cek semuanya aman,”


“Semkga aja cepat sembuh ya, Ar. Itu aku nggak tega liatnya,” ujar Areno seraya mengusap kaki Arani dengan lembut.


“Jangan ditekan ya, Ren, aku gampar nanti,”


“Mana mungkin sih,”


“Kak, bener-bener deh kamu. Galak banget sih jadi perempuan,”


Arani terkekeh menampilkan deretan giginya yang rapi. Ia hanya takut saja kalau Areno dalam mdoe usil lalu tiba-tiba kakinya ditekan.


“Sembuh ya, Ar,”


“Iya, makasih ya udah datang ke sini repot-repof pake ada yang dibawa lagi,”


“Sama-sama, maaf ya kalau aku lancang ke kamar kamu. Soalnya aku pengen liat keadaan kamu lansgung,”


“Iya nggak apa-apa,”

__ADS_1


“Jangan banyak gerak sulu, Ar. Dengarin apa kata dokter, apa kata orangtua kamu. Kalau dilarang berarti itu yang baik buat kamu, jangan dibantah ya, Ar,”


“Iya,”


“Minum obat, istirahat, dan makan jangan berantakan polanya,”


“Iya, Dokter,” jawab Arani dambil menatap Areno dan melirik mamanya yang terkekeh.


“Aku serius lho ini,”


“Iya aku juga serius,”


“Kok donter, sekolah Farmasi masa disebutnya dokter?”


“Ya kali aja kamu mau belok jadi dokter hahaha,”


Areno kini mengusap kaki Arani yang satu lagi, kelihatannya yang saat ini Ia sentuh tidak lebih oarah daripada kaki satunya lagi.


“Yang ini kayaknya agak mendingan ya?”


“Iya kiri emang agak mendingan, kanan nih yang parah. Karena kanan emang lebih banyak kena kayu,”


“Tapi Insya Allah nggak apa-apa kok, Rwn. ‘Kan udah sua kali diperiksa di rumah aakit yang beda. Pertama sama kamu dan yang kedua semalam Tante sama Om bawa ke dumah sakit nggak jauh dari rumah udah langganan kalau ada orang rumah sakit. Alhamdulillah sih udah dicek baik-baik aja, tapi memang radang gitu,”


“Sakit banget tau rasanya, padahal kemarin pas pulang dari Bogor nggak begitu sakit,”


“Iya itu belum keluar aja semua sakitnya, nah sekarang udah keluar semua, semoga aka nggak lama lagi smebuh ya,”


“Aamiin, makasih doanya, Ren. Kamu juga jaga diri baik-baik ya,” ujar Helen pada Areno yang tersenyum hangat.


“Kalau aku sih cowok, Tan, kayak gini hal yang biasa. Aku bahkan pernah ketiban besi. Sakit sih tapi ya biasa aja. Makanya andai aja ini aku yang dapat kusibahnya, jangan Arani, pasti aku nggak kesakitan, orang besi aja pernah kok dan biasa aja,”


“Sstt jangan ngomong gitu. Ini cobaan untuk Arani, Ren. Jadi harus Arani lewatin. Lagian ya, kalau nggak begini Arani nggak istirahat-istirahat. Ambil aja hikmahnya,” ujar Helen yang ingin berprasangka baik terhadap sakit yang sedang dialami oleh anaknya itu.


“Jangan capek-capek dulu ya,” pesan Areno pada Arani yang langsung menganggukkan kepalanya.


“Ya udah aku pamit pulang dulu, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam sekali lagi makasih banyak udah repot-repot datang ke rumah,”


“Iya sama-sama,”


“Bye, hati-hati,”


Areno menganggukkan kepalanya lantas bergegas pergi meninggalkan Arani di kamarnya. Aremo diantar oleh Helen sampai ke depan pintu.


“Areno, hati-hati ya,”


“Tabte yang harusnya makasih banyak ke kamu. Maaf udah bikin repot ya,”


“Ya ampun, ada repot-repotnya sama sekali, Tan. Semoga Arani cepat sembuh,” ya, Tante,”


“Aamiin,“


Areno langsung melaju dengan kendaraannya neninggalkan kediaman sang kekasih. Setelah itu Helen kembali ke kamar anaknya lagi.


Arani masih berbaring dan memainkan ponselnya. Helen berbaring di sebelah anaknya lagi dan kembali memeluk sang anak tak begitu erat.


“Tidur, Sayang,”


“Nggak ngantuk, Ma,”


“Oh iya aku mau liat apa yang dibawa sama Areno tadi ah,”


“Ya udah coba liat,”


Helen melepaskan pelukannya dari Arani, Ia membiarkan Arani membuka kantong belanjaan pemberian Areno yang ternyata isinya macam-macam biskuit, makanan ringan yang gurih kesukaan Arani, susu juga.


“Ya ampun, banyak banget,”


“Jadi nggak snak ‘kan kalau udah kayak gini,” ujar Arani sambil terdiam menatap pemberian Areno satu persatu.


“Iya Areno niat banget datang ke sini bawa itu semua untuk kamu


”Padahal aku udah nolak pas dia nawarin, Ma aku bilang nggak usah tapi dia tetap aja bawain ini,”


“Karena sayang kali ya jadi sampai segitunya deh,”


“Tapi aku nggak enak, jadi ngerepotin dia banget,”


“Iya makanya, usah pulang sekolah langsung ke sini, ada yang dibawa pula. Makanya kamu kalau Areno sakit peduli juga, Kak. Masa kalah tuh sama cowok? Orang cowok aja bisa perhatian, peduli, tapu kamu mah cuek mulu deh kayaknya,”


“Aku datang ke rumahnya waktu dia sakit, Ma. Aku datang mulu kok,”


“Iya lah kita itu emang sebaiknya jenguk orang terdekat kalau sakit. Kasih dukungan moril itu juga penting,”


“Iya, Ma,”

__ADS_1


********


“Kamu darimana?”


“Jenguk pacar aku yang sakit, Ma,”


“Eh Arani sakit? Sakit apa, Ren? Pacar yang kamu maksud maish Arani ‘kan?”


“Hahaha Mama kenapa nanya gitu sih? Ya masih lah, Ma,”


Areno tak bisa menahan tawanya ketika sang Mama ragu Ia dan Arani masih menjadi sepasang kekasih.


“Oh kirain udah ganti,”


“Nggak, udah nyaman bangets ama Arani walaupun dia kadang nyebelin, galak, cuek,”


“Tapi sayang ya?”


“Iya dong, Ma. Kalau nggak sayang ya nggak bakal aku maish bertahan lah sama dia,”


“Eh Arani sakit apa? Kamu belum jawab,”


Areno baru saja pulang, dan mamanya penasaran Areno langsung ke rumah sepulang sekolah atau singgah dulu karena nampaknya sudah datang ke suatu tempat sebab pulangnya lebih lama dari jam biasa. Ternyata habis menjenguk sang pujaan hati.,


“Emanga ku belum cerita ke Mama? Arani abis kena musibah,”


“Hah? Kapan? Musibah apa?” Tanya Qanita dengan raut wajah cemasnya.


“Kemarin waktu si Bogor, teman Arani nggak sengaja jatuhin tumpukan kayu ke kakinya Arani. Nah kakinya langsung sakit deh, Ma,”


“Ya Allah, kok bisa ceroboh gitu temannya, Ren?”


“Nggak sengaja, Ma. Ya intinya ini musibah lah, nggak ada yang mau kena musibah ‘kan?”


“Oh jadi nggak sengaja gitu ya kejadiannya?”


“Iya. Aku aja kaget banget pas tau kalau Arani udah kena musibah kayak gitu. Pas di Bogor aku, Salsa yang udah nggak sengaja nyakitin Arani, sama panitia bawa Arani ke rumah sakit untuk dicek tapi syukurnya sih nggak apa-apa, Ma. Nah ternyata semalam juga dibaw sama Mama Papa nya ke rumahs akit karena semalam itu nyeri banget katanya. Diperiksa dan aman juga cuma jadi bengkak gitu, radang juga katanya,”


“Ya Allah, terus nggak bisa jalan sama sekali gitu, Ren?”


“Nggak tau deh, Ma. Kayaknya sih Arani nggak berani ya, tapi mungkin dipaksa-paksa sama dia supaya nggak kaku ‘kan, dan kalau ke tempat yang dekat nggak begitu sakit, nah kalau jalan yang lumayan jauh tuh kasian banget. Makanya tadi dia nggak sekolah,”


“Oh Arani sampai nggak sekolah? Iya lah lebih baik begitu, daripada di sekolah takutnya kenapa-napa, makin parah, mendingan istirahat aja dulu di rumah toh pihak sekolah juga tau kalau arani abis dapat musibah pas di Bogor,”


“Iya panitia pasti ngasih tau ke guru-guru bahkan kepala sekolah,”


“Kasian banget ya Allah. Semoga makin membaik ya. Kamu beneran udah jenguk dia?”


“Udah tadi, Ma,”


“Terus kamu udah liat langsung dong keadaannya? Gimana menurut kamu?”


Areno menghembuskan napas kasar dan mengangkat kedua bahunya. “Tadi aku liatnya nggak tega. Kasian banget dia,” ujar Areno.


Qanita diam menatap wajah anaknya yang kini kelihatan murung. Qanita mengusap bahu anaknya itu dnegan lembut.


“Ya udah kamu jangan galau, mudah-mudahan sakitnya Arani segera diangkat sama Allah, berdoa aja yang baik-baik, Ren,”


“Tapi Arani bisa sembuh ‘kan, Ma? Aku nggak tega deh liat dia tadi cuma di atas tempat tidur aja, sampai nggak dibolehin dulu sama Mama nya untuk naik turun tangga saking takut ya kaki Arani kenapa-napa lebih parah lagi,”


“Semua sakit yang Allah kasih itu Insya Allah semua ada obatnya, kamu jangan khawatir, Sayang,”


“Abisnya aku nggak tega liat Arani, Ma. Aku pernah ya ketimpa besi di kaki aku pas lagi ada berantem antar sekolah gitu, rasanya sakit sih tapi biasa aja, nah Arani ‘kan cewek ya, Ma, apa nggak berasa banget itu kakinya kena kayu? Mana kakinya mungil,” ujar Areno.


“Insya Allah Arani bisa sembuh, Nak. Semua rasa sakit itu ada obatnya. Yang penting kamu dukung Arani terus, jangan buat keadaannya jadi drop, jangan bikin yang aneh-aneh kamu. Kasian dia udah harus mikirin rasa sakitnya, mikirin yang lain pula kalau kamu macam-macam,”


“Aku nggak pernah mau macam-macam, Ma. Paling dia mikirin aku doang, Ma,”


Qanita mendengus kasar. Areno yang terlalu percaya diri membuat Qanita jadi kesal. Areno terkekeh melihat raut kesal di wajah mamanya itu.


“Kepedean banget kamu. Mana mungkin Arani mikirin kamu? Hih yang ada sakit kepala kalau mikirin kamu,”


“Lah kok gitu, Ma?”


“Ya iyalah, nggak usah mikirin kamu, ngeliat muka kamu aja bawaannya orang tuh sebel sama kamu, Ren, muka kamu nyebelin,”


Areno soontan mengusap wajahnya sendiri. Apa benar yang dikatakan oleh mamanya? Apa itu penyebab Arani suka cuek, suka marah-marah? Ah nampaknya tidak. Itu memang karakternya Arani saja.


“Emang nyebelinnya kenapa?”


“Nggak tau nyebelin aja pokoknya,”


“Hahaha Mama kenapa sih? Muka anak sendiri dibilang nyebelin,”


“Tuh ‘kan ngeledekin banget mukanya,”


Areno spontan menutup mulutnya yang tertawa. Ia tidak paham kenapa Mamanya menilai kalaus ajahnya itu menyebalkan.

__ADS_1


“Muka kamu itu muka-muka usil. Kalau Arani ingat kamu yang ada bawaannya kesal. Mendong ingat cowok lain aja kali,”


“Ma, jangan bikin aku galau dong, Ma,”


__ADS_2