
“Ran, udah baca chat gue ya? Nanti ya pulang sekolah ngerjain tugas di rumah Leta. Jangan pulang dulu ya,”
Rafa kebetulan akan ke kamar mandi dan tak sengaja bertemu dengan Arani yang hendak masuk ke dalam kelas dan juga Areno yang mengantarkan Arani sampai di depan kelas. Sekalian saja Ia kembali membahas soal tugas kelompok itu.
“Iya tenang aja, nggak lupa kok,”
“Inget dia, nggak bakal pulang duluan. Tapi sampai jam berapa sih biasanya?” Tanya Areno.
“Belum tau, emang kenapa, Ren?”
“Ya nggak apa-apa, mau gue jemput,”
“Ntar gue anterin satu-satu, sebagai cowok gue harus tanggung jawab, ‘kan judulnya sekalian jalan-jalan. Bukan Arani doang kok ceweknya, jadi ntar gue anterin satu-satu,”
“Eh nggak usah, naik ojek juga bisa, ngapain mesti lo yang antar? Capek lah yang ada,”
Arani menolak untuk diantar pulang oleh Rafa, karena Ia juga biasa naik ojek kalau bepergian, disaat tak ada yang mengantarnya. Lagipula kasihan juga Rafa. Yang seharusnya langsung pulang setelah mengerjakan tugas kelompok, malah harus mengantarkan teman-temannya dulu satu persatu.
“Iya yang lain juga pada bilang gitu sih, tapi nggak apa-apa gue anter pulang, sekalian gue jalan-jalan soalnya, toh rumahnya nggak pada jauh-jauh amat,” ujar Rafa.
“Arani sama gue, lo nggak perlu nganter,” ucap Areno dengan lugas. Setelah itu Areno menatap Arani yang menatapnya ragu.
“Yakin mau jemput aku?”
__ADS_1
“Iyalah, emang aku keliatan nggak yakin?”
“Ngapain? ‘Kan aku bisa pulang sendiri. Hahaha, santai aja kali. Aku bisa naik ojek, atau aku juga bisa kok minta jemput sama Papa,”
“Nggak, sama aku,”
“Ya udah terserah dah mau balik sama siapa yang penting gue udah nawarin yak. Gue mau ke kamar mandi, permisi,”
Setelah berkata seperti itu Rafa bergegas meninggalkan sepasang manusia yang tampaknya masih akan memperdebatkan soal dengan siapa Arani pulang.
“Pokoknya aku yang jemput ya, awas aja kalau udah pulang duluan,”
“Dih, pemaksaan itu namanya,”
“Leta,”
“Iya nanti aku datang ke rumah dia terus aku bawa kamu pulang, okay?”
“Dibilang—“
“Udah ya, aku mau masuk kelas dulu,”
Areno langsung pergi begitu saja meninggalkan Arani. Benar-benar pemaksaan, padahal Arani bisa pulang dengan ojek, tapi Areno tetap memaksakan keinginannya yang akan datang ke rumah Leta untuk menjemput Arani setelah Arani mengerjakan tugas kelompoknya.
__ADS_1
Arani mendengus kesal sambil menatap tajam punggu Areno yang sudah menjauh. “Dia kenapa sih bandel banget? Orang gue nggak mau ngerepotin, eh dia nya malah mau banget direpotin sama gue,”
“Simi simi simi,”
Arani langsung menyingkir ketika tiga sahabatnya akan melewatinya yang berada di depan pintu kelas.
“Ah elah rempong bener lo bertiga,”
“Tadi ‘kan udah bilang simi alias misi. Lagian ngapain sih di depan pintu kelas?” Tanya Defilla seraya menatap Arani dengan bingung.
“Ya nggak kenapa-napa, ini mau masuk kok,”
“Eh lo berangkat sama siapa?”
“Sama Areno,”
“Cie berangkat ke sekolah sama Areno, nanti pulang sama dia lagi ya pasti?”
“Kita ada tugas kelompok,”
“Oh iya berarti kita balik bareng aja, Ran,”
“Masalahnya tuh orang bebal banget. Masa udah gue bilang gue bisa pulang sama ojek, eh dia tetap aja mau jemput di rumah Leta. Emang benar-benar ngeselin banget,”
__ADS_1
“Dia mau bertanggung jawab atas lo tuh, Ran. Dia mau mastiin lo sampai rumah dengan selamat,”