Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 63


__ADS_3

“Mas, kok narok mobil di sini sih?”


“Maaf, Pak. Saya udah nggak keburu lagi mindahin mobil ke rumah Arani. Minta maaf ya, Pak,”


Areno langsung mendapat teguran dari pihak keamanan komplek karena meletakkan mobil di dekat gerbang komplek perumahan. Areno terlalu semangat ingin menemani Arani dan papanya ke ragunan. Jadi tidak ingat kalau seharusnya mobil yang Ia bawa itu Ia simpan dulu di rumah Arani selama Ia pergi bersama Arani menggunakan sepeda.


“Maaf ya, Pak. Areno nya nggak sempat mindahin mobil ke rumah saya tadi, maaf sekali lagi,”


“Iya nggak apa-apa, cuma takut aja mobilnya kenapa-napa,”


“Nggak Alhamdulillah. Sekali lagi maaf ya, Pak,”


“Siap, Pak Hadi,”


“Kamu mau langsung pulang atau ke rumah dulu, Ren?” Tanya Hadi pada kekasih anaknya itu.


“Aku langsung pulang aja ya, Om, makasih udah bolehin aku ikut ke ragunan. Aku senang banget bisa ke ragunan sama Arani sama Om,”


“Harusnya Om yang bilang makasih karena kamu udah bawa sepeda bonceng Arani pulang pergi,”


“Iya sama-sama, Om,”


“Aku pulang ya, Ran”


“Iya makasih ya. Harusnya aku yang bawa sepeda pas pulang ke sini eh malah kamu. Pasti kamu capek ya?”


“Nggak capek kalau buat kamu, hehehe. Aku pamit pulang ya,”


“Okay hati-hati,”


“Om, aku pulang ya, makasih sekali lagi udah ngizinin aku ikut ke ragunan,”


Areno mencium tangan Hadi sebelum pulang. Areno sangat bahagia sekali hari ini karena Ia bisa menghabiskan waktu bersama Arani dan juga papanya. Menemani Arani mengenang masa kecil di ragunan tak pernah ada dalam bayangan Areno selama ini.


“Hati-hati, Ren,”


“Iya, Om, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”

__ADS_1


Areno memasuki mobilnya. Ia menurunkan jendela mobil dan melambaikan tangannya ke arah Arani juga papanya, setelah itu mulai melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan.


Setelah mobil Areno tidak terlihat lagi, Hadi mengajak anaknya untuk bergegas ke rumah dengan sepeda mereka masing-masing.


“Papa pasti capek ya?” Tanya Arani pada papanya yang menuruti keinginannya hari ini untuk ke ragunan.


“Nggak, Sayang. Tadi ‘kan udah istirahat pas kamu sama Areno liat gajah,”


“Tapi dari ragunan ke sini ‘kan gowes sepeda sendiri,”


“Tapi nggak capek kok, biasa aja,”


“Nanti langsung aku pijitin, Pa. Makasih ya udah temenin aku ke ragunan, Pa,”


“Nggak usah dipijitin, pakai minyak urut juga hilang pegalnya. Sama-sama, Papa senang temenin kamu, Nak,”


“Aku yang nggak capek, Pa. Karena yang gowes sepeda nya si Areno,”


“Iya sih bener, jadi Areno yang kakinya capek ya. Tapi dia keliatan senang-senang aja tuh, kayaknya karena sama kamu deh,”


“Ya emang dia dari tadi happy aja tuh keliatannya, Pa. Aneh banget, padahal aku aja agak capek lho karena tadi sempat keliling liat-liat hewan. Lah dia nggak keliatan capek, semangat mulu. Malah ngajakin aku bercanda terus dengan jurus seribu gombalnya,”


“Hahaha kalau di depan Papa agak kalem dia,”


“Emang Areno suka muji deh kayaknya, Ran,”


“Iya, Pa,”


******


“Kenapa muka kamu keliatannya bahagia banget? Abis darimana sih? Cerita dong sama Mama,”


“Abis dari jalan-jalan sama calon pasangan dan calon mertua,”


“Waduh, siapa itu? Arani?”


“Iya dong, Ma. Emang siapa lagi? Udah jelas Arani,”


Areno tersenyum menaik turunkan alisnya. Ketika Ia sampai rumah, ekspresi wajahnya kelihatan bahagia sekali dan itu bisa dilihat jelas oleh mamanya.

__ADS_1


Areno memasuki rumah dengan ekspresi riang sambil bersiul, wajar kalau mamanya itu menduga Areno sedang berbunga-bunga hatinya.


“Emang Arani mau diajakin jalan sama kamu? Kamu nggak diusir apa, Ren?” Tanya Mamanya.


“Ih Mama jahat banget sih sama anaknya. Mama doain aku diusir sama Arani?”


“Nggak, maksud Mama kok tumben kalian jalan berdua? Emang Arani mau?”


“Jadi gini, Ma. Tadi ‘kan aku niatnya mau ke rumah Arani, tapi belum sampai di rumah Arani, baru sampai di dekat gerbang komplek perumahannya Arani, aku ngeliat Arani sama Papanya naik sepeda mau keluar komplek. Otomatis aku berhentiin mobil ‘kan. Terus aku samperin mereka deh untuk tanya mereka mau kemana. Dan ternyata Arani tuh pengen ke ragunan, Ma. Dia mau olahraga sekalian liat hewan-hewan gitu deh. Terus ditemenin sama papanya. Nah aku langsung pengen ikut, Ma. Tapi aku nggak bawa sepeda ‘kan, akhirnya aku yang bawa sepedanya Arani terus Arani duduk di belakang aku deh. Pulang pergi aku yang bawa sepeda Arani, Ma. Gimana? Romantis ‘kan, Ma?”


“Aduh Hahahaha,”


Areno mengernyitkan keningnya bingung ketika melihat mamanya tertawa. Apakah ada yang lucu?


“Ma, kok ketawa sih? Aku ‘kan barusan cerita bukan lagi ngelawak. Emang dari cerita aku ada yang lucu?”


“Lucu, kamu nya yang lucu,”


“Ah Mama bisa aja,”


“Ya abisnya gimana? Kamu segitu senangnya bisa pergi sama Arani. Meksipun bukan kencan ke restoran mahal, ke tempat-tempat romantis, tapi kamu udah sebahagia itu keliatannya, Ren. padahal cuma ke ragunan lho. Tempat tinggalnya hewan-hewan, dan tempat yang cukup rame juga di hari libur gini,”


“Iya aku emang senang banget, Ma. Nggak nyangka sih bisa jalan sama Arani ke ragunan. Ya aku anggap aja itu lagi kencan walaupun kencan nya sama Om Hadi,”


“Akhirnya ngerasain kencan diawasin sama orangtua Arani ya. Dulu papa kamu juga gitu kok. Mama nih susah untuk dilepas sama orangtua Mama, kalau Papa mau ngajakin Mama pergi, ayahnya Mama tuh suka mau ikut untuk ngawasin, dan itu seru lho,”


“Iya aku nggak masalah sama sekali. Yang penting aku bisa sama Arani. Mau diawasin sama siapa aja aku nggak masalah, Ma. Lagipula aku juga nggak mau ngapa-ngapain kok, cuma pengen dekat aja sama Arani, bisa ngobrol bareng, bercanda, pokoknya bisa ada momen sama Arani aja udah bikin aku senang. Nggak peduli deh aku pengen diawasin sama siapa,”


“Wajar kalau diawasin juga. Arani itu ‘kan anak perempuan, mana satu-satunya, ya pasti dijagain banget lah. Sekarang aja Arani dipantau, apalagi kalau seandainya Arani pacaran, kamu harus siap-siap dipantau terus sama orangtuanya Arani. Tujuannya bukan untuk ganggu kalian kok, bukan untuk bikin risih juga, tapi mereka mau mastiin anak mereka itu ada di tangan yang tepat, dan kamu harus buktiin kalau kamu tuh bisa dipercaya jagain Arani terus,”


“Iya, Ma,”


“Nah kalau udah dipercaya, jangan kamu sia-siakan kepercayaan itu. Sulit lho untuk dapat kepercayaan dari orang lain. Kalau udah sekali aja kamu rusak kepercayaan itu, belum tentu ada kesempatan lagi nantinya untuk kembali dipercaya,”


“Aku cinta sama Arani, Ma. Aku pastinya pengen jagain dia, dan bikin orangtuanya tuh percaya kalau aku cowok yang baik, yang pantas sama Arani,”


“Iya, makanya kamu harus jadi laki-laki yang baik, karena laki-laki baik ya jodohnya adalah perempuan baik. Semangat deh yakinin orangtuanya Arani, ya walaupun masih lama juga ya nikahnya hahaha. ‘Kan masih sekolah. Kamu terlalu ke depan mikirnya,”


“Nggak apa-apa, Ma. ‘Kan harus memikirkan masa depan,”

__ADS_1


“Ya tapi nggak sekarang juga mikir nikahnya, Sayang,”


“Aku cuma mau yakinin mama papanya Arani aja kok bukan minta nikah sekarang, Ma,”


__ADS_2