Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 98


__ADS_3

Areno masih menunjukkan reaksinya yang tak berkedip itu. Setelah Arani sampai di hadapannya, Arani melihat Areno yang sedang memperhatikan penampilan Arani dari atas sampai bawah.


"Kenapa? Aneh ya? Dandanan aku berlebihan? Maaf deh kalau menurut kamu dandanan aku terlalu berlebihan,”


Ucap Arani dengan nada lirih. Tapi tiba-tiba Arani merasa bibir Arani di sentuh oleh telunjuk Areno . Pertanda kalau Arani harus diam.


"Ssstt. Siapa bilang kamu dandan berlebihan? Ini natural banget. Kamu terlihat sangat cantik menggunakan make up natural ini. Kamu perfect,”


Areno mengucapkan kalimat itu dengan tulus dan lembut. Sembari telunjuknya masih berada di bibir Arani. Setelah dia berbicara, Ia tarik kembali telunjuknya.


"Tapi aku ragu deh,”


Ucap Arani pada nya. Dan dia mengernyitkan dahinya heran mendengar ucapan Arani itu.


"Kenapa ragu? kamu bener-bener cantik malam ini. Kamu sempurna Arani,"


Dia kembali berbicara tulus. Dan ucapan nya itu kembali berhasil membuat wajah Arani bersemu.


"Jadi kamu mau jalan sama aku?"


Areno bertanya pada Arani yang langsung menganggukkan kepalanya.


"Menurut kamu? Emang dandanan aku ini nggak bisa jawab pertanyaan kamu?"


Tanya Arani dengan ketus. Lagian kenapa harus bertanya lagi. Areno sudah liat Arani berpenampilan istimewa malam ini, tidak mungkin kalau Areno tidak memahami apa artinya.


"Ya udah ayo masuk ke mobil,”


Areno menggandeng aku masuk ke dalam mobil. Lalu membuka pintu mobil itu untuk Arani.


"Tumben bawa mobil. Kenapa nggak bawa motor aja? Ah nggak seru kamu."


Ucapan Arani itu membuat Areno yang sedang membukakan pintu mobil nya untuk Arani langsung menoleh pada Arani. Lalu Ia tersenyum mendengarnya.


"Masa malam-malam bawa cewek cantik naik motor? Nanti kalau kamu kenapa-enapa aku kan jadi sedih," jawaban Areno itu kembali membuat pipi Arani merona karena malu.


"Silakan masuk, Princess,"


Areno mempersilakan Arani masuk ke dalam mobilnya sembari tersenyum. Lalu Areno memutuskan untuk masuk kedalam mobil sport berwarna merah ini. Di perjalanan suasana hening tercipta di antara kami. Sesekali Areno hanya melirik, tapi Arani sama sekali tak menghiraukannya.


Sedari tadi pandangan Arani hanya ke arah luar jendela mobil. Arani ingin melihat pemandangan pada malam hari lewat jendela mobil ini.


"Ayo, Ran, masuk udah sampai nih."


Lamunan Arani terhenti saat Areno berkata seperti itu pada Arani. Arani melihat keadaan sekitar mobil ini. Sepertinya mobil ini terparkir di sebuah restoran mewah tapi dengan suasana yang klasik. Dilihat dari luar, nampaknya restoran ini sangat sepi sekali. Tak lama Areno membukakan pintu mobilnya untuk Arani.


"Selamat datang, Princess,”


Ucap Areno saat aku turun dari mobil nya. Arani hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Areno itu. Lalu Arani dan Aremo mulai memasuki restoran ini. Ternyata benar restoran ini sangat sepi. Seperti restoran yang sudah di pesan saja. Saat kami sudah sampai di sebuah meja, Areno menarik satu buah kursi di dekat meja itu dan mempersilahkan Arani untuk duduk. Diikuti dengan dirinya yang duduk juga. Arani duduk sambil masih terpesona dengan suasana di restaurant ini. Saat Arani sedang asyik menikmati suasana klasik di restoran ini Arani di kaget kan dengan lampu restoran yang tiba-tiba saja mati. Hanya menyisakan satu lampu yang menyala dan terfokus pada sebuah panggung di depan sana. Arani baru menyadari kalau di restoran ini ada panggung yang lumayan megah dengan desain yang mewah dan klasik juga sama seperti suasana restaurant ini. Arani mendengar suara alunan piano yang sangat indah yang ternyata bersumber dari piano yang berada di atas panggung itu. Arani sangat menghayati nada demi nada yang di alunkan oleh piano itu. Arani sangat penasaran dengan orang yang sudah berhasil membuat dirinya terpikat dengan permainan piano itu. Tapi sayangnya Arani tak dapat melihat orang yang sedang bermain piano itu dengan jelas. Karena wajah orang itu yang menunduk dan Masih terfokus dengan permainan piano nya di tambah lagi piano yang besar itu kembali menutup wajahnya. Arani baru tersadar kalau Areno sudah tak ada lagi di sampingnya Kini hanya Arani sendiri yang berada di restoran mewah ini. Tapi entah kenapa, Bukannya Areno takut dengan suasana yang sepi ini ditambah lampu yang masih padam, Arani justru menikmati suasana ini. Arani menikmati alunan musik yang di lantunkan oleh piano itu sampai selesai tanpa takut sedikitpun karena Arani sendiri. Arani juga tak begitu memikirkan Areno yang tidak ada di sampingnya. Karena Ia lebih memilih menikmati suasana ini daripada harus memikirkan Areno . Setelah Arani sadar kalau pemain piano itu telah selesai memainkan piano nya dan bangkit dari posisinya. Tapi Arani masih bisa samar-samar melihat pemain piano itu yang kini sudah berdiri tegap di atas panggung dan dia mulai menunjukkan jati dirinya. Dia tak di balik piano besar itu lagi.


"Aku mencintai kamu layaknya matahari mencintai pagi. Aku mencintai kamu, layaknya bintang yang mencintai malam. Dan aku juga mencintai kamu layaknya pasir yang juga mencintai pantai. Tapi kamu harus tau, aku selalu mencintai kamu. Aku nggak akan pernah berhenti mencintai kamu. Walau nanti jantungku berhenti untuk berdetak, walau nafasku nggak lagi bisa berhembus dan darahku nggak lagi berdesir. Aku akan terus mencintai kamu sampai bumi berubah bentuk nggak lagi bulat, sampai matahari lelah menemani pagi, dan sampai bintang berhenti untuk bersinar di malam hari,”


Ucapan yang keluar dari mulut Areno membuat Arani menutup mulut tak percaya, kalau Areno yang mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Mataku tampak berkaca. Arani tak menyangka kalau Areno yang ada di panggung itu. Ucapan tulus dari Areno akhirnya mampu membuat bulir bening yang sudah sedari tadi Arani tahan keluar juga dari pelupuk mata Arani. Arani masih terdiam di posisinya. Arani masih terhipnotis dengan semua ini. Setelah Areno selesai mengucapkan kata-kata itu lampu kembali di hidupkan. Kini suasana kembali terang. Arani melihat Areno yang berjalan menghampiri Arani.


"Hei. Kok kamu nangis? Kamu nggak suka ya sama ini semua?”


Tanya Areno dengan nada lirihnya setelah dia sampai di tempat Arani. Arani membalas ucapan Areno dengan gelengan cepat. Gelengan itu pertanda kalau Arani tidak setuju dengan ucapan Areno yang mengatakan kalau aku tidak suka dengan semua ini. Semuanya sangat menakjubkan. Sungguh tak bisa digambarkan rasa bahagia Arani atas semua ini.


"Ini semua kamu yang nyiapin?"


Tanya Arani pada Areno. Dan di balas oleh Areno dengan anggukan pasti sembari tersenyum, tanpa sadar Arani memeluk Areno sangat erat. Arani menumpahkan semua haru di pelukan Areno. Areno mengusap lembut puncak kepala Arani.


"Kamu jangan nangis. Aku ngelakuin ini, karena aku sayang dan cinta sama kamu. Maaf kalau semua ini nggak sesuai dengan apa yang kamu harapkan,”


Areno meregangkan pelukan kami dan mengeluarkan ucapan Itu yang terdengar sangat tulus. Arani mendongakkan kepala Arani di pelukan Areno agar Arani bisa menatap Areno. Arani meletakkan telunjuknya di depan bibir Areno.


"Sstt. Kamu salah kalau menurut kamu, aku berpikir kayak gitu. Aku justru nggak nyangka sama apa yang udah lo persiapkan ini . Aku bahagia banget. Aku kira acara kita malam ini nggak akan seromantis ini. Tapi nggak taunya romantis banget,”


Ucap Arani sambil tersenyum tulus.


"Itu kewajiban aku untuk bikin kamu bahagia,”


Balas Areno tak kalah tulus.


Ya ampun Arani baru tersadar kalau Arani sedari tadi sudah memeluk Areno.


"Aduh sorry. Aku nggak ada maksud. Tadi aku terlalu senang. Jadi kelepasan deh meluk kamu,"

__ADS_1


Ucap Arani sembari melepaskan pelukan dari Areno. Areno terkekeh melihat sikap Arani yang masih malu-malu ini.


Tiba-tiba ada tangan Areno yang menarik dagu Arani dengan lembut.


"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Barusan aku udah menyatakan perasaan aku. Kalau aku sangat mencintai kamu. Aku tau ini semua ini terlalu cepat. Tapi itulah yang aku rasakan sekarang ini. Aku sangat berharap kalau kamu bisa menemani hari-hari aku. Kamu mau kan nerima aku apa adanya untuk jadi pelindung kamu? Dan aku siap untuk melindungi kamu dari bahaya apapun,”


Ucap Areno sangat terdengar tulus yang masih memegang dagu Arani lembut. Setelah dia selesai berbicara, baru dagu Arani dilepaskan dari dengan lembut. Ia sepertinya sangat menunggu jawaban Arani. Karena Arani belum juga menjawab pertanyaannya. Lalu Arani memutuskan untuk menjawab pertanyaan Areno dengan anggukan sembari tersenyum.


"Ya kalau aku nggak nerima, kita nggak pacaran dong, jalanin aja biarin kayak air yang mengalir,”


"Jalani? Jadi maksud kamu, sekarang kita udah berganti status?"


Tanya Areno dengan ragu. Lalu Arani membalas kebingungan Areno itu dengan anggukan sembari tersenyum. Arani bisa melihat ekspresi wajah Areno yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sumringah.


“Lah ‘kan emang udah,”


“Ini aku nembaknya serius, Ran,”


“Iya-iya,”


"Aku seneng banget. Bisa menaklukkan hati kamu, semoga hubungan kita ke depannya makin menyenangkan ya,”


Ucap Areno sembari menjawil dagu Arani dan tertawa kecil.


"Iya semoga, nggak ada berantem-beranteman aamiin, beneran mau jagain aku? Janji?”


"Aku janji, Ran. Aku janji bakal selalu lindungin kamu dari bahaya apapun. Kalau perlu nyawa aku akan aku serahin untuk ngelindungi kamu. Aku nggak peduli sama nyawa dan diri aku sendiri. Aku lebih peduli sama keselamatan hidup kamu. Kamu tenang aja ya,"


Ucap Areno dengan tulus sembari mengelus pipi Arani. Dan membawa Arani ke dalam pelukannya. Arani dipeluknya dengan begitu erat.


"Dih modus kamu. Pakai peluk-peluk lagi,”


Ejek Arani pada Areno setelah Ia melepaskan pelukannya.


"Biarin pacar aku ini,”


Ucap Areno yang kini balik menggoda Arani seraya mencubit pipi Arani.


"Kamu cantik banget. Kamu sempurna. Aku beruntung banget sekarang , kamu udah milik aku. Jadi aku nggak takut lagi kalau kamu bakal di deketin cowok lain,”


Ucapan Areno membuat Arani terkekeh sembari mengalihkan perhatian Areno. Karena Arani tidak mau kalau sampai Areno melihat wajahnya yang kini kembali merona.


Tanpa Arani sadari. Ucapan itu keluar dari mulutnya. Kenapa Arani bisa mengakui kalau pipinya sedang berubah warna kepada Areno? Oh Tuhan. Arani kelepasan mengakui itu pada Areno.


"Pipi kamu merona ya? Cieee ngaku nih sama aku. Jujur aku senang deh kita ngobrol kayak hini. Udah mulai biasa ya?"


"Nyebelin!! Digodain mulu"


Ucap Arani pada Areno sembari memasang wajah cemberut . Dan sikap Arani itu langsung membuat tangan Areno terpancing untuk mencubit pipi Arani pelan karena dia gemas dengan sikap Arani.


"Mulai sekarang ngomong nya jangan Lo gue lagi dong. Tapi aku kamu aja ya? Nggak romantis kalau ngomong lo gue,” ujar Areno tiba-tiba, padahal selama ini mereka sudah bicara seperti apa yang diinginkan oleh Areno


"Ya ‘kan emang udah gitu. Tapi nih ya kalau mau romantis itu bukan diliat dari cara ngomongnya . Tapi dari gimana cara pasangan itu menciptakan suasana romantis di antara mereka." Ucap Arani.


"Cieee pacar aku bijak banget sih ngomong nya. Jadi makin cinta,”


Areno kembali membuat pipi Arani bersemu.


"Dih kamu mah, dari tadi godain aku mulu,”


Arani kembali menunjukkan ekspresi kesal.


"Iya deh maaf pacar aku yang cantik. Jangan cemberut gitu dong nanti cantik nya berkurang Oh iya kamu pasti lapar kan?”


Tanya Areno pada Arani. Dan Arani langsung menjawab dengan anggukan cepat. Karena memang Arani sudah sangat lapar. Areno hanya terkekeh melihat sikapku yang seperti anak kecil ini lalu Areno memanggil satu orang pelayan. Dengan cepat pelayan itu menghampiri kami.


"Silakan mau pesan apa?"


Tanya pelayan itu santun sembari memberi buku menu di restoran ini.


"Saya mau steak dan orange juice,"


Ucapan itu keluar dari mulut Arani dan Areno secara bersamaan. lalu Arani dan Areno saling menatap. Setelah itu tawa kecil di antara kami pun pecah. Arani melihat pelayan itu juga tertawa kecil melihat kekompakan Arani dengan Areno. Keinginan kami ternyata sama.


"Kompak sekali. Mudah-mudahan kalian berjodoh ya"


Ucap pelayan itu sembari berlalu. Arani dan Areno saling menatap lagi mendengar ucapan pelayan itu, setelah itu tawa kami kembali pecah.

__ADS_1


"Amin ya, Ran,"


Ucap Areno sembari melirik pada Arani setelah tadi tertawa. Arani hanya mampu menahan senyumnya sambil menampilkan rona di pipinya lagi.


"Kalau mau senyum, senyum aja nggak usah ditahan. Liat tuh pipi kamu merah lagi. Aku jadi makin gemas tau,” Ucap Areno sembari mencubit pelan wajah Arani.


"Emang kalau gemas kenapa?" Tanya Arani pada Areno.


"Jadi mau peluk,”


Balas Aremo dengan santai sembari tersenyum usil.


"Dih apaan sih kamu. Dasar modus!"


Ucap Arani pada Areno sambil mencubit lengan dan pinggang nya. Areno meringis kesakitan.


"Aww lumayan juga cubitan kamu, Ran,”


Ujar Areno sembari memegang pinggang dan lengan nya yang baru saja menjadi korban dari cubitan maut Arano.


"Rasain aja! Lagian dari tadi ledekin aku mulu."


Ucap Arani pada Areno sembari menjulurkan lidahnya meledek Areno. Areno hanya terkekeh melihat itu. Kami menunggu pesanan kami dengan bersenda gurau.


Tak perlu waktu lama, pesanan yang kami tunggu akhirnya datang juga. Arani menatap makanan itu dengan tatapan lapar.


"Selamat menikmati,”


Ucap pelayan sembari meletakkan makanan kami di meja.


"Makasih ya, Mba,”


Ucap Arani dan Areno yang dibalas dengan anggukan oleh sang pelayan kemudian pelayan itu pergi dari hadapan Arani dan Areno.


Arani dan Areno langsung menyantap makanan lezat ini dengan lahap Apalagi Arani yang memang sudah sangat lapar.


"Pelan-pelan dong Ran makan nya,"


Ucap Areno sembari membersihkan noda makanan yang terletak di sudut bibir Arani. Perasaan Arani menghangat mendapat perhatian yang besar ini dari Areno.


"Ehh ngomong-ngomong kok restoran ini sepi banget ya cuma ada kita berdua. Kamu sengaja ya booking restoran ini khusus buat kita?"


Tanya Arani pada Areno yang memecahkan suasana hening yang tercipta di antara kami.


"Iya aku sengaja booking restoran ini untuk kita berdua. Aku nggak mau diner kita malam ini ada yang ganggu,”


Ucap Areno memberi Arani penjelasan.


"Berarti kalau seandainya tadi aku nggak mau kamu diajak jalan, gimana sama bookingan kamu? Nggak mungkin ‘kan kamu batalin gitu aja?"


Tanya Arani pada Areno dengan penasaran.


"Aku yakin kamu mau aku ajak jalan. Dan bener kan apa yang aku bilang?"


Ucap Areno sambil menampilkan senyum percaya dirinya.


"Dih pede banget si kamu. Hhmm coba tadi aku nggak mau kamu ajak jalan. Pasti kamu kecewa kan? Ngaku deh sama aku. Kecewa kan? "


Aku meledek Areno sembari menunjuk wajahnya. Tapi dengan cepat tangan Arani yang Arani gunakan untuk menggoda Areno kini malah di genggamnya erat.


"Iyalah pasti kecewa banget. Kalau sampai kamu tadi nggak mau jalan sama aku,”


Ucap Areno sembari mencium punggung tangan Arani dengan lembut.


"Udah kamu lanjutin makan nya. Nanti kita terlalu malam pulangnya,”


Ucap Areno padaku dan Arani balas dengan anggukan. Lalu kami lanjutkan menyantap steak kami lagi setelah beberapa saat akhirnya kami selesai juga menyantap makanan ini yang sungguh lezat.


"Udah lega perutnya? Kita pulang ya? Biar kamu bisa istirahat,”


Areno berbicara pada Arani sembari mengelus rambutnya dengan sangat lembut. Arani balas dengan anggukan sembari tersenyum. Matanya memang terasa sudah sangat berat. Lalu mereka berjalan menuju parkiran. Areno membuka pintu mobilnya untuk kekasihnya itu dan mempersilahkan Arani masuk ke dalam mobilnya. Areno melajukan mobilnya keluar dari restoran klasik dan mewah ini menuju rumahku. Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi.


"Makasih ya buat malam ini. Kok kamu bisa si romantis kayak gini? Kirain kamu nggak bisa romantis,”


Hingga akhirnya Arani memutuskan untuk memecahkan suasana hening di dalam mobil Areno.


"Dengan kamu, aku bisa ngelakuin apapun yang mampu bikin kamu bahagia,"

__ADS_1


Balas Areno dengan tulus sembari mengelus pucuk kepala Arani dengan lembut dan setiap perlakuan lembut lelaki itu akan membuat perasaan Arani menghangat.


__ADS_2