Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 38


__ADS_3

“Areno nggak masuk sekolah, Ran? Emang kenapa?”


Disela mempersiapkan diri sebelum memasuki laboratorium kimia, Vevi bertanya pada sahabatnya yang pagi ini tidak pergi bersama Areno, padahal biasanya mereka rajin berangkat bersama.


“Masih sakit dia,” jawab Arani.


“Oalah pantesan tadi lo nggak dianterin sama dia,”


“Iya, Vi,”


“Lo lemes amat, gara-gara Areno sakit?”


“Hahahaha ya kali. Nggak lah, gue masih ngantuk, jujur. Kenapa ya praktek kimia harus pagi. Gue belum siap tau. Gue pengennya tidur tapi ‘kan nggak mungkin, mau bolos juga sayang uang nyokap bokap gue,”


“Iyalah peak! Jangan macem-macem dah. Sekolah aja yang bener,”


Arani menahan diri supaya tidak kelihatan mengantuk tapi tetap saja tidak bisa dismebunyikan ternyata. Buktinya Vevi saja bisa melihat kalau Ia lemas tapi Vevis alah sangka. Vevi kita Ia lemas karena Areno sakit. Walaupun Ia pirihatin, tidak tega ketika tahu Areno masih sakit, tapi Ia lemas bukan karena itu. Memang Ia masih mengantuk karena semalam itu Ia tidur lumayan malam. Ia tidak bisa tidur dan akhirnya memilih untuk menonton drama korea. Namun berlanjut hingga beberapa episode. Ketika pukul dua dini hari barulah Ia merasa harus secepatnya tidur karena matanya sudah berat sekali, dan Ia kaget melihat jam dinding yang ternyata jarumnya sudah menunjuk angka dua.

__ADS_1


“Arani mana mungkin lemes karena pacarnya sakit orang dia cuek begitu, nggak peduli sama cowoknya malah,”


Arani melirik Salsa yang baru saja berceletuk sesuka hati. Tidak tahu apa-apa tapi asal bicara. Tapi Arani tidak heran, memang di kelasnya ini paket lengkap. Ada yang sangat pendiam, ada yang biasa saja, ada yang cerewet sekali alias tukang rumpi juga. Salah satunya Salsa ini. Tak ada angin, tak ada hujan mengonentari Arani.


“Duh Sal, lo tuh jangan sok tau deh,”


“Lah emang iya, cuek bener sih lo. Ati-ati ntar ada yang ngambil Areno dari lo, Ran. Gue mah ngingetin lo aja,”


“Ya elah kalau emang ada yang ngambil nggak masalah, gue nggak rugi. Lagian gue percaya sama dia, tapi kalau dianya mau macam-macam silahkan. Toh gue nggak sepenuhnya naruh perasaan gue ke dia karena gue tau cowok itu suka seenak jidat nyakitin cewek. Ya emang nggaks emua sih, tapi ‘kan gue takut dia termasuks alah satunya,”


“Ya…bisa dibilang begitu,” jawab Arani dnegan santainya sambil bersedekap dada.


“Mantap nih prinsipnya, bisa ditiru,”


Arani merotasikan bola matanya. Barusan Ia seperti dicela oleh Salsa, sekarang malah dipuji soal prinsip dalam menjaga hati supaya tidak terlalu dalam mencintai seseorang karena semakin dalam mencintai, maka ketika dilukai sedikit saja, peluang sakit hatinya besar sekali.


“Ayo silahkan masuk lah nya, sudah pakai jas lab semua ya?”

__ADS_1


“Sudah, Bu,”


Ibu Winda mempersilahkan Arani dan teman-teman sekelasnya untuk memasuki laboratorium kimia yang menjadi tempat praktek mereka pagi ini.


*******


“Lo pada ngapain anjir? Mentang-mentang gue bilang kalau nyokap bokap gue lagi keluar, eh malah pada dateng. Bolos? Gue bilangin kepsek ya hahahaha,”


“Males, pagi gini malah praktek resep, bisa gila. Mending main PS,”


“Ih nggak patut dicontoh nih generasi muda kayak gini. Sana balik ke sekolah, ntar ke sini lagi kalau udah kelar sekolah,”


Areno mengusir tiga orang temannya Dani, Dafa, dan Adib untuk ke sekolah. Pagi ini Areno cukup terkejut mendapati teman-temannya datang ke rumah.


“Sana buruan balik ke sekolah,”


“Ah elah lo kayak nggak pernah bolos aja,”

__ADS_1


__ADS_2