Kisah Anak Farmasi

Kisah Anak Farmasi
Bab 68


__ADS_3

Qanita buru-buru membuka pintu mendengar suara motor anaknya ditengah suara gemuruh petir dan aliran hujan yang deras.


“Ya Allah, Nak. Basah kuyup kamu,”


“Nggak, Ma, ‘kan pakai jas hujan, cuma dingin banget,”


“Lagian kenapa nggak stop dulu sih?”


“Tiba-tiba deras pas di tengah jalan, malas ah berhenti dulu, jadi aku lanjut aja,” ujar Areno seraya melepaskan jas hujan, setelah helm Ia tanggalkan lebih dulu.


“Tadi udah sempat reda banget, petir juga nggak ada lagi pas aku sampai di rumah Arani, eh deras lagi, petir lagi pas aku udah jalan ke sini,”


Mendengar penjealsan anaknya, kening Qanita mengernyit bingung. Ia langsung penasaran dengan alasan Areno ke rumah Arani.


“Kamu dari rumah Arani? Ngapain, Ren?”


“Antar Arani, Ma. Jadi tadi aku pulang bareng sama dia, senang banget aku, Ma,” ujar Areno seraya menaik turunkan alisnya menatap sang mama sambil tersenyum lebar. Dari ekspresi wajahnya kelihatan kalau Areno benar-benar bahagia.


“Cie yang pulang bareng Arani ihiw” goda Qanita apda puta semata wayangnya itu.


“Iya karena aku paksa, Ma,”


“Hah? Kok kamu paksa sih? Aduh anak ini benar-benar keterlaluan. Kamu nggak boleh dong maksa Arani untuk pulang sama kamu. Suka-suka Arani mau pulang sama siapa. Bukannya kata kamu, Arani dijemput sama papanya?”


“Hahahaha nggak dipaksa sih, Ma. Aku ajakin aja, eh tapi ngajaknya emang agak maksa juga sih hahahaha,” ujar Areno seraya terbahak, dan kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.


“Gimana sih ceirtanya? Mama penasaran, ceritain dong,”


“Ya nanti aku cerita tapi sekarang aku mau mandi dulu ya, Ma,”


“Iya mandi dulu deh, nanti mama bikin kentang goreng sama hot cappucino kesukaan kamu biar kamu hangat,”


“Asyiik makasih ya, Mama cantik,”


“Sama-sama, udah sana naik ke atas. Mandi dan langsung turun ya kalau udah. Cerita-cerita sama mama sambil kita minum cappucino dan makan kentang goreng,”


“Siap, Ma,”


Areno langsung bergegas ke kamarnya untuk bersih-bersih badan. Sementara mamanya sendiri ke dapur untuk menggoreng kentang dan membuat hot cappucino untuk Ia dan putra semata wayangnya itu.


Ketika Ia sedang asyik menggoreng, terdengar suara suaminya yang baru pulang bekerja mengucapkan salam. Ghali mendapatkan aroma masakan dari arah dapur dan Ia segera menghampiri karena Ia menebak istrinya di sana.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, wuih papa udah sampai. Hampir barengan sama Areno ya. Areno lagi mandi tuh. Kehujanan dia, tapi pakai jas hujan sih,”


“Areno baru pulang? Pantesan itu pintu nggak ditutup rapat,”


“Pantesan papa bisa masuk juga ya,” ujar Qanita seraya terkekeh.


“Goreng kentang? Papa mau juga dong, Ma,”


“Iya sekalian pasti, Pa. Hot cappucino mau nggak?”


“Mau dong, yang kafein-kafein nggak bakalan nolak. Mandi dulu deh, ntar gabung ya,”


“Sip, silahkan bapak Ghali,”


Ghali terkekeh mengusap singkat lengan istrinya kemudian Ia bergegas ke kamar. Qanita kembali fokus menggoreng, tak lupa memastikan saus sambal masih tersedia. Ia menyiapkan piring, setelah kentang matang Ia langsung menyajikan kentang di atas piring datar tersebut dan Ia bawa ke meja makan, dan tentunya Ia tutup. Kemudian Ia ke dapur lagi untuk membuat minuman.

__ADS_1


Qanita bawa satu persatu cangkir berisi cappucino yang panas ke meja makan. Berhubung suami dan anaknya masih mandi, jadi Ia menggunakan air panas semua, tidak campur dengan air yang dingin. Supaya tidak cepat dingin minuman buatannya itu.


********


-Areno, maaf ganggu. Kamu udah sampai rumah ‘kan?-


Areno sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, sebelum turun ke lantai dasar. Satu tangan bekerja mengeringkan rambut, sementara tangan yang satunya lagi Ia gunakan untuk mengisi daya baterai ponselnya. Bertepatan saat Ia menyambungkan charger dengan ponsel, ada pesan masuk dari Arani. Hal itu membuat Areno tersenyum senang.


“Ini beneran Arani chat gue duluan? Anjir, tumben banget gila gila gila! Gue senang banget ini woy! Mana ditanyain udah sampai rumah atau belum lagi,”


Reaksi Areno langsung berlebihan karena memang selama ini Ia yang senang mengirim pesan ke Arani walaupun Arani lama menanggapi atau bahkan tidak menanggapi sama sekali.


“Nggak nyangka gue njir. Kok tumben banget, mana ada acara nanyain gue udah sampai rumah atau belum, ‘kan sweet banget itu menurut gue,”


-Udah sampai rumah, Ran. Baru kelar mandi-


Areno segera mengetik balasan. Dan tak lama kemudian pesan dari Arani masuk lagi. Senyum Areno makin lebar sebab Ia berpikir cukup satu kali saja Arani mengirim pesan, ternyata masih berlanjut.


-Syukurlah kalau gitu. Aku disuruh mama nanyain itu-


“Bodo amat mau nyokapnya kek yang nyuruh, atau kemauan diri dia sendiri, gue nggak peduli. Intinya dia udah chat gue duluan dan nanyain hal yang menurut gue tuh sweet,” gumam Areno.


-Selamat istirahat ya, Ran-


Setelah mengetik balasan itu, Areno meletakkan ponselnya di atas nakas, sambil tangannya tetap mengeringkan rambut dengan handuk. Ia menunggu balasan dari Arani tapi tidak ada lagi. Pesan yang Ia kirim itu hanya dibaca oleh Arani saja, tanpa dibalas.


Tidak apa-apa, Areno tidak mempermasalahkan hal itu. Ia segera meletakkan handuk di tempatnya, kemudian Ia bergegas ke lantai dasar tak lupa membawa ponselnya. Ia masih berharap Arani mengirimkan balasan lagi.


Areno ke ruang makan, dan di sana sudah ada mamanya yang duduk sambil membaca buku resep makanan.


“Halo, Mama cantik,” Areno menyapa mamamya dengan hangat.


“Halo, udah selesai mandi ternyata,”


“Papa juga,”


Areno dan Qanita menoleh ke sumber suara. Areno tersenyum ke arah papanya yang ternyata sudah pulang dan bahkan sudah mandi.


“Kapan papa sampai?” Tanya Areno pada Papanya yang kini bergabung bersamanya dan sang mama.


“Hampir barengan sama kamu, Ren,” jawab mamanya.


“Oh pas aku mandi kali ya? Pantesan aku nggak tau,”


“Ayo kita ngopi sama makan kentang,”


“Asyik kayaknya enak bener nih,”


Areno sumringah disajikan makanan dan minuman kesukaannya. Suasana mendukung untuk menikmati dua perpaduan itu karena masih hujan di luar sana.


“Karena lapar jadinya keliatan enak ya, Ren?”


“Hahahah mama tau aja,”


“Sambil cerita dong, jadi gimana ceritanya kamu sama Arani bisa pulang bareng? Beneran kamu paksa Arani?”


Qanita, Areno, dan Ghali mulai menikmati kentang goreng dan cappucino yang disajikan oleh Qanita di meja makan.


“Jadi ‘kan aku mau nungguin dia sampai Om Radi papanya Arani datang jemput Arani di kampus. Dia udah nyuruh aku pulang, tapi aku nggak mau. Aku pengen nungguin dia sampai Om Radi datang, terus hujan ‘kan. Nah akhirnya kami berdua nunggu di pos satpam tuh sama Pak Agung yang kebetulan lagi jaga di pos. Papanya Arani nggak datang-datang, ternyata kejebak macet karena banjir, nah Arani akhirnya mau pulang sendjri aja. Dia nggak mau ngerepotin papanya. Karena papanya ‘kan lagi kena macet, terus banjir pula. Dia minta papanya untuk langsung pulang aja. Nah dia bilang bakal naik ojek, tapi papanya nggak bolehin karena khawatir. Terus dia bilang bakal naik transportasi yang mobil bukan yang motor. Pokoknya Arani nggak mau dijemput papa nya deh, biar papanya langsung pulang aja. Dari situ aku bujuk supaya bisa pulang bareng. Awalnya nggak mau, tapi akhirnya mau juga karena aku paksa,”

__ADS_1


Qanita dan Ghali menatap Areno dengan tajam. Areno langsung tertawa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


“Nggak-nggak, aku nggak maksa Arani. Aku cuma ajak aja beberapa kali terus akhirnya Arani mau deh. Jadi aku sama dia pulang bareng gitu ceritanya. Aku antar dia langsung ke rumah di tengah rintik-rintik hujan, suasana jadi kayak orang pacaran gitu, Ma, Pa. Ciee pacaran ya ‘kan emang pacaran,”


Qanita dan Ghali tertawa mendengar ucapan Areno yang bercerita dengan ekspresi sumringahnya. Melihat Areno sebahagia itu karena bisa pulang bersama Arani, mereka sebagai orangtua ikut merasa bahagia.


“Tapi kamu antar anak orang dengan aman dan selamat ‘kan?”


“Oh jelas dong, Pa. Nggak ada lecet itu anak cewek Om Radi, Pa. Aku nggak mau lah bikin dia kenapa-napa, nanti aku makin susah dapat restu,”


“Hadeh, Nak…Nak, restu aja yang kamu pikirin, belajar yang bener! Bentar lagi udah mau lulus,”


“Ya apa salahnya sih mikirin restu, Pa? Kali aja jodoh sampai nikah ya ‘kan. Eh tapi kayaknya orangtua Arani udah restuin aku deh,”


“Pasti Arani nyesal tuh pulang sama Areno,”


“Enak aja mama nih kalau ngomong. Ya nggak lah, Arani nggak bakal nyesal. Aku yakin dia malah senang. Terus tadi sempat ketemu mamanya bentar, tapi kalau Om Radi kayaknya belum sampai rumah deh,” ujar Areno.


“Terus apa reaksi Tante Helen?” Tanya Qanita pada anaknya itu.


“Nggak ada reaksi apa-apa, Ma. Tapi keliatan senang aja anaknya udah pulang, kaget juga keliatannya karena diantar sama aku. Terus aku sempat diajakin masuk dulu tapi aku nggak mau takutnya hujan deras lagi eh beneran kejadian, di jalan ke sini hujan deras sama ada petir lagi. Tapi aku nggak mau berhenti, aku tancap gas terus,”


“Harusnya stop dulu, cari tempat aman. Untuk apa sih buru-buru sampai rumah. ‘Kan prinsipnya yang penting selamat sampai di rumah,”


“Soalnya aku malas berhenti, Pa. Udah terlanjur kena juga. Jadi tanggung kalau mau berhenti,”


“Kamu ngebut-ngebut ya?”


“Dikit,”


“Halah dikit-dikit nggak taunya ngebut mulu. Jangan ngebut dong, Ren, apalagi kalau bawa penumpang,”


“Iya tenang aja, Pa. Aku nggak ngebut-ngebut kok kalau pas bawa Arani, pas sendiri ya dikit ngebut sih,”


“Ih jangan cari bahaya kamu ah! Apalagi kamu bawa anak orang,”


“Hehehe iya lain kali nggak gitu deh, Pa, aku janji,”


*********


Siang ini Areno datang ke rumah Arani membawa sesuatu. Niat utama datang tentunya ingin bertemu Arani, tapi niat kedua tentunya memberikan makanan untuk Arani dengan harapan Arani suka dengan apa yang Ia bawa.


“Ayo, Areno. Kamu kebanyakan mikir,”


Arani mengajak Areno untuk makan bersama. Areno binbang. Satu sisi senang diajak makan bersama tapi di lain sisi Ia malu. Memberi tapi ikut makan. Itu kedengaran aneh.


“Nggak usah, Ran. Aku makan di rumah aja. Di rumah ada kok martabak itu,” kata Areno yang akhirnya memilih untuk menolak.


“Kenapa kamu nggak mau?”


“Ya karena aku nggak enak aja, masa udah ngasih, eh ikutan makan pula,”


“Ih kok ngomong begitu sih?”


“Kamu makan aja ya, aku mau pulang,”


“Jadi kamu mau pulang nih?” Tanya Arani seraya mengangkat salah satu alisnya. Arani hanya ingin kekasihnya ikut makan apa yang dia bawa ke rumahnya.


“Yoi, aku mau langsung pulang aja. Kamu makan sama mama, papa, dan Ria aja ya, Aku pulang, maaf udah ganggu,”

__ADS_1


“Ih kamu nggak ganggu malah harusnya aku yang minta maaf. Kamu repot-repot mulu bawa makanan,”


“Nggak repot lah,”


__ADS_2