
Shevi masih bermalas-malasan di kamarnya karena dia libur kuliah hari ini. Dia merasakan bosan dari pagi hanya berdiam diri di kamar. Akhirnya dia turun ke bawah dan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Dia menyalakan televisi, dan memencet remot berulang kali. Karena menurutnya tidak ada yang menarik, Shevi mengambil majalah dan membacanya.
Dian keluar dari kamar dan melihat putrinya yang sedang santai di ruang tengah. Terbesit dipikirannya sebuah ide yang sangat cemerlang menurutnya.
Dian menuju ke dapur mencari rantang dan memasukkan nasi, sayur, lauk, ke dalam rantang itu. Setelah selesai, dia berjalan mendekati putrinya yang sedang membaca sebuah majalah.
"sayang.... kamu tidak ada acara kan hari ini? " tanya Dian yang langsung duduk di samping putrinya.
"Tidak Bu. Memangnya kenapa? " jawab Shevi yang masih asyik membaca majalah tanpa menoleh ke Ibunya.
"Ibu bisa minta tolong? " tanya Dian
"Minta tolong apa Bu? " Shevi balik bertanya ke Ibunya karena penasaran.
"Kamu tolong antar makanan di rantang itu ke kantornya Byan." ucap Dian sambil menunjuk rantang yang berada di atas meja makan.
"Bu.... Shevi capek. Lagian kalau dia mau makan siang kan tinggal beli Bu! " tolak Shevi yang sudah paham kalau itu hanya akal-akalan Ibunya.
"Ayolah nak.....!!! sekali-kali antar makan siang untuknya. Kasihan juga kan Byan. Dia tidak punya siapa-siapa. Kalau bukan kita yang memperhatikannya, lalu siapa lagi???? " pinta Ibunya dengan wajah memelasnya yang membuat Shevi tak tega.
Shevi menghirup nafas dan membuangnya kasar melalui mulut.
"iyaa... iyaaa.... Shevi mau. Tapi Shevi tidak tahu alamat perusahaan Byan Bu." jawab Shevi yang akhirnya mengiyakan perintah Ibunya.
"anak Ibu memang penurut.." ucap Ibunya dan langsung memberitahu alamat perusahaan Byan ke Shevi.
"Shevi ganti baju dulu Bu." pamit Shevi yang langsung menuju kamarnya dan berganti pakaian.
__ADS_1
Setelah bersiap, Shevi mengambil kunci mobilnya dan menghampiri Ibunya yang ternyata sudah menunggunya di meja makan.
"kamu sudah siap ? ini rantangnya." tanya Ibunya sambil menyerahkan rantang itu ke Shevi.
"iya Bu." jawab Shevi dengan malasnya.
"Shevi berangkat sekarang Bu." lanjut Shevi pamit ke Ibunya dan mencium punggung tangannya.
"iya.... kamu hati-hati di jalan sayang.." ucap Dian sambil menatap putrinya berlalu.
Di dalam mobil Shevi duduk sejenak memandangi rantang yang dibawanya tadi.
"Mau ditaruh dimana wajah gue. Dikiranya gue yang keganjenan nyamperin dia." ucapnya sambil melajukan mobil menuju jalan raya.
Setelah sampai di perusahaan Byan, Shevi memarkirkan mobilnya. Dia mengambil rantang dan keluar dari mobilnya.
Shevi berjalan memasuki lobby kantor Byan sambil menenteng rantang di tangan kanannya. Dia baru pertama kalinya melangkahkan kaki di kantor itu. Setelah berada di dalam lobby, matanya tertuju pada meja receptionist lalu berjalan mendekati mbak-mbak yang ada di sana.
"Maaf mbak mau tanya. Apa Pak Byannya ada?" tanya Shevi
"Sudah ada janji belum ya mbak sama Pak Byan?" receptionist itu balik bertanya.
"Belum ada mbak." jawab Shevi jujur
"Maaf mbak kalau belum ada janji, saya tidak berani untuk memperbolehkan mbaknya masuk. Atau begini saja, mbak duduk di sana dulu. Sebentar lagi jam makan siang. Biasanya Pak Byan keluar lewat sini mbk." jelas receptionist itu sambil menunjuk kursi tamu yang ada di dalam lobby tersebut.
"Baik mbk. Terima kasih." ucap Shevi meninggalkan meja receptionist dan berjalan menuju kursi tamu di sana.
__ADS_1
"Sial..... sok penting banget jadi orang. Mau ketemu aja harus ada janji dulu." umpat Shevi sambil menaruh rantangnya di atas meja.
"apa gue telfon aja ya? Tapi,,,,,, nanti dia ge-er. Ahhh sudahlah. Mendingan aku tunggu aja." gumamnya
Dia celingak-celinguk, matanya mengitari ruangan itu. Untuk mengurangi rasa bosannya, Shevi mengeluarkan ponselnya dan main game. Sesekali matanya melirik ke arah lift, siapa tahu Byan kebetulan keluar dari salah satu lift itu. Karena di sana ada 2 lift.
45menit pun berlalu. Dilihatnya jam yang ada di lobby itu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Terlihat beberapa karyawan mulai keluar karena sudah waktunya jam makan siang.
Shevi melihat satu per satu orang yang keluar dari lift itu. Tapi Byan tak juga terlihat.
"kenapa nggak keluar-keluar sih. Apa dia nggak punya rasa lapar???" umpatnya sambil melihat ke arah lift.
Jam sudah menunjukkan pukul 12.50 WIB. Tapi Byan juga belum menampakkan batang hidungnya. Semua karyawan juga sudah mulai memasuki kantor lagi. Itu tandanya jam makan siang hampir habis.
"Berapa lama lagi gue harus di sini????" Shevi mulai kehilangan kesabarannya.
Dia mengambil rantang di meja dan berjalan mendekat ke receptionist.
"Mbak kok Byannya... maksud saya Pak Byan kok saya perhatikan dari tadi belum keluar ya?" tanya Shevi
"Iya mbak. Mungkin ada pekerjaan yang harus diselesaikan." jawab receptionist itu dengan ramah.
"ya sudah mbak. Saya titip ini. Kalau nanti Pak Byan keluar, langsung kasih saja. Bilang dari Shevi gitu mbak. Saya nggak bisa nunggu lama-lama soalnya" ucap Shevi lalu memberikan rantang itu ke receptionist di sana.
"Baik mbak nanti saya sampaikan kalau Pak Byan turun." jawab receptionist itu dan menerima rantang yang dititipkan oleh Shevi.
Shevi berjalan keluar lobby lalu menuju mobilnya. Dia melajukan mobilnya meninggalkan kantor Byan.
__ADS_1