Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
34. Ep 34


__ADS_3

1 bulan telah berlalu. Shevi dan Byan sekalipun tidak pernah bertemu karena kesibukan Byan di perusahaannya yang padat. Ditambah kesibukan mengurus kantor cabang yang berada di luar kota karena ada beberapa masalah dan harus turun tangan sendiri. Itu membuatnya bolak-balik ke luar kota dan tidak jarang harus menginap di sana.


Revan pun juga ikut terkena imbasnya. Dia harus selalu mengikuti kemanapun Byan pergi. Sudah 3 hari mereka berdua menginap di kota X.


Setelah semua urusannya selesai, Byan mencoba menghubungi Shevi berkali-kali tapi tak ada respon.


"By semua sudah beres, kita bisa kembali sekarang." kata Revan yang melaporkan kondisi kantor anak cabang yang sudah stabil.


"Ya. Tapi lo harus tetap memantaunya!!! Jangan sampai masalah seperti ini terulang lagi." ucap Byan memerintah Revan.


"Ok Bos...!!!" jawab Revan.


"Van pesan tiket pesawat hari ini juga..!!" ucap Byan.


"Ya. Gue pesan sekarang. Lo sudah kangen berat ya sama Shevi???" tanya Revan sambil mengotak-atik ponselnya memesan tiket.


"Lo tahu sendiri Van. Sudah 1 bulan gue nggak ketemu Shevi. Dari kemarin gue coba telfon tapi nggak di jawab. Gue jadi khawatir Van." ujar Byan.


"Mungkin dia lagi banyak tugas By. Positive thinking aja...!!" kata Revan dengan bijak. Byan mengangguk-anggukan kepalanya mendengar perkataan Revan yang menurutnya ada benarnya juga.


"Kita dapat tiket jam 5 sore By." Revan memberitahu Byan.


"Coba cari yang lebih awal lagi." perintah Byan.


"Itu sudah yang paling awal By...!!!" ucap Revan.


"Baik. Ayo kembali ke hotel untuk berkemas." ajak Byan.


"Siap....!!!!" Revan mengikuti Byan.


Sudah 4 hari Shevi mondar-mandir dari rumah ke kampus. Dari kampus dia pulang ke rumah lagi, lalu ke rumah sakit untuk menunggu sang Kakek yang dirawat di sana karena jatuh sakit. Reni sebagai sahabat juga kadang menemani Shevi ke rumah sakit. Shevi yang sangat sibuk juga lupa dengan tunangan yang sangat merindukannya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar 1,5 jam, Byan dan Revan sudah sampai di bandara pukul 18.30 WIB. Mereka dijemput oleh supir kantor. Byan memutuskan untuk pulang terlebih dahulu sebelum ke rumah Shevi.


Selesai mandi, Byan bersiap lalu berangkat. Rasa rindu yang menggebu membuatnya tak sabar lagi ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya. Dia berniat untuk memberi kejutan pada Shevi. Karena Shevi tak tahu kalau Byan sudah pulang hari ini. Saat mobilnya melaju, dia melihat ada toko bunga. Terbesit dalam pikirannya untuk membelikan Shevi bunga. Byan menepikan mobilnya dan berhenti di toko bunga itu lalu membeli 1 buket bunga mawar merah yang akan diberikannya kepada Shevi.


Sesampai di rumah Shevi, Byan mengambil bunga yang ditaruhnya tadi di kursi samping. Byan berjalan sambil memandangi bunga yang dipegangnya itu.


Di depan pintu, Byan berdiri dan tersenyum membayangkan kalau yang membukakan pintu adalah Shevi pasti akan terkejut melihatnya. Dipencetnya bel rumah itu. Setelah menunggu, belum juga ada yang membukakan pintu. Diulangnya lagi memencet bel, tapi tidak juga dibukakan pintu.


"Pada kemana sih???? Tumben nggak ada yang buka pintu!!" Byan bicara sendiri.


Byan mengulang yang ketiga kalinya. Tak selang berapa lama, Mbok Ami membukakan pintu.


"Eeehhhh Mas Byan. Kok lama tidak ke sini. Mari masuk." kata Mbok Ami.


"Ya, terima kasih Mbok." ucap Byan lalu masuk dan duduk di ruang tamu.


"Shevi ada Mbok????" tanya Byan.


"Memangnya Shevi kenapa Mbok??? Shevi sakit apa???" tanya Byan yang menunjukkan raut wajah paniknya.


"Bukan Mbak Shevi mas yang di rawat. Tapi Pak Sofyan. Mbak Shevi hanya menunggu. Sudah 4 hari Pak Sofyan sakit." jawab Mbok Ami menjelaskan ke Byan.


"Kok Shevi nggak ngabarin aku???" gumamnya dalam hati.


"Rumah sakitnya dimana Mbok??" tanya Byan. Mbok Ami memberi tahu alamat rumah sakit kepada Byan. Byan lalu berjalan keluar menuju mobilnya tanpa pamit dan juga lupa menanyakan kamar tempat Sofyan dirawat.


Setibanya di rumah sakit, Byan memarkirkan mobilnya. Setelah turun dari mobil, Byan teringat tidak bertanya dimana kamar Sofyan. Byan mengeluarkan ponselnya dan mencoba menelfon Shevi tapi tak diangkat.


Akhirnya dia masuk dan bertanya di layanan informasi. Setelah diberi tahu, Byan dengan cepat menuju kamar Sofyan. Sesampai di depan kamar tempat Sofyan dirawat, Byan mengetok pintu terlebih dahulu.


"Tok,,,,,,, tok,,,,,, tok"

__ADS_1


Mendengar suara ketokan dari arah pintu, Dian lalu membukanya. Dilihatnya Byan berdiri di sana.


"Bu...." sapa Byan sambil mencium punggung tangan Dian.


"Eehhhh Byan. Ayo masuk dulu.." ajak Dian. Byan mengikutinya dari belakang. Matanya celingukan mencari keberadaan Shevi.


"Ibu bangunkan Shevi dulu ya. Dia ketiduran. Kelihatannya dia sangat lelah." lanjut Dian sambil tangannya menunjuk Shevi yang tidur sofa.


"Tidak usah Bu. Biarkan Shevi istirahat saja." jawab Byan lalu berjalan mendekati Kakek Sofyan.


"Maaf Kek, saya baru bisa menjenguk. Saya sama sekali tidak tahu kalau Kakek masuk rumah sakit." ucap Byan sambil duduk di samping Sofyan.


"Tidak apa-apa. Kakek juga sudah agak baikan. Tinggal pemulihan saja." ujar Sofyan dengan suara lemahnya.


"Kamu kemana saja? Kok tidak pernah ke rumah Kakek? Apa kalian sedang ada masalah?" imbuh Sofyan.


"Oohhh tidak Kek. Hubungan Shevi dan Byan baik-baik saja. 1 bulan ini saya sering keluar kota Kek. Ada masalah di kantor cabang." jawab Byan.


"Ya sudah, Kakek sekarang istirahat. Ini sudah malam." lanjut Byan. Sofyan menganggukan kepalanya. Dian yang berada di samping Byan lalu mengajaknya duduk di sofa.


"Lebih baik Ibu pulang saja. Biar saya yang menjaga Kakek malam ini. Kelihatannya Ibu kurang istirahat." ucap Byan.


"Beneran ini tidak apa-apa? Tadinya memang Ibu mau pulang gantian sama Shevi. Ehhhh palah Shevinya tidur." kata Dian sambil menatap putrinya yang tidur pulas.


"Tak apa Bu. Lagian besok Byan juga tidak ke kantor." ucap Byan lagi.


"Ya sudah. Ibu pulang ya...! Besok Ibu ke sini pagi-pagi sekali. Soalnya Shevi kan kuliah" kata Dian sambil menenteng tasnya.


"Hati-hati Bu...." pesan Byan kepada calon Ibu mertuanya dan Dian pun mengangguk lalu keluar kamar.


Kini hanya tinggal mereka bertiga di sana. Byan sesekali menengok Sofyan yang sudah tertidur. Lalu dia kembali ke sofa dan memperhatikan Shevi yang tidur menggunakan tangannya sebagai bantal. Byan mendekati Shevi, dia dengan sangat pelan mengangkat kepala Shevi lalu dia pun duduk dan meletakkan kepala Shevi dipangkuannya. Tangannya dia letakkan di atas parut Shevi. Byan yang juga sangat lelah karena dari pagi sama sekali belum istirahat pun akhirnya ikut terlelap.

__ADS_1


__ADS_2