Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
95. Ep 95


__ADS_3

_________


Byan baru saja tiba di bandara. Dia memang sengaja tidak memberi tahu Shevi. Byan ingin memberikan kejutan untuk istrinya. Di dalam perjalanan dia menyalakan ponselnya yang dari tadi pagi ia matikan.


Setelah ponselnya menyala, berpuluh-puluh panggilan dan beberapa pesan singkat dari Sofyan dan Dian muncul di layar ponselnya. Perasaanya menjadi tak karuan. Dibacanya sebuah pesan dari ibu mertuanya.


"Pak, kita ke rumah sakit sekarang. Tolong cepat ya?" kata Byan pada sopir kantornya.


"Baik, Pak." jawab sopir itu dan menambah kecepatan mobil yang dikendarainya.


Rasa cemas dan bahagia bercampur menjadi satu. Cemas memikirkan istrinya dan bahagia karena dia akan segera melihat anaknya.


"Pak, bisa lebih cepat lagi?" kata Byan sambil tangannya mengetuk-ngetuk kaca mobil. Dia terlihat sangat gelisah.


"Baik, Pak." jawab si sopir.


Sesampai di rumah sakit, Byan dengan cepat turun dari mobil. Dia berlari masuk ke dalam rumah sakit dan mencari-cari ruang bersalin. Dari kejauhan dia melihat Dian yang sedang mondar-mandir. Sedangkan Sofyan duduk di kursi tunggu.


"Bu," panggil Byan dengan nafas tersengal-sengal karena berlari.


"Shevi, dimana? Bagaimana keadaannya?" tanya Byan.


"By, kenapa kamu matikan ponselmu? Kalau seperti ini, bagaimana Ibu menghubungimu?" tanya Dian yang tak langsung menjawab pertanyaan Byan.


"Maaf, Bu. Tadi pagi meeting, jadi ponsel saya matikan. Selesai meeting, Byan ke bandara dan langsung terbang. Byan lupa tak menyalakannya." jawab Byan.


"Ya sudah tidak apa-apa. Yang penting, kamu sudah di sini. Kamu masuk saja dampingi istrimu. Tadi Dr. Evi bilang sudah pembukaan delapan." kata Dian. Tanpa pikir panjang, Byan lalu masuk ke dalam.


"Pak Byan? Darimana kok baru datang?" tanya Dr. Evi.


"Ada urusan mendadak di luar kota, Dok." jawab Byan.


Byan lalu mendampingi istrinya.


"Maaf, sayang." sebuah kata yang dia bisikkan di telinga istrinya. Kata yang sangat mendalam. Dia merasa sangat bersalah pada Shevi.

__ADS_1


Melihat suaminya sudah datang, karena rasa jengkelnya. Shevi meremas, mencakar, memukul, mencubit lengan Byan. Selain untuk menahan rasa sakit, itu juga pelampiasan karena suaminya meninggalkannya berhari-hari.


Byan sendiri hanya pasrah diperlakukan oleh Shevi seperti itu. Kini tangannya memerah karena luka cakaran dan cubitan dari Shevi.


"Dok! Ini sudah tidak kuat lagi." ucap Shevi. Keringat dingin keluar membasahi keningnya.


"Coba saya periksa lagi." kata Dr. Evi.


"Sus, siapkan peralatan. Sudah buka sepuluh." perintah Dr. Evi.


Sesuai arahan Dr. Evi, Shevi mulai mengejan. Byan menggenggam erat tangan Shevi sembari menyeka keringat di kening Shevi.


"Kamu pasti bisa, yang." kata Byan mencoba menyemangati istrinya.


"Dok, saya tidak kuat lagi." ucap Shevi yang sudah terlihat kehabisan tenaga.


"Ayo, yang. Jangan menyerah! Demi anak kita." kata Byan sambil menciumi tangan istrinya.


Setelah berjuang selama setengah jam, akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Shevi menitikkan air matanya. Begitupun Byan yang ikut terharu.


"Selamat, Pak Byan. Anaknya laki-laki." ucap Dr. Evi.


Byan langsung mengumandangkan adzan di telinga putranya.


Di luar,


_____


"Pa, Dian khawatir banget sama Shevi." kata Dian pada Sofyan.


"Iya, Papa tahu. Kita harus tenang dan terus berdo'a." balas Sofyan.


Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang bersalin. Dian yang sangat panik menjadi lega.


"Pa,,! Papa dengarkan? Itu cucu Dian, Pa." kata Dian pada Sofyan.

__ADS_1


"Iya." jawab Sofyan lalu merangkul Dian.


Shevi sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dian menggendong cucunya untuk pertama kali.


"Cucu gantengnya Oma. Ihhh, cowok kok mirip banget sama Papanya?" kata Dian pada cucunya.


"Kalau enggak mirip papanya, lalu harus mirip siapa, Bu? Mirip tetangga kita? Bahaya......!" celetuk Shevi yang membuat semua orang tertawa.


"Kamu ini! Ya mirip kamulah. Anak cowok biasanya mirip ibunya. Tapi ini benar-benar mirip Byan." sahut Dian.


"By, kamu beri nama siapa?" tanya Dian. Byan dan Shevi saling pandang.


"Raga Merva Atmaja, Bu. Panggilannya, Raga." jawab Byan.


"Nama yang bagus." sahut Dian.


"Kenapa, yang?" tanya Byan yang melihat istrinya dari tadi murung.


"Aku sedih. Reni enggak menepati janji. Katanya kalau aku lahiran, dia mau pulang. Tapi nyatanya?" ucap Shevi.


"Mungkin dia lagi sibuk, yang." kata Byan.


____________


Dua minggu kemudian, di rumah Byan. Shevi mengendong putranya yang mewarisi ketampanan dari Byan. Dia mengajak Raga jalan-jalan di halaman rumah. Keluarga kecilnya lengkap sudah setelah kehadiran putra kecilnya.


.


.


END.


Terimakasih untuk semua readers yang sudah mampir ke novelku, yang sudah memberi like, vote, komentar.


Maaf kalau banyak kesalahan dalam penulisan dan maaf kalau tidak menarik. Author hanya penulis kelas abal-abal...😅😅😅

__ADS_1


Mampir juga ke novelku yang lain, dengan judul "Bukan Suami Pilihanku".


__ADS_2