
Kampus,
________
Shevi dan Reni keluar dari kelasnya. Mereka berpisah di sana. Reni menuju parkiran sedangkan Shevi berjalan keluar kampus. Shevi bertemu dengan salah satu teman laki-laki sekampusnya dan berbincang sebentar.
Byan bersandar di mobilnya menunggu Shevi di depan kampus. Dia dari kejauhan mengamati Shevi yang sedang ngobrol dengan seorang cowok. Rasa cemburu terlihat jelas dari raut wajahnya.
Shevi melihat Byan yang sudah menunggunya lalu pamit kepada teman. Shevi berjalan mendekati Byan. Tanpa senyum, Byan membuka pintu mobil menyuruh Shevi masuk. Di dalam mobil, Byan masih saja diam.
Ini orang kenapa lagi coba...???? Batin Shevi.
"Kamu kenapa???" tanya Shevi.
"Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengan cowok lain." jawab Byan tegas. Shevi paham apa yang dimaksud Byan.
"Tadi hanya teman sekampusku." kata Shevi menjelaskan.
"Mau itu teman sekampus atau apa, aku tetap tidak suka." imbuh Byan.
"Berarti kalau kamu nggak lihat boleh dong??" Shevi menggoda Byan yang terlihat sangat cemburu. Mendengar ucapan Shevi, Byan lalu menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dia menatap Shevi tajam. Shevi dibuat ngeri dengan tatapan itu.
"Coba saja kalau berani..!!!!!!" tantang Byan.
"Cuma bercanda. Jangan dianggap serius. Masa gitu aja marah." Shevi menepuk-nepuk pundak Byan sambil cengengesan. Byan lalu melajukan mobilnya lagi. Shevi mengamati jalan yang dilaluinya.
"Kita mau kemana? Kok ini bukan jalan menuju rumah sakit?" tanya Shevi.
"Kita ke perusahaan sebentar. Tadi Revan telfon katanya ada perlu sebentar." jawab Byan sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya. Shevi hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kamu ke kantor pakai baju seperti ini??" tanya Shevi.
"Iya. Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan bajuku?." jawab Byan sambil melihat baju yang ia pakai.
"Ya nggak apa-apa sih. Nanti semua wanita di kantormu terpesona lho..." jawab Shevi.
"Aku kan memang mempesona..." kata Byan sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Shevi.
"Iiiihhhhhhhh jadi orang terlalu percaya diri." ucap Shevi.
Sesampai di perusahaannya, Byan memarkirkan mobilnya.
"Aku menunggu di dalam mobil saja..." kata Shevi.
__ADS_1
"Ikut aku masuk...." perintah Byan lalu keluar dan membukakan pintu untuk Shevi. Byan meraih tangan Shevi. Mau tidak mau Shevi pun keluar dari mobil dan mengikuti Byan. Saat memasuki kantornya, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua.
"Tuuhhhhh pada dilihatin kan?????" ucap Shevi pada Byan.
Ada beberapa orang yang berbisik membicarakan mereka. Byan sama sekali tak menghiraukannya. Dia tetap berjalan dan menggandeng tangan Shevi erat.
Byan berhenti di depan meja Revan yang kosong. Mia yang masih disibukkan dengan pekerjaannya kemudian mengangkat kepalanya melihat siapa yang datang.
"Siang Pak. Bapak mencari Pak Revan?" tanya Mia pada Byan.
"Iya. Dimana dia???" jawab Byan lalu balik bertanya ke Mia.
"Tadi katanya mau ke bagian personalia Pak. Apa perlu saya telfon Pak?" tanya Mia.
"Ya. Beritahu Revan saya menunggunya." jawab Byan lalu berjalan memasuki ruangannya bersama Shevi.
"Kita nggak lama kan?" tanya Shevi.
"Tidak. Kita tunggu Revan sebentar." jawab Byan sambil melepaskan tangan Shevi yang dari tadi ia genggam. Byan berdiri di depan Shevi lalu memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu sayang...." kata Byan yang semakin mengeratkan pelukannya. Shevi pun membalas pelukan Byan.
"Aku mencintaimu. Sangat,,,, sangat mencintaimu." imbuh Byan berbisik di telinga Shevi.
"Aku juga....." jawab Shevi. Byan yang mendengarnya lalu melepaskan pelukannya dan memegang kedua lengan Shevi.
"Juga mencintaimu...!!!" jawab Shevi malu-malu. Byan tersenyum puas mendengar itu. Dia kembali memeluk Shevi.
Karena buru-buru, Mia sampai lupa masuk ke ruangan Byan tanpa permisi. Dia berhenti di pintu karena melihat Byan yang sedang berpelukan dengan Shevi. Shevi tidak menyadari itu karena posisinya membelakangi Mia. Byan melihat Mia yang masih berdiri di pintu. Dia tetap terlihat tenang tanpa melepaskan pelukannya lalu mengisyaratkan pada Mia untuk keluar dulu. Karena Byan tidak ingin membuat Shevi malu.
Di luar, Mia lalu kembali ke meja kerjanya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat apa yang dilihatnya tadi.
"Pak Byan ternyata bisa semesra itu..." ucap Mia.
Setelah Mia keluar, Byan melepaskan pelukannya dan menyuruh Shevi duduk di sofa. Byan lalu duduk di kursi kerjanya dan menelfon Mia menyuruhnya masuk. Mia lalu masuk ke ruangan Byan dan tak lupa untuk mengetuknya agar kejadian tadi tak terulang kembali.
"Apa apa Mia?" tanya Byan yang melihat Mia sudah ada di hadapannya.
"Pak Revan sebentar lagi akan ke sini Pak." jawab Mia.
"Ya. Terima kasih Mia." ucap Byan. Lalu Mia pamit keluar dari ruangan Byan.
Tak selang berapa lama, Revan masuk ke ruangan Byan sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
"Haaiiii Shev. Kamu ternyata di sini??" sapa Revan lalu duduk di kursi depan meja kerja Byan.
__ADS_1
"Iya Kak...." jawab Shevi.
"Kamu tanda tangani ini By." Revan menyodorkan berkas itu kepada Byan. Byan lalu menandatanganinya dan mengembalikan ke Revan.
"Gue keluar dulu. Takut ganggu. Hahahaaaaaa...." ucap Revan lalu keluar.
Byan berjalan mendekati Shevi yang dari tadi menunggunya. Lalu Byan duduk di samping Shevi.
"Udah selesai kan? Kita ke rumah sakit yuk...!!!" ajak Shevi lalu berdiri, tapi tangannya ditahan Byan. Shevi pun kembali duduk.
"Sebentar lagi. Aku masih kangen kamu. Memangnya kamu tidak kangen sama aku?" tanya Byan.
"Enggak..." jawab Shevi berbohong pada Byan. Dia ingin melihat Byan ngambek lagi. Benar dugaan Shevi. Byan lalu duduk agak menjauh setelah mendengar jawaban Shevi.
"Iiihhhhhh kaya anak kecil dikit-dikit ngambek. Cuma bercanda aja marah. Ya kangenlah......" ucap Shevi. Tapi Byan masih saja diam.
"Ya udah, aku pulang aja dari pada dicuekin.." ancam Shevi lalu berdiri. Byan juga ikut berdiri. Kedua tangannya lalu memegang kedua pipi Shevi dan langsung mencium bibir Shevi tanpa permisi dulu. Shevi kaget dan membelalakkan kedua matanya. Tangan kanan Byan menahan tengkuk Shevi karena berusaha melepaskan ciumannya. Shevi pun akhirnya pasrah karena usahanya sia-sia. Dia memejamkan kedua matanya dan mulai menikmati ciuman lembut Byan. Byan membuka matanya dan melihat mata Shevi yang terpejam. Setelah beberapa saat mereka berciuman, Byan lalu menyudahinya karena melihat Shevi yang mulai kehabisan nafas. Byan menatap Shevi yang tersipu malu lalu memeluknya.
"Kamu sudah mengambil ciuman pertamaku." kata Shevi di dalam pelukan hangat Byan.
"Masa....?????" tanya Byan.
"Enggak percaya ya sudah, itu terserah kamu. Kalau kamu???" Shevi balik bertanya.
"Ini ciuman keduaku.." jawab Byan jujur. Shevi lalu mendorong tubuh Byan yang sedang memeluknya.
"Ternyata kamu udah pernah ciuman sama cewek lain??" tanya Shevi sambil sedikit cemberut.
Byan lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto saat dirinya sedang mencium Shevi yang sedang tertidur. Dia memang iseng mengabadikan kenangan saat itu lewat kamera ponselnya. Shevi kaget dengan apa yang dilihatnya.
"Ciuman pertamaku untuk cewek ini." kata Byan sambil tersenyum melihat ekspresi Shevi setelah melihat foto itu.
"Kak Byan jahat. Diam-diam mencuri ciuman pertamaku." Shevi memukuli dada Byan. Setelah puas memukuli Byan, Shevi duduk di sofa dengan kedua tangan dilipat di dadanya.
"Jangan marah dong yang. Cantiknya hilang lho....!!!. Lagian kamu tidur udah kaya orang pingsan. Masa dicium nggak bangun." ujar Byan.
"Ok,,,,, aku minta maaf sudah diam-diam nyium kamu." imbuh Byan lalu menarik tubuh Shevi ke dalam pelukannya.
"Kamu maafin aku kan?" tanya Byan. Shevi menganggukkan kepalanya. Byan menciumi kepala Shevi beberapa kali.
"Ini udah sore. Kita ke rumah sakit sekarang ya." pinta Shevi pada Byan.
"Ya..." jawab Byan. Mereka lalu keluar ruangan.
"Van gue pulang dulu. Kalau ada apa-apa lo tinggal telfon gue. Gue mau balik ke rumah sakit lagi jagain Kakeknya Shevi." kata Byan ke Revan.
__ADS_1
"Ok. Kalian hati-hati." pesan Revan. Byan dan Shevi pun berlalu meninggalkan Revan.