
Shevi dan Reni sudah berada di parkiran kampus. Shevi menyandarkan badannya di mobil sambil kedua tangannya menyilang di dada.
"Ren, gue mau ke rumah sakit kontrol. Lo maj kan anterin gue??" tanya Shevi.
"Ok. Gue akan temani lo," jawab Reni mengiyakan. Mereka lalu masuk ke dalam mobil masing-masing dan berangkat menuju rumah sakit.
Rumah sakit,
____________
Shevi berjalan bersama Reni memasuki pintu utama rumah sakit. Shevi langsung menuju ke ruangan dokter yang menanganinya. Tidak perlu menunggu karena sudah membuat janji sebelumnya. Shevi mengetok pintu terlebih dahulu.
"Masuk....." terdengar suara dokter itu mempersilahkan masuk. Shevi kemudian masuk diikuti oleh Reni di belakangnya.
"Silahkan duduk," kata Dokter Bambang yang kalau dilihat sudah berumur sekitar 50tahunan. Shevi dan Reni lalu duduk di kursi depan meja kerja Dokter Bambang.
"Bagaimana Shevi??? Kok tumben suaminya tidak ikut??" tanya Dokter Bambang dengan sangat ramahnya.
"Sudah tidak nyeri sama sekali, Dok. Kebetulan ada peekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, Dok." jawab Shevi.
"Sayang sekali. Padahal ada berita baik yang mau saya sampaikan." ujar Dokter Bambang.
"Mari, coba saya lihat dulu..." kata Dokter Bambang. Shevi lalu berbaring dan bekas luka diperiksa oleh Dokter Bambang.
"Maaf, saya naikkan sedikit bajunya ya??" lanjut Dokter Bambang.
"Ini sudah hampir pulih. Bisa dibilang 90 persenlah." ucap Dokter Bambang.
Setelah selesai diperiksa, Shevi turun dan kembali duduk.
"Luka sudah sembuh. Tinggal memudarkan bekas lukanya saja. Nanti saya beri resep salepnya." imbuh Dokter Bambang.
"Iya Dok." balas Shevi.
"Oiyaaa, tolong sampaikan pada suaminya. Karena lukanya sudah pulih, sudah boleh melakukan hubungan suami istri." kata Dokter Bambang.
"Iii, iiyaaaaa Dok." ucap Shevi sambil tersenyum canggung.
"Ini resepnya. Nanti bisa dibeli di apotek." kata Dokter Bambang menyerahkan selembar kertas dengan tulisan khas seorang dokter.
__ADS_1
"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Kalau begitu, saya permisi." Shevi menjabat tangan Dokter Bambang. Reni pun juga.
Shevi dan Reni berjalan sangat santai.
"Siap-siap bertempur ini?! Kuat berapa ronde ya???" goda Reni.
"Beronde-ronde pastinya." balas Shevi.
Di parkiran rumah sakit, Shevi dan Reni berpisah.
"Shev, gue langsung balik. Sory nggak bisa main ke tempatmu..." kata Reni dari dalam mobil.
"Iya, nggak apa-apa. Makasih ya, sudah mau mengantarku ke sini." ucap Shevi lalu masuk ke dalam mobilnya. Mobil mereka berdua melaju keluar dari rumah sakit.
Rumah Byan,
___________
Shevi sampai di rumah malam hari karena tadi di jalan sangat macet dan juga dia menyempatkan pulang ke rumahnya untuk melepas rindu dengan ibu dan kakeknya. Karena keasyikan mengobrol dengan ibu dan kakeknya membuat Shevi lupa waktu.
Dilihatnya mobil suaminya yang sudah terparkir di sana. Semenjak menikah, Byan memang selalu pulang lebih awal. Shevi berjalan memasuki rumah. Ternyata Byan sudah menunggunya di ruang tengah.
Shevi menaruh tasnya di sofa lalu duduk bersandar di samping suaminya.
Shevi lalu menegakkan duduknya. Dia baru ingat kalau mau menelfon suaminya saat di rumah sakit. Entah apa yang bisa membuatnya lupa.
"Ya ampun....!! Aku lupa, Kak. Maaf ya...???" kata Shevi.
"Iya tidak apa." Byan mengusap kepala Shevi.
"Kenapa pulang sampai jam segini??" tanya Byan.
"Mampir dulu ke rumah Ibu. Soalnya aku kangen banget..." jawab Shevi.
"Lain kali, kalau kamu mampir kemana pun itu, kamu kabari aku. Supaya aku tidak mencemaskanmu. Lihat ponselmu, sudah berapa kali aku menghubungimu!" kata Byan dengan bijaknya.
Shevi mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ternyata suaminya sudah berkali-kali menelfonnya.
"Maaf lagi. Ponselnya aku silent dan ada dalan tas, jadi aku tidak tahu." jelas Shevi. Byan hanya tersenyum.
__ADS_1
"Kamu makan belum??" tanya Byan pada Shevi. Dia sendiri belum makan malam karena menunggu istrinya.
"Sudah. Tadi makan di rumah Ibu," jawab Shevi.
"Tega sekali. Aku menunggumu, ternyata kamu sudah makan. Untung aku tidak mati kelaparan." ujar Byan.
Mendengar itu, Shevi jadi merasa bersalah pada Byan. Dia berdiri lalu menyeret tangan suaminya.
"Ayo, aku temani makan." ajak Shevi. Byan pun berdiri dan menuruti apa kata Shevi.
Mereka menuju meja makan. Shevi melihat di atas meja makan itu semua makanan kesukannya. Shevi dan Byan lalu duduk.
"Lho, kok semuanya kesukaanku???" tanya Shevi.
"Tadinya aku yang meminta Bi Sumi memasakkan menu kesukaanmu. Tapi ternyata kamunya sudah makan." jawab Byan. Itu membuat Shevi lebih semakin bersalah lagi. Tak disangka ternyata suaminya menyiapkan semua ini untuknya.
"Kak, sekali lagi aku minta maaf ya???" ucap Shevi dengan wajah penuh rasa bersalahnya.
"Sudah berapa kali kami meminta maaf padaku??" tanya Byan sambil mengunyah nasi.
Melihat Byan makan, Shevi dibuat celegukan. Dia menelan air liurnya. Walaupun sudah makan, tapi dia tetap tergoda pada makanan kesukaannya itu.
"Mau....???" tanya Byan yang merasa dari tadi Shevi terus memperhatikannya. Tanpa pikir panjang, Shevi langsung menganggukkan kepalanya. Byan pun menyuapi Shevi.
"Perut kamu ternyata karet juga ya, yang???" goda Byan karena istrinya itu walaupun sudah makan, tapi masih kuat untuk makan lagi.
"Salah makanannya. Suruh siapa menggodaku...." ujar Shevi. Byan menambah nasi dan lauknya lagi lalu memakannya berdua dengan Shevi.
Selesai makan, Byan dan Shevi lalu ke kamar karena sudah jam sembilan malam. Byan naik ke atas ranjang. Sedangkan Shevi masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan piyama.
"Kamu tidak mandi, yang??" tanya Byan setelah melihat Shevi keluar.
"Enak saja. Aku sudah mandi di tempat Ibu." jawab Shevi tak terima. Shevi lalu naik ke ranjang dan merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah. Dia sudah menguap berkali-kali dan rasa kantuk yang mendera.
"Bagaiman tadi kontrolnya?? Kata dokter apa??" tanya Byan sambil memiringkan badannya menghadap Shevi. Tangannya melingkar di pinggang Shevi.
"Oh, itu,, itu kata dokternya belum pulih." jawab Shevi gelagapan. Dia membohongi suaminya.
"Ohhhhh, jadi aku masih harus puasa??? Atau sekarang kita melakukan yang seperti tadi pagi saja??" tanya Byan. Byan menundukkan kepalanya melihat istrinya yang hanya diam.
__ADS_1
"Cepat sekali tidurnya. Mimpi indah sayangku..." ucap Byan lalu mencium kening istrinya.
Byan menyelimuti tubuh Shevi dan tanpa sengaja baju Shevi menyingkap. Terlihat luka bekas tusukan itu. Byan meraih ponselnya dan menghidupkan mode center yang diarahkannya ke perut Shevi. Dilihatnya luka yang sudah sembuh. Hanya tinggal bekas luka di sana.