
4 hari kemudian,
______________
Byan belum masuk kantor karena masih menunggu Shevi di rumah sakit. Dia mempercayakan semua pekerjaannya pada Revan. Sedetikpun, dia tidak mau meninggalkan istrinya.
Malam ini hanya dia sendiri yang menjaga Shevi. Byan menyuruh Dian dan Sofyan untuk pulang dan istirahat di rumah. Sedangkan Revan dan Reni malam ini tidak bisa datang menemaninya.
"Yang....." panggil Byan yang duduk di samping Shevi.
"Hmmmm......" jawab Shevi sambil membalas pesan dari Reni yang meminta maaf karena hari ini tidak bisa menjenguknya.
"Seharusnya kita lagi bahagia-bahagianya jadi pengantin baru ya?? Mungkin kita sudah melakukannya!! Tapi harus tertunda karena ini!" ucap Byan dengan wajah yang seakan menahan sesuatu.
Shevi yang masih sibuk dengan ponselnya, lalu menatap suaminya. Dia tersenyum tipis mendengar ucapan suaminya itu. Tangannya mengelus lembut pipi Byan.
"Melakukan apa???" tanya Shevi yang pura-pura tidak paham.
"Masa kamu tidak tahu maksudku??? Mau aku praktekkan sekarang??" Byan balik bertanya.
"Tidak-tidak....!!!! Aku kan masih sakit....! Kamu tidak kasihan denganku????" jawab Shevi.
"Sabar ya, sayangku......" imbuh Shevi. Byan memegang tangan Shevi yang masih menyentuh pipinya.
"Oh iya...!! Aku sampai lupa menanyakan tentang Keysa. Bagaimana dia sekarang??" tanya Shevi.
"Dia baru akan mulai sidang. Jangan membicarakan dia!! Seperti tidak ada topik lain saja!!" jawab Byan yang tidak suka membahas Keysa. Setelah kejadian itu, rasa bencinya sangat dalam.
"Lalu setelah dia menusukku, acara resepsi kita bagaimana??" tanya Shevi lagi.
"Ya kacaulah...!!! Tapi untungnya acara sudah hampir selesai. Setelah itu Mia yang membereskannya. Itu kata Revan, soalnya aku juga langsung ke rumah sakit. Jadi aku tidak tahu situasi selanjutnya." jawab Byan.
"Suamiku benar-benar membuat wanita jatuh cinta sampaii tergila-gila. Keysa sampai melakukan hal senekat itu." ujar Shevi.
"Tapi itu bukan cinta, melainkan obsesi yang hanya ingin memiliki!!" sahut Byan.
"Iya,,, iya...!!!! Sudah malam. Cepat tidur!" perintah Shevi sambil membenahkan posisi tidurnya. Shevi tidak jadi memejamkan mata, dia bingung kenapa Byan tidak juga berdiri dan tidur di sofa seperti biasanya.
"Kamu kenapa???" tanya Shevi.
"Izinkan aku tidur bersebelahan denganmu, yang...." rengek Byan sambil mengguncang-guncangkan lengan Shevi. Wajahnya persis seperti anak kecil yang merengek minta dibelikan permen.
"Jangan aneh-aneh...!!!" kata Shevi.
"Aneh-aneh juga sudah halal!! Semalam ini saja. Aku mohon...!!!" pinta Byan.
"Baiklah....!!! Tapi jangan macam-macam!!" jawab Shevi.
"Kamu ini lucu, yang. Aku itu suamimu lho..!! Jadi, tidak ada larangan kalau aku mau macam-macam pada istriku sendiri." ujar Byan.
__ADS_1
" Ya sudah!! Kalau tidak bisa janji, kamu tidur di sofa saja." kata Shevi.
"Iya,,,, janji!!!" Byan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Dia akhirnya mengizinkan Byan untuk tidur bersamanya. Shevi agak menggeser badannya. Byan lalu naik ke ranjang pasien dan tidur memeluk istrinya dengan wajah yang ia tempelkan di leher Shevi. Hembusan nafasnya bisa dirasakan Shevi yang mengenai lehernya dan membuatnya merinding.
Karena sudah berjanji untuk tidak macam-macam, Byan hanya bisa memeluk dan tak bisa melakukan hal lebih. Merasa nyaman dengan pelukan Byan, Shevi pun mulai tertidur. Begitupun dengan Byan yang sudah terlelap dari tadi.
Semalaman Byan tidur dengan memeluk Shevi. Tak terasa sudah pagi, tapi pasangan suami istri itu masih tertidur lelap.
Di parkiran rumah sakit,
__________________
Revan keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki rumah sakit.
"Van...." panggil seorang wanita dibelakangnya. Revan menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memanggilnya. Perempuan itu berjalan mendekati Revan.
"Sombong banget sekarang....." kata perempuan itu.
"Ajeng,,,,,,??????" Revan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ajeng adalah teman semasa SMA. Setelah lulus, Ajeng kuliah di luar kota.
"Kamu kapan kembali???" tanya Revan.
"Sudah dua minggu ini." jawab Ajeng.
"Ayo, kita ngobrol di sana." ajak Ajeng, tangannya menunjuk kursi yang berada di taman rumah sakit itu.
"Kamu ada urusan apa di rumah sakit, Van??? Kamu sakit?" tanya Ajeng lalu duduk di kursi dan diikuti oleh Revan.
"Nggak...!!! Aku jenguk istrinya sahabatku." jawab Revan.
Mereka berbincang lama di taman itu dan terlihat sangat akrab. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Reni.
Reni yang baru datang tak sengaja melihat Revan yang duduk berdua dengan wanita cantik di sampingnya. Agak lama Reni berdiri memperhatikan Revan. Dia melihat Revan yang mengusap bahu wanita itu. Rasa cemburu pun membakar hatinya.
"Gue bukan apa-apanya. Kenapa harus cemburu????" gumam Reni lalu berjalan meninggalkan Revan dan temannya yang masih asyik ngobrol.
Reni langsung masuk ke dalam kamar Shevi. Dia melihat Byan dan Shevi masih tertidur di atas ranjang rumah sakit.
Ampun dehhhhh.....!!!! Kenapa gue harus disuguhi pemandangan seperti ini???" gerutunya lalu duduk di sofa dan sambil memainkan ponselnya. Reni tak mau mengganggu Byan dan Shevi yang masih tidur.
Shevi mengedip-ngedipkan matanya. Dia membangunkan Byan yang masih tidur di sampingnya.
"Kak,,,,, bangun!!!!" Shevi menepuk-nepuk pipi suaminya.
"Hmmmmm,,,,,,,!! Masih ngantuk, yang." jawab Byan dengan suara beratnya.
"Nanti keburu ada Dokter masuk lho...!!" kata Shevi. Byan bangun dan turun dari ranjang. Matanya tertuju pada Reni yang sedang duduk di sofa.
__ADS_1
"Reni.....! Sejak kapan ke sini????" tanya Byan lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Sejak kalian masih nyenyak tidur." jawab Reni.
"Iihhhhhh,,,,, judes banget!! Sini, cerita ke gue!! Pasti lo lagi kesal kan???" tanya Shevi. Dia bisa dengan medah menebak sahabatnya itu. Reni berjalan mendekati Shevi dan duduk di sampingnya dengan wajah ditekuk.
"Kenapa????" tanya Shevi.
"Gue tadi lihat Kak Revan lagi ngobrol mesra sama cewek di taman rumah sakit." jawab Reni.
"Ooowwwww, jadi itu masalahnya???? Lo cemburu????" tanya Shevi.
"Shev, gue akan berhenti mengharapkan Kak Revan! Mungkin dia bukan jodoh gue!" ujar Reni yang menyerah begitu saja setelah selama ini berjuang untuk mendapatkan hati Revan.
"Reeeennnn.....!!! Lo kan belum tahu siapa wanita itu." Shevi memegang tangan Reni. Dia bisa merasakan apa yang kini Reni rasakan.
"Mereka terlihat sangat dekat, Shev!! Mulai sekarang, gue akan menjauh...!!!" ucap Reni yang sudah mantap dengan keputusannya. Byan keluar dari kamar mandi dan membuat Shevi dan Reni tak melanjutkan obrolannya.
Tok,,, tok,,, tok.....
Dokter dan seorang perawat masuk untuk mengecek kondisi Shevi dan lukanya.
"Maaf, mengganggu sebentar Mbak Shevi...." ucap Dokter paruh baya itu.
"Tidak, Dok.." jawab Shevi.
"Saya periksa lagi ya????" tanya Dokter itu dan Shevi menganggukan kepalanya. Setelah beberapa saat, Dokter selesai memeriksa Shevi. Byan mendekati Dokter itu.
"Bagaimana istri saya sekarang, Dok???" tanya Byan.
"Sudah sangat bagus. Tinggal menunggu lukanya mengering." jawab Dokter itu.
"Dok, saya mau tanya sesuatu." kata Byan ragu-ragu karena ada Reni dan Revan yang baru saja datang.
"Dokterkan tahu sendiri kami pengantin baru. Mmmmm,,,,,,,,," Byan masih ragu untuk bertanya. Dokter itu pun tersenyum dan tahu apa yang akan ditanyakan oleh Byan.
"Belum boleh..!! Tunggu luka dari tusukan itu sampai benar-benar kering. Tolong ditahan dulu!!! Nanti pasti saya beritahu kalau sudah diperbolehkan melakukan hubungan suami istri." jelas Dokter itu. Wajah Shevi memerah karena menahan malu gara-gara pertanyaan suaminya.
"Baiklah. Saya permisi dulu..." pamit Dokter itu.
"Pffftttttttttt,,,,,,,,!!!!!! Bwahahahahaaaaaa......." Revan tertawa sambil memegangi perutnya. Dia tak bisa menahan tawanya lagi.
Shevi mencubit lengan Byan yang berdiri tepat di sampingnya.
"Kenapa lo tertawa??? Lo ngejek gue????" tanya Byan pada Revan yang masih tertawa.
"Puasa, By. Puasa.......!!!! Kasihan dianggurin...!!!! Hahahaaaaa......" ejek Revan. Byan berjalan mendekati Revan lalu meninju lengan Revan.
"Puas-puasin lo tertawa...!!!!" ucap Byan.
__ADS_1
"Shev, Kak Byan. Aku pamit ya..!!! Mau berangkat kuliah. Takutnya telat." kata Reni lalu keluar dari kamar Shevi.