
Kampus,
_______
Selama dosen mengajar dari awal sampai akhir, Shevi hanya melamun. Dia tidak bisa konsentrasi. Hari ini tidak seperti Shevi biasanya. Sesekali Reni menyenggolnya agar Shevi kembali fokus.
Setelah mata kuliah selesai. Shevi dan Reni keluar. Reni menyeret tangan Shevi dan mengajaknya duduk.
"Shev, lo masih anggap gue sahabat lo kan???" tanya Reni.
"Ya iyalah. Masih nanya," jawab Shevi.
"Gue perhatikan lo banyak melamun. Cerita sama gue, lo itu kenapa?" tanya Reni.
"Kak Byan marah banget sama gue, Ren." jawab Shevi sambil menundukkan kepalanya.
"Marah kenapa??" tanya Reni dengan mengerutkan dahinya.
"Masalah kontrol kemarin kan dokter bilang kalau gue udah sembuh. Kak Byan tanya itu. Gue jawab aja kalau gue belum sembuh. Gue takut kalau Kak Byan langsung mengajak berhubungan. Gue belum siap, Ren...." jawab Shevi.
"Ahhhhhh,,,, lo Shev..!!! Hobi banget cari masalah. Kak Byan sudah sepantasnya meminta haknya sebagai suami. Lo aja yang kebangetan." ujar Reni yang menyalahkan Shevi.
"Kok lo jadi nyalahin gue, Ren??" Shevi tak terima.
"Terus??? Lo anggap diri lo benar?" tanya Reni.
"Ya enggak. Gue akuin kesalahan gue, Ren. Tapi Kak Byan nggak mau mendengarkan penjelasan gue. Dia langsung pergi dari rumah. Dia nggak pulang semalaman, Ren...." jawab Shevi dengan mata berkaca-kaca.
"****** lo...!! Jangan salahkan Kak Byan kalau dia cari wanita lain lho..." Reni menakut-nakuti Shevi.
"Kok lo bilang gitu, Ren? Lo jahat banget! Huu...huuuu...huuuu...." Shevi menangis sesenggukan.
Niat Reni hanya menakuti Shevi, tapi malah membuat menangis sahabatnya. Reni jadi bingung harus bagaimana.
__ADS_1
"Aduhhh, jangan nangis dong Shev! Gue hanya bercanda. Enggak mungkin juga Kak Byan seperti itu. Udah diam ya...!" Reni mengelus bahu Shevi. Shevi masih saja menangis. Mereka menjadi pusat perhatian teman sekampusnya.
"Malu dilihatin orang Shev. Gue minta maaf. Gue tarik lagi deh ucapan gue tadi." ucap Reni sambil melihat ke kiri dan kanannya.
"Gue nggak mengira ternyata lo secengeng ini." imbuh Reni. Karena setahunya Shevi itu tidak akan mudah menangis.
Karena Shevi tak juga diam, Reni menariknya dan berjalan menuju parkiran mobil. Dia membukakan pintu mobil untuk Shevi. Shevi pun masuk. Reni menyusulnya masuk dan duduk menghadapkan badannya ke Shevi.
"Lo bisa diam nggak??? Reputasi lo sebagai cewek tenar di kampus ini musnah sudah gara-gara tangisan lo!!" kata Reni.
"Gue nggak perduli. Lagian gue juga udah punya suami ganteng." balas Shevi.
"Yaahhh,,,,, percaya yang punya suami ganteng! Gue akan bantu, asalkan lo nggak nangis lagi!" kata Reni.
"Beneran??? Lo nggak bohongkan?" tanya Shevi menghentikan tangisannya dan langsung bersemangat.
"Tapi apa yang bisa lo perbuat??" tanya Shevi ragu.
Reni melajukan mobilnya meninggalkan kampus. Shevi menatap lurus ke depan tanpa tahu tujuan Reni akan membawanya kemana. Karena setahunya, jalan yang dilaluinya sekarang bukanlah arah ke rumahnya. Shevi hanya mengikuti Reni tanpa banyak protes.
Reni fokus mengemudi. Sesekali dia menoleh ke arah Shevi. Setelah menempuh perjalan sekitar 20menit dari kampusnya, sampailah di sebuah mall ternama. Reni memarkirkan mobilnya di basemant.
"Ayo turun!" ajak Reni sambil melepas sabuk pengamannya.
Shevi masih duduk tak bergeming. Dia heran dengan Reni. Katanya mau membantunya menyelesaikan masalah, tapi kenapa Reni membawanya ke mall? Di dalam pikirannya, Shevi bertanya-tanya sendiri.
"Ihhhh,, ampun deh ini anak! Mau turun nggak?" tanya Reni.
"Iya, iya! Gue turun." jawab Shevi membuka pintu mobil lalu turun. Reni mengitari mobilnya untuk mendekati Shevi.
"Lo ngapain ngajak gue ke sini? Gue lagi nggak butuh hiburan." lanjut Shevi.
"Siapa yang mau mencari hiburan?? Sesuatu yang akan menyelesaikan masalah lo ada di sini!" terang Reni lalu menyeret tangan Shevi mengajaknya masuk ke dalam mall. Shevi sendiri bingung dengan yang dimaksud oleh Reni. Dia hanya menurut dan berjalan di belakang Reni.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam mall. Reni mengajaknya naik ke lantai dua. Mata Reni mencari-cari tempat yang ia tuju. Setelah menemukan, Reni mengajak Shevi masuk ke dalamnya.
"Lo tunggu di sini! Duduk manis di sini! Serahkan sama gue!" perintah Reni. Shevi duduk menuruti perintah dari Reni.
Reni berjalan menghampiri pelayan yang ada di sana.
"Ada yang bisa saya bantu??" tanya pelayan itu ramah.
"Iya Mbak. Itu teman saya baru saja menikah. Bantu saya mencari baju tidur yang sexy, yang transparan, yang hot pastinya. Pokoknya yang bisa menggoda suaminya!" jawab Reni sambil menunjuk Shevi yang sedang duduk menunggunya.
"Baiklah. Mari ikut saya!" ucap pelayan itu mengajak Reni. Reni mengikuti pelayan itu.
Pelayan itu membawa Reni dan memperlihatkan banyak lingerie yang terpajang di sana. Reni sendiri bingung mau memilih yang seperti apa. Setelah hampir setengah jam dia habiskan untuk memilah dan memilih.
"Mbak, diantara tiga ini mana yang paling bagus?" tanya Reni meminta pendapat si pelayan.
"Yang merah maroon dengan hiasan pita hitam itu bagus Mbak. Berbahan lace yang pastinya trasnparan." jawab pelayan itu. Reni menganggukkan kepalanya setuju dengan pilihan pelayan toko.
"Saya ambil ini! Tolong bungkus yang rapi. Ini kado buat sahabat saya itu Mbak." kata Reni.
"Baik, Mbak. Harap tunggu sebentar. Bisa sambil membayar dulu di kasir, Mbak." ucap pelayan itu. Reni lalu ke kasir dan membayarnya.
Shevi merasa sangat jenuh menunggu Reni. Dia penasaran dengan apa yang di beli oleh Reni sampai memakan waktu yang begitu lama.
Setelah selesai membayar, pelayan tadi datang memberikan paper bag pada Reni. Reni dengan girangnya menghampiri Shevi yang masih duduk menunggunya.
"Lama banget sih Ren??" tanya Shevi dengan wajah cemberutnya.
"Sory, Shev. Ini buat lo," Reni memberikan paper bag itu pada Shevi.
"Apa ini?? Kok pakai acara dibungkus rapat kaya gini?" tanya Shevi sambil membukanya tas.
"Lo buka kalau udah sampai di rumah. Ayo, kita pulang sekarang." ajak Reni setelah selesai dengan misinya.
__ADS_1