Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
38. Ep 38


__ADS_3

Pagi hari di rumah sakit,


Shevi membantu Ibunya mengemasi baju-baju Kakeknya karena pagi ini sudah diperbolehkan pulang. Sedangkan Byan sedang menyelesaikan administrasi. Setelah selesai, saat Byan akan kembali ke kamar tempat Sofyan di rawat, Shevi sedang berjalan ke arahnya.


"Kakek dan Ibu mana?" tanya Byan.


"Kakek dan Ibu aku suruh tunggu di mobil. Soalnya tadi nunggu kamu lama banget." jawab Shevi.


"Kita ke mobil sekarang. Kasihan Ibu dan Kakek menunggu." ajak Byan sambil menggandeng tangan Shevi menuju mobilnya.


"Maaf Kek lama." ucap Byan setelah masuk ke dalam mobil dan disusul Shevi. Byan melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


Sesampainya di rumah, Byan dan Shevi turun. Dian memapah Papanya masuk ke dalam rumah lalu menuju kamar Sofyan.


"Akhirnya Kakek pulang." ucap Sofyan sambil bersandar di tempat tidurnya.


"Papa sekarang istirahat. Dian keluar dulu." kata Dian sambil menyelimuti kaki Papanya lalu keluar menghampiri Byan di ruang tengah.


"Shevi mana By?" tanya Dian.


"Ke kamar Bu." jawab Byan.


"Bu, Byan pamit pulang dulu." ucap Byan ke Dian.


"Kok buru-buru?" tanya Dian.


"Mau ke kantor Bu. Kasihan Revan kalau harus menggantikan Byan lagi." jawab Byan.


"Tapi sarapan dulu. Itu Mbok Ami sudah masak banyak lho. Tolong kamu panggil Shevi ke atas ya." kata Dian. Byan mengangguk kemudian ke lantai atas menuju kamar Shevi.


Karena kamar Shevi sedikit terbuka, Byan lalu masuk. Di saat yang bersamaan, Shevi keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutupi dada sampai pahanya. Mau tidak mau Byan melihat pemandangan yang sedikit menyejukkan matanya.


"Aaaaaaaaa....aaaa...aaaaa!!!!!! Kak Byan ngapain ke sini. Keluar...!!!!!!!" Shevi berteriak karena Byan yang tiba-tiba ada di dalam kamarnya. Shevi lalu kembali masuk ke kamar mandi lagi.

__ADS_1


"Maaf. Ibu menyuruhku untuk mengajak kamu sarapan." kata Byan.


"Ya. Kamu keluar dulu." ucap Shevi dari dalam kamar mandi.


"Ok. Aku tunggu di bawah." jawab Byan lalu keluar dari kamar Shevi.


Shevi membuka kamar mandi dan mengintip. Setelah memastikan kalau Byan sudah tidak ada di kamarnya, Shevi keluar kemudian mengambil baju di almari. Setelah memakai baju, Shevi lalu turun. Di meja makan Ibunya dan Byan sudah menunggu.


Byan tersenyum pada Shevi dan menyuruh duduk di samping dirinya.


"Kalian kapan menikah? Mau tunggu apa lagi sih?" tanya Dian sambil mengambil nasi dan ditaruhnya di atas piring.


"Shevi belum mau Bu." jawab Byan melihat Shevi.


"Ayo makan." Sahut Shevi tak menanggapi Ibunya dan Byan yang mulai membahas pernikahan.


Selesai sarapan pagi, Byan lalu pamit. Dia buru-buru ke kantor. Byan diantar Shevi sampai teras depan.


"Mau langsung ke kantor pakai baju seperti ini?" tanya Shevi yang melihat Byan hanya memakai kaos putih dan celana jeans hitam.


"Aku berangkat. Mungkin besok aku ke sini." ucap Byan.


"Ya kamu hati-hati." pesan Shevi pada Byan. Byan mengecup kening Shevi lalu masuk ke dalam mobilnya.


***


Di kantor Byan,


Pekerjaan Byan menumpuk karena kemarin dia tidak ke kantor. Revan masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi lalu duduk di kursi depan meja kerja Byan. Byan masih menatap layar laptopnya tanpa memperdulikan kehadiran Revan.


"By........" panggil Revan sambil menyandarkan badannya.


"Hmmmmmmm....." jawab Byan.

__ADS_1


"Siapa yang telfon kemarin? Jangan pikir lo bisa bohongin gue. Gue tahu, pasti bukan klien kan?" tanya Revan yang membuat Byan menatapnya. Byan terlihat menghela nafas panjang.


"Keysa Van.." jawab Byan. Revan yang mendengar itu lalu menegakkan duduknya dan pasang wajah serius.


"Keysa siapa? Jangan bilang dia cewek lo waktu di luar negeri ya?" tanya Revan.


"Sembarangan..!!!! Cewek gue hanya Shevi." jawab Byan.


"Terus siapa?" tanya Revan.


"Dia cewek yang ngejar-ngejar gue. Gue udah tolak berkali-kali tetap saja nggak nyerah Van." jawab Byan.


"Apalagi sekarang dia selalu membawa-bawa nama Kakaknya." imbuh Byan.


"Maksud lo?" Revan mengerutkan keningnya.


"Gue hutang nyawa sama Kakaknya." kata Byan sambil menyangga dagunya menggunakan kedua tangannya.


"Maksud lo dengan hutang nyawa?" tanya Revan belum jelas.


"Dulu sewaktu masih kuliah, gue pernah dikeroyok dan dipukuli sampai pingsan. Gue diceburin di sebuah danau. Alvin yang menyelamatkan gue. Gue nggak sadarkan diri sampai 3 hari. Dan setelah gue sadar, katanya Alvin tenggelam di danau itu setelah berhasil menyelamatkan gue." ujar Byan.


"Setiap gue nolak Keysa, dia selalu sengaja mengungkit kematian Kakaknya. Itu yang membuat gue menuruti semua keinginannya karena rasa bersalah ini. Gue benar-benar nggak bisa berkutik Van kalau dia sudah mengungkit-ungkit Kakaknya yang sudah menyelamatkan gue." lanjut Byan. Revan terlihat berpikir.


"Alvin itu sahabat lo dan Keysa adik dari Alvin gitu?" tanya Revan dan dibalas anggukan Byan.


"Seharusnya Keysa bisa menerima kematian Kakaknya. Lagian itu semua juga bukan kesalahan lo By..!!!" ucap Revan.


"Gue pusing Van. Gue udah kembali ke sini saja, dia masih nguber. Kemarin dia nelfon 1bulan lagi mau ke sini." kata Byan sambil mengusap kasar wajahnya.


"Waahhhhhhh........., bakal seru dong By." seru Revan.


" Seru kepala lo....!!!!!!!" balas Byan.

__ADS_1


"Gue takut dia mengusik hubunganku dengan Shevi Van." lanjut Byan. Revan tidak menjawab. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Gue mau lanjut kerja. Dari pada di sini ikut pusing." Revan keluar dari ruang kerja Byan.


__ADS_2