
Saat Reni akan memasuki mobilnya, ada mobil berwarna hitam memasuki rumah Shevi. Reni masih berdiri di samping pintu mobilnya dan mengamati siapa yang datang.
Mobil itu berhenti di samping mobil Reni.
"Kak Byan...." sapa Reni setelah melihat siapa yang keluar dari mobil sedan hitam itu.
"Reni,,, kamu di sini??" tanya Byan
"Iya Kak. Biasalah main....! Soalnya nggak ketemu sehari sama Shevi udah kangen." jawab Reni.
"Kok udah mau pulang?" tanya Byan lagi.
"Udah sore Kak. Ini kak Byan pulang kantor langsung ke sini?" Reni balik tanya ke Byan.
"Iyaaa......" jawab Byan singkat.
"Ya sudah kak aku pulang dulu. Itu Shevi dihibur ya kak soalnya lagi kesel. Katanya tadi nunggu Kak Byan kelamaan. Padahal dia berharap banget lho ketemu sama Kakak." celetuk Reni lalu masuk ke mobilnya.
heheeeeeee sukuriiinnn gue kerjain lo Shev.... Batin Reni
"Ya. Kamu hati-hati...." sahut Byan dan berjalan ke rumah Shevi. Di depan pintu, Byan memencet bel.
Shevi yang duduk di ruang tengah bersama Ibunya berjalan membuka pintu.
"Pasti si Reni lagi. Iseng banget itu bocah...!!!" gerutu Shevi sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Mau apa lagi...????" tanya Shevi tanpa melihat siapa yang datang. Shevi kaget setelah tahu ternyata yang datang adalah Byan.
"Ya sudah aku pulang kalau tidak boleh datang.." ucap Byan lalu pura-pura balik badan akan pulang.
"Ohhhh... sory kirain Reni ke sini lagi. Soalnya dia suka iseng. Ayo masuk...." Shevi mengajak Byan duduk di ruang tamu. Byan mengikuti Shevi dan duduk di kursi tamu.
"Sebentar aku panggil Ibu dulu.." pamit Shevi lalu berjalan ke ruang tengah menghampiri Ibunya.
"Siapa yang datang sayang? Reni lagi?" tanya Dian yang melihat putrinya berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Bukan Reni Bu. Tapi Byan.." jawab Shevi.
Ibunya langsung bergegas menemui Byan di ruang tamu.
"Semangat banget...." ucap Shevi yang berjalan di belakang Ibunya.
"Semangatlah. Kan calon menantu Ibu...!!!" balas Ibunya sambil menoleh ke belakang.
"Yaa...ya..ya...!!!" jawab Shevi.
"Eehhhh nak Byan. Kok tumben mampir?" tanya Dian yang sudah berdiri di ruang tamu lalu duduk di sofa dan diikuti Shevi yang duduk di sampingnya.
"Sore Tante. Iya Byan mau mengembalikan ini dan terima kasih Tante sudah repot-repot mengirimi Byan makan siang." jawab Byan sambil menaruh rantang di meja.
"Oohhh tak masalah. Santai saja. Kamu sudah tante anggap seperti anak sendiri. Lagian itu juga inisiatifnya Shevi." ujar Dian.
Shevi yang mendengar itu sontak memelototkan mata ke Ibunya karena ucapan Dian tadi.
"Ibu bicara apa sih. Bukannya itu ide.............." Shevi tidak menyelesaikan bicaranya karena di bawah meja kakinya diinjak oleh sang Ibu.
"Jangan dengarkan Shevi nak Byan. Dia pasti malu..." ucap Dian sambil menepuk-nepuk pundak Shevi yang meringis menahan sakit kakinya akibat injakan Ibunya.
"Ibu buatkan minum dulu sebentar ya." pamit Dian berdiri hendak menuju ke dapur.
"Shevi saja Bu.." usul Shevi karena merasa canggung berduaan dengan Byan.
"Sudah, biar Ibu saja. Kalian nikmati kesempatan untuk berduaan." Dian meninggalkan mereka dengan senyum usilnya.
"Kenapa kamu tidak langsung ke ruanganku saja?" tanya Byan mengawali pembicaraannya.
"Kan harus ada janji dulu kalau mau ketemu seorang bos." jawab Shevi.
"Bilang saja kamu tunanganku. Aku sudah memarahi Lia yang sudah membuatmu menunggu di lobby selama itu." kata Byan serius.
"Apa......???? Kamu ini bos macam apa? Seharusnya kamu bangga punya karyawan seperti dia yang menjalankan tugasnya dengan benar, bukan palah dimarahi." ujar Shevi.
__ADS_1
"Kok jadi aku yang disalahin?" tanya Byan heran.
"Ya iyalahhhh......!!! Kasihan kan dia. Jangan galak-galak jadi bos." jawab Shevi
"Sebentar ya. Aku mau lihat Ibu dulu, kok lama banget buat minumnya." Shevi berjalan ke dapur karena curiga dengan Ibunya.
Di dapur, Shevi melihat Ibunya bukannya membuatkan minum, tapi palah duduk dengan santainya.
"Oooohhhh ternyataa Ibu palah duduk manis di sini??? Pasti Ibu sengaja kan...??" tanya Shevi yang mengagetkan ibunya.
"Eehhh Shevi......" Ibunya langsung menoleh ke belakang.
"Kok Ibu bisa lupa ya. Pasti ini faktor umur Ibu yang sudah tak muda lagi. Jadi pelupa sekarang." lanjut Ibunya mencari alasan karena kepergok Shevi.
"Itu tenggorokan tamunya sampai kering Bu. Sudah, Ibu ke sana saja temani Byan, biar Shevi yang buatkan minumnya." ucap Shevi langsung mengambil gelas dan menaruhnya di nampan.
"Mbak, biar mbok saja." kata mbok Ami yang baru saja selesai menyetrika.
"Shevi saja nggak apa-apa. Mbok Ami istirahat saja dulu. Pasti capek kan?" ucap Shevi lalu berjalan membawa minuman untuk Byan.
Shevi meletakkan gelas di meja dan mempersilahkan Byan untuk meminumnya.
"Sory lama, tadi Ibu ketiduran.." sindir Shevi ke Ibunya.
"Iya tidak apa-apa" jawab Byan sudah mengerti apa maksud Shevi.
"Oiyaa Bu, untuk acara hari minggu kalau belum selesai, mungkin Byan bisa bantu." imbuh Byan.
"Tenang saja. Sudah Ibu atur semuanya. Kalian tinggal terima beres saja." ucap Dian
"Baiklah kalau begitu Bu. Kalau butuh bantuan, Ibu langsung bilang saya saja. Byan pulang dulu Bu, ini sudah hampir petang." pamit Byan lalu berdiri mencium tangan Dian.
"Shevi aku pulang dulu.." lanjutnya dan dibalas anggukan dari Shevi.
Setelah mengantar Byan sampai depan, Dian berjalan masuk sambil merangkul pundak putrinya.
__ADS_1
"Bu, kakek kapan pulang?" tanya Shevi. Karena kakeknya beberapa hari ini berada di luar kota.
"Besok sore kakekmu pulang. Mana mungkin kakekmu melewatkan pertunangan kalian." jawab Dian sambil menutup pintu.