
Shevi menepati janjinya pada sang Ibu. Sehabis pulang dari cafe, Shevi dan Byan langsung meluncur ke rumah Dian. Di dalam perjalanan, Byan hanya diam.
"Kenapa? Mau diam-diaman terus?" tanya Shevi mencoba mengawali pembicaraannya. Dia sendiri sudah tahu kalau suaminya marah.
"Tadi siapa?" tanya balik Byan.
"Mau aku jawab jujur enggak? Tapi janji, enggak boleh marah!" ucap Shevi.
"Kok enggak jawab?" tanya Shevi yang melihat Byan hanya diam tanpa menjawab.
"Janji!" ucap Byan.
"Tadi itu,,, mantan waktu SMA. Jaman cinta monyet." jelas Shevi. Dia terus menatap Byan.
"Tidak harus pegang-pegangan tangan jugakan?" kata Byan sambil melihat Shevi sekilas.
"Iya, aku minta maaf. Dia tiba-tiba saja datang lalu menggenggam tanganku. Kalau aku tahu, pastinya aku akan menghindarlah!" jelas Shevi.
"Jangan ulangi lagi! Ingat, kamu sudah punya suami." kata Byan lalu mengelus kepala Shevi.
"Siap! Aku selalu ingat!" ucap Shevi.
Sekarang, Shevi menjadi lebih dewasa. Kalau ada masalah, dia dan Byan langsung menyelesaikannya agar tak berlarut-larut. Itu membuat keluarga kecilnya menjadi lebih harmonis.
Mobil Byan telah sampai di halaman depan rumah Dian. Byan turun bersamaan dengan Shevi. Byan menggandeng tangan istrinya lalu masuk ke dalam.
"Malam, Bu." sapa Shevi dan Byan.
"Ehhhhh,,,, kalian sudah datang?? Ibu menunggu dari tadi lho. Lihat itu, Ibu sudah memasak banyak makanan kesukaan kalian." ujar Dian sambil menunjuk meja makan yang di atasnya tersaji banyak menu makanan.
"Maaf, Bu. Tadi saat mau pulang, kita bertemu dengan Revan di cafe yang sama. Jadi kami ngobrol sebentar. Tidak enak juga kalau langsung pergi." jelas Byan.
"Iya, tidak apa-apa. Yang penting, kalian jadi ke sini." kata Dian.
"Ini anak! Belum juga disuruh makan, sudah mencicipi duluan!" tegur Dian ke Shevi.
"He,,,hee,,,! Kangen masakan Ibu." kata Shevi.
"Kakek telat.." ucap Sofyan baru saja keluar dari kamarnya dan bergabung di meja makan.
__ADS_1
"Tidak apa, Kek. Kami juga baru saja datang." ujar Shevi.
"Sudah lengkap. Ayo makan!" ajak Dian.
_________
Selesai makan malam, Shevi dan Byan pamit pulang. Sebenarnya Dian menyuruh Shevi dan Byan untuk menginap. Tapi Byan besok harus berangkat pagi. Dian tak bisa memaksa. Dia mengantar putri dan menantunya sampai depan rumah.
"Kami pulang, Bu." pamit Byan sambil mencium tangan Dian.
"Besok kalau Kak Byan libur, Shevi janji akan menginap di sini." ujar Shevi. Dia lalu memeluk Ibunya.
"Iya. Ibu tunggu! Awas kalau bohong!" jawab Dian. Shevi melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan pulang, Byan melihat Shevi yang melamun menatap keluar jendela mobil.
"Kamu kenapa, yang?" tanya Byan sambil meraih tangan Shevi.
"Sedih aja, nggak bisa menginap di rumah Ibu. Aku masih kangen." jawab Shevi.
"Maaf ya? Kamu tahu tidak? Aku cari alasan itu karena malam ini mau berduaan sama kamu." kata Byan.
Karena saking lelahnya dari pagi tidak istirahat, Shevi akhirnya ketiduran. Byan melihat Shevi yang tidur sambil mengusap-usap lengan, mungkin karena kedinginan. Saat berhenti di lampu merah, Byan meraih jaket di kursi belakang lalu menyelimuti badan Shevi.
Sesampainya di rumah. Byan melihat Shevi masih tertidur di dalam mobil. Dengan perlahan, Byan mengangkat tubuh Shevi lalu membawanya masuk ke dalam rumah.
"Bi, tolong bawakan tas Shevi!" perintah Byan pada Bi Sumi.
"Baik, Den." Bi Sumi meraih tas yang di bawa Byan lalu menutup pintu.
Byan menuju kamarnya. Byan meletakkan tubuh Shevi di atas kasur. Dengan sangat telaten, Byan melepas kebaya yang dipakai Shevi dan menggantinya dengan baju tidur.
"Tidur yang nyenyak istriku." Byan mengecup kening Shevi lalu membersihkan diri sebelum tidur.
Pagi hari,
________
Shevi mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia melihat jam yang ternyata baru jam empat pagi. Dia kembali memeluk tubuh suaminya. Byan membalas pelukan Shevi. Semakin erat dan semakin erat. Shevi sendiri tak tahu kalau Byan ternyata sudah bangun lebih dulu.
__ADS_1
"Yang, aku pengin." bisik Byan di telinga Shevi. Byan lalu menciumi leher istrinya.
"Kak Byan geli ahhhh,,,,! Enggak, aku dari kemarin sore belum mandi tahu!" kata Shevi yang merasa kurang percaya diri.
Tanpa menjawab, Byan lalu mencium bibir Shevi. Shevi sendiri tak bisa menolak keinginan suaminya itu. Dia membalas ciuman Byan. Byan membuka bajunya dan baju yang dipakai Shevi.
"Jangan lama-lama! Aku harus membantu Bi Sumi di dapur." kata Shevi di sela-sela ciumannya.
"Tidak janji!" ucap Byan. Dia kembali mencium bibir istrinya dengan rakus. Tak mau berlama-lama, Byan langsung menyatukan tubuhnya dengan Shevi.
Shevi sudah menduganya. Tidak akan cukup hanya satu jam saja. Shevi melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 05.40. Byan sendiri belum menunjukkan tanda-tanda pelepasan. Dia masih dengan gagahnya berada di atas Shevi.
Akhirnya, mereka mencapai puncak kenikmatan bersama-sama. Byan terkulai lemas di samping Shevi. Shevi sendiri segera bangun lalu menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Shevi keluar kamar menuju dapur. Shevi melihat Bi Sumi yang sudah selesai masak dan hidangan pun telah tersaji di atas meja makan.
"Bi, maaf. Shevi tidak membantu." ucap Shevi merasa bersalah, karena ulah suaminya yang minta jatah di pagi hari membuatnya tidak bisa membantu Bi Sumi.
Bi Sumi tersenyum melihat Shevi.
"Tidak apa-apa, Mbak. Bibi maklum kok. Bibi juga pernah jadi pengantin baru." goda Bi Sumi yang seakan paham. Ditambah melihat rambut Shevi yang masih basah.
"Bi Sumi bisa saja. Jadi malu deh...." kata Shevi.
"Aku ke atas dulu, Bi." ucap Shevi lalu naik ke lantai atas.
Di dalam kamar, bukannya bangun dan pergi ke kantor, Byan malah tidur dengan pulasnya. Mungkin juga karena efek bertempur di pagi hari dan membuatnya kelelahan.
Shevi memdekati Byan lalu duduk di tepi ranjang.
"Sayangku,,,,,!" panggil Shevi sambil mencubit hidung mancung suaminya.
"Bangun! Mau ke kantor enggak?" tanya Shevi.
"Enggak, yang. Nanti aku telfon Revan, biar dia handle semuanya. Aku pengin di rumah menghabiskan waktu sama kamu." kata Byan dengan suara seraknya. Dia lalu menarik tangan Shevi yang membuatnya jatuh ke dalam pelukan Byan.
"Lepasin! Bi Sumi sudah menyiapkan sarapan lho. Enggak enaklah di kamar terus." ucap Shevi.
"Biarin!" Byan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Mandi sana!" Shevi menyuruh Byan tapi tak dihiraukan.