
Hari sudah siang. Byan membuka matanya. Dia merasa tubuhnya sudah baikan dan kepalanya tidak pusing lagi. Byan duduk dan mencari keberadaan Shevi. Matanya tertuju pada seseorang yang tidur di sofa.
Byan menyingkapkan selimut lalu turun dari ranjangnya berjalan mendekati Shevi yang sedang tidur.
Dia berjongkok di depan Shevi lalu mengelus kepala Shevi dengan lembut dan hati-hati supaya tidak terbangun. Tangannya terulur menyibakkan anak rambut di dahi Shevi dan menyelipkannya di belakang telinga.
Byan membelai lembut pipi Shevi yang masih tertidur pulas. Matanya menatap setiap lekuk wajah Shevi dan terhenti pada bibir Shevi yang merah merona. Dia menyentuh bibir Shevi menggunakan ibu jari. Byan pun tergoda untuk mencium bibir itu. Entah apa yang ada di dalam pikirannya. Dia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Shevi sekilas. Karena tidak ada tanda-tanda Shevi bangun, Byan melanjutnya aksinya mencium bibir Shevi dengan lembut.
Shevi benar-benar tak bergerak sama sekali. Byan mencium Shevi tidak begitu lama, takut kalau tiba-tiba Shevi terbangun. Dia lalu berdiri sambil merutuki dirinya sendiri.
Apa yang sudah aku lakukan. Mencium secara diam-diam saat Shevi tidur. Sungguh memalukan. Batinnya dalam hati.
Byan lalu keluar kamarnya dan turun menuju dapur. Bi Sumi yang melihatnya lalu menyusul Byan.
"Den Byan mau apa? Aden istirahat saja, biar Bibi yang buatin. Den Byan kan masih sakit" ucap Bi Sumi yang melihat Byan mengambil cangkir.
"Cuma buat teh panas saja Bi. Byan bisa kok. Byan sudah enakkan Bi." jawab Byan sambil menuang air panas.
"Den, maaf sebelumnya kalau Bi Sumi lancang. Mbak Shevi itu pacarnya Den Byan ya?" tanya Bi Sumi.
Byan tersenyum mendengar pertanyaan dari Bi Sumi. Dia lupa tidak memberitahu Bi Sumi kalau baru saja tunangan dengan Shevi.
"Dia tunangan Byan Bi. Maaf kalau Byan lupa tidak memberi tahu Bi Sumi." kata Byan sambil merangkul pundak Bi Sumi yang sudah dia anggap seperti keluarga sendiri.
"Byan benar-benar minta maaf Bi. Saking bahagianya Byan sampai lupa." lanjut Byan masih merangkul Bi Sumi.
"Yang benar Den.....?????" kata Bi Sumi kaget. Byan menganggukkan kepalnya sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa Den, Bibi ikut senang akhirnya Den Byan menemukan calon pendamping. Bibi hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk Den Byan." imbuh Bi Sumi dengan mata berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis Bi. Nanti Byan ikut sedih." Byan mengusap-usap punggung Bi Sumi.
"Den Byan pintar cari calon istri. Mbak Shevi baik dan ramah. Kapan menikahnya Den??" tanya Bi Sumi.
"Iya Bi. Kalau nikah masih menunggu Shevi Bi, dia sepertinya belum siap. Pokoknya do'ain saja Bi buat Byan dan Shevi." jawab Byan sambil mengaduk tehnya.
"Pasti Den...." ujar Bi Sumi.
"Den Byan mau makan apa? Ini sudah waktunya makan siang." tanya Bi Sumi.
"Aku pengin yang segar Bi. Soalnya mulut Byan masih terasa pahit." jawab Byan.
"Kalau begitu Bibi masakin sop saja ya Den.." kata Bi Sumi. Byan pun mengangguk setuju.
Terdengar suara bel rumah Byan berbunyi. Bi Sumi berjalan membuka pintu.
Diluar pintu, Revan menunggu. Di jam makan siang, dia sengaja datang menjenguk Byan yang katanya sakit. Revanlah yang selama ini selalu menemani Byan kalau sakit. Karena Revan tahu Byan hidup sendiri dan butuh seseorang yang memperhatikannya disaat sakit.
"Ehhhhhhh Mas Revan. Mari masuk." Bi Sumi mempersilahkan.
__ADS_1
"Ya makasih Bi. Byan dimana Bi?" tanya Revan.
"Ada di dapur Mas. Tadi sedang membuat teh." jawab Bi Sumi. Revan lalu menuju dapur dan melihat Byan yang duduk di meja makan.
Revan menepuk pundak Byan dari belakang.
"Udah sembuh bro....????" tanya Revan.
"Seperti yang lo lihat." jawab Byan sambil menyerutup tehnya.
"Tumben cepet banget..!!!" ucap Revan heran. Karena biasanya kalau sakit Byan bisa 1hari hanya meringkuk di ranjang.
"Mas Revan mau minum apa?" tanya Bi Sumi.
"Kopi saja Bi.." jawab Revan.
Byan mengajak Revan pindah ke ruang tengah. Revan berjalan mengikuti Byan. Tak lama Bi Sumi menyuguhkan kopi yang di minta Revan.
"Silahkan Mas diminum." Bi Sumi menaruh secangkir kopi di meja.
"Makasih ya Bi..." ucap Revan.
"Sama-sama Mas." jawab Bi Sumi lalu kembali ke dapur.
"Ngapain lo ke sini Van??" tanya Byan.
"Idiiihhhhhhh gaya lo By....!!! Dulu tiap lo sakit gue juga ke sini nungguin seharian." jawab Revan.
"Terserah lo lah. Gue lagi males debat." ucap Byan sambil menyalakan televisi. Revan lalu mulai membicarakan masalah pekerjaan dengan Byan.
Shevi membuka matanya perlahan. Dia mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. Shevi lalu duduk sambil meregangkan badannya yang agak pegal-pegal karena tidur meringkuk di sofa.
"Kok tadi seperti ada yang menciumku ya...???" ucap Shevi pelan lalu mengusap bibirnya.
"Ahhhh mungkin hanya perasaanku saja..." imbuh Shevi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Shevi sungguh tak menyadari kalau Byan sudah diam-diam mencuri ciuman pertamanya.
Shevi berdiri lalu berjalan mendekati Byan yang dikiranya masih tidur.
"Loh kok nggak ada?? Kemana itu orang..??" Shevi bertanya-tanya. Dia lalu turun ke lantai bawah mencari Byan.
Revan yang sedang serius membahas pekerjaan dengan Byan, langsung mengarahkan matanya pada perempuan yang sedang menuruni tangga. Lalu dia mengangguk-anggukan kepalanya.
"Pantesan langsung sembuh. Ternyata udah ada yang gantiin tugas gue???" ucap Revan sambil menggerakkan kedua alisnya naik turun. Byan langsung paham dan matanya mengikuti arah pandangan Revan.
"Apa jangan-jangan lo pura-pura sakit supaya diperhatikan sama Shevi ya????" tanya Revan menelisik.
"Enak aja lo asal nuduh. Gue sakit beneran. Tanya aja sama Shevi atau Bi Sumi kalau nggak percaya." jawab Byan tak terima.
Shevi berjalan mendekati mereka berdua.
"Sayang duduk sini..." Byan menyuruh Shevi duduk di sampingnya. Shevi mengikuti perintah Byan dan duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Ciiihhhhhhhhh sayang...!!!!" gerutu Revan.
"Kenapa???? Lo iri..????" tanya Byan.
Belum sempat Revan menjawab pertanyaan Byan, Shevi sudah memotongnya.
"Sudah lama Kak..??" tanya Shevi.
"Belum. Baru saja..." jawab Revan.
"Kamu nggak kuliah??" lanjut Revan bertanya pada Shevi.
"Tidak Kak. Tadi baru sampai di kampus, ditelfon sama Bi Sumi." jawab Shevi.
"Ooowwwwww mentang-mentang sekarang udah punya tunangan, gue dilupakan." sindir Revan yang ditujukan ke Byan.
"Kamu tahu nggak Shev..? Dulu kalau Byan sakit selalu gue yang direpotkan. Disuruh menghandle semua pekerjaan, ditambah ngurusin dia. Untung sekarang ada kamu." ujar Revan.
"Ooyaaaa...??" tanya Shevi antusias.
"Jadi lo dulu nggak ikhlas...???" tanya Byan ke Revan.
"Ikhlas,,, ikhlas By....!!! Lo kan sahabat terbaik gue. Heheheeee.." ucap Revan sambil cengengesan.
"Den, makan siang sudah siap.." kata Bi Sumi memberitahu Byan.
"Ya Bi...." jawab Byan.
"Ayo kita makan siang bareng..!!" Byan mengajak Shevi dan Revan.
"Aku nggak lapar. Aku tunggu di sini saja." ucap Shevi. Lalu Byan menggandeng tangan Shevi mengajaknya ke meja makan. Shevi hanya bisa menurut.
"Tangan gue nggak lo gandeng sekalian By???" goda Revan yang berjalan di belakang Shevi dan Byan.
Sambil berjalan Byan mengangkat tangan kanan yang dikepalnya ke arah Revan.
"Santai bro......!!! Sensitif banget..!!" ucap Revan.
Mereka duduk di meja makan. Byan duduk di samping Shevi. Shevi melihat Byan yang mengambil nasi sangat sedikit. Dia lalu menambahkan nasi ke piring Byan.
"Makan yang banyak. Kapan sembuhnya kalau makan cuma sedikit???" Shevi menunjukkan perhatiannya.
"Ini kebanyakan yang...." Byan protes.
"Ehhmmmmm ehhhmmmm....." Revan sengaja menggoda Byan yang mendapat perhatian dari Shevi.
"Apaan sih lo Van. Kepingin....???? Makanya cepet cari pacar. Lo mau jadi perjaka tua???" ledek Byan.
"Enak aja lo By. Lo do'ain gue?? Gue itu hanya belum ketemu jodoh." ucap Revan.
"Sudah-sudah. Ayo makan..." Shevi menengahi perdebatan kedua sahabat itu. Mereka pun makan dengan tenang. Shevi melihat Byan yang tidak menghabiskan makannya.
__ADS_1
"Habiskan..!!! Tidak baik menyisakan makanan seperti itu." kata Shevi. Byan dengan terpaksa menurut dan melanjutkan makan sampai habis. Byan memegangi perutnya yang terasa sangat kenyang.
"Aduhhhhh nurut banget...!!!" goda Revan sambil melihat Byan.