
Tinggal Byan yang masih berada di samping Shevi. Revan ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian terkait pernusukan yang dilakukan Keysa terhadap Shevi. Setelah itu dia harus ke perusahaan untuk menghandle pekerjaan selama Byan tidak ke kantor. Sedangkan Ibunya Shevi mengantar Sofyan pulang karena merasa tidak enak badan.
Tak terasa senja pun datang. Matahari mulai terbenam. Langit yang berwarna kemerahan terlihat indah dari jendela kamar tempat Shevi di rawat.
Byan tidak ingin lengah sedikitpun dalam menjaga istrinya. Dari semenjak masuk rumah sakit sampai sekarang, Byan belum tidur sama sekali. Bahkan dia belum sempat mandi dan ganti baju. Byan masih tetap setia berada di samping Shevi.
Karena saking lelahnya, Byan pun tertidur sambil tangannya menggenggam jemari istrinya. Disaat Byan tertidur pulas, Shevi mulai sadar. Perlahan dia membuka matanya.
Dimana ini???? Aku belum mati kan????? Suamiku jadi duda keren dong kalau aku mati. Batinnya dalam hati.
Shevi menoleh ke samping kanannya. Dilihatnya Byan yang tertidur pulas dengan masih mengenakan kemeja putih yang dipakai saat resepsi pernikahan dan terlihat sudah kusut.
Berapa hari aku tidak sadarkan diri??? Kenapa Kak Byan belum ganti baju??? gumamnya.
Pintu kamar terbuka, Reni masuk dan melihat sahabatnya itu sudah sadar. Saat Reni akan teriak memanggil namanya, Shevi menaruh jari telunjuknya dihidung yang mengisyaratkan Reni untuk diam.
Reni lalu melihat Byan yang tengah tertidur. Dia berjalan pelan mendekati Shevi. Reni lalu membungkuk memeluk kepala Shevi yang membuatnya tak bisa bernafas.
"Lepasin, Ren. Gue nggak bisa nafas!!!!" kata Shevi dengan suara pelan agar tidak mengganggu suaminya yang tertidur.
"Gue senang, akhirnya lo sadar. Lo buat gue jantungan tahu nggak??? Gue kira lo bakal ninggallin gue selamanya...." ujar Reni dengan ekspresi sedihnya.
"Sialan lo!!!! Lo do'ain gue mati??????" tanya Shevi tak terima pada sahabatnya itu.
"Nggaklah.....!!!!! Detak jantung lo sempat melemah. Siapa coba yang nggak akan berfikiran macam-macam???" jawab Reni.
"Tunggu sebentar. Gue mau panggil Dokter dan sekalian bilang kalau lo udah sadar." imbuh Reni lalu keluar.
Dokter dan perawat masuk diikuti Reni di belakang. Dokter mulai mengecek keadaan Shevi.
"Kondisi anda semakin membaik. Tunggu beberapa hari lagi, sudah bisa pulang. Tapi tetap harus kami cek lagi nantinya." ujar Dokter itu. Perawat melepaskan selang oksigen dari hidung Shevi. Dokter dan perawat keluar.
__ADS_1
"Berapa hari gue nggak sadar, Ren??" tanya Shevi.
"Lo hampir dua hari nggak sadarkan diri. Lihat itu, Kak Byan!! Dia nggak tidur dan nggak beranjak dari kursi itu. Dengan setianya dia menunggu lo!! Dia terus mengajak lo ngobrol. Sampai-sampai, suami lo itu nggak mandi, nggak ganti baju. Kak Byan juga belum makan sama sekali, Shev." jawab Reni sambil menatap Byan.
Shevi menatap suaminya dengan perasaan terenyuh. Tangan kirinya mengusap kepala Byan. Merasa ada yang membelai kepalanya, Byan pun terbangun. Dia kaget melihat Shevi yang sudah sadar.
"Sayang,,,,, akhirnya kamu sadar." kata Byan sambil menciumi tangan istrinya berkali-kali. Perasaan bahagia tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Udah dong!!! Malu ada Reni..." ucap Shevi yang merasa risih karena Byan terus menciumi tangannya.
"Lebih baik, kamu sekarang mandi dan ganti baju. Masa, udah beberapa hari nggak mandi??? Terus, kalau aku nggak sadar 3bulan, kamu juga nggak mandi dan nggak ganti baju selama itu???" tanya Shevi.
"Yang....!!!!!" bentak Byan.
"Kalau bicara jangan asal!!! Kamu nggak merasakan, bagaimana orang-orang disekitarmu mengkhawatirkanmu. Terutama aku!!! Aku hampir gila. Aku takut kehilangan kamu!! Tapi kamu, dengan seenaknya bicara seperti itu." lanjut Byan dengan nada agak tinggi. Dia tidak suka dengan kata-kata Shevi.
"Maaf,,,! Aku cuma bercanda." ucap Shevi. Dia tidak menyangka kalau Byan akan marah dengan kata-katanya tadi.
Sepulang dari kantor, Revan lalu ke rumah sakit. Dia masuk ke kamar Shevi dan melihat ketegangan di wajah Byan. Tapi perhatiannya tertuju pada Shevi yang sudah sadar.
"Shevi, kamu sudah sadar???? Syukurlah kalau begitu." ucap Revan sambil berjalan mendekat.
"Lo kenapa??? Wajah lo nggak enak banget dilihatnya?? Bukannya bahagia istri lo sadar, wajah lo palah ditekuk gitu!!!" ujar Revan.
"Tahu ahhhhh....!!!! Mana baju gue??? Gue mau mandi." kata Byan.
"Itu di atas sofa." Revan menunjuk paper bag yang berisikan beberapa baju untuk Byan. Byan mengambil baju itu lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Byan kenapa???" tanya Revan pada Reni.
"Gara-gara Shevi." jawab Reni.
__ADS_1
"Kamu sih, Shev!!!! Baru aja sadar, udah cari gara-gara sama suami lo." ujar Reni yang merasa heran dengan sahabatnya.
"Aku kan udah bilang kalau aku cuma bercanda." kata Shevi yang masih memebela diri.
"Lo bercandanya keterlaluan sih......" kata Reni.
Byan keluar dari kamar mandi. Dia memakai shorts pants warna hitam yang dipadukan dengan kaos warna putih.
Aduuuuhhhhhh,,,, suami gue ganteng banget.......!!!! gumam Shevi sambil tersenyum sendiri.
"By, gue bawa makanan buat lo. Gue taruh di atas meja! Lo cepetan makan!! Dari kemarin kan lo belum makan. Jangan sampai lo sakit." kata Revan.
"Gue belum lapar!!!" jawab Byan singkat. Dia lalu duduk di sofa sambil mengotak-atik ponselnya. Dia masih merasa kesal dengan Shevi.
"Aaawww.......!!!! Perutku sakiiittttt....!!!" teriak Shevi. Byan yang sedang memegang ponsel, lalu dilemparnya ke atas meja. Dia lalu berlari ke tempat Shevi.
"Mana yang sakit??? Aku panggil Dokter ya????" kata Byan dengan wajah paniknya. Rasa kesalnya pada Shevi seketika hilang.
Shevi mengedipkan sebelah matanya ke Reni yang masih berada di sampingnya. Reni hanya mencebikkan bibirnya melihat akting sahabatnya itu.
"Nggak usah...!! Hanya nyeri kok." jawab Shevi.
"Aku panggil Dokter. Aku tidak mau lukamu kenapa-napa." kata Byan lalu berdiri tapi tangannya ditahan oleh Shevi.
"Hanya nyeri saja. Tidak perlu panggil Dokter. Tadi setelah aku sadar, Reni sudah panggil Dokter dan katanya aku sudah lebih baik." jelas Shevi. Byan pun kembali duduk.
"Kamu sekarang makan ya!! Aku nggak mau kamu ikut sakit. Apa mau aku suapi???" tanya Shevi.
"Tidak usah. Kamu istirahat saja dan jangan terlalu banyak bergerak. Baiklah, aku akan makan." kata Byan yang menuruti apa kata istrinya.
"Ayo, Ren ikut makan." ajak Revan.
__ADS_1
"Tidak, Kak! Aku udah kenyang." tolak Reni. Byan dan Revan makan bersama sedangkan Reni menemani Shevi.