
Tak terasa seiring berjalannya waktu, kandungan Shevi kini sudah memasuki usia 38minggu. Perutnya terlihat membuncit. Badan yang tadinya ramping menjadi berisi. Kini hanya tinggal menunggu detik-detik kelahiran anak pertamanya.
Byan yang seharusnya menjadi suami siaga, sekarang harus ke luar kota karena ada urusan di kantor cabang. Dia sebenarnya tak tega meninggalkan Shevi yang sudah hamil tua. Tapi ini benar-benar mendadak dan tak bisa digantikan oleh Revan.
"Kamu tega banget ninggalin aku yang hampir melahirkan dan hanya tinggal menghitung hari saja? Kalau aku tiba-tiba melahirkan dan kamunya masih di luar kota gimana? Enggak pengertian banget sih!" protes Shevi.
"Kamu lebih mementingkan pekerjaan dari pada istri sendiri. Kamu udah berubah. Udah enggak seperti dulu lagi." imbuh Shevi yang mulai menitikkan air matanya.
"Yaaang, bukan begitu. Aku janji akan segera menyelesaikan urusanku di sana. Setelah itu aku akan langsung pulang." kata Byan sambil memeluk istrinya.
"Jangan ngambek lagi ya? Kamu do'akan saja supaya cepat selesai dan aku bisa segera pulang." lanjut Byan.
Shevi hanya diam dan masih menangis dipelukan suaminya. Setelah hamil memang dia menjadi sangat cengeng. Byan jadi harus ekstra sabar menghadapi istrinya itu.
"Atau begini saja. Biar kamu tidak kesepian, sementara menginap di rumah Ibu dulu?" tanya Byan.
"Iya. Tapi kamu janji harus cepat pulang. Kalau sampai aku melahirkan tanpa kamu di sampingku, aku pastikan akan mencari papa baru buat anakku! Kamu aku pecat!" jawab Shevi.
"Hahahaaaaa....! Kamu ini ada-ada saja." Byan tertawa sambil mencubit hidung Shevi.
"Aku serius!" sahut Shevi dan mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan suaminya.
"Memangnya ada yang mau lagi sama kamu, yang? Kamu sudah jadi ibu-ibu anak satu lho." goda Byan.
"Iihhhh kamu jahat banget! Masih ada yang tertarik sama aku kali...! Mau coba?" tantang Shevi.
"Iya percaya. Tidak perlu mencoba. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Kamu selamanya hanya akan bersamaku!" tegas Byan.
Byan jongkok dan menghadap ke perut Shevi. Dia menciumi perut itu dan mengelusnya.
"Hai, Nak. Papa ke luar kota ya? Kamu keluarnya tunggu Papa pulang. Jangan sampai Mamamu mencari berondong untuk menggantikan Papa. Tidak boleh nakal! Baik-baik di dalam perut Mama." Byan berbicara sendiri pada anak yang ada di dalam perut Shevi.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu siap-siap bawa baju ganti. Aku antar ke rumah Ibu." kata Byan.
"Ok!" jawab Shevi.
Di rumah Dian,
_____________
Empat hari sudah Byan berada di luar kota. Shevi menatap layar ponselnya karena sudah setengah hari Byan belum menghubunginya. Biasanya setiap dua jam sekali, Byan menelfon Shevi dan kadang juga video call. Itu semua atas permintaan Shevi yang selalu ingin mendengar suara suaminya.
"Katanya tidak lama. Tapi sudah empat hari belum juga pulang. Ini saja dari pagi belum telfon! Menyebalkan! Awas saja kalau sudah pulang nanti!" umpat Shevi yang merasa kesal.
"Kalau kamu sudah besar nanti, jangan seperti Papamu ya, Nak. Kamu harus selalu menepati janjimu." ucap Shevi sambil mengelus-elus perutnya.
"Aduhhhh,,, ini kenapa pegal banget?" tiba-tiba Shevi merasakan pegal di punggungnya.
Dia mengira itu hanya kelelahan karena dari pagi dia beraktivitas terlalu berat. Shevi merebahkan tubuhnya perlahan di ranjang. Tapi sudah beberapa saat, bukannya sembuh malah tambah pegal dan nyeri. Shevi masuk ke dalam kamar mandi karena merasa ingin buang air besar.
"Kemana ini anak?" ucapnya. Didengarnya suara air dari dalam kamar mandi.
"Shev,,, Shev,,," panggil Ibunya.
"Iya, Bu." jawab Shevi lalu keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa?" tanya Dian yang melihat wajah Shevi sedikit pucat karena menahan sakit.
"Ini, Bu. Punggungku pegal dan nyeri. Dari tadi tidak berkurang." jawab Shevi sambil mengusap-usap punggungnya.
"Itu tanda-tanda mau melahirkan. Ibu menyiapkan baju-bajumu dulu. Selagi menunggu Ibu, kamu jalan-jalan dulu supaya cepat bukaannya." kata Dian lalu membuka almari milik Shevi dan mengambil beberapa baju.
"Bukaan??" tanya Shevi bingung.
__ADS_1
"Iya bukaan jalan lahir. Masa kamu tidak tahu?" jawab Dian.
Shevi berjalan mengelilingi kamarnya sambil menunggu Ibunya yang sedang mengemasi baju dan perlengkapan lainnya.
"Bu, Kak Byan gimana? Masa aku melahirkan tanpa didampingi suamiku?" tanya Shevi.
"Nanti Ibu coba telfon. Ayo berangkat!" ajak Dian sambil menggandeng Shevi. Dengan sangat pelan Shevi berjalan menuruni tangga dengan kedua tangan menyangga bagian bawah perutnya.
"Dian, kalian mau kemana? Kok bawa tas besar?" tanya Sofyan.
"Shevi mau melahirkan, Pa." jawab Dian.
"Benarkah? Papa ikut ke rumah sakit!" kata Sofyan. Dia tak bisa menutupi rasa bahagianya karena akan segera punya cucu buyut.
__________
Setibanya di rumah sakit, Shevi sudah tidak sanggup lagi berjalan. Dia duduk di kursi roda dan di dorong oleh perawat masuk ke ruang persalinan. Di sana sudah ada Dr. Evi yang menunggu karena sebelum berangkat tadi, Shevi menelfon Dr. Evi terlebih dahulu.
"Bu, sakit banget.." rintih Shevi. Dian mengusap kepala putrinya.
"Sabar ya? Ini adalah perjuangan seorang ibu." kata Dian.
Shevi sendiri sampai lupa dengan suaminya yang tak mendampinginya karena rasa sakit yang dirasakannya saat ini.
"Ibu tunggu di luar sebentar. Biar saya periksa dulu." kata Dr. Evi pada Dian. Dian pun keluar.
"Baru buka lima, Mbak Shevi. Tunggu sampai bukaan sepuluh ya? Sekarang tiduran miring ke kiri dulu." ucap Dr. Evi setelah memeriksa Shevi.
"Aduhhh, Dok. Sudah tidak kuat ini. Berapa lama lagi?" tanya Shevi sambil meringis menahan sakit.
"Lama tidaknya, setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang cepat, ada juga yang sangat lama. Nanti setelah dua jam akan saya cek lagi. Semoga proses pembukaannya cepat." jawab Dr. Evi.
__ADS_1
Di luar, Dian berkali-kali mencoba menghubungi Byan. Tapi ponsel Byan sedang tidak aktif dan membuat Dian bertambah panik. Pikirannya sekarang ini campur aduk memikirkan putrinya yang sedang mempertaruhkan nyawa dan juga memikirkan menantunya yang tidak bisa dihubungi sama sekali.