
Pagi hari di kamar Shevi,
Dengan mata yang masih terpejam, Shevi meraba ponsel yang diletakkannya di nakas. Dimatikannya alarm yang sudah berdering lalu meletakkan ponselnya kembali. Bukannya bangun, Shevi justru membenahkan posisi tidurnya dan melanjutkan mimpinya yang tertunda gara-gara suara berisik alarm ponselnya.
Setiap libur, Shevi selalu bermalas-malasan dan bangun lebih siang dari hari biasanya. Ibunya yang sudah hafal, memang tak membangunkannya karena pasti pintu kamarnya dikunci supaya tak ada yang mengganggunya.Sudah pukul 09.30 Shevi belum keluar dari kamarnya.
Ibunya yang masih sibuk di dapur memasak untuk makan siang Byan pun selesai. Rencana Dian masih berlanjut. Dia akan menyuruh Shevi mengantarkan makan siang lagi untuk Byan.
"Akhirnya selesai juga. Rencana lanjut lagi. Benar-benar ide yang cemerlang." Dian berbicara sendiri. Dia bergegas ke lantai atas dimana kamar Shevi berada.
Dian memegang gagang pintu mencoba membukanya tapi tidak bisa karena dikunci dari dalam. Diketoknya pintu berkali-kali tapi tak ada tanda Shevi bangun.
"Ini anak kalau sudah tidur kaya kebo. Dibanguninnya susah banget." gerutu Dian. Dia menggedor-gedor pintu kamar Shevi.
Shevi menutup kupingnya dengan guling karena mendengar pintunya digedor-gedor dari luar. Tetapi suara berisik itu masih saja terdengar. Shevi lalu bangun dan duduk bersandar. Sudah ditebaknya siapa lagi kalau bukan Ibunya yang berani menggedor pintunya. Dia lalu turun dan membukakan pintu.
"Bu..... bisa-bisa pintu kamar Shevi jebol karena ulah Ibu." kata Shevi yang sedang menguap sambil menyenderkan badannya dipintu.
Karena setiap putrinya libur kuliah, Dian selalu disibukkan dengan aksi menggedor pintu kamar Shevi.
"Kamunya sih kalau dibangunin susah banget. Jangan dijadikan kebiasaan. Kalau kamu sudah menikah, suamimu mau kamu kasih sarapan apa kalau bangun saja jam segini?" ucap Ibunya memberi nasehat.
"Kesempatan selagi libur kan Bu. Biasanya juga kalau ada kuliah Shevi bangun pagi terus. Kalau itu sih nggak perlu dipikirkan dulu Bu. Nikah masih lama." ujar Shevi lalu berjalan ke arah sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.
"Shevi....!!! Cepetan mandi ini sudah hampir jam 10." suruh Ibunya karena melihat putrinya yang tidur lagi di sofa. Ibunya ke kamar mandi dan mengambil air satu gayung. Dicipratkannya ke wajah Shevi.
"Ampun Bu.... ampun..!!! Iya Shevi bangun." kata Shevi sambil mengusap wajahnya yang agak basah. Dia pun segera masuk ke kamar mandi sebelum disiram air satu ember oleh Ibunya.
__ADS_1
"Ibu tunggu kamu di meja makan. Jangan lama-lama!!! Pakai baju yang bagus, Ibu mau ajak kamu jalan-jalan" teriak Dian agar putrinya mendengar. Dian juga membohongi putrinya, karena kalau jujur, pasti Shevi banyak alasan.
"Ya Bu..." jawab Shevi dari dalam kamar mandi.
Shevi percaya dengan ucapan Ibunya yang akan mengajaknya jalan-jalan, dia mencari baju yang bagus untuk dipakainya. Setelah selesai, Shevi turun menghampiri Ibunya di meja makan. Dia mengambil roti dan mengolesinya dengan selai kacang. Dilihatnya Ibunya yang sedang menata makanan.
"Ibu mau ajak Shevi piknik?? kok bawa bekal segala??" tanya Shevi yang masih mengunyah roti. Dia tak menyadari kalau Ibunya berencana menyuruhnya lagi ke kantor Byan.
"Kalau bicara jangan sambil makan. Habiskan dulu rotimu.." kata Ibunya. Karena kalau Dian bicara terus terang, takutnya Shevi tersedak mendengar rencananya. Shevi pun menurut dan menghabiskan rotinya.
"Jawab pertanyaan Shevi tadi Bu." ucap Shevi.
"Iya.... Ibu mau menyuruhmu piknik ke kantor Byan lagi. Ini bekalnya,, nanti kalian makan siang berdua di sana." jawab Ibunya tertawa puas karena berhasil. Shevi hanya melongo mendengar ucapan Ibunya.
Siiiiaaalllllllll..... gue dikerjain........ Batin Shevi.
"Ok...!!!! Kalau kamu tidak mau, jatah bulananmu Ibu potong selama 3 bulan.!!!" ancam Ibunya yang pasti yakin akan sukses membuat putrinya menurut. Karena itu adalah kelemahan Shevi. Kalau menyangkut jatah uang bulanan, apapun yang diperintahkan Ibunya pasti akan dituruti Shevi. Walaupun disuruh mencium Byan pun, demi uang bulanan pasti akan dilakukannya. Shevi tak bisa apa-apa kalau ancaman itu sudah menyangkut uang bulanannya.
Shevi menghentikan langkahnya mendengar ucapan Ibunya itu. Dia kembali menuruni tangga dan mendekati Ibunya.
"Bu...... kok Ibu setega itu sama putri sendiri?? Ibu selalu memanfaatkan kelemahan Shevi. Jangan dong Bu....." rengek Shevi sambil menggoyang-goyangkan lengan Ibunya.
"Itu tergantung kamu. Mau atau tidak..??? Kalau masih tetap dengan jawabanmu yang tadi, ya sudah siap-siap Ibu potong uang bulananmu." ucap Ibunya. Sebenarnya Dian tak tega. Tapi ini dia lakukan demi putrinya dan Byan agar hubungan mereka semakin dekat.
"Iyaaa.... Shevi mau." jawab Shevi tanpa pikir panjang.
"Ibu perhatian banget sama Byan. Kenapa tidak Ibu saja yang tunangan sama Byan??" tanya Shevi yang entah dari mana kata-kata itu keluar dari mulutnya. Ibunya langsung menjewer telinga putrinya yang asal bicara.
__ADS_1
"Aduhhh..hhhh sakitttt Bu...." pekik Shevi lalu memegang telinganya yang terasa panas akibat jeweran sang Ibu.
"Biar kapok....!!! Kalau bicara suka sembarangan..!!!!" ucap Ibunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Iiiiisshhhhh Ibu. Shevi anak kandung atau anak pungut sih??" ujar Shevi yang masih mengelus telinganya.
"Itu kan.......kalau bicara suka asal??? Mau Ibu jewer lagi???" tanya Ibunya.
"Ampuuunnn Bu....." jawab Shevi sambil menutup kedua telinganya.
"Satu lagi Shevi. Kamu kalau panggil Byan jangan namanya. Dia lebih tua dari kamu." Dian memberitahu Shevi.
"Iyaa Bu......!!! Aku pikir-pikir sekarang Ibu bawelnya nambah deh....!!" ucap Shevi.
"Biarin. Ini semua juga demi kebaikan kamu." jawab Ibunya.
"Ini bawa, sekarang kamu berangkat..!!" lanjut Dian memberikan rantang ke Shevi.
"Ya. Shevi berangkat Bu.." pamit Shevi.
"Eehhhhhhhhhh.... kamu lupa sesuatu." ucap Ibunya yang membuat Shevi menghentikan langkahnya.
"Apa lagi Bu....??????" tanya Shevi sambil membalikkan badannya. Dilihatnya Ibunya mengulurkan punggung tangannya.
"Oohhhh iyaaa. Lupa Bu.." jawab Shevi lalu mencium punggung tangan Ibunya.
"Hati-hati ya sayang....." ucap Ibunya...
__ADS_1