
Malam semakin larut. Dian menyarankan Reni agar menginap di rumahnya dan Reni menyetujuinya. Reni menelfon mamanya memberitahu kalau dia malam ini tidur di rumah Shevi dan mendapat izin dari mamanya. Reni sudah terbiasa menginap di rumah Shevi sejak mereka SMA. Dian dan mamanya Reni cukup kenal walaupun tidak terlalu akrab. Shevi mengajak Reni ke atas menuju kamarnya. Mereka lalu berbaring tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu.
"Shev......." panggil Reni lalu memiringkan badannya menghadap Shevi.
"Hmmmmmm..." jawab Shevi yang menatap langit-langit kamarnya.
"Selamat ya Shev. Tadi lupa belum ngucapin. Heheheeeeee.....!!!! Ini lembaran baru untuk lo. Semoga kalian selalu setia, bahagia, cinta kalian nggak akan pernah pudar. Cepet-cepet nikahnya. Jangan ditunda-tunda. Kasihan Kak Byan nahannya." ucap Reni sambil tertawa.
"Nahan apanya.....??" tanya Shevi menoleh ke Reni.
"Masa lo nggak paham sih. Ya nahan itunya lah..!! Kak Byan cowok normal..!!!" jawab Reni.
"Itu apa??" tanya Shevi masih belum paham.
"Ini anak masa belum ngerti juga. Gue jelasin yang ringan aja ya. Nafsunya....!!!!!" jawab Reni.
"Dasar lo.....!!!! Udah JoNes (jomblo ngenes), ditambah lagi otak ngeres." seru Shevi sambil menoyor kepala Reni. Mereka terdiam sejenak sambil memejamkan mata.
"Shev,,,,,, gue tadi nggak sengaja nabrak cowok ganteng. Gue dibuat klepek-klepek Shev dengan pesonanya." Reni membayangkan kembali wajah Revan. Karena tak ada tanggapan dari Shevi, Reni lalu menolehnya.
"Laaahhhhh ini anak palah tidur.......!!! Dikiranya gue lagi dongengin lo????" Reni membenahkan posisi tidurnya.Tanpa menunggu lama, Reni juga ikut tertidur.
Pagi hari,
________
Setelah acara semalam yang cukup melelahkan, Shevi kembali ke rutinitas semula. Bangun pagi, lanjut kuliah. Shevi terbangun karena merasa ada sesuatu yang berat menindih kakinya. Dia membuka matanya dan melihat ternyata kedua kaki Reni berada di atas kakinya.
"Reniiiiii.....!!! Kaki kamu...." ucap Shevi lalu membangunkan Reni yang masih tidur di sampingnya. Shevi menyingkirkan kaki Reni lalu turun dari ranjangnya berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai, gantian Reni yang masuk ke kamar mandi. Shevi dan Reni yang sudah bersiap lalu turun ke bawah untuk sarapan pagi.
__ADS_1
"Pagi Kek, Bu..." sapa Shevi lalu duduk di kursi dan mengambil nasi goreng. Lalu diikuti Reni yang juga menyapa Sofyan dan Dian.
"Pagi Nak..." jawab Sofyan.
"Ayo Reni sarapan yang banyak. Jangan sungkan." ucap Dian ke Reni dan dibalas anggukan oleh Reni.
"Kakek kenapa? Kok seperti lagi ada masalah?" tanya Shevi.
"Tidak. Kakek hanya sedikit kelelahan." jawab Sofyan. Shevi mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Kakek harus jaga kesehatan. Jangan terlalu capek. Shevi berangkat Kek.." pamit Shevi yang sudah menyelesaikan sarapannya. Tak lupa Shevi yang diikuti Reni mencium tangan Sofyan san Ibunya.
"Hati-hati sayang." pesan Ibunya.
Rumah Byan,
____________
Bi Sumi pun dibuat bingung karena majikannya yang belum juga keluar dari kamar. Sarapan pagi untuk Byan sudah siap dari tadi. Dia mondar-mandir di dekat meja makan sambil sesekali melihat ke lantai atas.
"Aduhhhh ini tumben Den Byan belum keluar juga. Saya harus bagaimana ini?" ucap Bi Sumi lalu berjalan ke kamar Byan. Sesampai di depan pintu kamar Byan, Bi Sumi ragu untuk mengetoknya.
"Ketok tidak ya....?????? Ahhhhh sudahlah ketok saja." imbuhnya sambil mengetok pintu kamar Byan dan sesekali memanggilnya tapi tak ada sahutan dari dalam. Bi Sumi dibuat semakin gelisah. Dia takut terjadi apa-apa dengan majikannya. Bi Sumi memberanikan diri membuka pintu kamar Byan yang ternyata tidak dikuncinya.
Perlahan dibukanya pintu kamar itu dan melihat ke dalam mencari keberadaan majikannya. Matanya tertuju ke tempat tidur milik Byan. Dilihatnya Byan masih tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Bi Sumi berjalan mendekat tapi belum juga ada respon dari Byan.
"Den......" panggil Bi Sumi pelan. Tapi Byan belum juga bangun.
"Den bangun ini sudah siang..." ulangnya dengan sedikit suara yang lebih keras sambil menggoyang-goyangkan tangan Byan.
__ADS_1
"Kok badan Den Byan panas?" ucap Bi Sumi lalu memegang kening Byan.
"Den Byan sakit...!!!" Bi Sumi panik tidak tahu harus bagaimana.
Byan merasa ada yang menyentuhnya lalu perlahan membuka matanya.
"Bi...." panggil Byan lirih.
"Iya Den. Ini saya Bi Sumi. Den Byan demam tinggi. Saya panggilkan dokter ya??" tanya Bi Sumi yang sangat panik.
"Tidak usah Bi.." jawab Byan.
"Tapi den.....! Bibi harus bagaimana??" tanya Bi Sumi yang tak terasa menitikkan air matanya karena merasa kasihan kepada Byan yang tinggal sendiri dan sudah tak punya keluarga sama sekali. Hanya dirinya yang setia mengabdi dari semasa Kakeknya masih ada.
"Tolong ponsel Byan Bi..." Byan menyuruh Bi Sumi mengambil ponselnya di nakas dan memberitahu pin untuk membuka ponselnya. Bi Sumi mengetik 6digit angka yang disebutkan Byan. Setelah terbuka, dia disuruh menelfon Shevi. Bi Sumi mencari kontak yang bernama Shevi tapi tidak juga dia temukan.
"Den yang namanya Shevi tidak ada." kata Bi Sumi.
"Sayangku Bi. Bukan Shevi!!" ucap Byan yang lupa memberitahu. Lali Bi Sumi mencari di kontak Byan yang diberi nama sayangku. Bi Sumi lalu menelfon Shevi.
Shevi yang baru saja tiba di kampus mengambil ponselnya yang berdering di dalam tas. Sebelum mengangkat telfon, Shevi melihat dulu di layar ponselnya siapa yang menelfonnya. Setelah melihat siapa yang menelfonnya, Shevi dengan cepat menggeser tombol hijau.
"Shevi : Halo......."
"Byan : Halo Mbak Shevi saya Bi Sumi. Den Byan sakit Mbak. Badannya panas sekali. Tolong Mbak Shevi cepat ke sini." ucap Bi Sumi yang terlihat sangat panik.
"Shevi : Sakit apa?? Baiklah. Saya ke sana sekarang." Shevi mematikan sambungan telfonnya.
"Ren lo izinin gue. Byan sakit, gue mau ke rumahnya." ucap Shevi. Dia juga tak mengerti kenapa saat mendengar Byan sakit, dirinya menjadi sangat panik.
__ADS_1
"Ok. Lo jangan ngebut ya." pesan Reni.
Tanpa pikir panjang Shevi masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah Byan.