
Ep 78
Byan melajukan mobilnya dengan kencang. Dia menuju ke sebuah club yang biasa ia kunjungi bersama Revan. Byan memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam club.
Setelah duduk, Byan hanya memesan minum, tapi bukan minuman yang memabukkan. Karena dia tidak biasa dan memang menghindarinya. Dia mengeluarkan ponselnya lalu menelfon Revan.
"Revan : halo, By. Ada apa?" tanya Revan.
"Byan : lo cepetan ke sini. Gue tunggu di club biasa." kata Byan.
"Revan : lo masih waraskan By?? Lo nggak lihat ini sudah jam berapa??" tanya Revan.
"Byan : mau apa tidak??? Kalau tidak ya sudah..." Byan memutuskan sambungan telfonnya.
Tak ada pilihan lain untuk Revan selain ke sana. Dia sudah mengira kalau sahabatnya itu sedang ada masalah dan sekarang membutuhkannya.
"Mau kemana malam-malam begini, Van?" tanya mamanya.
"Ke club. Janjian dengan Byan, Ma." jawab Revan. Dia lalu meluncur ke club dimana Byan sudah menunggunya. Hanya butuh waktu tempuh 20menit, Revan sampai di club.
Dia masuk ke dalam club. Pandangannya mengitari setiap sudut ruangan di sana. Setelah melihat Byan, Revan bejalan ke arah meja tempat Byan berada.
"Kenapa lo?? Ada masalah sama Shevi??" tanya Revan lalu duduk berhadapan dengan Byan.
"Pernikahan baru sebulan aja udah marah-marahan..." ucap Revan yang membuat Byan buka suara.
"Gue bukannya marah. Gue hanya kecewa. Lo tahu sendiri, kata dokter gue tidak boleh melakukan hubungan badan sampai Shevi sembuh. Lo pasti tahu bagaimana seorang laki-laki harus menahannya. Apalagi kami sudah jadi suami istri." kata Byan.
"Shevi bohongin gue, Van. Dia menjadikan luka di perutnya sebagai alasan agar gue tidak menidurinya. Setelah kontrol, aku tanya pada Shevi, dia bilang kalau belum pulih, padahal kata dokter, Shevi sudah sembuh." imbuh Byan mengeluarkan semua unek-uneknya. Revan dengan setianya mendengarkan. Revan hanya membiarkannya. Mungkin dengan cara ini, bisa membuat Byan jauh lebih baik.
__ADS_1
"Belum tentu seperti itu. Mungkin Shevi punya alasannya sendiri. Kalian bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini. Kalian itu sudah sama-sama dewasa." ujar Revan. Revan mengambil ponsel di saku celananya.
"By, Shevi telfon gue." kata Revan sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Byan.
"Angkat saja! Kalau tanya tentang gue, bilang aja lo ngga tahu!" perintah Byan.
Revan pun mengangkat panggilan Shevi.
"Revan : halo, Shev??" sapa Revan.
"Shevi : Kak Revan, maaf ganggu malam-malam. Kak Byan bersama Kak Revan tidak ya?" tanya Shevi.
"Revan : Eeeee,,, tidak Shev." jawab Revan. Dia sebenarnya tidak tega membohongi Shevi, tapi Byan sudah menyuruhnya. Mana berani dia melawan Byan.
"Shevi : ohhh, ya sudah Kak kalau begitu." kata Shevi lalu memutuskan sambungan telfonnya.
"By, kasihan Shevi. Suaranya terdengar sambil nangis lho. Tega banget lo!" kata Revan.
"Sebenarnya gue juga nggak tega, Van. Tapi dia sudah keterlaluan banget." ujar Byan.
"By, sumpah!! Gue ngantuk banget. Pulang yuk!! Ini sudah hampir jam satu." ajak Revan. Dia merasa tidak nyaman karena semakin malam club itu semakin ramai.
"Ok." jawab Byan singkat. Revan dan Byan pulang bersamaan.
Rumah Byan,
____________
Untung saja Byan membawa kunci serep rumahnya. Jadi tidak perlu mengetok-ngetok pintu atau memencet bel, yang pastinya akan membangunkan orang di rumah.
Dengan sangat hati-hati, Byan membuka pintu rumahnya lalu menutupnya kembali dan tak lupa menguncinya. Dia lalu berjalan menuju ruang kerjanya dengan mengendap-endap.
Saat melewati tangga, Byan berhenti sejenak lalu menatap ke lantai atas dimana kamarnya berada. Ingin sekali dia melihat Shevi yang sedang apa sekarang. Tapi dia urungkan niatnya itu.
__ADS_1
Byan memutuskan untuk tidur di ruang kerjanya. Dia merebahkan tubuhnya di sofa dan mulai memejamkan matanya. Byan membolak-balikkan badannya mencari posisi tidur yang nyaman tapi tetap tidak juga bisa tidur. Dia lalu bangun dan duduk di meja kerjanya. Byan membuka laptopnya dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Tak terasa samar-samar mulai terdengar suara ayam berkokok. Byan melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Dia menutup laptopnya lalu merenggangkan tubuhnya karena rasa pegal di badannya.
Byan keluar dari ruang kerjanya dan naik ke lantai atas menuju kamarnya. Untung saja pintunya tidak dikunci oleh Shevi sehingga dia bisa masuk. Byan berjalan mengendap-endap agar Shevi tidak bangun. Byan membuka almarinya dan mengambil baju kerjanya. Dengan pelan dia menutupnya kembali.
Saat akan keluar, dia menyempatkan memandang istri cantiknya yang tertidur pulas dengan masih memegang ponsel di tangannya. Byan pun mendekat lalu menyelimuti Shevi karena Shevi tidur tanpa menyelimuti badannya. Dia juga mengusap lembut pipi istrinya itu.
"Kak Byan, maafkan aku. Tolong jangan pergi...." Shevi mengigau dalam tidurnya. Byan tersenyum mendengarnya.
Byan pun keluar dari kamarnya dengan membawa baju kerjanya. Dia mandi di kamar mandi yang berada di lantai bawah. Dengan sengaja dia pergi pagi-pagi sekali. Untung saja Bi Sumi belum bangun, karena biasanya Bi Sumi sudah berada di dapur.
Jam 06.00 Shevi baru bangun dan memegang pipinya. Dia merasakan saat tidur seperti ada yang mengelus pipinya. Shevi membalikkan badannya dan berharap suaminya sudah tertidur di sampingnya.
"Kak Byan, kamu semalam kemana? Kenapa tidak pulang?" ucapnya . Air matanya kembali menetes dan membasahi bantal.
Shevi lalu bangun. Dengan lesunya dia menuruni tangga menuju dapur. Bi Sumi sudah selesai masak dan menghidangkannya di atas meja makan.
"Mbak Shevi kenapa terlihat lemas sekali?? Sakit???" tanya Bi Sumi dengan perhatiannya.
"Tidak, Bi. Bi Sumi semalam lihat Kak Byan pulang jam berapa? Lalu pagi ini berangkat kerja jam berapa??" tanya Shevi.
"Waduuhhh, Bibi tidak lihat Mbak. Saat Den Byan pulang dan pergi, Bibi sungguh tidak tahu Mbak. Saya kira Den Byan itu ada di kamar." jawab Bi Sumi.
"Mbak Shevi sarapan dulu ya? Bibi masak kesukaannya Mbak Shevi ini." kata Bi Sumi. Shevi makan seorang diri tanpa ada suami di sisinya yang membuatnya tidak berselera makan.
Shevi hanya makan sedikit lalu kembali ke kamar dan bersiap untuk berangkat kuliah.
Shevi menelfon Reni untuk menjemputnya. Reni mengiyakan dan dalam perjalanan ke rumah Byan. Sesampainya di rumah Byan, Shevi sudah menunggunya di depan rumah. Reni menghentikan mobilnya lalu membuka kaca mobil.
"Ayo Shev...." ajak Reni dari dalam mobil. Shevi berjalan ke arah mobil milik Reni lalu masuk.
"Kenapa lo?? Mata bengkak kaya gitu?? Habis nangis yaaaa??" tanya Reni.
__ADS_1
"Jangan banyak tanya. Cepat jalan! Ini sudah kesiangan." ucap Shevi. Reni melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Byan.