Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
37. Ep 37


__ADS_3

Di saat perjalanan ke rumah sakit, Shevi menepuk pundak Byan menyuruhnya menghentikan mobilnya. Byan menurutinya lalu menepikan mobilnya tanpa tahu apa tujuan Shevi.


"Kamu tunggu di sini sebentar ya..." kata Shevi lalu turun dari mobil dan berjalan ke sebuah kedai siomay. Sewaktu masih SMA, Shevi dan Reni sering ke sana. Karena sekarang jarang sekali lewat daerah itu, jadi tidak pernah lagi mampir ke kedai siomay yang dulu jadi langganannya. Kebetulan lewat, itu kesempatan Shevi yang sudah lama tidak mencicipi siomay terenak menurutnya.


"Pak, siomay 4 porsi bungkus ya.." pesan Shevi kepada si penjual.


"Iya Mbak. Tunggu sebentar ya." jawab si penjual ramah dan mempersilahkan Shevi duduk.


Byan bosan menunggu di mobil akhirnya turun dan menyusul Shevi yang sedang antri menunggu pesanannya.


"Kamu pesan berapa yang..???" tanya Byan lalu duduk di samping Shevi.


"Pesan 4. Soalnya nanti Reni mau datang." jawab Shevi.


"Barusan Revan juga telfon. Dia mau ke rumah sakit." kata Byan memberitahu Shevi.


"Berarti tambah lagi aja ya.." ucap Shevi lalu bicara pada si penjual menambah pesanannya.


Setelah menunggu lumayan lama karena antri, akhirnya pesanannya pun jadi.


"Ini Mbak pesanannya." kata si penjual memberikan satu kantong kresek yang berisi 6 porsi siomay. Byan mengambil dompetnya dan membayar siomay yang dipesan Shevi. Mereka lalu kembali ke mobil dan meluncur ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Dian sedang menemui dokter dan menanyakan kondisi Papanya. Dokter pun menjelaskan kalau kondisi Sofyan sudah sangat baik dan diperbolehkan pulang besok. Dian lalu keluar dari ruangan dokter dengan membawa kabar gembira untuk sang Papa. Saat memasuki kamar, Dian melihat Reni sudah di sana sedang berbincang dengan Sofyan.


"Reni, kapan kamu datang?" tanya Dian sambil menutup pintu kamar.


"Baru saja Tante. Kata Kakek, Tante baru menemui dokter ya?" tanya Reni.


"Iya. Tante tanya perkembangan Papa Ren." jawab Dian.


"Pa, besok Papa sudah diperbolehkan pulang." kata Dian lalu duduk di samping Papanya.


"Syukurlah kalau begitu. Papa merasa jenuh kalau lama-lama di sini." ucap Sofyan dengan menunjukkan raut wajah bahagianya.


"Reni ikut senang Kek...." ujar Reni.


"Terima kasih Reni.." ucap Sofyan dan tersenyum pada Reni.


"Sudah sore kok Shevi belum kembali Dian?" tanya Sofyan yang terlihat agak khawatir.


"Papa tenang saja. Shevi kan sama Byan. Mungkin mereka jalan-jalan dulu. Maklumlah Pa,,,,, sudah 1bulan tidak bertemu. Papa seperti tidak pernah muda saja." jawab Dian.


"Oiyaaaa...! Papa lupa kalau Shevi dijemput Byan." ucap Sofyan.

__ADS_1


Pintu kamar tempat Sofyan di rawat pun terbuka. Shevi masuk dan diikuti Byan di belakangnya.


"Nahhh,,,, itu Shevi." kata Dian. Shevi menaruh kantong kresek yang di bawanya di atas meja.


"Sore Kek. Sudah lebih baikan?" tanya Byan.


"Sudah Nak. Besok Kakek sudah diperbolehkan pulang." jawab Sofyan.


"Yang benar Kek??" sahut Shevi sambil menggenggam tangan Kakeknya. Sofyan tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Sana kalian yang muda duduk di sofa. Biarkan Kakek istirahat." kata Dian menyuruh Shevi, Byan, dan Reni pindah ke sofa.


"Coba tebak Ren gue bawa apa?? Kalau tebakan lo salah, lo nggak dapat jatah." ucap Shevi bercanda dengan Reni.


"Ok. Gue keluarin dulu jurus hidung mengendus-endus." balas Reni tak mau kalah dari Shevi.


"Gue tahu.....!!!!! Ini siomay langganan kita dulu kan???" lanjut Reni menjawab dengan bangganya.


"Kok lo langsung tahu?????" tanya Shevi penasaran.


"Ini ada labelnya. Hahahahaaaa..." jawab Reni lalu tertawa.


"Aaaaahhhhhh lo curang ngintip." ucap Shevi sambil menabok lengan Reni.


"Dani siapa Ren?" tanya Byan sambil menatap Shevi dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Dani itu yang suka sama Shevi Kak. Maklum Kak, Shevi banyak yang naksir." ujar Reni yang masih tak bisa ngerem mulutnya. Shevi hanya cengar-cengir sambil mencubit pinggang Reni. Reni langsung menutup mulutnya lalu berlari masuk ke kamar mandi.


Reniiii awas lo ya!!!! Bakal gue jitak kepala lo.. Batin Shevi.


Byan menatap Shevi yang duduk berhadapan dengannya. Shevi lalu berpindah duduknya di samping Byan sambil menggandeng lengannya.


"Jangan dengerin Reni. Dia suka sembarangan kalau ngomong. Itu juga kan masa SMA. Sekarang dihatiku cuma ada kamu Kak." jelas Shevi.


Woeeeekkkkkk.... gue nggak nyangka harus merayu seperti ini. Batin Shevi


"Sekarang sudah pintar ngegombal?" tanya Byan.


"Enggak,,,,,,, ini jujur." jawab Shevi. Byan pun tersenyum mendengar jawaban Shevi.


Terdengar suara ketokan pintu. Byan lalu membukakan pintu karena dia tahu siapa yang datang. Byan lalu mengajak Revan masuk. Reni yang baru saja keluar dari kamar mandi kaget melihat siapa yang datang. Revan hanya mentap Reni sekilas.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya Shevi ke Reni dan Revan.

__ADS_1


"Tidak begitu kenal. Kami bertemu di acara pertunangan kalian." jawab Revan.


"Kita makan dulu. Ngobrolnya kita lanjutkan nanti lagi." kata Shevi sambil mengeluarkan siomay yang dibelinya tadi.


Shevi lalu menghampiri Ibunya dan mengajak makan bersama. Di saat mereka menikmati makanannya, ponsel Byan berdering. Byan lalu keluar dan menerima telepon itu.


Memangnya siapa yang telepon? Kenapa harus keluar? Batin Shevi.


Setelah beberapa saat, Byan pun kembali masuk. Revan curiga kalau Byan menyembunyikan sesuatu setelah mendapat telfon tadi.


"Siapa yang telepon?" tanya Shevi.


"Klien yang." jawab Byan.


"Cepat habiskan makananmu." ucap Shevi ke Byan. Byan menurut dan menghabiskan makanannya.


Tidak terasa malam pun tiba. Reni pamit kepada Dian dan Sofyan. Disusul oleh Revan yang juga ikut pamit pulang.


"Barengan nih Van???. Pepet terus........!!!" Byan menggoda Revan.


"Apaan sih lo By...!! Shev, aku pulang dulu." ucap Revan.


"Ok. Hati-hati Kak. Titip Reni." Shevi ikut menggoda Revan dan Reni. Reni melambaikan tangannya ke Shevi.


Revan berjalan bersama Reni menuju parkiran. Masih ada rasa canggung diantara keduanya. Mereka hanya diam. Tidak ada yang memulai percakapan. Sampai di parkiran, Reni menuju mobilnya dan membuka pintu.


"Aku akan mengantarmu pulang." kata Revan saat Reni hendak memasuki mobilnya.


"Tidak usah Kak. Lagian aku bawa mobil sendiri." jawab Reni menolak.


"Jangan menolak. Ini sudah malam. Aku akan mengikutimu dari belakang." ucap Revan.


"Baiklah kalau itu tidak merepotkan Kak Revan." kata Reni.


Di jalan, Reni berkali-kali melihat mobil Revan yang berada di belakangnya dari kaca spion. Walaupun menurut Reni saat di rumah sakit tadi Revan terlihat cuek kepadanya. Tak disangka Revan mau mengantarnya pulang.


Sesampai di rumahnya, Reni menghentikan mobilnya di halaman lalu turun menghampiri Revan yang berhenti di jalan depan rumah Reni. Revan membuka kaca mobilnya.


"Sudah sampai Kak. Mau mampir dulu?" tanya Reni ke Revan yang masih berada di dalam mobil.


"Tidak. Terima kasih untuk tawarannya. Aku langsung pulang saja." jawab Revan yang langsung melajukan mobilnya meninggalkan Reni.


"Cuek banget sih???? Jadi makin suka." ujar Reni lalu berjalan masuk ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2