Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
83. Ep 83


__ADS_3

Tak terasa hari sudah mulai petang. Shevi memutuskan untuk pulang. Menginap semalam, lumayan sebagai pengobat rindu pada ibu dan kakeknya. Tak lupa, dia berpamitan dulu pada Dian dan Sofyan.


"Bu, Shevi pulang dulu ya??" pamit Shevi pada Ibunya yang sedang duduk di ruang tengah.


"Kek, Shevi pulang ya? Kakek sekali-kali main ke tempat Shevi dong.." kata Shevi.


"Jangan cengeng. Begitu saja mau nangis!" ucap Dian.


"Bukannya kebalik? Kamu yang seharusnya sering ke sini." lanjut Dian.


"Jangan lupa, segera buatkan cucu untuk Ibu!!" imbuh Dian.


"Huuuufffttttt.....!! Iya,,, iya....!! jawab Shevi kesal karena yang dibahas Ibunya cucu, cucu dan cucu terus.


"Benar kata Ibumu, Shev!" sahut sang Kakek.


"Kamu mau diantar Pak Udin atau pakai mobil sendiri?" tanya Dian.


"Diantar Pak Udin saja, Bu," jawab Shevi.


Dian mengantarkan putrinya ke depan. Pak Udin sudah menunggu dari tadi. Saat Shevi akan masuk ke mobil, Dian memeluk putrinya.


"Jadi istri yang baik ya!" pesan Dian pada Shevi. Shevi menganggukkan kepalanya sambil melepaskan pelukan ibunya lalu masuk ke dalam mobil.


Pak Udin perlahan melajukan mobilnya. Shevi membuka kaca mobil dan melambaikan tangannya pada Dian sambil tersenyum.


Diperjalanan, Shevi menatap keluar. Sesekali dia melihat ponselnya. Dia berharap kalau suaminya mengirim pesan atau bahkan menelfonnya. Saat melewati sebuah supermarket, Shevi menyuruh Pak Udin untuk berhenti sebentar. Dia baru ingat kalau stok bahan makanan tinggal sedikit.


"Tunggu sebentar ya, Pak! Ada yang harus aku beli." kata Shevi lalu keluar dari mobil. Pak Udin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Shevi masuk ke dalam supermarket. Dia mengambil troli dan mendorongnya sambil melihat dimana letak buah, sayur dan daging yang akan dibelinya. Shevi hanya membeli beberapa sayuran, karena biasanya setiap pagi ada pedagang sayur keliling yang menjadi langganan Bi Sumi. Sambil mengingat-ingat apa saja yang habis, Shevi berjalan mencari kebutuhan lainnya.

__ADS_1


Dia baru ingat kalau cemilannya juga sudah menipis. Itu adalah makanan wajib yang harus selalu ada menurutnya. Keranjangnya mulai terisi penuh. Dinilai sudah cukup, Shevi berjalan ke arah kasir.


Langkahnya terhenti karena melihat Revan sedang menemani seorang wanita yang juga sedang berbelanja.


"Siapa wanita itu?" Shevi bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Dia terus memperhatikan Revan.


"Shev...." panggil Revan.


"Waduh,,, ketahuan..!!!" gumamnya.


Revan dan wanita yang di sampingnya itu berjalan mendekati Shevi.


"Hai,,, Kak!" sapa Shevi dengan senyum sedikit dipaksakan.


"Kamu belanja?" tanya Revan.


"Ya iyalah Kak! Masa, renang?!" canda Shevi pada Revan.


"Hai, Ajeng." Ajeng mengulurkan tangannya.


"Shevi.." Shevi menyambut uluran tangan Ajeng.


"Kok Kak Revan sudah pulang?" tanya Shevi. Sebenarnya dia hanya ingin mencari tahu tentang suaminya dengan pura-pura tanya pada Revan. Kalau to the point, ia merasa malu.


"Iya, aku pulang duluan tadi. Kalau Byan masih sibuk. Mungkin dia pulang malam lagi." jawab Revan. Dan benar saja, informasi telah Shevi dapatkan tanpa bertanya langsung.


"Ooohhh, gitu. Ya sudah, Kak. Kak Revan lanjut saja jalan sama pacarnya. Kebetulan aku sudah selesai. Kasihan Pak Udin menunggu kelamaan di luar." ucap Shevi.


"Bukan pacar, Shev. Teman sekolah dulu." jelas Revan yang tak mau ada kesalah pahaman.


"Pacar juga tidak apa-apa. Kalian cocok.." kata Shevi lalu berjalan menuju kasir dan mengantri di sana.

__ADS_1


Setelah menunggu antrian sebanyak lima orang, kini gilirannya. Dia mengeluarkan sebuah kartu yang diberikan Byan untuknya dan memberikannya pada penjaga kasir.


Shevi keluar dari supermarket dengan membawa banyak barang belanjaan di tangannya. Pak Udin berlari ke arah Shevi untuk membantunya.


"Saya bantu, Mbak!" Pak Udin lalu meraih belanjaan yang dibawa Shevi lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


"Terimakasih, Pak.." ucapnya.


Pak Udin kembali melajukan mobilnya. Di dalam mobil, Shevi berbincang dengan Pak Udin. Tak terasa mobilnya sudah berhenti di depan rumah suaminya. Dia turun dan belum mendapati mobil Byan di sana.


Sudah jam 8 malam belum pulang???? gumamnya.


Mendengar ada mobil yang berhenti di depan rumah, Bi Sumi segera keluar. Dia menebak kalau itu pasti Shevi.


"Mbak Shevi...." teriak Bi Sumi sambil berlari kecil ke arahnya.


"Hai,, Bi.." sapa Shevi dengan ramah.


"Mbak Shevi belanja sebanyak ini?? Kenapa tidak meminta tolong Bibi saja??" tanya Bi Sumi.


"Tidak apa, Bi. Tadi sekalian lewat." jawab Shevi sambil mengeluarkan belanjaannya dari bagasi dibantu oleh Pak Udin.


"Pak Udin, masuk dulu yuk!" ajak Shevi.


"Maaf banget ini Mbak. Kapan-kapan lagi saja. Takut kemalaman," tolak Pak Udin.


"Ya sudah kalau begitu. Pak Udin hati-hati ya?" ucap Shevi lalu berjalan masuk dengan Bi Sumi.


"Mbak, Bibi sudah siapkan makan malam. Mbak Shevi makan duluan saja! Jangan menunggu Den Byan, karena dua hari ini selalu pulang malam." ucap Bi Sumi sambil menaruh barang belanjaannya di dapur.


"Iya, Bi," jawab Shevi lalu duduk di kursi. Kebetulan perutnya sudah keroncongan dari tadi. Niat hati, pulang ingin makan malam bersama sang suami, ehhhh ternyata Byan belum pulang.

__ADS_1


Apa sesibuk ini sekarang?? Apa sibuk dengan yang lain??? batinnya dalam hati sambil terus melahap makanan di depannya. Makan seorang diri dirasakannya sangatlah sepi.


__ADS_2