Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
93. Ep 93


__ADS_3

Disalah satu bandara, Shevi mengantar Reni yang akan berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya. Walaupun masih mual-mual, Shevi memaksakan diri demi sahabatnya yang pastinya akan jarang bertemu dengannya lagi.


Byan yang tak tega melihat istrinya berangkat sendiri, memutuskan untuk mengantarnya. Byan harus menyaksikan drama yang begitu mengharukan antara kedua sahabat itu.


"Sayang, aku ke tempat yang agak sepi dulu mau angkat telfon. Di sini berisik." kata Byan.


"Iya." jawab Shevi. Byan berjalan menjauh lalu menjawab telfon.


"Lo tega ninggalin gue sendiri, Ren?" tanya Shevi sambil terisak karena menangis terlalu lama.


"Mau gimana lagi? Kita masih bisa video call kalau kangen. Nanti saat libur, aku pasti pulang." jawab Reni yang juga terisak-isak.


"Lo harus janji sama gue! Kalau gue melahirkan, lo harus temani gue!" pinta Shevi.


"Iya, gue janji!" jawab Reni. Mereka saling manautkan jari kelingking. Reni mengelus perut Shevi yang masih rata.


"Kalian ini jangan berlebihan deh! Kebanyakan nonton drama sih!" kata Mamanya Reni.


"Mama tidak pernah merasakan punya sahabat ya? Makanya tidak tahu rasanya berpisah dengan sahabat dekat!" balas Reni dan diikuti anggukan kepala Shevi.


Mereka melepas kepergian Reni sampai pintu keberangkatan. Shevi seakan tak mau melepas genggaman tangannya. Sahabat yang sudah dikenalnya sejak duduk di bangku SMA sampai kuliah, kini harus berpisah jauh.


"Shevi...." Reni memeluk Shevi. Keduanya kembali meneteskan air mata. Mamanya Reni yang tadinya terlihat kuat, akhirnya ikut menangis. Bagaimanapun Reni adalah putrinya.


"Mama kenapa ikut-ikutan nangis? Mama ketularan sok drama ya??" goda Reni sambil melepaskan pelukan Shevi. Dia lalu menghambur ke pelukan Mama dan Papanya. Baru kali ini dia harus berpisah jauh dan lama dengan orang tuanya.


"Reni berangkat ya?" pamit Reni.

__ADS_1


"Kamu harus jaga diri baik-baik!" pesan Papanya.


"Pasti, Pa!" Reni berjalan masuk. Dia membalikkan badannya sambil melambaikan tangannya. Shevi yang tak kuat, lalu menangis di dalam pelukan Byan. Tak hanya Shevi, kini Mamanya Reni menangis sejadi-jadinya.


"Ma, sudah diam! Malu! Jangan keras-keras nangisnya!" ujar Papanya Reni.


Mereka terus menatap Reni sampai akhirnya tak terlihat.


"Kita pulang ya?" ajak Byan pada Shevi.


"Iya." jawab Shevi.


"Dihapus dulu dong air matanya. Malu dilihat orang." ujar Byan. Shevi lalu menyeka air matanya.


"Om, Tante. Kami duluan ya?" pamit Byan pada mama dan papanya Reni.


"Baik, Om." balas Byan.


Baru saja berjalan beberapa langkah, Byan dikejutkan suara ribut di pintu keberangkatan. Dia membalikkan badan dan melihat Revan yang sedang dicegah masuk oleh petugas.


"Pak, tolong izinkan saya masuk sebentar. Saya harus menemui seseorang, Pak. Ini sangat penting. Tolong saya, Pak." pinta Revan pada petugas itu.


"Maaf, tidak bisa." kata perugas di sana.


"Tapi saya sedang mengejar seseorang! Tolong dong, Pak!" bentak Revan sambil mencoba mendorong petugas.


"Van...! Sudah, sudah! Jangan cari keributan di sini! Banyak orang yang melihat." kata Byan mencoba menahan tubuh Revan.

__ADS_1


"By, tapi gue harus kejar Reni. Ada yang mau aku bilang sama dia." ucap Revan.


"Gue hanya seorang pecundang, By! Gue nggak berani menungkapkan perasaan gue! Sekarang semua sudah terlambat, By. Reni pergi, By." imbuh Revan lalu jongkok sambil mengacak-acak rambutnya.


"Van, tidak ada kata terlambat. Lo bisa menunggu Reni. Iya kan?" kata Byan mencoba menenangkan Revan.


"Kita sekarang pulang." ajak Byan. Revan patuh dan mengikuti Byan dari belakang.


Di kantor Byan,


_____________


Setelah mengantar Shevi pulang, Byan lalu ke kantor. Begitupun dengan Revan yang lebih dulu sampai.


"Van, lo bisa pulang dulu kalau suasana hati lo sedang buruk." kata Byan yang baru saja datang dan melewati meja Revan. Dia melihat Revan yang sedang melamun.


"Tidak, By." tolak Revan. Mia hanya memperhatikan Byan dan Revan tanpa tahu masalah yang sedang dihadapi Revan.


"Ikut ke ruangan gue!" kata Byan lalu berjalan ke ruang kerjanya dan disusul oleh Revan.


Revan duduk dengan lesunya. Dia yang biasanya ceria dan suka menggoda Byan, kini hanya diam.


"Makanya kalau cinta itu nggak perlu gengsi. Kalau sudah begini, lo yang susahkan? Ngapain dulu enggak langsung lo ungkapkan saja?" ucap Byan menyalahkan Revan.


"Iya, By. Gue memang bodoh. Selama ini sudah menyia-nyiakan kesempatan." kata Revan seolah membenarkan ucapan Byan.


Byan menarik nafas panjang melihat Revan yang seakan kehilangan pegangan hidup hanya karena soal percintaan. Byan sendiri kehabisan kata-kata untuk Revan.

__ADS_1


__ADS_2