Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
66. Ep 66


__ADS_3

Iring-iringan mobil yang membawa pengantin telah tiba di hotel, tempat digelarnya resepsi pernikahan Byan dan Shevi. Grand ballroom hotel yang disewa Byan, kini telah didekorasi menjadi sangat indah dengan dominan warna putih, yang menandakan kesucian.


Shevi turun dari mobil dibantu oleh Byan. Shevi dan Byan berjalan pelan di atas karpet merah memasuki ballroom. Shevi menggandeng lengan suaminya. Beberapa tamu undangan yang telah hadir mengalihkan pandangannya pada pengantin yang sedang berjalan menuju panggung pelaminan. Banyak yang memuji akan ketampanan dan kecantikan kedua pengantin.


Byan tersenyum ramah pada para tamunya yang sebagaian besar adalah rekan bisnisnya. Tidak hanya itu, beberapa temannya dan teman dari Shevi pun juga diundang.


Setelah Shevi dan Byan duduk, bersamaan dengan dimulainya acara pembukaan yang dipandu oleh pembawa acara yang tak lain adalah Mia, sekretarisnya.


Byan tak hentinya menciumi tangan istrinya yang membuat Shevi sangat malu dengan tingkah suaminya itu. Shevi mencoba menarik tangannya yang dari tadi digenggam oleh Byan tapi tidak bisa karena saking kuatnya genggaman suaminya.


"Malu, Kak. Lepasin dong...!!!" kata Shevi.


"Kenapa harus malu??? Biarin saja orang lihat. Kita sudah sah." ucap Byan. Shevi hanya menggelengkan kepalanya.


Byan dengan sengaja menjahili Shevi. Tangannya mulai usil gerayangan di pantat istrinya.


"Jangan tidur denganku malam ini!!!!" ancam Shevi. Dia heran dengan tingkah suaminya itu yang tidak bisa mengkondisikan tangannya.


Karena mendapat ancaman yang akan sangat merugikan dirinya, Byan berhenti menjahili istrinya.


"Maaf, yang. Jangan gitu dong. Masa tidak tidur bareng???? Terus malam pertamanya gimana????." tanya Byan sambil mengedipkan sebelah matanya. Shevi tak mau meladeni suaminya itu.


Para tamu undangan sama sekali tidak tahu dengan aksi Byan tadi karena mereka sedang menikmati hidangan yang telah disediakan. Tapi beda dengan Revan, dari tadi dia mengawasi gerak-gerik sahabatnya.


Dasar....!!!!!!! Pengantin lakinya cabul berat......!!! gumam Revan.


"Kak Revan kenapa???" tanya Reni yang membuat Revan kaget karena tiba-tiba berada di sampingnya.


"Ti,,, tidak apa-apa, Ren." jawab Revan.


"Kenapa tidak makan, Kak?? Mau aku ambilkan???" tanya Reni.

__ADS_1


"Makasih. Tapi aku masih kenyang." jawab Revan. Dia terlihat sedang celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang.


"Kak Revan cari siapa???" tanya Reni.


"Tadi sepertinya aku lihat Keysa! Aku hanya takut kalau dia akan membuat keributan di sini." jawab Revan. Reni menganggukkan kepalanya yang sependapat dengan Revan.


Beberapa rentetan acara telah usai. Para tamu undangan satu persatu menyalami dan memberikan ucapan selamat kepada Byan dan Shevi.


Setelah itu adalah sesi foto. Sebelum pulang, para sahabat dan teman menyempatkan diri untuk berfoto dengan si pengantin.


Setelah duduk beberapa jam lamanya di atas pelaminan, Shevi akhirnya merasa lega karena acara akan selesai. Dia merasa sangat lelah hari ini.


Tamu undangan terakhir yang menyalami Byan dan Shevi adalah Keysa.


"Selamat, By atas penikahan kalian. Semoga kalian selalu bahagia." ucap Keysa sambil mengulurkan tangannya dan disambut oleh Byan.


"Terima kasih, Key atas do'anya." balas Byan.


Shevi memegangi perutnya. Tubuhnya terhuyung.


"Bruuukkkk....." Shevi jatuh terkulai dengan perut yang bersimbah darah. Byan lalu menoleh dan melihat istrinya yang tak sadarkan diri dengan sebuah pisau yang menancap diperut Shevi.


Byan berlari mendekati istrinya.


"Shevi......!!!! Sayang,,,!!! Bangun....." Byan menepuk-nepuk pipi Shevi. Dian dan Sofyan berlari mendekati Byan dan Shevi dengan wajah paniknya. Beberapa tamu undangan yang masih berada di sana juga tak kalah panik.


"Sayang......!!!! Bangun....!!!" Byan memeluk tubuh Shevi. Dia sendiri bingung harus bagaimana melihat darah yang terus mengalir. Byan tak memperdulikan Keysa. Saat ini yang terpenting adalah keselamatan Shevi.


"Revan....!!!!" teriak Byan.


"Cepat siapakan mobil..!!!" perintah Byan. Karena Revan tak juga datang, Byan lalu menggotong tubuh istrinya. Dia berlari keluar. Byan tak mau menunggu lebih lama lagi.

__ADS_1


Untung saja ada rekan bisnisnya yang mau mengantarnya ke rumah sakit. Dia memangku tubuh istrinya yang kini terkulai lemah. Byan memandangi wajah istrinya yang agak pucat karena kehilangan banyak darah.


"Ron, tolong lebih cepat lagi." kata Byan dengan wajah paniknya.


"Sudah hampir sampai, Pak Byan. Beruntung, ada rumah sakit terdekat di sini, Pak." ujar Roni. Mobil yang ditumpanginya sampai disalah satu rumah sakit ternama dan berhenti di depan UGD.


"Suster, cepat tolong istri saya!!!" teriak Byan dari dalam mobil. Perawat langsung membawa brankar dan menidurkan Shevi di atasnya. Perawat itu mendorong masuk ke UGD. Shevi segera ditangani oleh dokter jaga di sana.


"Pak, pasien semakin kehilangan banyak darah. Harus segera dilakukan operasi untuk mengangkat pisau dan untuk menghentikan pendarahan." kata Dokter yang keluar menemui Byan.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, Dok..!!! Saya akan membayar berapapun biayanya asalkan istri saya selamat." ucap Byan. Perawat itu menyodorkan beberala lembar kertas yang harus ditandantangani Byan sebagai persetujuan dilakukannya tindakan operasi. Tanpa pikir panjang, Byan lalu menandatanganinya.


Dengan cepat perawat membawa Shevi ke ruang operasi. Byan terus mengikutinya. Air mata kini membasahi pipinya.


"Tolong tunggu di luar, Pak." ucap perawat itu lalu menutup pintu. Byan bersandar di tembok. Dia melepas jasnya dan melemparnya asal.


Hari ini bagaikan mimpi buruk untuknya. Seharusnya hari ini menjadi hari terindahnya, tapi berubah menjadi malapetaka. Tubuhnya perlahan mulai merosot dan terduduk di lantai.


_________


Revan melihat kejadian itu. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena dirinya berada jauh dari Shevi. Revan sungguh tak menyangka kalau Keysa akan berbuat senekat itu. Dia mengejar Keysa yang mencoba melarikan diri. Revan dibantu oleh Reni.


Keysa yang merasa terpojok kemudian mengambil gelas di sampingnya lalu memecahkan gelas itu.


"Ayo maju, kalau kalian mau ikut mati dengan wanita sialan itu!!!" ancam Keysa sambil memegang pecahan gelas dan mengacungkannya pada Revan dan Reni.


Revan dengan sigap meraih tangan Keysa yang memegang pecahan gelas itu. Dia mengunci tangan Keysa. Tak lama polisi pun datang dan membawa Keysa.


Reni melihat telapak tangan Revan mengeluarkan darah karena tergores pecahan gelas yang dipegang Keysa.


"Tangan kamu, Kak. Ayo ke rumah sakit sekarang sekalian mengobati luka di tanganmu." ajak Reni lalu menyeret tangan Revan.

__ADS_1


__ADS_2