
Shevi dan Reni bangun pagi-pagi sekali. Mereka menyusun rencana untuk menyelamatkan Revan. Mereka membawa beberapa beralatan untuk melindungi diri.
Shevi menghentikan mobilnya agak jauh dari tempat dimana Revan disekap agar tidak menimbulkan kecurigaan. Mereka berjalan mendekati gudang yang terlihat sudah lama kosong itu.
"Lo nanti jangan cemen, Ren. Lo harus berani menghadapi preman itu." kata Shevi sambil berjalan mengendap-endap.
"Iya, Shev. Kenapa kita tidak lapor polisi???" tanya Reni yang semakin menggenggam erat tongkat baseball di tangannya.
"Gue udah telfon polisi. Mungkin sebentar lagi sampai." jawab Shevi.
"Kita nggak nunggu polisi aja??? Shev, kenapa kita harus lewat belakang???" tanya Reni.
"Ssssttttttt, jangan berisik!!!! Nanti kita ketahuan!!!" kata Shevi memarahi Reni.
Shevi mengintip, ada satu orang yang berjaga di depan. Shevi mencari waktu yang tepat untuk menyerangnya. Di saat orang itu sedang membelakangi Shevi, Shevi melayangkan pukulan menggunakan tongkat baseball ke tengkuk preman itu.
Preman itu pun jatuh pingsan. Shevi dan Reni menyeretnya ke samping gudang.
"Aduuuhhhh,,,, berat banget sih!!!! Kebanyakan dosa kali dia...." gerutu Reni. Mereka mengikat, membungkam mulutnya dan menutupi dengan kardus.
"Satu orang, beres!!!!!" ucap Shevi. Terdengar suara pintu terbuka. Satu preman lagi keluar dan sedang bercakap di telfon.
"Baik, bos. Tempat ini aman..!!! Tidak akan ada yang tahu! Saya bisa jamin! Jangan lupa transferannya." kata preman itu.
Kaki Reni tak sengaja menginjak botol plastik.
Kreeeeaaakkkk.....
Preman itu lalu mematikan sambungan telfonnya dan mencari asal sumber suara. Shevi menarik tangan Reni dan mengajaknya bersembunyi.
"Lo gimana sih??!!! Hampir saja kita ketahuan." ucap Shevi
"Maaf, Shev..." ucap Reni.
"Siapa di sana???" tanya preman itu dan masih tetap mencari.
"Kalau ketemu, gue habisin lo!! Cepat keluar...!!!" gertak preman itu.
Shevi membungkam mulut Reni agar tak mengeluarkan suara.
"Ren, gue keluar. Lo diam-diam masuk melepaskan Kak Revan. Sambil menunggu polisi datang, hanya ini yang bisa kita lakukan." Shevi berbisik pada Reni.
"Tapi, Shev......." kata Reni yang mencemaskan Shevi.
"Jangan tapi-tapian. Gue pasti akan baik-baik saja." ucap Shevi yakin.
Shevi keluar dari tempatnya bersembunyi dan lari menjauh.
"Heeeyyy....!!! Jangan lari." teriak preman itu lalu mengejar Shevi. Reni mengikuti perintah Shevi. Dia masuk ke dalam gudang itu.
"Untung pintunya nggak dikunci." gumam Reni lalu masuk.
"Kak Revan........! Kak......" Reni memanggil Revan berkali-kali tapi tak ada jawaban. Dia menyusuri gudang tersebut.
Sampailah di sebuah kamar kosong tapi digembok dari luar. Reni mencari sesuatu di sekitarnya yang bisa digunakan untuk merusak gembok itu.
Dia menemukan tongkat besi. Akhirnya gembok itu rusak setelah beberapa kali Reni memukulinya.
"Kak Revan...." Reni berlari mendekati Revan yang diikat dikursi. Matanya ditutup dan mulutnya dibungkam.
Terdengar suara langkah yang semakin mendekat. Dengan gemetar, Reni berhasil melepaskan ikatan Revan.
"Siapa kamu??!! Berani-beraninya masuk ke sini. Cari mati ya!!!" kata preman yang tiba-tiba datang.
__ADS_1
Revan menyuruh Reni bersembunyi di belakangnya. Preman itu hendak menyerang Revan, tapi terdengar suara sirine mobil polisi yang datang. Preman itu segera melarikan diri.
"Kamu kenapa nekat datang ke sini, Ren??? Kalau terjadi apa-apa denganmu gimana??" tanya Revan yang terlihat sangat mencemaskan Reni.
"Jangan bahas ini dulu, Kak. Kita cari Shevi dulu. Demi aku bisa masuk, dia rela dikejar preman di luar." jawab Reni. Saat keluar, mereka melihat Shevi yang sedang berbincang dengan polisi.
Shevi yang melihat Reni dan Revan lalu menghampirinya.
"Udah gue bilangkan, Ren!! Gue nggak akan kenapa-napa." ucap Shevi pada Reni.
"Lo memang hebat, Shev. Tapi lo luka-luka, Shev." kata Reni.
"Ini tadi sempat jauh." jawab Shevi.
"Kak Revan nggak apa-apakan??" tanya Shevi.
"Tidak, Shev. Terima kasih kalian datang menyelamatkanku." ujar Revan.
"Kita pulang. Sisanya serahkan pada polisi. Semua preman kabur. Semoga polisi bisa menangkapnya." kata Shevi lalu mengajak Reni dan Revan ke mobilnya.
Beberapa hari kemudian,
______________________
"Shev, Kak Revan mau traktir kita. Katanya sebagai ucapan terima kasih." kata Reni.
"Sejak kapan kamu punya nomor ponsel Kak Revan??? Waahhhh, ternyata tanpa gue tahu, kemajuan hubungan kalian cepat juga." ujar Shevi menggoda Reni yang duduk di sebelahnya.
"Aahhhhh,,,, lo Shev!!!" Reni cemberut.
"Gitu aja ngambek. Kamu bilang sama Kak Revan, kita mau gitu. Nanti malam, tempatnya ikut sama Kak Revan aja." ucap Shevi sambil menaruh majalah ke meja.
"Ok. Gue bilang." kata Reni.
"Mulai lagi....." Reni tak terima.
_______
Malam pun tiba. Shevi dan Reni datang bersamaan ke cafe. Mereka berjalan menuju meja yang sudah dipesan Revan.
"Maaf, Kak. Lama ya nunggunya???" tanya Shevi lalu duduk dan diikuti oleh Reni.
"Santai saja. Aku juga baru saja sampai." jawab Revan.
Pelayan pun datang membawa daftar menu. Setelah memesan makanan, sambil menunggu mereka ngobrol.
"Selamat malam. Maaf mengganggu kenyamanan anda semua. Saya ingin menyanyikan sebuah lagu untuk wanita spesial yang duduk di sebelah sana." ucap seseorang yang berada di panggung cafe. Dia menunjuk ke meja yang di duduki Revan, Shevi dan Reni.
Shevi yang duduk membelakangi panggung, tak melihat kalau lagu itu ditujukan untuknya. Sedangkan Reni yang penasaran menoleh dan melihat siapa yang ada di atas panggung.
Seorang lelaki tampan memakai jas warna hitam. Duduk sambil memangku gitar dan mulai menyanyikan lagu.
*Dengarkanlah, wanita pujaanku
Malam ini akan kusampaikan
Hasrat suci kepadamu dewiku
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
__ADS_1
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buat kuhancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu
Dengarkanlah, wanita impianku
Malam ini akan kusampaikan
Janji suci satu untuk selamanya
Dengarkanlah kesungguhan ini
Aku ingin mempersuntingmu
Tuk yang pertama dan terakhir
Jangan kau tolak dan buatku hancur
Ku tak akan mengulang tuk meminta
Satu keyakinan hatiku ini
Akulah yang terbaik untukmu*.
"Romantis bangeeettttt......" ucap Reni sambil kedua tangannya memegang pipinya.
"Nggak usah lebay deh, Ren." kata Shevi melihat Reni terlalu berlebihan. Revan hanya tersenyum karena Shevi belum menyadarinya.
Reni memegang kepala Shevi memaksanya menoleh ke belakang.
"Itu, lo udah bisa lihatkan??? Tunangan lo, Shev. Lagu itu buat lo." jelas Reni.
"Ganteng banget. Beruntung banget ceweknya." ucap perempuan yang duduk di samping meja Shevi.
Shevi melihat Byan yang berjalan ke arahnya. Hatinya berdebar tak karuan. Byan berhenti di sampingnya lalu jongkok. Dia mengeluarkan kotak kecil berwarna biru.
"Will you marry me????" Byan membuka kotak itu yang berisikan sebuah cincin.
"Terima,,,,,, terima,,,, terima...!!!" orang-orang bersorak ke Shevi agar menerima.
Shevi melihat kesungguhan di mata Byan. Amarahnya hilang seketika. Shevi menganggukkan kepalanya yang membuat Byan langsung memeluknya dan disambut tepuk tangan dari semua orang di sana. Byan memakaikan cincin di jari manis Shevi.
"Kok cincin tunangan kita nggak dipakai, yang???" bisik Byan bertanya pada Shevi.
"Heheee,,,, di rumah..." jawab Shevi. Reni pindah duduk ke samping Revan. Byan lalu duduk di samping Shevi.
"Kok Kak Byan tahu kalau aku di sini???" tanya Shevi.
"Dari Revan....." jawab Byan.
"Lo nggak capek, bro??? Baru pulang dari luar kota langsung ke sini??" tanya Revan.
"Buat Shevi, nggak akan ada rasa capek." jawab Byan sambil mengedipkan sebelah matanya ke Shevi.
"Kapan kalian akan menikah???" tanya Revan lagi.
"Secepatnya!!! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." jawab Byan dengan mantap.
__ADS_1