
Tak terasa sudah lebih dari dua minggu Shevi tinggal serumah dengan Byan. Byan sudah mulai masuk kantor seperti biasanya. Luka di perut Shevi pun berangsur membaik dan hampir pulih. Shevi sekarang sudah mulai masuk kuliah.
Alarm ponsel milik Shevi berbunyi. Diraihnya ponsel di atas nakas lalu dimatikannya. Shevi membalikkan badannya menghadap Byan yang masih tertidur pulas. Dia mengusap pipi suaminya dengan lembut.
Shevi lalu bangun dan turun dari ranjang. Dia masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah selesai, Shevi keluar dan melihat suaminya yang belum juga bangun.
Shevi keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Di sana sudah ada Bi Sumi yang sedang menyiapkan bahan-bahan untuk dimasaknya.
"Pagi, Bi Sumi." sapa Shevi sambil menguncir rambutnya.
"Pagi, Mbak." balas Bi Sumi menyapa Shevi yang kini berada di sampingnya.
"Mau masak apa, Bi??" tanya Shevi.
"Mbak Shevi mau dimasakin apa??" Bi Sumi balik bertanya.
"Aku lagi pengin sarapan nasi goreng udang, Bi. Biar saya saja yang memasaknya, Bi. Bi Sumi bantu haluskan bumbunya saja." kata Shevi lalu membuka kulkas dan mengambil udang di sana.
Shevi mencuci udang dan mengupas kulitnya. Setelah semua siap, Shevi mulai memasaknya dan Bi Sumi hanya memperhatikannya.
"Wah, ternyata Mbak Shevi jago masak ya???" puji Bi Sumi melihat Shevi yang lihai dalam memasak.
"Tidak, Bi. Hanya bisa beberapa menu saja. Kalau yang aneh-aneh dan rumit, aku tidak bisa. Ini juga yang mengajari Ibuku." ujar Shevi lalu mematikan kompornya. Nasi goreng buatannya telah siap dan ia hidangkan di atas meja makan.
Setelah semua beres, Shevi naik ke lantai atas untuk melihat suaminya sudah bangun atau belum.
"Belum bangun juga????" gumam Shevi sambil duduk di tepi ranjang.
"Kak Byan, bangun!! Ini sudah jam 6 pagi." Shevi mengguncang-guncangkan lengan Byan.
__ADS_1
"Hmmmmmm,,,,, masih ngantuk, yang." jawab Byan. Bukannya bangun, Byan membalikkan badannya membelakangi Shevi.
Shevi naik ke ranjang lalu mendekati Byan. Dia menggigit hidung suaminya yang mancung dan membuat Byan meringis kesakitan.
"Sakit, yang......" ujar Byan sambil mengelus pucuk hidungnya. Dia lalu duduk bersandar.
"Cepetan mandi, aku sudah masak nasi goreng spesial lho......" kata Shevi.
"Masa????? Memangnya bisa masak???" tanya Byan setengah meledek istrinya.
"Ya bisalah. Buruan mandi, nanti ke kantornya telat!" Shevi menarik tangan Byan.
"Telat tidak masalah, yang punya perusahaannya juga aku sendiri." ujar Byan lalu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
"Yang, bantu aku mandi yuk..." ajak Byan yang berhenti di pintu kamar mandi.
Shevi duduk di tepi ranjang menunggu Byan selesai mandi. Di dalam kamar mandi, Byan baru ingat kalau dia lupa tidak membawa handuk.
"Yang....." teriak Byan dari dalam kamar mandi.
"Ya, kenapa???" jawab Shevi.
"Ambilkan handuk! Aku lupa..." perintah Byan. Shevi lalu mencarinya di dalam almari. Dia membawa handuk yang diminta suaminya sambil mengetok pintu kamar mandi.
Byan dengan sengaja membuka lebar pintu kamar mandi.
"Aaaaaaaaaaa............" teriak Shevi sambil menutup kedua matanya. Byan tertawa karena berhasil mengerjai istrinya.
"Dasar mesum!!!! Ini handuknya....." Shevi menyerahkan handuk yang di bawanya lalu membalikkan badannya. Saat akan berjalan keluar kamar, Byan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Mau kemana???? Bantu aku memakai baju dulu..." bisik Byan di telinga Shevi.
"Aku,,, aku mau ke dapur lagi. Kamu mau minum apa???" tanya Shevi yang terlihat sangat gugup.
"Mau minum kamu......" jawab Byan tepat di telinga Shevi. Tubuh Shevi seketika seperti mendidih mendengar jawaban Byan.
Byan membalikkan badan Shevi. Mereka saling berhadapan. Shevi menundukkan kepalanya karena malu. Byan memegang dagu Shevi dan mengangkatnya. Mata mereka saling beradu.
"Jangan aneh-aneh deh....!! Dokter belum memberi izin." kata Shevi mengingatkan Byan kalau mereka belum boleh melakukan hubungan suami istri.
"Hanya bermain-main sebentar. Tidak sampai melakukan. Aku masih kuat menahannya." ujar Byan. Sebenarnya dia sendiri sangat tersiksa dengan hasrat yang belum bisa tersalurkan. Sudah satu bulan menikah belum melakukan hubungan layaknya suami istri.
Byan semakin mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan sangat dekat. Dengan lembut, Byan mencium bibir Shevi yang sekarang sudah halal pastinya. Shevi memejamkan mata dan membalasnya.
Byan semakin memperdalam ciumannya. Shevi mengalungkan tangannya di leher Byan. Byan perlahan melangkah mundur dan duduk di tepi ranjang lalu menempatkan Shevi di pangkuannya.
Adegan ciuman panas itu membuat Byan ingin hal yang lebih. Byan melepaskan ciumannya dan mulai menjelajahi leher jenjang istrinya. Tak lupa dia meninggalkan tanda merah di sana. Tangannya mulai membuka kancing piyama Shevi satu per satu.
Shevi berusaha mencegahnya tapi tak berdaya. Dia hanya pasrah. Baru membuka tiga kancing baju, Byan sudah melihat pemandangan dengan belahan dada yang membuat sesuatu di balik handuknya semakin menegang. Shevi pun bisa merasakan sebuah benda keras yang ada di bawahnya.
Byan menciumi dada Shevi dan lanjut pada kedua bukit kembar yang sangat menonjol. Tangannya pun tak luput untuk ikut beraksi meraba kedua bukit yang kenyal itu. Shevi menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tak mengeluarkan desahannya. Sedang panas-panasnya, pintu kamar mereka diketok dari luar.
"Den, Mbak Shevi. Minumnya mau dibuatkan apa???" tanya Bi Sumi dari luar kamar. Bi Sumi ke atas karena sudah agak lama Shevi dan Byan tak kunjung turun ke bawah.
Nafsu Byan yang tadinya sangat memuncak sampai di ubun-ubun, langsung drop setelah Bi Sumi memanggilnya.
"Air putih dan orange jus saja, Bi." jawab Shevi.
Shevi membenahkan piyamanya dan mengancingkannya kembali. Shevi turun dari pangkuan suaminya. Dia sebenarnya merasa kasihan melihat wajah Byan yang agak kecewa karena berhenti di tengah jalan.
__ADS_1