
Di rumah Shevi,
______________
Shevi menghampiri Kakeknya yang baru saja pulang dari luar kota lalu memeluknya.
"Kakek,,,,,, Shevi kangen banget..!" kata Shevi. Kakeknya membalas pelukan cucunya dan membelai kepala Shevi.
"Kamu dari mana Shev...?" tanya Sofyan. Belum sempat menjawab, Dian sudah memotongnya.
"Biasa Pa, Shevi ke kantor Byan. Hubungan mereka juga semakin dekat." jawab Dyan.
"Apa benar Nak??" tanya Sofyan lagi.
"Tahu ahhh Kek. Sepertinya Ibu lebih tahu semuanya. Shevi ke kamar dulu." pamit Shevi dan berjalan ke lantai dua dimana kamarnya berada.
"Cieeeee.... malu." ledek Ibunya.
Shevi merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Dia mengingat kembali kejadian di kantor Byan tadi. Shevi memukuli bantal yang ia taruh di atas perutnya.
"Bodoh,,,bodoh,,,bodoh!!! Kenapa tadi langsung jawab kalau gue juga suka. Ahhhh jadi canggung kan!!!! Cewek mana yang nggak bakal luluh coba. Udah ganteng, perhatian lagi. Arrgghhhhhhh.......!! Kenapa gue terbayang wajahnya terus sih..!!!" Shevi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Pagi hari,
_________
Shevi terbangun karena mendengar suara gaduh di bawah. Dia turun dari tempat tidurnya lalu masuk kamar mandi. Setelah mencuci muka, Shevi turun ke bawah. Dian sedang sibuk menyuruh orang untuk memindah-mindahkan barang. Dian mendekorasi ruangan itu yang akan menjadi tempat untuk acara nanti malam. Dian melihat Shevi turun lalu mendekatinya.
"Gimana menurutmu Nak?? Apa masih ada yang kurang??" tanya Dian sambil melihat hasil dekorasinya.
"Jangan tanya Shevi Bu. Shevi tidak mengerti sama yang begituan. Terima beres sajalah...!!" ucap Shevi.
"Tapi sudah bagus kan??" tanya Dian lagi.
"Bagus..." jawab Shevi.
Waktu tidak terasa berjalan sangat cepat. Matahari sudah mulai tenggelam. Shevi di kamarnya ditemani oleh Reni yang sudah di sana dari siang.
"Shev lo santai banget sih....???? Gemes gue jadinya!!!!" ujar Reni yang melihat Shevi masih duduk dengan santainya di sofa.
"Kok jadi lo yang sewot Ren?? Masih lama Ren." ucap Shevi.
__ADS_1
"Lama apanya..!!!! Tinggal 2jam lagi." Semprot Reni lalu menyeret Shevi dan mendudukkannya di meja rias. Reni mengeluarkan semua peralatan make up yang dibawanya. Reni tahu kalau Shevi tidak punya makeup sekomplit dirinya. Karena Shevi memang tidak suka dandan yang berlebihan. Beda dengan Reni yang selalu menor. Reni mulai memoles wajah Shevi. Maklum saja, Reni sendiri suka dandan, jadi tangannya sudah lihai.
"Jangan terlalu tebal Ren. Yang kalem-kalem aja." kata Shevi.
"Udah lo diem aja. Gue tahu itu." ucap Reni. Tak butuh waktu lama, Reni pun selesai merias wajah Shevi.
"Gimana hasil karya gue????? Cantik kan???? Reni gitu lohhhhh......." Reni menyombongkan dirinya sendiri.
"Yaahhhh lumayanlah buat pemula...hahahaaaaaa" Shevi tertawa setelah mengejek Reni.
"Nggak tahu terima kasih lo!!! Kita tinggal tunggu Tante ke sini. Lo deg-degan nggak Shev??" tanya Reni.
"Sedikit...." jawab Shevi.
"Ren,,,,, kemarin Kak Byan......" Shevi belum selesai bicara langsung dipotong Reni.
"Aaaciieee cieeeee......!!!! Sekarang manggilnya Kak. Hahaahaaaaaaaa" Reni tertawa.
"Diam lo. Kan menghormati dengan yang lebih tua. Kemarin Kak Byan tanya ke gue, udah cinta belum sama dia. Gue jawab iya Ren. Malu banget gue...!" kata Shevi.
"Laaahhhhh kan lo emang cinta. Kenapa harus malu. Mau sampai kapan lo nggak ngakuin perasaan lo???" jelas Reni.
Melihat Byan sudah datang, Sofyan lalu menghampirinya dan memperkenalkan kepada kerabatnya. Sedangkan Dian berjalan menuju lantai atas untuk memanggil Shevi.
Tanpa permisi, Dian langsung masuk ke kamar putrinya.
"Cantiknya anak Ibu. Ayo turun Byan sudah datang." ajak Ibunya.
Mendengar itu, tiba-tiba jantung Shevi berdetak tak beraturan. Dia merasa gugup.
"Aduh Shevi jadi kebelet pipis. Sebentar ya Bu.." Shevi masuk ke kamar mandi. Reni hanya menggelengkan kepalanya melihat Shevi yang terlihat sangat gugup.
"Itu anak ada-ada saja...!!!!" ucap Dian sambil mengetok pintu kamar mandi menyuruh Shevi supaya tidak lama-lama. Shevi pun keluar dari kamar mandi dan langsung digandeng Dian ke bawah. Reni mengikuti di belakang.
Mata Byan tertuju pada wanita cantik yang digandeng oleh Dian menuruni tangga. Dian mengantarkan Shevi ke samping Byan. Acara pun dimulai sampai tiba saatnya Byan menyematkan cincin di jari manis Shevi. Begitu juga dengan Shevi yang memasangkan cincin di jari manis Byan. Disusul suara riuh tepuk tangan dari kerabat yang datang.
Lalu terdengar suara Reni yang berteriak.
__ADS_1
"Cium.....cium........cium.... cium...." teriak Reni lalu diikuti oleh para tamu.
Shevi melirikkan matanya ke Reni. Bisa dibilang tatapan penuh amarah. Sedangkan Reni hanya melambaikan tangannya dan menjulurkan lidahnya seolah-olah sedang mengejek sahabatnya itu.
Tiba-tiba saja Byan menuruti keinginan para tamu.
"Cup........." Byan mencium kening Shevi dan langsung disoraki oleh para tamu. Shevi kaget ditambah malu.
"Cepet-cepet dihalalin..." ucap salah satu tamu yang datang.
"Pinginnya juga begitu..." sahut Byan yang membuat Shevi tambah malu. Dia mencubit pinggang Byan dari belakang.
"Aaawwww..... sakit yang.." ucap Byan menahan sakit di pinggangnya.
Reni yang sedang membawa gelas minumnya berjalan tanpa memperhatikan depan. Dia menabrak seseorang dan minumannya itu mengotori jas yang dipakai laki-laki itu.
"Upppssssss...! Maaf saya tidak sengaja." Reni langsung mengambil tisue dan membersihkan jas itu. Yang ditabrak Reni adalah Revan.
"Sudah... sudah tidak apa-apa." kata Revan sambil menghentikan tangan Reni yang masih membersihkan jasnya.
"Waaahhhhhhh... ganteng juga......" Batin Reni.
"Saya Reni....." tanpa malu Reni mengulurkan tangannya memperkenalkan diri. Dia memang tidak tahan dengan laki-laki tampan.
"Revan..." Revan menyambut uluran tangan Reni.
"Sekali lagi maaf Kak Revan.." ucap Reni dan dibalas anggukan dari Revan.
"Saya permisi dulu..." pamit Revan.
"Ya Kak." jawab Reni yang masih menatap Revan sampai hilang dari pandangannya.
Acara pun selesai. Para tamu berpamitan pulang. Tinggal Sofyan, Dian, Shevi, Byan, dan Reni. Sedangkan Revan menunggu Byan di dalam mobil.
"Kek, Bu, Byan pulang dulu. Kasihan teman Byan sudah menunggu di mobil." pamit Byan.
"Kamu hati-hati ya.." kata Sofyan.
"Sayang aku pulang dulu." Byan kembali mencium kening Shevi di depan Ibu dan Kakeknya lalu berjalan keluar menuju mobilnya. Reni yang melihat itu langsung memukul pundak Shevi.
"Oohhhh sayang......" sahut Reni yang membuat Dian tertawa.
__ADS_1
"Kalian ini...." Dian mengacak-acak kepala Shevi dan Reni bersamaan.