Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
88. Ep 88


__ADS_3

Di kamar Shevi,


Reni langsung loncat ke atas ranjang. Dia menarik selimut yang membungkus badan polos Shevi. Terjadi tarik-menarik antara kedua sahabat itu.


"Reni, jangan gila! Gue enggak pakai baju!" Shevi keceplosan.


"Berhasilkan rencana gue? Ahhhh, ternyata masalah apapun bisa selesai di atas ranjang. Mau semarah apapun, pasti jadi baikan." ujar Reni.


"Iya, tapi gara-gara lingerie yang lo kasih itu, badan gue sekarang sakit semua. Seperti habis diinjak-injak gajah." ucap Shevi.


"Yang penting baikan. Bentar lagi, gue bakal punya ponakan nih?" kata Reni.


"Apaan sih?? Lo pikir segampang itu punya anak?? Gue mandi dulu. Lo tunggu di sini bentar!" ucap Shevi lalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Ok!" Reni mengacungkan jempolnya.


Sambil menunggu, Reni pindah ke sofa dan menyalakan televisi yang ada di dalam kamar Shevi. Matanya melihat ke layar televisi, tapi pikirannya entah kemana. Setelah dua puluh menit di dalam kamar mandi, Shevi keluar dan melihat Reni yang sedang bengong.


Ceplakkkk.....


Sebuah buku mendarat di kepala Reni.


"Awwwwww,, sakit Shev!" Reni mengelus kepalanya.


"Bengong aja!! Mikirin apa?" tanya Shevi lalu duduk di samping Reni.


"Enggak mikirin apa-apa kok. Rambut lo basah. Sini, gue bantu ngeringin." kata Reni sambil mengalihkan pembicaraannya. Dia lalu bangkit dari duduknya dan mengambil hair dryer.


"Sini..!" Reni melambaikan tangannya menyuruh Shevi duduk di depannya. Shevi menuruti apa kata Reni. Sambil Reni mengeringkan rambutnya, Shevi makan makanan yang dibawakan Byan tadi.


"Lo seperti orang yang nggak makan berhari-hari, Shev." ujar Reni saat melihat Shevi makan dengan lahapnya.


"Tenaga gue semalam dikuras habis-habisan, Ren. Tenaga laki gue, beeuuhhh,,, nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata!" ucap Shevi.


"Sudah selesai?? Kita turun yuk!" ajak Shevi.


"Ehhh, nanti aja. Kita,,, kita mendingan di kamar nonton film atau apa gitu," tolak Reni. Dia hanya tidak mau bertemu dengan Revan.


"Lo kenapa sih?" tanya Shevi. Dia mulai curiga dengan Reni.


"Ahhhh, gue tahu. Pasti karena ada Kak Revan kan?" tebak Shevi.


"Lo tahu sendiri, Shev. Gue lagi berusaha menghindar dari dia. Tapi kenapa sih?? Sekarang malah sering bertemu. Gimana gue bisa melupakan perasaan ini coba?" ujar Reni.


Shevi menghela nafasnya kasar. Dia merasa iba dengan kisah percintaan sahabatnya yang dari dulu memang kurang beruntung. Padahal masalah wajah, Reni terbilang cantik.


"Lo bersikap sewajarnya saja, Ren. Anggap dia sebagai teman," Shevi memberi saran pada Reni.

__ADS_1


"Lo teorinya gampang! Praktiknya yang susah!" sahut Reni.


"Oiya, gue dengar dari Kak Byan, cewek yang ketemu dengan Kak Revan di rumah sakit itu teman SMAnya. Kak Revan sempat naksir, tapi itu dulu. Masih ada harapan, Ren." kata Shevi sambil mencolek pinggang Reni.


"Ihhhh, geli...." Reni memegangi pinggangnya.


"Oiyaaa,,,!!" Shevi menepuk jidatnya. Dia baru ingat sesuatu.


"Gue pernah ketemu sama Kak Revan di supermarket. Dia sama cewek.." imbuh Shevi. Dia menjelaskan ciri-ciri wanita yang dilihatnya.


"Sepertinya sama dengan cewek yang gue lihat. Tapi gue nggak mau tahu, Shev. Gue nggak mau berharap lagi. Terserah dia mau jalan dengan siapa. Gue bukan apa-apanya." ujar Reni.


"Ya sudah. Terserah lo aja. Gue selalu dukung lo!" ucap Shevi.


"Shev, tinggal beberapa bulan lagi kita wisuda. Gue mau lanjut kuliah S2 di luar negeri. Lo mau lanjut enggak?" tanya Reni.


"Apa??? Lo tega ninggalin gue sendiri di sini??" tanya Shevi sambil membelalakkan matanya.


"Lebay lo!! Lagian ini baru rencana. Ke depannya kita nggak tahu!" ujar Reni.


"Sepertinya gue enggak lanjut. Gue mau fokus jadi istrin yang baik. Hahahaaa....! Gue do'akan semoga lo berubah pikiran, Ren!" sahut Shevi.


Pintu kamar terbuka. Terlihat Byan berjalan masuk.


"Kalian lagi apa? Lama banget. Apa perempuan itu memang betah di dalam kamar ya?" tanya Byan.


"Ayo kita ke bawah!" ajak Byan. Reni tak bisa lagi menolaknya karena ini ajakan dari Byan.


Shevi menarik tangan Reni. Dengan malasnya, Reni berdiri dan mengikuti Shevi melangkah keluar dari kamar. Saat menuruni tangga sampai di ruang tengah, Reni hanya menundukkan kepalanya. Keberaniannya hilang seketika. Reni duduk bersebelahan dengan Shevi.


"Hay, Ren. Apa kabar?" sapa Revan.


Reni yang sangat gugup sampai tak menanggapi sapaan dari Revan. Shevi yang melihatnya lalu menyenggol Reni dengan bahunya.


"Oh,, ehh, baik." jawab Reni singkat.


"Kak Revan, gimana perkembangan hubungan dengan cewek yang bertemu denganku waktu itu? Siapa ya namanya? Eeeemmm, Ajeng. Ya, Ajeng." tanya Shevi yang memang sengaja memancing Revan agar menjelaskannya.


"Ohhh, itu. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Hanya sebatas teman lama." jawab Revan.


"Tapi pernah naksirkan???" sahut Byan. Revan langsung menatap Reni saat Byan bertanya tentang hal itu.


"Itu dulu, By! Jaman masih cinta monyet." jelas Revan.


"Oohhh, begitu?? Kalau gini kan tidak akan ada yang salah paham lagi." ujar Shevi sambil menepuk paha Reni.


"Memangnya siapa yang salah paham?" tanya Revan.

__ADS_1


"Ada deehhhh,,,," jawab Shevi.


Reni memikirkan cara agar bisa secepatnya pergi dari tempat itu. Dia benar-benar tidak bisa berkutik melihat Shevi yang memojokkannya.


"Shev, gue baru ingat kalau ada janji dengan Mama. Gue pulang dulu ya?? Gue pasti besok ke sini lagi deh." pamit Reni. Hanya ini satu-satunya alasan yang terlintas di pikirannya.


"Ren, jangan pulang dulu dong. Gue masih ingin lama-lama sama lo. Kalau nanti lo lanjut kuliah di luar negeri, kita jarang-jarang bisa kumpul seperti ini." ujar Shevi sambil menggandeng lengan Reni.


Sialan..! Sialan..! Ini mulut Shevi sengaja banget sih? Batin Reni.


"Memangnya benar kata Shevi, Ren?" tanya Revan ingin memastikan kebenarannya.


"Heheee,,, baru rencana, Kak." jawab Reni.


"Oohhh! Tidak lanjut di sini saja? Di sini juga banyak yang bagus lho!" kata Revan.


"Ini juga masih mikir-mikir." ucap Reni.


Byan memberi kode Shevi untuk meninggalkan Reni dan Revan sendiri. Shevi pun paham dengan maksud suaminya.


"Yang, ada yang mau aku bicarakan. Ikut aku sebentar yuk!" Byan menarik tangan Shevi.


"Sekalian aku juga pamit pulang." Reni berdiri dan segera melangkahkan kakinya. Dia berjalan sangat cepat tanpa menoleh ke belakang.


"Ren..!" Shevi hendak mengejar Reni.


"Biar aku saja, Shev!" Revan mencegah Shevi lalu mengejar Reni.


"Sudah, yang. Beri waktu pada mereka. Mereka itu hanya kurang terbuka satu sama lain. Revan juga tidak peka dengan perasaanya sendiri." ujar Byan.


"Mendingan, kita ke kamar saja." Byan langsung menggendong Shevi.


"Ihhhh,,, aku masih capek!" kata Shevi sambil meronta.


Di depan rumah Byan,


Saat Reni akan membuka pintu mobil, tangannya ditarik oleh Revan dari belakang.


"Ren, kenapa kamu selalu menghindar dariku? Apa aku ada salah? Aku minta maaf kalau aku ada salah. Tapi tolong, kamu jangan seperti ini." kata Revan, tangannya masih memegang tangan Reni


Reni membalikkan badannya menghadap Revan.


"Kak Revan tidak ada salah apa-apa. Jadi jangan minta maaf. Aku juga tidak menghindar. Itu mungkin hanya perasaannya Kak Revan saja!" ucap Reni.


"Maaf, Kak. Aku harus cepat pulang. Mama udah nungguin." Reni melepaskan tangannya dari genggaman tangan Revan. Dia lalu masuk ke dalam mobil.


Reni melajukan mobilnya meninggalkan Revan yang masih berdiri dan tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya menatap kepergian Reni.

__ADS_1


Maaf, Kak Revan. Aku tidak mau terjerumus lebih dalam dengan perasaanku padamu. Mungkin dengan cara ini, aku akan bisa melupakanmu. Batin Reni.


__ADS_2