
Pagi hari,
_________
Pagi-pagi sekali Dian sudah sampai di rumah sakit. Dian membawa makanan untuk sarapan Byan dan Shevi. Dan tak lupa juga membawakan baju ganti untuk Shevi. Dian berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang masih sangat sepi. Hanya beberapa orang saja yang ia jumpai karena hari masih agak gelap.
Sesampai di depan kamar tempat papanya di rawat, tanpa permisi Dian lalu masuk. Dian berjalan masuk dan melihat papanya sudah bangun.
"Ssssstttttttttt...." papanya menyuruh Dian pelan-pelan sambil menunjuk Byan dan Shevi yang masih tertidur dengan posisi yang tidak berubah dari semalam. Byan tidur bersandar di sofa dan kepala Shevi berada di pangkuan Byan.
Dian yang paham dengan maksud papanya langsung menganggukan kepalanya. Dian meletakkan makanan yang dibawanya ke meja dengan sangat pelan supaya Byan dan Shevi tidak terbangun. Dia lalu mendekati papanya.
"Papa sudah bangun dari tadi??" tanya Dian sambil duduk di kursi.
"Iya...." jawab Sofyan singkat.
"Mereka dari semalam tidur seperti itu Pa??" tanya Dian penasaran.
"Papa tidak tahu..." jawab Sofyan.
Shevi mulai membuka matanya dan samar-samar melihat wajah Byan. Shevi pun memejamkan matanya kembali seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia mengira itu hanya bayangan saja. Shevi mengucek kedua matanya lalu membukanya kembali. Ternyata yang dilihatnya masih sama. Shevi menyingkirkan tangan Byan yang masih berada di atas perutnya. Dia lalu bangun. Shevi melihat Ibunya yang sedang menyuapi makan Kakeknya. Byan pun juga ikut bangun.
"Kalian sudah bangun???" tanya Dian. Shevi dan Byan serempak mengangguk.
"Duuhhhh kompaknya..." goda Dian. Byan hanya tersenyum sambil membenahkan posisi duduknya. Dia lalu menatap Shevi yang sedang mengikat rambut panjangnya.
Tanpa menoleh ke arah Byan yang sedang menatapnya, Shevi berdiri dan mengambil handuk serta baju gantinya lalu masuk ke kamar mandi. Byan dibuat heran dengan Shevi. Dian yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Setelah selesai menyuapi Papanya, Dian lalu mendekati Byan dan duduk di sana.
"Itu efek tidak bertemu lama By...!!! Mungkin merasa kurang diperhatikan." kata Dian ke Byan.
"Ini memang salah saya yang terlalu sibuk akhir-akhir ini Bu." ucap Byan.
"Ibu mau menemani Kakekmu lagi. Nanti kalau Shevi tahu Ibu bicara macam-macam, bisa marah 7hari 7malam dia." kata Dian lalu kembali duduk di samping papanya.
__ADS_1
Shevi keluar dari kamar mandi lalu gantian Byan yang masuk. Tak lama Byan lalu keluar dan duduk di samping Shevi.
"Ibu sudah bawakan kalian sarapan. Cepat dimakan.." ucap Dian.
Shevi mengeluarkan makanan yang dibawa sang Ibu. Dia mengambilkan untuk Byan dan memberikannya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Byan sebenarnya ingin sekali mengajak bicara Shevi. Tapi dia malu dengan Sofyan dan Dian kalau nantinya ada sedikit perdebatan.
Selesai sarapan pagi, Shevi pamit kepada Kakek dan Ibunya.
"Kek,,,,, Bu. Shevi berangkat kuliah dulu. Sepulang kuliah, Shevi ke sini lagi." ucap Shevi.
"Biar diantar Byan nak..." kata Dian. Shevi mengangguk menuruti Ibunya. Byan lalu bersiap untuk mengantar Shevi.
"Kami berangkat Bu.." pamit Byan.
"Hati-hati" pesan Dian.
Shevi berjalan jauh di depan. Byan sedikit berlari menyusul Shevi lalu meraih tangannya.
"Pelan-pelan jalannya yang..." kata Byan. Shevi masih diam tak menjawabnya. Byan menghentikan langkahnya dan otomatis Shevi ikut berhenti karena tangannya digenggam Byan.
"Sayang,,,, aku minta maaf karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan kurang memperhatikanmu. Ada masalah yang harus aku selesaikan di luar kota. Aku benar-benar tidak ada maksud untuk mengabaikanmu." jelas Byan menatap Shevi.
"Ayo jalan. Malu dilihat orang." ajak Shevi karena merasa malu dari tadi banyak orang yang berlalu-lalang dan memperhatikan mereka berdua.
"Tidak. Kamu belum jawab." Byan menolak dan masih menahan Shevi. Shevi menghela nafas dan membuangnya kasar.
"Aku nggak marah. Udah puas kan??? Ayo..! Nanti aku telat." ucap Shevi. Mereka berjalan menuju parkiran.
Saat Byan membukakan pintu mobil, Shevi melihat bunga mawar merah yang di taruh Byan semalam di kursi samping karena Byan lupa membawanya masuk.
"Kok ada bunga?" tanya Shevi.
"Masuk dulu. Nanti aku jelaskan." ucap Byan. Shevi lalu masuk dan diikuti Byan. Byan perlahan melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bunga buat cewek lain?" tanya Shevi sambil memegang bunga mawar itu. Byan yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.
"Iya buat cewek. Ceweknya kamu..!!! Jangan berpikir yang macam-macam. Aku cuma cinta kamu. Oooo....oo..ooo kamu cemburu ya?" jawab Byan lalu menggoda Shevi.
"Semalam aku mau ke rumah kamu. Mampir beli bunga itu dulu. Ceritanya mau buat kejutan. Tapi aku yang dibuat terkejut karena Kakek masuk rumah sakit dan kamu juga tidak memberitahuku masalah ini." lanjut Byan menjelaskan sambil tetap fokus mengemudi.
Shevi yang mendengar penjelasan dari Byan merasa sedikit lega di dalam hatinya. Karena tadinya dia berpikir macam-macam saat Byan disibukkan dengan pekerjaannya selama 1bulan. Makanya Shevi tidak pernah mengangkat telfon dari Byan. Dia juga tidak tahu kenapa dirinya menjadi seperti ini. Perasaan yang takut kehilangan. Perasaan yang tidak ingin jauh-jauh dari Byan. Tapi Shevi masih gengsi untuk memgakuinya.
"Kok masih diam?" tanya Byan yang melihat Shevi melamun.
"Nggak kok..." jawab Shevi.
"Aku minta maaf tidak memberitahu kamu kalau Kakek sakit. Itu salah kamu sendiri pergi lama tanpa pamit dulu. Ya aku hanya membalasnya. Mungkin juga kamu di sana sama cewek lain, jadi lupa sama aku." imbuh Shevi.
"Aku senang melihatmu cemburu." ucap Byan tersenyum lalu tangannya mengacak rambut Shevi.
"Siapa yang cemburu..!!!" Shevi masih saja berkilah sambil membenahkan rambutnya yang agak berantakan karena diacak-acak Byan.
"Aku kan sudah berkali-kali menelfon kamu, kirim pesan juga. Tapi kamu tidak mengangkatnya atau membalas pesanku sama sekali. Bagaimana bisa aku melupakanmu??." ujar Byan dan membuat Shevi menoleh ke arahnya.
"Aku memang sengaja tidak mengangkat telfonmu dan tidak membalas pesanmu." kata Shevi sambil tersenyum tanpa dosa.
Byan menghentikan mobilnya di depan kampus Shevi.
"Apa kamu tidak tahu kalau kamu membuat aku khawatir??? Kamu juga tidak tahu kan kalau aku menahan rindu selama 1bulan?? Aku cuma ingin mendengar suara kamu untuk mengurangi rasa rinduku. Tapi kamu dengan sengaja mengabaikannya." ucap Byan dengan wajah seriusnya yang membuat nyali Shevi menciut.
"Ok.....ok..!!! Untuk masalah ini, aku minta maaf. Kamu maafin aku kan????" kata Shevi dengan wajah memelasnya.
"Hmmmmmmm.....!!!!!!! Nanti telfon kalau sudah mau pulang." ucap Byan.
"Ya." jawab Shevi lalu keluar dari mobil.
"Kamu hati-hati.." imbuh Shevi lalu menutup pintu mobil. Byan lalu melajukan mobilnya. Shevi berjalan memasuki area kampus dan sudah ditungggu oleh Reni di sana.
__ADS_1
"Cieeeee diantar Byan. Katanya sebel....??? Ehhh sekarang sudah nempel." goda Reni sambil merangkul pundak Shevi dari samping.
"Nggak ada waktu buat meladeni ocehanmu Ren. Ayo masuk...!!" ajak Shevi. Mereka lalu berjalan memasuki kelas.