Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
76. Ep 76


__ADS_3

Keesokan harinya,


Seperti biasa, Shevi sudah bangun terlebih dahulu dan membantu Bi Sumi di dapur. Byan meraba kasur di sampingnya tapi tidak menemukan Shevi. Dia lalu bangun dan berjalan masuk ke dalan kamar mandi.


Byan memutuskan hari ini akan pergi ke kantor agak siang karena mau ke rumah sakit. Tanpa sepengetahuan Shevi, dia ingin bertemu langsung dengan Dokter Bambang untuk menanyakan tentang Shevi.


Selesai ganti baju, Byan lalu turun untuk mencari istrinya. Dia melihat Shevi yang sedang menyiapkan sarapan.


"Lho, kok pakai kaos dan celana pendek?? Tidak ke kantor??" tanya Shevi yang melihat Byan berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku berangkat agak siangan. Sekali-kali tidak apa-apalah...." jawab Byan lalu duduk di kursi sambil menatap menu sarapan pagi yang ada di depannya.


"Mau minum apa?? Teh atau susu??" tanya Shevi.


"Yang lainnya boleh?" goda Byan tanpa rasa malu. Padahal di sana ada Bi Sumi yang tersenyum mendengarnya.


Shevi menoleh dan mengacungkan sendok ke arah Byan. Byan hanya terkekeh melihat reaksi istrinya. Shevi membuatkan segelas susu.


"Ini susunya...." Shevi meletakkannya di samping piring Byan. Shevi lalu duduk dan mengambilkan nasi untuk suaminya. Sebagai istri memang sudah tugasnya melayani suaminya sekarang.


"Yang, apa benar kata Dokter Bambang kamu belum benar-benar pulih??" tanya Byan disela-sela makannya.


Shevi tak langsung menjawabnya. Dia berpikir sejenak.


Aduhhhhh,,,, kenapa harus bertanya tentang ini??? Apa Kak Byan curiga padaku?? Semoga tidak ketahuan..... Batin Shevi.


"Yang, kenapa bengong??" tanya Byan yang memperhatikannya.


"Eh,,,, iya kata Dokter Bambang seperti itu." jawab Shevi yang tak berani memandang Byan.


"Tapi sepertinya lukamu sudah sembuh???" tanya Byan lagi. Dia memang sedikit curiga pada Shevi.


"Siapa bilang??? Masih agak nyeri kok," jawab Shevi masih tetap saja berbohong. Byan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kak, aku ke atas dulu mau siap-siap berangkat kuliah." kata Shevi setelah menyelesaikan sarapannya.


Shevi berangkat kuliah dan tak lupa pamit pada suaminya.

__ADS_1


"Tunggu, yang." panggil Byan. Dia terlihat mengeluarkan dompetnya. Lalu memberikan kartu kredit pada Shevi.


"Untuk apa ini??? Aku punya kok, Kak." Shevi hendak mengembalikannya.


"Aku ini suamimu dan wajib menafkahimu sekarang. Jadi jangan ditolak!" ucap Byan.


"Baiklah. Terima kasih suamiku." Shevi memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya.


"Hanya terima kasih???" tanya Byan. Shevi lalu berdiri di depan Byan. Dengan sedikit berjinjit, dia mencium Byan.


"Aku berangkat...." pamit Shevi.


Setelah Shevi pergi kuliah, Byan masuk ke kamarnya. Dia menelfon Revan untuk memberitahu kalau berangkat agak siang.


Byan bersiap-siap juga untuk berangkat. Tujuannya ke rumah sakit terlebih dahulu. Byan mengemudikan mobilnya agak santai karena baru jam setengah sembilan.


Sesampai dirumah sakit, Byan memarkirkan mobilnya dan masuk menemui Dokter Bambang di ruangannya. Dia mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Selamat pagi, Dok." sapa Byan setelah masuk.


"Ada apa ini??? Kok datang sendiri-sendiri? Kemarin Shevi, sekarang anda??" tanya Dokter Bambang.


"Iya, Dok. Kemarin saya tidak bisa mengantarnya. Jadi sekarang saya ingin bertanya sendiri tentang kondisi istri saya." jawab Byan.


"Bagaimana semalam?? Sukseskan, setelah menunggu selama sebulanan??" tanya Dokter Bambang menggoda Byan.


"Maksud Dokter??" Byan balik bertanya karena tak paham dengan maksud Dokter Bambang.


"Kamu ini! Jangan malu-malu. Bukannya ini yang kamu tunggu-tunggu?? Masa pura-pura tidak tahu??" Dokter Bambang tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Byan dibuat semakin bingung. Dia memang benar-benar tidak tahu yang dimaksud.


"Dok, saya sungguh tidak tahu.." kata Byan dengan wajah seriusnya.


"Jadi kamu memang belum tahu?? Apa Shevi tidak memberitahumu???" tanya Dokter Bambang. Byan hanya menggelengkan kepalanya.


"Mungkin saja Shevi lupa." kata Dokter Bambang asal menebaknya.

__ADS_1


"Karena Shevi sudah pulih, kalian bisa melakukan hubungan suami istri." jelas Dokter Bambang.


"Tidak akan mempengaruhi dari bekas lukanya itukan, Dok???" tanya Byan.


"Tidak. Saya sudah menjelaskan semua pada Shevi." jawab Dokter Bambang.


"Baik, Dok. Terima kasih sudah meluangkan waktu anda untuk saya. Kalau begitu saya permisi." kata Byan sekalian pamit. Dia lalu berdiri dan menyalami Dokter Bambang.


"Tidak masalah. Jangan terlalu sungkan." balas Dokter Bambang sambil bersalaman dengan Byan.


Byan berjalan menuju parkiran. Dia mengepalkan kedua tangannya. Kekecewaan terlihat jelas pada raut wajahnya.


Byan melajukan mobilnya menuju kantornya. Beberapa kali dia memukul stir kemudi. Dia tidak tahu lagi harus marah atau apa pada Shevi yang dengan sengaja menutupi semuanya.


Kantor Byan,


___________


Setelah memarkirkan mobilnya, Byan masuk melalui pintu utama.


"Pagi, Pak Byan." sapa satpam yang berada di depan pintu masuk. Byan yang biasanya ramah, kali ini tak menjawab sapaan itu.


Dia langsung masuk berjalan menuju lift. Para pegawai yang berpapasan dengan Byan pun juga bernasib sama dengan satpam itu.


Byan berjalan melewati meja Mia dan Revan tanpa menyapanya sama sekali. Revan hanya mengernyitkan dahinya melihat Byan yang lewat begitu saja.


Tepat di jam ini ada rapat. Revan masuk ke ruang kerja Byan sambil membawa file-file di tangan kanannya. Dia tidak berani untuk mengajak Byan bercanda saat melihat wajah Byan yang tak bersahabat.


"By, kita ada rapat sekarang. Semua sudah gue persiapkan." kata Revan. Byan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar menuju ruang rapat bersama Revan.


Ditengah jalannya rapat, Byan melampiaskan amarahnya pada semua yang ada di sana. Tak terkecuali Revan. Rapat berjalan sekitar hampir dua jam lamanya. Tapi bagi semua orang yang mengikuti jalannya rapat, satu menit bagaikan satu jam.


Selesai rapat, semua mengelus dada karena merasa lega. Byan keluar diikuti Revan. Byan memasuki ruang kerjanya disusul oleh Revan.


"Lo kenapa sih, By??? Kalau ada masalah, lo cerita ke gue. Jangan lo lampiaskan pada orang yang nggak bersalah!" ujar Revan. Byan hanya diam tak menjawabnya.


Revan menghirup nafas dan membuangnya kasar. Percuma, mau bicara apa saja kalau Byan sedang marah, tak akan didengarkannya. Revan memilih keluar supaya Byan bisa menenangkan diri.

__ADS_1


__ADS_2