
"Aku mencintaimu suamiku. Sangat mencintaimu!! Cuppp......!!" Shevi mengecup bibir suaminya. Byan sendiri kaget dengan inisiatif istrinya itu. Byan membenahkan posisi duduk Shevi agar berhadapan dengannya.
"Aku suka kamu yang agresif seperti ini.." ucap Byan lalu memegang tengkuk Shevi agar menunduk karena posisi Shevi lebih tinggi darinya. Byan mencium bibir Shevi dan m*****tnya. Shevi membuka bibirnya dan Byan mulai memainkan lidahnya di dalam mulut Shevi. Shevi menikmati ciuman dari suaminya yang sudah beberapa hari ini tidak dia rasakan.
Byan semakin memperdalam ciumannya. Dia melepaskan ciumannya ketika melihat Shevi yang mulai kehabisan nafas. Byan lalu turun ke leher Shevi.
"Tunggu, tunggu..!!!" kata Shevi sambil mendorong Byan.
"Apa lagi?? Belum siap?? Takut??" tanya Byan kesal.
"Bukan. Aku ada sesuatu yang ingin aku tanyakan lebih dulu." jawab Shevi.
"Apa????" tanya Byan membuang wajahnya.
"Waktu kita bertengkar, kamu bilang mau cari pelampiasankan??? Kamu sungguh mencari wanita lain untuk melampiaskan hasratmu ya??" tanya Shevi penasaran.
Mendapat pertanyaan itu, membuat Byan tersenyum lebar. Dia tak mengira kalau Shevi akan menganggap serius ucapannya waktu itu.
"Tidak!! Itu hanya menakutimu saja. Aku bukan lelaki seperti itu sayang...." jawab Byan sambil mencubit pipi Shevi karena merasa gemas.
"Lalu kamu kemana?? Kenapa tidak pulang?" tanya Shevi lagi.
"Aku ke cafe dengan Revan. Pulang kok!! Aku tidur di sini, lalu berangkat ke kantor saat Bi Sumi masih tertidur. Jadi tidak ada yang tahu kalau aku pulang. Aku juga sempat ke kamar." jawab Byan.
"Tapi kenapa waktu aku tanya sama Kak Revan, dia bilang tidak bersamamu??" tanya Shevi penuh selidik.
"Aku yang menyuruhnya...." jawab Byan apa adanya.
"Ihhhhh,,, jahat banget...!!! Aku khawatir tahu!!! Sampai aku tidak bisa tidur! Pikiranku kemana-mana!! Memikirkan kamu yang sedang bermesraan dengan wanita lain," Shevi memukuli bahu Byan. Byan hanya tertawa.
__ADS_1
"Awas saja Kak Revan!! Berani-beraninya membohongiku!!" ancam Shevi.
"Sudah bertanyanya?? Bisa lanjutkan??" tanya Byan.
"Tidak. Masih ada lagi." jawab Shevi.
"Apalagi yaaaanggggg...?????" Byan merasa frustasi.
"Perempuan yang bersamamu saat direstoran itu siapa?" tanya Shevi.
"Itu hanya klien, yang!!!" jawab Byan.
"Tapi kenapa dia dekat-dekat kamu???" tanya Shevi lagi.
Byan tak menanggapi pertanyaan istrinya. Kalau diladeni bisa-bisa sampai pagi tidak juga kelar. Sebelum istrinya menghujaninya dengan pertanyaan, dia lalu mencium Shevi. Shevi pun hanya bisa pasrah. Mungkin malam ini saatnya dia menyerahkan seluruh tubuhnya dan juga mahkota yang selama ini ia jaga.
Ciuman Byan semakin panas. Tangannya mulai menggerayangi paha mulus Shevi. Sedangkan bibirnya kini sedang menciumi leher Shevi dan membuat tanda merah di sana. Shevi menggeliatkan tubuhnya sambil mengeratkan tangannya di leher Byan.
"Sudah ikhlas?? Tidak takut??" tanya Byan disela-sela aksinya. Shevi hanya menganggukan kepalanya. Setelah mendapat persetujuan, Byan menarik tali lingerie di pundak Shevi dan langsung terlepas. Bukit kembar itu pun kini terlihat sangat jelas. Byan dengan rakus melahapnya.
"Ahh,,,,, ahhhh,,,," desahan Shevi terdengar saat Byan memainkan pucuk bukit kembar itu. Mendengar desahan istrinya, membuat Byan semakin menggila.
________
Disisi lain,
Bi Sumi yang merasa haus keluar dari kamarnya menuju dapur. Dia melewati ruang kerja Byan. Bi Sumi mendengar suara desahan dari dalam ruangan.
"Ehhhh, suara apa itu??" Bi Sumi menghentikan langkahnya untuk memastikan suara yang didengarnya.
__ADS_1
Bi Sumi membungkam mulutnya sendiri agar tidak bersuara. Dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya lagi. Bi Sumi sudah bisa menebak kalau itu adalah suara Byan dan Shevi yang sedang dimabuk asmara.
_______
Byan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu.
"Jangan di sini.." pinta Shevi.
"Baiklah.." Byan menutupi tubuh Shevi menggunakan jasnya dan menggendongnya keluar. Shevi mengeratkan pelukannya dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Kenapa?? Malu??" tanya Byan. Shevi hanya menganggukkan kepalanya. Byan menaiki tangga dengan cepat. Dia sudah tidak sabar karena juniornya dari tadi sudah berontak.
Byan membuka pintu kamar dan tak lupa menguncinya. Dengan pelan Byan merebahkan tubuh Shevi ke atas ranjang. Dia melucuti Shevi sampai tak tersisa sehelai benang pun di tubuh istrinya.
Byan sendiri melepaskan semua pakaiannya. Lalu dia naik ke ranjang dan kembali mencumbu Shevi. Setelah puas, kini saatnya juniornya yang beraksi. Byan berada di atas Shevi.
"Jangan takut! Aku akan pelan-pelan. Tahan kalau sakit. Setelah itu tidak akan sakit lagi." ucap Byan sambil mencium kening Shevi.
Perlahan namun pasti, Byan menyatukan tubuhnya dengan Shevi. Shevi berteriak kesakitan saat junior Byan mulai masuk dan menembus selaput daranya. Shevi mencengkeram kuat bahu Byan dan mencakarnya karena menahan rasa sakit. Byan melakukannya dengan pelan agar tidak terlalu menyakiti Shevi.
Yang tadinya kesakitan, kini Shevi mulai menikmati permainan suaminya.
"Tidak sesakit tadi kan?" tanya Byan.
"Iya....." jawab Shevi. Melihat Shevi yang tidak kesakitan, Byan mempercepat laju pinggulnya. Desahan keduanya terdengar saling bergantian.
Setelah satu setengah jam lamanya, tubuh Byan bergetar. Dia mengerang panjang dan akhirnya Byan melepaskan benih di dalam rahim Shevi.
"Terima kasih sayang. Aku mencintaimu!!" Byan menciumi wajah Shevi. Byan lalu merebahkan tubuhnya di samping Shevi. Sedangkan Shevi sudah tertidur lelap.
__ADS_1
Baru istirahat selama dua jam, Byan kembali beraksi. Seakan-akan ini adalah pelampiasannya selama sebulan lebih. Dia menggagahi Shevi yang terlihat sudah kelelahan meladeni suaminya.
Dimalam yang panjang ini, Byan melakukannya sampai tiga ronde. Dia akhirnya kelelahan dan tertidur memeluk Shevi.