
Sudah hampir dua minggu Shevi dirawat di rumah sakit. Dia merasa sangat jenuh. Kadang dia ditemani oleh Ibunya kalau Byan pergi ke kantor. Byan sendiri juga tidak bisa terus-terusan mengandalkan Revan dan membebankan semua pekerjaannya. Jadi, kadang-kadang dia pergi ke kantor walaupun hanya setengah hari.
Selesai makan siang, Revan membawa beberapa file ke ruangan Byan. Dia duduk di depan meja kerja Byan sambil menyerahkan file yang dibawanya.
"Shevi kapan diperbolehkan pulang, By???" tanya Revan yang berada di dalam ruang kerja Byan.
"Belum tahu. Nanti coba gue tanya sama Dokternya." jawab Byan sambil menatap layar laptopnya.
"Yaahhhhh, semoga cepat pulang. Gue kesepeian. Biasanya kalau malam minggu, gue ke rumah lo. Tapi sekarang?????" ujar Revan yang memainkan pulpen di tangannya.
"Makanya cepat cari pacar biar nggak kesepian. Kaya gue dong!!!! Udah halal, nggak akan kesepian lagi." kata Byan menepuk dadanya dan menyombongkan dirinya.
"Ciiiihhhhhhhhhh...!!!!!! Nggak usah sombong lo!!!! Memang benar udah halal, tapi tetap saja lo belum menjebol gawang..!!! Apa yang harus lo banggakan coba???? Hahahahaaaa....." ledek Revan sambil tertawa terbahak-bahak. Dia benar-benar puas bisa meledek Byan.
"Terus aja tertawa....!!! Ini juga karena ada halangan. Bukan karena gue nggak perkasa!!!" balas Byan tak terima karena terus diledeki Revan.
"Seperkasa apa lo??? Paling baru 10 menit udah loyo....! Hahahhahaaa" ledek Revan lagi. Revan tak mau melewatkan kesempatan emas untuk terus menggoda bosnya itu.
"Sialan lo, Van!!!! Kita lihat saja nanti!!" kata Byan penuh dengan percaya diri.
"Ok, kita lihat siapa orang yang akan cari obat kuat nantinya!!!!" ujar Revan sambil memegangi perutnya yang sakit karena terus-terusan tetawa.
Byan mengepal-ngepal kertas yang ada di mejanya lalu dilemparkanya ke Revan. Tapi Revan menghindar, sehingga tidak kena. Byan menutup laptopnya lalu menatap Revan serius.
"Oiyaaa, Keysa dijatuhi hukuman berapa tahun, Van????" tanya Byan.
"10tahun penjara." jawab Revan.
"Kok cuma 10tahun???? Harusnya lebih dong!!!" kata Byan.
"Itu udah keputusan. Nggak bisa diganggu gugat!! Menurut gue, itu juga udah sesuai dengan perbuatan Keysa!" ujar Revan.
Mereka lanjut ngobrol sampai tak terasa sudah jam 14.30. Byan sampai lupa waktu. Dia bergegas meninggalkan perusahaan dan langsung menuju ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, Byan tidak langsung ke kamar Shevi. Dia masuk ke ruangan dokter yang menangani Shevi.
"Sore, Dok." sapa Byan.
__ADS_1
"Sore, Pak Byan. Ada apa ini???" tanya Dokter itu.
"Saya mau tanya, kapan istri saya boleh pulang ya, Dok??" tanya Byan.
"Kebetulan saya baru saja memeriksa kembali Shevi. Kondisinya sudah sangat baik. Besok sudah diperbolehkan pulang." jawab Dokter itu. Byan terlihat sangat senang mendengarnya.
"Baik, Dok. Terima kasih. Kalau begitu, saya permisi dulu." kata Byan lalu meninggalkan rungan Dokter itu.
Dia berjalan agak cepat menuju kamar tempat Shevi dirawat. Dia sudah tidak sabar ingin memberitahu berita ini pada istrinya. Dan pastinya akan membuat Shevi senang kalau mendengarnya.
Byan membuka pintu kamar Shevi.
"Sa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,," Byan tak melanjutkan memanggil Shevi.
"Ngapai kamu ke sini lagi?????" tanya Byan pada Alvin yang entah sejak kapan sudah berada di sana.
"Jangan salah paham dulu, By. Aku ke sini khusus untuk meminta maaf pada istrimu." jawab Alvin.
"Jangan sok perhatian, Vin!!! Aku tahu maksud kamu. Kamu ke sini hanya untuk meminta istriku mencabut laporankan???" tanya Byan penuh selidik. Dia tidak akan mudah percaya lagi pada Alvin.
"Kalau begitu, aku pulang dulu." pamit Alvin lalu keluar dari kamar Shevi.
"Sayang,,,, dia tidak minta apapun dari kamu kan???" tanya Byan.
"Tidak, dia ke sini memang minta maaf padaku." jawab Shevi. Byan merasa lega dengan jawaban Shevi.
"Aku punya kabar bahagia buat kamu, yang." kata Byan.
"Apa????" tanya Shevi yang terlihat sangat antusias. Dia tak sabar ingin mendengarnya.
"Besok, kamu sudah boleh pulang....." jawab Byan. Dia melihat ekspresi istrinya yang biasa-biasa saja.
"Kok nggak senang, yang?????" tanya Byan.
"Kirain kabar apaan...!!! Kalau itu, Ibu dan Shevi juga sudah tahu. Tadi Dokter sendiri yang bilang waktu memeriksa Shevi." sahut Dian.
"Yaahhhhhhh,,,,, ternyata yang aku bawa kabar basi....." ujar Byan.
__ADS_1
"Apanya yang basi??? Aku senang kok. Yang terpenting, aku besok pulang." kata Shevi.
"Aku sudah tidak sabar serumah denganmu, yang!!" kata Byan. Dia membayangkan menjalani kehidupan berumah tangga bersama Shevi.
"Shevi kan belum sepenuhnya pulih. Bagaimana kalau kalian tinggal dulu di rumah Ibu???" tanya Dian yang pasang wajah sedihnya.
Dia belum rela kalau harus jauh dari putrinya. Putri yang ia besarkan, dan sudah menemaninya selama 21tahun.
"Bu,,,,,, jangan sedih!!! Kalau Ibu kangen kan bisa ke rumah Kak Byan. Atau aku yang akan menjenguk Ibu ke rumah." jawab Shevi sambil menciumi punggung tangan Ibunya.
Dian menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Dia paham kalau sekarang putrinya sudah menjadi tanggung jawab suaminya.
Keesokan harinya,
________________
Seperti kata Dokter, kalau Shevi sudah diperbolehkan pulang hari ini. Dian membantu Byan mengemasi baju-baju Shevi dan perlengkapan yang dibawanya.
Karena dikabari oleh Shevi kalau dia pulang hari ini, Reni segera meluncur ke rumah sakit. Sebagai sahabat dekat, dia tidak mau ketinggalan. Sesampai di rumah sakit, dia berlari kecil menuju kamar Shevi. Karena kurang fokus, dia menyenggol seorang laki-laki yang berjalan di depannya.
"Upssssss, sory........" kata Reni pada laki-laki yang disenggolnya.
"Kamu.......?????? Vano kan????" tanya Reni. Dia mencoba memastikan salah orang atau tidak.
Setelah dia amati, itu memang benar Vano yang pernah dia maki-maki semasa SMA karena menyakiti sahabatnya yang tak lain adalah Shevi. Ya, Vano adalah mantan Shevi waktu SMA.
"Iya, aku Vano. Kamu kalau tidak salah, temannya Shevi ya???" tanya Vano. Dia mencoba mengingat-ingat, tapi dia lupa dengan nama Reni.
"Yap..!!! Aku Reni, sahabat dari Shevi, mantan kamu yang pernah kamu sakiti!!!" jawab Reni mencoba mengingatkan kembali kenangan yang telah lalu.
"Jangan ungkit itu lagi!!! Aku jadi merasa bersalah." kata Vano.
"Oiyaaa, bagaimana kabar Shevi????" tanya Vano.
Reni melihat ponselnya yang sudah beberapa kali ditelfon oleh Shevi.
"No, sory!!! Aku buru-buru nih....!! Aku duluan ya???? Bye........" Reni meninggalkan Vano. Dia belum sempat menjawab pertanyaan dari Vano.
__ADS_1