
Selesai makan malam, Shevi lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya. Karena merasa gerah, dia lalu mandi. Setelah dua puluh menit, Shevi keluar memakai handuk yang membalut bagian dada sampai paha.
Shevi duduk di tepi ranjang. Dia meraih lingerie yang dibelikan oleh Reni. Dilihat-lihatnya lagi baju tidur yang menurutnya sangat terbuka itu.
"Apa gue memang harus memakai ini? Kalau tidak berhasil gimana?" Shevi merasa ragu.
"Kak Byan pulang..." kata Shevi saat mendengar suara mobil suaminya.
Di lantai bawah,
______________
Byan baru saja masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh Bi Sumi.
"Shevi sudah pulang Bi?" tanya Byan pada Bi Sumi.
"Sudah, Den. Mungkin sekarang sudah tidur. Den Byan mau makan? Biar saya hangatkan lagi makanannya." ucap Bi Sumi.
"Tidak usah, Bi. Kebetulan tadi sore sudah makan dengan Revan di kantor. Jadi sekarang masih kenyang." jawab Byan.
"Mau minum apa, Den? Bibi buatkan ya?" tanya Bi Sumi lagi.
"Nanti aku buat sendiri saja, Bi. Sudah malam. Bi Sumi lebih baik istirahat." perintah Byan. Bi Sumi pun menurut dan masuk ke dalam kamarnya.
Byan masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia duduk di kursi dan kembali membuka laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai.
Di kamar,
__ADS_1
________
Shevi berdiri di depan cermin dengan memakai baju tidur yang super sexy dan transparan itu. Dia menyerongkan tubuhnya ke samping kanan.
"Ini sama saja tidak pakai baju. Bagian dada terlalu terbuka," ucapnya sambil memperhatikan dirinya sendiri. Sudah hampir setengah jam dia bercermin.
"Aduh,,,, gue bingung! Ikut saran Reni enggak ya?? Demi Kak Byan supaya nggak marah lagi, gue harus nekat!! Terserah mau dibilang gimana. Semangat,,, semangat...!!" Shevi menyemangati dirinya sendiri. Walaupun menurutnya itu hal yang sangat memalukan.
"Pasti Kak Byan ada di ruang kerjanya. Mendingan aku pura-pura mengantar teh panas buat dia." ucapnya.
Shevi keluar dari kamarnya. Dia mengamati dari atas, Bi Sumi sudah tidur atau belum. Dengan perlahan dia menuruni tangga. Dilihatnya kamar Bi Sumi yang sudah gelap. Pertanda kalau Bi Sumi sudah tidur.
Shevi mengendap-endap berjalan ke dapur. Dia membuat teh sambil celingak-celinguk.
"Aman,,,,,, aman....!! Situasi mendukung! Heheheee...." ucapnya cengengesan.
Shevi membawa secangkir teh ke ruang kerja Byan. Dia berhenti di depan pintu. Dag dig dug,,, jantungnya berdegup sangat kencang.
"Bi, sudah aku bilang, Bibi istirahat saja. Nanti Byan bisa membuatnya sendiri." kata Byan tanpa melihat siapa yang datang.
"Aku buatkan teh hangat. Diminum dulu, Kak!" Shevi menaruh secangkir teh di atas meja kerja Byan.
Mendengar suara istrinya, Byan lalu mengangkat kepalanya.
Glekkkkk,,,,,,,!!!! Terlihat jakunnya bergerak naik turun karena menelan salivanya.
Byan masih terpaku melihat istrinya berpakaian seperti itu. Lekukan tubuh istrinya terlihat di balik lingerie transparan yang dikenakan Shevi. Dia menatap Shevi dari atas ke bawah. Matanya tak berkedip sama sekali.
__ADS_1
Sumpah,,,,, sumpah.....!!!! Gue malu banget...!!! Kenapa menatapku seperti itu?? Apa ada yang aneh?? Gumam Shevi dalam hati. Sebenarnya dia sangat malu karena melakukan hal gila seperti ini.
"Eeeeee,,, aku mau ke kamar lagi. Jangan lupa diminum tehnya!" kata Shevi.
Saat akan membalikkan badan, tangannya ditarik oleh Byan dan Shevi pun terjatuh ke dalam pelukan suaminya. Byan mendudukkan Shevi di atas pangkuannya.
"Setelah menggodaku, kamu mau pergi begitu saja???" tanya Byan sambil menciumi pundak Shevi yang terbuka.
"Ti,,, tidak...!!! Lagian siapa yang menggoda??" jawab Shevi dengan membuang mukanya. Dia tak berani menatap mata suaminya.
"Lalu, kenapa berpakaian seperti ini??" tanya Byan.
"Ini,,, ini karena aku merasa gerah...!!" jawab Shevi berbohong.
"Yakin gerah?? Padahal ac di sini menyala lho!! Aku saja kedinginan," ucap Byan.
"Iya. Aku memang merasa gerah," kata Shevi. Padahal dia sangat kedinginan saat ini. Dia tidak mau ketahuan kalau memang sengaja memakai lingerie untuk suaminya.
"Masa????" tanya Byan yang tak henti-hentinya menggoda Shevi.
"Kamu sudah tidak marah lagi kan??" tanya Shevi mencoba mengalihkan pembicaraannya.
"Aku sudah bilang, aku tidak marah. Aku hanya kecewa. Kalau aku marah, ngapain juga kemarin malam aku menyusulmu ke rumah Ibu??" jelas Byan. Shevi menganggukan kepalanya dan berpikir kalau itu masuk akal.
"Tapi kenapa kamu menghindariku dan mendiamkanku???" tanya Shevi manja sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Byan.
"Ya, biar kamu sadar dengan kesalahanmu. Melayani suami itu hukumnya wajib!" jawab Byan.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Bukannya aku tidak mau melayani, tapi aku masih takut." ujar Shevi.
"Aku sudah memaafkanmu." jelas Byan sambil tangannya memegang kedua pipi Shevi. Shevi merasa lega karena Byan tidak marah lagi.