
Pukul 04.45 pagi, Byan bangun dari tidurnya dan mendapati Shevi yang tidur memeluknya erat. Byan tersenyum lebar karena seperti inilah yang selalu ia harapkan saat bangun dari tidurnya.
Perlahan, Byan menyingkirkan tangan Shevi yang melingkar di pinggangnya. Dia lalu beranjak dari tidurnya menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Byan keluar dari kamar mandi lalu mendekati Shevi yang masih tertidur pulas.
"Aku tinggal dulu, yang.." ucap Byan sambil mengusap rambut Shevi dan tak lupa meninggalkan sebuah kecupan di kening istrinya.
Sekesal-kesalnya dengan Shevi, Byan masih selalu menunjukkan sisi romantisnya walaupun itu terjadi saat Shevi tidur. Kalau Shevi dalam posisi sadar, Byan akan melanjutkan kekesalannya dan mendiamkan Shevi.
Byan keluar dari kamar Shevi. Dia menghampiri Ibu mertuanya yang sedang menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak untuk sarapan pagi.
"Bu, Byan pulang dulu." pamit Byan pada Dian.
"Ini masih gelap lho. Masih jam berapa ini? Nanti saja, sekalian sarapan bareng ya?" ajak Dian.
"Maaf sebelumnya, Bu. Bukannya Byan tidak mau. Tapi waktu Byan memang sangat mepet. Byan harus pulang dulu, setelah itu ke kantor. Banyak memakan waktu, Bu." ujar Byan.
"Ya sudahlah. Kamu hati-hati di jalan ya? Kapan-kapan sarapan bersama di sini ya?" kata Dian.
"Iya, Bu. Kakek dimana?" tanya Byan.
"Biasanya sih di halaman depan jalan-jalan pagi." jawab Dian. Byan lalu mencium punggung tangan Dian.
Di halaman depan, Byan melihat Sofyan yang tengah berlari kecil mengelilingi halaman.
"Kek.." panggil Byan. Sofyan menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Byan.
"Ada apa, By? Mau temani Kakek lari?" tanya Kakek Sofyan. Byan berjalan mendekati Kakek Sofyan.
"Byan mau pulang dulu, Kek. Mau ke kantor lebih awal. Byan janji, kapan-kapan pasti akan menemani Kakek lari pagi." jawab Byan sambil tersenyum pada Sofyan.
"Kakek akan ingat janjimu itu," kata Sofyan.
"Pasti, Kek.." Byan pamit dan nencium tangan Sofyan.
______
__ADS_1
Sinar matahari pagi masuk menembus jendela kaca kamar Shevi karena gordyn yang tak ditutup. Karena silau, Shevi menutup matanya dengan telapak tangannya. Shevi merasa malas untuk bangun. Mumpung di rumah Ibunya, kesempatan untuk bangun siang. Setelah dia tinggal di rumah Byan, dia selalu bangun pagi sekali.
"Wuuaahhhhh,,,, nyaman banget tidur gue semalam!" ucapnya sambil menguap.
"Tunggu!! Bukannya gue ketiduran di sofa depan televisi? Kok jadi di kamar? Masa iya, Ibu yang menggendongku? Memangnya kuat?" Shevi masih bingung dan bertanya-tanya.
Hidungnya mengendus-endus mencium sebuah aroma maskulin yang sangat ia kenal.
"Kok seperti wanginya Kak Byan?? Ahhh, mungkin hanya perasaanku saja!" ucapnya lalu turun dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Dian duduk di kursi meja makan menunggu putrinya yang tak kunjung turun. Perutnya sudah keroncongan dari tadi. Ingin sekali dia ke kamar Shevi untuk membangunkannya, tapi Dian paham kalau mungkin putrinya kelelahan setelah berolah raga malam dengan Byan. Itu yang ada dipikiran Dian saat ini.
"Papa makan saja dulu. Tidak usah menunggu Shevi!" ucapnya pada Papanya.
"Baiklah. Tapi kamu nanti temani Shevi makan ya? Kasihan kalau sendiri." perintah Sofyan.
"Iya, Pa." jawab Dian.
Selesai sarapan, Sofyan lalu berangkat ke kantor. Sedangkan Dian masih setia menunggu Shevi.
"Pagi, Bu...." sapa Shevi lalu mencium pipi Ibunya dan duduk berhadapan dengan sang Ibu.
"Maaf, Bu. Lagian kenapa Ibu tidak makan duluan?" tanya Shevi.
"Ya Ibu lagi pengin makan bareng sama kamu. Sekarang jarangkan bisa sarapan sama kamu?" jawab Dian.
"Ini juga kesempatan Shevi untuk bangun siang, Bu. Di rumah Kak Byan, Shevi bangunnya pagi terus," terang Shevi.
"Ya itu memang tugas seorang istri harus bangun pagi mempersiapkan semuanya!" kata Dian.
"Bukannya bangun kesiangan karena kelelahan tadi malam buat cucu untuk Ibu?" tanya Dian sambil menggerak-gerakkan sebelah alisnya.
Shevi membelalakkan matanya. Dia tak paham dengan yang ditanyakan Ibunya.
"Maksud Ibu??" tanya Shevi lalu menghentikan makannya.
"Jangan pura-pura tidak paham. Kemarin Byan menyusul ke sini. Masa kamu tidak tahu?" jelas Dian.
__ADS_1
"Aku memang tidak tahu, Bu. Berarti yang membawaku ke kamar itu Kak Byan? Kirain Ibu yang menggendongku?" tanya Shevi.
"Ihhhhh, kurang kerjaan banget Ibu gendong kamu. Mending Ibu seret dari pada harus menggendongmu!" ucap Dian.
"Ibu semena-mena banget sama anak sendiri?? Ibu tidak bohongkan kalau Kak Byan ke sini?" tanya Shevi ragu.
"Ini anak diberi tahu tidak percaya!" Dian tak terima.
Pantas saja, gue seperti mencium aroma tubuh Kak Byan. Tapi, setelah gue bangun kenapa tidak ada? Lalu kenapa dia tidak membangunkanku? Apa masih marah? Batin Shevi.
"Malah bengong!!" Dian melambai-lambaikan tangannya di depan wajah putrinya yang entah pikirannya sedang melayang kemana.
"Sekarang Kak Byan kemana?" tanya Shevi .
"Dia bangun pagi sekali. Katanya mau ke kantor lebih awal." jawab Dian.
Ahhhh, pasti dia pergi pagi karena menghindariku... Gumam Shevi.
"Gimana? Kamu sudah telat belum?" tanya Dian yang sangat berharap kalau Shevi segera hamil.
"Telat apaan?? Melakukan aja belum." jawab Shevi dengan jujur.
"Uhukkkkk,,,,, uhuukkkkk,,, uhuukkkk,,," Dian yang sedang memeguk air minum pun tersedak mendengar jawaban Shevi.
"Kamu serius?" tanya Dian seakan tak percaya.
"Seriuslah...." jawab Shevi tanpa dosa.
"Kamu gimana sih?? Lalu kapan Ibu menimang cucunya? Pokoknya Ibu tidak mau tahu! Kamu harus cepat hamil!!" ucap Ibunya dengan penuh tekanan.
"Nanti Bu setelah selesai kuliah. Beberapa bulan lagi juga wisuda. Jadi mikirin cucunya nanti saja ya???" ujar Shevi.
"Shevi..!!!" bentak Ibunya.
"Iya,,, iya, Ibuku tersayang....!!!" ucap Shevi. Dia takut kalau Ibunya sudah marah.
"Kamu tidak kuliah??" tanya Dian.
__ADS_1
"Tidak, Bu. Inikan hari jum'at. Shevi sekarang banyak liburnya." jawab Shevi.
Dian terus melanjutkan perbincangannya. Sekalian melepas rindu pada putrinya karena sekarang jarang bertemu.