
Byan dan Shevi tiba di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang Dokter kandungan karena Byan sudah membuat janji dengan Dokter Evi. Dia sengaja memilih dokter perempuan agar istrinya tidak disentuh oleh pria lain.
Tok,,, tok,,, tok....
"Masuk!" kata Dokter Evi dari dalam ruangannya.
"Sore, Dok." sapa Byan.
"Sore juga, Pak Byan. Silahkan duduk." balas Dokter Evi.
Dr. Evi mulai bertanya pada Shevi terakhir kali haid. Shevi menjawab secara detail.
"Berapa usia kandungan istri saya, Dok? Anak saya sehatkan?" tanya Byan yang terlihat tidak sabaran.
"Usia kandungan istri Pak Byan baru empat minggu. Kita usg dulu agar tahu kondisi janinnya." kata Dr. Evi.
Perawat membawa Shevi pindah ke ruang sebelah dan menyuruh untuk berbaring. Byan mengikuti dari belakang.
"Kamu kenapa ikut?" tanya Shevi.
"Aku juga ingin tahu anakku, yang." jawab Byan sambil duduk dan menggenggam tangan Shevi.
Perawat itu menaikan baju Shevi kemudian mengoleskan gel di perut Shevi. Dr. Evi duduk lalu menempelkan alat transduser USG ke perut Shevi. Gambar di layar nampak ada gumpalan kecil mungkin kurang dari besar biji kacang hijau.
"Nah,, ini embrionya. Masih kecil karena usia kandungan baru empat minggu." terang Dr. Evi dengan keramahannya.
"Kok belum ada tangan, kaki, kepala? Jenis kelaminnya apa, Dok?" tanya Byan dengan polosnya. Shevi hanya menepuk jidat mendengar pertanyaan suaminya itu.
"Memang belum. Nanti diusia janin tujuh minggu baru membentuk. Jenis kelamin belum terlihat." jelas Dr. Evi sambil tersenyum melihat kepolosan Byan. Byan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia sangat fokus memperhatikan gambar di layar.
__ADS_1
Selesai USG, perawat membersihkan sisa gel di perut Shevi. Byan dan Shevi kembali ke ruangan Dr. Evi. Perawat datang dan membawa foto hasil usg tadi. Dr. Evi memberikan vitamin dan juga obat pengurang rasa mual.
"Terima kasih, Dok. Sudah meluangkan waktu untuk kami." ucap Byan.
"Tidak apa-apa." jawab Dr. Evi. Byan dan Shevi berjabat tangan dengan Dr. Evi lalu keluar meninggalkan ruangan itu.
Tak lupa mereka memberitahukan kabar gembira ini pada orang-orang terdekat.
_______
Dua minggu kemudian, Shevi merasakan mual setiap pagi dan sore. Setiap kali makan, pasti akan dimuntahkannya kembali. Sampai tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Bi Sumi yang melihatnya merasa kasihan. Dia menelfon Ibu dari Shevi untuk datang.
Tak perlu menunggu lama, Dian tiba di rumah Byan. Di lalu menuju kamar Shevi dan melihat putrinya yang terbaring lemas dan terlihat sangat pucat.
"Kamu coba makan lagi ya?" Dian mengambil semangkuk bubur dan menyuapi Shevi.
"Tidak, Bu. Pasti muntah lagi." tolak Shevi.
Dian hanya duduk di tepi ranjang memandangi putrinya yang tengah tertidur. Dia kembali teringat saat ia hamil Shevi juga seperti ini.
"Bu, sudah lama?" tanya Byan yang juga baru sampai setelah ditelfon oleh Bi Sumi. Dia terlihat tergesa-gesa dan sangat panik.
"Baru saja, By." jawab Dian.
"Saya sudah menelfon Dr. Evi. Sebentar lagi pasti ke sini." kata Byan. Diperjalan pulang, dia menyempatkan menelfon Dr. Evi dan memberitahukan kondisi istrinya.
"Kasihan Shevi. Wajahnya sampai pucat." imbuh Byan. Dian sendiri terlihat sangat santai karena dia pernah mengalaminya bahkan lebih parah lagi.
Dr. Evi pun tiba dan segera memeriksa Shevi.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok?" tanya Byan dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.
"Tidak apa-apa. Ini normal-normal saja untuk trimester pertama. Nanti masuk trimester kedua juga akan hilang mual-mualnya." jelas Dr. Evi.
"Tapi harap diperhatikan makannya. Walaupun mual, tetap harus makan. Coba sedikit-sedikit, tapi sering. Bayinya juga butuh asupan makanan." lanjut Dr. Evi sambil menulis resep.
"Ini resepnya. Kalau begitu, saya permisi dulu." pamit Dr. Evi yang diantar oleh Dian.
Byan duduk di tepi ranjang. Dia mengusap pipi istrinya.
"Sini! Tidur sambil peluk aku." pinta Shevi.
"Malu, yang. Masih ada Ibu." tolak Byan.
"Ahh, kamu nyebelin." Shevi ngambek lalu membalikkan badannya membelakangi Byan.
"Yang, jangan gini dong. Bukannya aku tidak mau. Malu kalau Ibu nanti masuk dan lihat kita peluk-pelukan di atas tempat tidur." jelas Byan.
Shevi hanya diam tak menanggapinya. Dia menjadi lebih sensitif dan manja. Byan akhirnya mengalah lalu berbaring di sisi Shevi sambil memeluknya.
"Enggak ngambek lagikan?" tanya Byan. Shevi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun! Kalian ini, siang-siang mesra-mesraan di ranjang." ujar Dian yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Ini, Bu. Shevi yang minta. Masa minta dipeluk. Kalau tidak dituruti ngambek." jelas Byan sambil bangkit dari tidurnya karena merasa tak enak pada ibu mertuanya.
"Itu mending Shevinya maunya nempel terus sama kamu. Kalau Ibu dulu benci banget sama papanya Shevi. Sekamar saja, Ibu tidak mau." kata Dian mengingat-ingat waktu dia awal hamil.
"Dengar kata Ibu." sahut Shevi.
__ADS_1
"Iya. Sekarang kamu makan lagi ya. Kamu dengar kata Dr. Evi tadikan?" kata Byan lalu menyuapi istrinya. Baru beberapa suapan, Shevi berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan semua isi di perutnya.