
Empat bulan kemudian,
Jam tiga sore, Shevi dan Reni keluar dari gedung tempat dilaksanakannya wisuda. Mereka tampak bahagia setelah selama delapan semester menempuh pembelajaran akhirnya terbayarkan. Rasa bahagia bercampur bangga tersirat di wajah keduanya.
"Selamat sayang." ucap Byan sambil memeluk Shevi dan memberikan sebuket bunga pada istrinya. Kecupan hangat mendarat di kening Shevi.
Dian dan Sofyan tak mau ketinggalan. Mereka juga mengucapkan selamat pada Shevi.
"Akhirnya cucu Kakek selesai juga kuliahnya," ujar Sofyan sambil mengusap kepala Shevi.
"Ren, selamat ya." ucap Dian pada Reni yang sedang berpelukan dengan kedua orang tuanya.
"Terima kasih, Tante." balas Reni.
"Shevi, selamat ya??" ucap Mamanya Reni.
"Iya, Tante." balas Shevi.
"Bu, kalian pulang saja dulu. Shevi mau merayakan kelulusan dengan Reni." kata Shevi pada ibu dan kakeknya.
"Baiklah. Ibu dan Kakek pulang dulu. Nanti pulang ke rumah Ibu. Kita rayakan juga di rumah." ucap Dian.
"Ok, Bu." sahut Shevi sambil mengacungkan jempolnya. Dian dan Sofyan pun pulang.
"Ren, Mama dan Papa pulang dulu." kata kedua orang tua Reni.
"Iya, Ma." jawab Reni.
Kini tinggal Shevi, Byan dan Reni. Mereka berjalan menuju mobil milik Byan. Shevi dan Reni duduk di belakang.
"Wah, berasa supir ini." ucap Byan.
"Iya, suamiku pantas jadi supir. Hahahahaa..." ledek Shevi sambil tertawa dan diikuti oleh Reni.
"Mau kemana?" tanya Byan.
"Belum tahu mau kemana. Kita cari sambil jalan aja." lanjut Shevi.
__ADS_1
Mobil Byan melaju menyusuri jalan raya. Matanya melihat ke kanan dan ke kiri mencari restoran atau cafe.
"Itu di depan sepertinya ada cafe deh. Kita ke sana saja, Kak. Aku keburu lapar." kata Shevi. Byan menyalakan lampu sein ke kiri dan memasuki sebuah cafe. Mereka bersama-sama turun dari mobil. Shevi dan Reni masih memakai kebaya usai wisuda tadi.
"Kita duduk sana saja." kata Byan sambil menunjuk meja yang ada di pojokan.
"Kalian duluan. Aku ke toilet sebentar." lanjut Byan. Shevi dan Reni berjalan menuju meja yang dipilih Byan. Mereka memesan makanan. Tak lupa Shevi memesankan menu yang sama untuk suaminya.
"Haii, Ren. Kita ketemu lagi." sapa orang yang baru datang dan berdiri tepat di belakang Shevi. Reni mengangkat kepalanya menatap orang yang menyapanya itu.
"Siapa?" tanya Shevi dengan suara pelan. Reni hanya diam. Dia bingung sendiri harus menjawab apa.
"Ren,," panggil Shevi. Karena Reni masih saja diam, Shevi menoleh ke belakang. Matanya beradu dengan orang yang berada di belakangnya.
"Shevi...." orang itu kaget dan tak menyangka.
"Van,, Vano??" Shevi tak kalah kagetnya. Shevi tak mengira akan bertemu dengan mantan pacarnya setelah bertahun-tahun lamanya.
Tanpa di suruh, Vano lalu duduk di samping Shevi. Shevi cemas kalau Byan kembali dari toilet dan melihat ada laki-laki di dekatnya, bisa gawat!.
"Apa kabar, Shev?? Sudah lama aku mencari kamu." kata Vano sambil menggenggam tangan Shevi.
"Aku minta maaf pernah menyakitimu. Kalau boleh jujur, aku masih ada rasa padamu, Shev. Beri aku kesempatan lagi, Shev." kata Vano. Reni yang melihat dan mendengar itu hanya menepuk jidatnya.
"Yang,," panggil Byan yang sudah berdiri di sampingnya. Dengan cepat, Shevi menarik tangannya.
Gawat,,,,,,, gawat,,,!!! Perang dunia ini!!! Gumam Reni dalam hatinya. Dia mengusap wajahnya.
"Ehh, sayang. Kok cepat banget ke toiletnya?" tanya Shevi.
"Kenalkan, ini suamiku." Shevi memperkenalkan Byan pada Vano.
"Kamu jangan bercanda, Shev." Vano tak percaya.
"Bercanda apanya?? Lihat cincin yang melingkar di jari mereka!" sahut Reni sambil menunjuk cincin di jari Shevi dan Byan.
Vano langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan tempat itu tanpa pamit. Shevi dan Reni hanya bisa memandang heran pada Vano.
__ADS_1
"Itu orang kenapa?" kata Reni sambil mengerutkan dahinya. Shevi hanya mengangkat kedua bahunya.
"Ayo duduk, Kak. Aku sudah pesan makanan kesukaanmu lho." ucap Shevi. Byan lalu duduk dan tak menanggapi Shevi. Wajahnya terlihat suram.
"Kenapa? Kok cemberut?" tanya Shevi sambil mencubit pipi suaminya.
Sudah dia kira kalau Byan akan marah. Harus bekerja ekstra lagi untuk meluluhkan amarah suaminya.
Reni melihat meja yang ada di sudut ruangan itu. Terlihat Revan sedang makan dan bercanda dengan wanita yang pernah ia lihatnya. Senyum pahit terukir di bibirnya.
Tadinya ia membatalkan untuk kuliah ke luar negeri. Setelah melihat itu, ia semakin mantap untuk pergi.
"Ren, lo lihat apa sih? Kok bengong?" tanya Shevi.
"Enggak kok!" jawab Reni.
Mereka lanjut makan. Sesekali Shevi melirik suaminya yang dari tadi hanya diam.
"Shev, habis ini kita langsung aja ya?? Capek banget." ujar Reni.
"Iya. Sama!" sahut Shevi.
Selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Saat berjalan sampai pintu keluar, ada suara yang memanggil Byan.
"Byan..!!" panggil Revan dari mejanya. Revan lalu mendekati Byan. Ajeng pun menyusul Revan.
"Shev, gue pulang duluan." pamit Reni.
"Ren, bareng gue aja!" Shevi menarik tangan Reni.
"Gue naik taksi aja. Kita kapan-kapan kumpul bareng lagi." kata Reni.
"Hai, Ren." sapa Revan sedikit canggung. Reni hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi.
"Ren," Shevi mengejar Reni.
"Ren,, Ren! Tunggu gue!" Shevi kembali meraih tangan Reni.
__ADS_1
"Gue enggak apa-apa, Shev. Jangan khawatirin gue. Gue hanya merasa capek. Kita ketemu besok." kata Reni lalu masuk ke dalam taksi.
"Lo bohong, Ren!" ucap Shevi lirih. Dia lalu kembali ke dalam.