
Setelah satu minggu, kaki Shevi sudah tak nyeri lagi. Hanya tinggal memar kebiruan dilututnya. Dia sudah beraktivitas seperti biasa. Bahkan sebelum dia berangkat kuliah, pagi ini Shevi menyempatkan lari beberapa putaran mengitari komplek rumahnya.
Dian menghadang putrinya di depan gerbang. Ditengoknya ke jalan, tapi Shevi belum juga terlihat. Dian masih mencemaskan kaki Shevi. Saat melihat putrinya dari kejauhan, Dian mengisyaratkan pada Shevi agar menyudahi lari paginya.
"Tanggung, Bu. Satu putaran lagi." kata Shevi berhenti tepat di depan Ibunya.
"Nanti kamu telat kuliahnya. Kamu tidak lihat ini sudah jam berapa???" tanya Ibunya.
Shevi mengeluarkan ponselnya dan melihat jam.
"Astagaaaa,,,,,!!!" Shevi berlari masuk ke dalam rumahnya. Shevi bersiap untuk berangkat kuliah.
*
Shevi berencana datang ke perusahaan Byan. Karena jam makan siang di kantor Byan sudah lewat, Shevi menyempatkan mampir di toko kue. Dia membeli cake kesukaan Byan. Shevi sengaja tidak memberitahukan kedatangannya.
"Siang, Kak Revan. Siang, Mbak Mia." sapa Shevi saat melewati meja Revan dan Mia.
"Ehhhh,,, siang, Shev.." sapa balik Revan.
"Siang, Shevi." Mia juga menyapa Shevi.
"Ini ada kue buat Kak Revan dan Mbak Mia." Shevi menaruh di atas meja Revan.
"Makasih, Shev. Sering-sering ya. Heheheee." kata Revan sambil cengengesan.
"Jangan didengarkan Shev. Revan suka gitu. Enggak tahu malu." sahut Mia yang sudah hafal dengan rekan kerjanya itu.
"Kak Byan ada?" tanya Shevi.
"Ada. Kamu langsung masuk saja." jawab Revan dan Mia bersamaan.
Sebelum masuk, Shevi mengetuk pintu terlebih dahulu. Setelah ada jawaban dari Byan, Shevi lalu masuk. Dia berdiri di hadapan Byan yang masih sibuk menatap layar laptopnya tanpa tahu siapa yang datang.
__ADS_1
"Ada apa Mia?" tanya Byan. Dia mengira kalau yang masuk itu Mia sekretarisnya. Shevi hanya senyam-senyum tak menjawab.
"Mia, kenapa diam? Kalau ada yang mau dikatakan, langsung saja." kata Byan tanpa melihat Shevi.
Karena tak juga ada jawaban, Byan lalu menatap sekilas Shevi yang dia kira adalah Mia. Byan dibuat terkejut melihat siapa yang datang. Raut wajah yang tadinya serius, sekarang berubah menjadi berseri-seri. Dia langsung mematikan laptopnya dan menghampiri Shevi yang masih berdiri.
"Sayang,,,,? Kok nggak bilang mau ke sini??" tanya Byan sambil memegang kedua pundak Shevi lalu memeluknya. Byan mendudukkan Shevi di kursi depan meja kerjanya.
"Aku cuma mampir sebentar, mau memberikan cake ini. Tadi sepulang kuliah, aku menyempatkan beli ini untuk kamu." ucap Shevi.
"Besok lagi tidak perlu repot-repot!! Kamu mau ke sini saja aku sudah senang." ujar Byan. Dia menarik tangan Shevi mengajaknya pindah ke sofa.
"Aku senang kamu memperhatikanku seperti ini. Apalagi kalau sudah menikah nanti. Pasti akan lebih perhatian." ujar Byan.
"Cepat dimakan!!!" Shevi menyuruh Byan. Byan lalu membukanya dan memakan cake yang dibawakan Shevi.
"Enak nggak??" tanya Shevi.
"Enggak. Kamu makan aja. Aku masih kenyang." kata Shevi sambil menutupi mulutnya menggunakan tangannya.
"Ok...!!! Mungkin dengan cara ini kamu mau." ucap Byan. Dia menaruh cake itu diantara bibirnya. Sambil merangkul Shevi dia hendak menyuapkannya. Shevi semakin menutup rapat mulutnya melihat ulah Byan.
"Kak Byan.....!!!!" teriak Shevi setelah Byan berhasil menyuapi menggunakan mulutnya. Shevi mengambil tisue untuk mengelap bibirnya.
"Mau lagi?" tanya Byan yang akan mengulanginya.
"Jangan bercanda lagi. Cepat dihabiskan!!" perintah Shevi.
Sebenarnya Byan juga sudah kenyang. Karena tidak mau mengecewakan Shevi, dia menghabiskan cake itu. Karena ada sedikit cream di sudut bibir Byan, Shevi mengelapnya dengan tisue.
"Jangan pakai tisue. Langsung pakai bibir kamu saja." kata Byan. Tanpa aba-aba, Byan langsung mencium bibir Shevi. Setelah beberapa saat, Byan melepaskan ciumannya agar Shevi bisa mengambil nafas. Dia kembali melanjutkan aksinya mencium Shevi. Tangan kirinya merangkul pinggang Shevi dan tangan kanannya di tengkuk Shevi. Byan semakin memperdalam ciumannya dan Shevi mulai terbiasa dan menikmatinya. Saking menikmatinya, mereka tidak mendengar pintu ruangan yang terbuka.
"By.........." panggil Keysa. Wajahnya langsung berubah saat menyaksikan adegan ciuman sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Tangannya mengepal erat. Rasa bencinya terhadap Shevi semakin mendalam.
__ADS_1
Shevi langsung mendorong pundak Byan setelah mendengar seseorang memanggil nama tunangannya. Wajah Shevi memerah menahan malu karena kepergok saat sedang beciuman. Sedangkan Byan tetap pasang wajah santainya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Ada apa Key?" tanya Byan melihat Keysa yang masih berdiri terpaku. Tanpa menjawab, Keysa berlari keluar dari ruangan Byan.
"Kamu kejar sana..!!!" Shevi memerintah Byan.
"Kenapa harus dikejar??" tanya Byan heran pada Shevi.
"Kasihan dia. Tadi wajahnya terlihat sedih banget." jawab Shevi.
"Ini memang kenyataan yang harus dia terima. Aku tidak pernah mencintainya dan aku sekarang sudah menjadi milik orang lain." tegas Byan. Entah kenapa hati Shevi menjadi senang dan lega mendengar ucapan Byan itu.
"Seharusnya dia menyerah." imbuh Byan.
"Itu tandanya, cintanya ke kamu besar." ucap Shevi.
"Nanti ada yang marah???? Ada yang cemburu????" goda Byan sambil mengedipkan sebelah matanya. Shevi mencubit lengan Byan.
"Daripada bahas Keysa yang tidak akan ada habisnya, mendingan kita lanjut yang tadi sempat terhenti." lanjut Byan yang langsung menarik Shevi ke dalam pelukannya. Byan benar-benar melanjutkan ciuman hangat yang terhenti gara-gara Keysa.
Di ruang kerja Keysa,
Keysa melampiaskan kemarahannya dengan melempar ponselnya ke lantai. Ponselnya hancur berkeping-keping yang seakan mewakili hatinya saat ini. Dia menangis karena hatinya hancur melihat Byan sedang berciuman dengan Shevi.
"Pelajaran yang aku berikan sepertinya kurang!!! Tunggu saja Shevi....!!!" Keysa mengepalkan tangannya. Rencana licik kembali terlintas di benaknya.
.
.
.
Jangan lupa teman, like, coment,vote& ratenya.....😊😊😊😊😊😊
__ADS_1