Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
51. Ep 51


__ADS_3

Untung saja Shevi memakai kemeja panjang dan celana panjang. Sehingga tangan dan kakinya terlindungi. Tapi baju dibagian sikunya robek untuk menahan saat terjatuh. Sehingga membuat sikunya lecet.


"Gimana lo Ren??? Kaki lo kuat nggak buat jalan??" tanya Shevi setelah selesai dibersihkan luka dibagian sikunya.


"Kuat Shev. Tenang aja. Gue tahan banting. Hahahaaaaa...." kata Reni sambil tertawa.


"Ehhhhh,,,, menurut gue, mobil tadi sengaja nyerempet kita deh..!!!" lanjut Reni.


"Gue juga nggak tahu. Lagian gue juga nggak punya musuh. Terus siapa yang mau mencelakai gue???" ucap Shevi. Reni hanya menaikan kedua pundaknya.


"Kita kuliah nggak nih??" tanya Reni.


"Tergantung lo..!!" jawab Shevi.


"Gue kuat. Tapi masalahnya, waktunya cukup nggak??" kata Reni.


"Cukup kalau kita ngebut. Ayo buruan." ajak Shevi pada Reni.


Shevi menyelesaikan pembayaran perawatan luka-lukanya dan Reni. Setelah selesai, mereka berdua keluar dari klinik dengan berjalan pincang. Reni memperhatikan kaki Shevi.


"Shev, lo beneran nggak apa-apa?? Itu kaki lo??" tanya Reni yang mencemaskan keadaan Shevi.


"Santai aja Ren. Cuma lutut gue yang sedikit sakit. Gue juga tahan banting kali..." jawab Shevi sambil menepuk pundak sahabatnya itu. Walaupun mereka terluka, tapi mereka tetap berangkat kuliah.


***


Shevi sampai di rumahnya. Reni turun dari motor, sedangkan Shevi masih duduk di atas motor maticnya. Dia sebenarnya malas turun karena melihat mobil Byan yang terparkir di halaman rumahnya. Dia tadinya ingin mengajak Reni balik arah tapi dicegah oleh sahabatnya itu.


"Ayo turun. Mau sampai kapan kamu menghindar??? Beri kesempatan Byan untuk menjelaskan, Shev!!!" saran Reni. Shevi akhirnya menuruti kata sahabatnya itu.


Pak Udin mengamati dari kejauhan. Dia melihat Shevi dan Reni kesusahan berjalan. Pak Udin segera berlari menghampiri Shevi dan Reni. Setelah melihat lengan baju Shevi yang sobek dan kaki Reni yang di balut kain perban, Pak Udin pun panik.


"Mbak Shevi sama Mbak Reni kenapa? Kok luka-luka???" tanya Pak Udin dengan wajah paniknya.


"Tadi kami nyium aspal Pak. Heheheee...." jawab Reni sambil cengengesan.


"Mbak Reni ini, masih bisa-bisanya bercanda." kata Pak Udin. Dia memanggil-manggil Mbok Ami. Karena mendengar suara suaminya yang memanggil, Mbok Ami keluar. Dia juga tak kalah kaget.


"Aduhhh,,,,, Mbak Shevi kenapa kok bisa seperti ini???" tanya Mbok Ami yang tak kalah paniknya.


Karena mendengar ribut-ribut di luar, Dian yang sedang berbincang dengan Byan di ruang tamu pun keluar melihat apa yang sedang terjadi di halaman rumahnya. Melihat Pak Udin dan Mbok Ami yang sedang mengelilingi Shevi, membuatnya penasaran. Dian berjalan mendekati Shevi.


Melihat Ibunya berjalan ke arahnya, Shevi melangkah mundur dan sembunyi di belakang Mbok Ami. Dia takut dimarahi Ibunya.


"Kenapa sembunyi???" tanya Ibunya.


"Tidak apa-apa, Bu." jawab Shevi dengan senyum yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Reni, kakimu kenapa??" tanya Dian setelah melihat kaki Reni yang dibalut kain perban. Reni hanya cengar-cengir bingung mau jawab apa.


"Kalian berdua ini ya!!" Dian melihat kedua gadis itu sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Bu Dian, Mbak Shevi dan Mbak Reni jatuh dari motor." kata Mbok Ami. Shevi mencolek pinggang Mbok Ami.


"Apaaaa.....????? Kok bisa?? Ada luka serius tidak??" Dian mengamati Shevi dan Reni.


"Ayo masuk. Ibu mau dengar penjelasan kalian berdua." ajak Dian sambil menggandeng tangan Shevi.


"Tante, Reni mau langsung pulang saja. Mama pasti menunggu Reni." Reni pamit pada Dian.


"Kamu bisa bawa mobil sendiri?? Biar diantar Pak Udin ya??" saran Dian yang tak tega pada Reni.


"Iya Mbak Reni. Saya antar ya? Mobil Mbak Reni ditinggal di sini dulu. Atau mau pakai mobil Mbak Reni? Nanti saya pulangnya naik ojek." kata Pak Udin.


"Baik kalau begitu Pak." Reni setuju. Dia kemudian pulang dan diantar oleh Pak Udin.


Byan akhirnya keluar karena Ibu mertuanya tak kunjung kembali masuk. Dia melihat Shevi yang berjalan pincang sedang digandeng Dian.


"Bu, Shevi kenapa?" tanya Byan.


"Jatuh dari motor." jawab Dian.


"Biar Byan yang bantu Shevi Bu." kata Byan.


"Langsung bawa ke kamarnya, By." Dian menyuruh Byan.


"Iya, Bu." jawab Byan.


Setelah sampai di kamarnya, Shevi melepaskan tangan Byan dari pundaknya.


"Sudah sampai kamarku. Kamu boleh turun sekarang." Shevi secara halus mengusir Byan untuk keluar dari kamarnya.


"Aku akan tetap di sini." Byan menolaknya.


"Terserah kamu." ucap Shevi.


Dia mengambil baju dari almari lalu masuk ke kamar mandi. Shevi dengan sangat pelan melepas celana jeans yang dipakainya. Dia melihat lututnya yang memar akibat benturan.


"Pantas saja nyeri banget. Ternyata sampai memar sebesar ini??" Shevi mengelus lututnya sambil meringis menahan nyeri.


Shevi keluar dari kamar mandi dan melihat Byan yang duduk di sofa. Mata Byan tertuju pada lutut Shevi. Shevi dibuat heran karena tiba-tiba Byan keluar dari kamarnya.


"Itu orang kenapa??" ucapnya lalu duduk di tepi ranjangnya. Dia mengingat-ingat kejadian yang menimpanya tadi pagi.


Byan kembali masuk ke kamar Shevi membawa air hangat dan handuk kecil untuk mengompres luka memar di lutut Shevi. Byan jongkok di hadapan Shevi dan mulai mengompresnya.

__ADS_1


"Apa yang mau kamu lakukan?? Jangan berlebihan. Ini hanya memar." Shevi menutupi lututnya menggunakan kedua tangannya.


"Ini untuk mengurangi nyeri." Byan dengan lembut dan hati-hati mengompres lutut Shevi. Setelah selesai, Byan menggenggam jemari Shevi.


"Maafkan aku. Tolong dengarkan penjelasanku. Aku akan menceritakan semuanya dari awal." Byan mendongakkan kepalanya menatap Shevi.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan." Shevi memalingkan wajahnya menatap keluar jendela kamarnya. Tanpa persetujuan Shevi, Byan mulai menceritakan tentang Keysa dari awal sampai akhir.


"Itulah kenapa alasanku selalu menolong Keysa." Byan menjelaskan semuanya.


"Aku tidak akan menutup-nutupi apapun itu darimu. Dia sekarang kerja di perusahaanku. Dia juga yang memintanya. Keysa memohon-mohon padaku. Aku juga sudah menyuruhnya pindah ke apartemenku. Dia tidak lagi tinggal di rumahku." ucap Byan. Shevi hanya diam, dia sama sekali tak menanggapinya.


"Tolong jangan menyiksaku seperti ini. Kamu lebih baik menamparku atau memukulku dari pada terus diam dan menghindariku." ujar Byan sambil memukuli wajahnya menggunakan tangan Shevi.


"Stop...!!!!" Shevi menarik kedua tangannya.


"Kamu maafin akukan??" tanya Byan penuh harap.


"Aku juga belum tahu. Aku masih kecewa denganmu." jawab Shevi.


"Shevi, aku mohon...." Byan menciumi tangan Shevi.


"Tolong beri aku waktu. Lebih baik sekarang kamu pulang. Aku mau istirahat. " ucap Shevi.


"Aku tidak akan berdiri dan tidak akan pulang sebelum kamu memaafkanku." kata Byan yang masih jongkok dihadapan Shevi.


Shevi menghela nafas lalu membuangnya kasar karena melihat Byan yang bersikeras tidak akan pulang demi mendapat kata maaf darinya.


"Terserah kamu mau jongkok di sini sampai kapan. Kamu fikir aku akan luluh dengan ancamanmu itu? Aku mau tidur dulu." Shevi berdiri lalu naik ke kasur empuk miliknya. Dia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


Shevi mencoba memejamkan matanya tapi tetap saja tidak bisa tidur. Setelah hampir dua jam, Shevi mengira kalau Byan sudah keluar dari kamarnya. Shevi perlahan membuka selimut yang menutupi kepalanya. Ternyata Byan masih ada di sana dengan posisi seperti semula. Shevi pun dibuat tak tega melihatnya. Dia bangun dan mendekati Byan. Tangannya dia julurkan sebagai isyarat menyuruhnya untuk berdiri.


"Aku sudah bilang, aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku." kata Byan.


"Aku memaafkanmu. Sekarang berdiri!!!!" ucap Shevi. Dia sendiri juga tidak tahu kenapa dengan begitu mudahnya dia memaafkan Byan. Mungkin karena rasa cintanya yang teramat dalam.


"Berdiri atau aku akan berubah pikiran??" tanya Shevi. Byan lalu berdiri kemudian memeluk tunangannya itu.


"Aku mencintaimu..!! Sangat mencintaimu." ucap Byan sambil menciumi kening Shevi.


.


.


.


Jangan lupa like, coment&votenya.....😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2