
Pagi hari,
Karena masih terlalu pagi, Shevi melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Di sampingnya, Reni yang sedang sibuk memainkan poselnya. Mereka berangkat bersama lagi. Jemarinya mengetuk-ngetuk stir kemudi, sambil melihat ke kiri-kanan jalan. Matanya langsung tertuju pada sebuah mobil yang terparkir di depan apotek. Mobil yang masih dia ingat saat menyerempetnya.
Shevi mendadak menginjak rem yang membuat ponsel Reni jatuh karena kaget. Reni menunduk dan meraih ponselnya.
"Lo kenapa sih, Shev??" tanya Reni. Shevi tak menjawabnya. Dia memarkirkan mobilnya tepat di belakang mobil itu. Reni dibuat heran karena mendadak Shevi berhenti di apotek.
"Lo mau beli apa???" tanya Reni lagi yang penasaran.
"Sssttttttt.......!!! Jangan berisik. Lo masih ingat mobil itu???" tanya Shevi sambil menunjuk mobil yang berada di depannya. Reni menggelengkan kepalanya.
"Itu mobil yang nyerempet kita waktu itu." jelas Shevi.
"Lo yakin nggak???" tanya Reni sedikit ragu pada Shevi.
"Ya ingatlah. Lo lihat itu, kaca bagian belakang retak akibat batu yang gue lempar." jawab Shevi. Reni melihat kaca bagian belakang mobil itu yang memang retak.
"Gue juga hafal sama nomor plat mobil itu." imbuh Shevi.
"Terus lo mau apa??? Mau melabrak orang itu??" tanya Reni melihat ke arah Shevi yang sedang tersenyum menyeringai.
"Nanti lo juga tahu. Tugas lo, mengalihkan tukang parkir itu supaya nggak melihat gue. Ayo turun..!!!" jelas Shevi lalu mengajak Reni.
"Shevvv,,,," Reni menarik tangan Shevi.
"Apa lagi????" tanya Shevi.
"Gimana caranya gue mengalihkan pandangan tukang parkir itu??" tanya Reni yang bingung harus bagaimana.
"Mau lo rayu, atau apa, itu terserah lo. Yang penting, jangan sampai gagal. Buruan...!!! Keburu orangnya keluar." ajak Shevi. Dia belum tahu kalau pemilik mobil itu adalah Keysa.
Reni keluar dari mobil sambil merapikan rambutnya. Dia berjalan mendekati tukang parkir itu dan pura-pura bertanya tentang alamat rumah yang dia karang sendiri. Entah alamat itu benar ada atau tidak. Reni memang sengaja membuat bingung si tukang parkir untuk mengulur waktu.
Shevi melancarkan aksinya. Dia jongkok di samping mobil milik Keysa. Sebelum beraksi, Shevi melihat keadaan sekelilingnya. Setelah dia rasa aman, Shevi mulai mengempeskan ban mobil itu. Dia merasa beruntung karena di samping mobil milik Keysa terparkir juga mobil yang menghalanginya. Sehingga Shevi bisa mengempeskan semua ban itu.
__ADS_1
"Hahahahaa......!!! Ini pembalasan yang tidak seberapa." ujar Shevi tersenyum puas. Shevi memberi kode pada Reni kalau berhasil. Dia masuk ke dalam mobil lalu disusul oleh Reni.
"Sebenarnya apa yang lo lakuin pada mobil itu, Shev???" tanya Reni.
"Lo lihat ban mobilnya." jawab Shevi. Reni menutup mulutnya setelah melihat ban mobil yang kempes.
"Teman gue memang cerdas." Reni memuji Shevi sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Ayo kita pergi sekarang. Takutnya ketahuan..." ajak Reni. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu.
Tanpa mereka sadari, dari tadi ada sebuah mobil yang mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Revan. Dia mendapat tugas dari Byan untuk mengawasi Shevi. Byan tidak ingin kejadian saat Keysa mencoba mencelakai tunangannya terulang kembali.
Revan hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat ulah kedua gadis itu. Dia tak menyangka kalau Shevi dan Reni bisa seusil itu. Setelah dia rasa Shevi aman, Revan tidak mengikutinya lagi. Dia melajukan mobilnya menuju kantor.
Keysa keluar dari apotek. Saat dia menunduk akan membuka pintu mobil, didapatinya ban mobil yang kempes. Keysa memutari mobilnya. Ternyata semua bannya kempes.
"Kurang ajar!!!!!! Siapa yang berani berbuat seperti ini!!!" ujar Keysa yang merasa kesal.
"Pak......" Keysa memanggil tukang parkir di sana.
"Bapak tahu siapa yang mengempeskan ban mobil saya?" tanya Keysa setelah si tukang parkir mendekatinya.
"Hehhh,,, Mbak!!! Tugas saya itu bukan untuk menjaga ban mobil. Salah sendiri jadi orang galak banget. Jadinya banyak musuh." ucap tukang parkir itu tak terima lalu meninggalkan Keysa begitu saja.
Akhirnya, Keysa pun telat sampai ke kantor. Saat akan masuk, Keysa berpapasan dengan Byan dan Revan yang akan meeting di luar.
"Kenapa baru sampai, Key???" tanya Byan.
"Tadi ada yang sengaja ngempesin ban mobilku, By." jawab Keysa mencoba menjelaskan.
"Kamu cepat masuk. Jangan membuat contoh yang tidak baik untuk lainnya." perintah Byan tegas. Dia tidak mau para pegawainya mengikuti Keysa yang terlambat.
"Iya, By." jawab Keysa. Dia berjalan memasuki loby.
*
__ADS_1
Sepulang kuliah,
Shevi menghentikan mobilnya di jalanan yang sepi. Pohon rindang yang tumbuh di pinggir jalan membuat suasana di sekitarnya terasa sejuk.
"Kita ngadem di sini dulu, Ren." kata Shevi lalu keluar dan duduk di bawah pohon.
"Shev, haus banget. Gue tinggal sebentar beli minum ke toko seberang jalan itu ya?" ucap Reni yang sudah merasa sangat haus.
"Gue aja, Ren. Lo tunggu sini." Shevi menyeberang jalan dan membeli dua botol air mineral. Saat kembali, Shevi melihat ada tiga orang laki-laki yang berpakaian seperti preman sedang menggoda Reni. Reni tampak sangat ketakutan. Shevi segera berlari ke arah Reni.
"Heeyyy,,,, jangan gangguin temanku." ucap Shevi lantang. Dia tidak takut sama sekali dengan kehadiran para preman itu. Shevi memang tidak suka melihat sahabatnya digoda atau diperlakukan buruk. Karena Shevi sudah menganggapnya seperti saudara sendiri. Ditambah lagi, Reni tidak bisa membela diri. Beda dengan Shevi, dia dari SMP sudah mengikuti ekstrakurikuler seni bela diri karate. Walaupun baru memegang sabuk hijau, tapi dia sangat menguasainya dengan baik.
"Wooooowwwwww,,,, datang temannya yang lebih cantik lagi." ucap salah satu preman itu dan hendak mengelus pipi Shevi tapi langsung ditangkisnya.
"Menarik...!!! Aku suka cewek yang galak seperti ini" kata preman itu menggoda Shevi.
"Kalian ini beraninya dengan perempuan. Banci.....!!!!" ujar Reni. Dia juga memberanikan dirinya untuk menggertak para preman.
"Sebaiknya kita apakan, Bos?" tanya preman itu pada bosnya. Reni perlahan melangkah mundur tapi tangannya diraih oleh preman itu. Reni langsung menggigit tangan si preman. Akhirnya Reni bisa melepaskan diri. Dia berdiri di samping Shevi.
"Tangkap mereka!!!! Kita beri pelajaran yang nikmat untuk mereka. Kebetulan sudah lama aku tidak menyentuh wanita!!" perintah bosnya.
"Heeeehhhh,,, jangan mimpi!!!!" sahut Shevi yang mengepalkan kedua tangannya. Dia pasang kuda-kuda karena preman 1 hendak menyerangnya.
Shevi berkelahi dengan preman 1. Dia mampu mengalahkannya. Preman 2 juga maju melawan Shevi. Walaupun lawan yang ini sulit dikalahkan, tapi Shevi tetap berusaha dan akhirnya dia mengalahkannya. Bosnya dibuat geram melihat anak buahnya dikalahkan. Dia turun tangan sendiri. Shevi dibuat kewalahan melawannya.
"Ren, lo lari duluan. Gue nanti langsung nyusul. Gue nggak sanggup melawan mereka bertiga. Bosnya terlalu kuat." bisik Shevi pada Reni.
"Enggak, Shev. Gue nggak akan meninggalkan lo sendiri." ucap Reni.
"Ok. Gue hitung sampai tiga, kita lari bareng. Satu,,,, dua,,,, tiga. Lari......." Shevi menarik tangan Reni.
Akhirnya dia mengeluarkan jurus pamungkasnya yaitu kabur. Ketiga preman itu mengejarnya. Tidak ada yang menolong mereka karena jalanan yang sepi. Reni kesusahan berlari karena memakai high heel.
"Shev, gue nggak kuat lagi. Kaki gue sakit." ucap Reni. Larinya pun kini melambat. Shevi menengok ke belakang. Preman itu masih mengejarnya.
__ADS_1
"Lo lepas high heelmu itu. Bisa-bisa kita tertangkap." kata Shevi. Sambil berlari, Reni melepas high heelnya.
Preman itu mampu mengejarnya dan meraih tangan Shevi. Shevi meronta dan refleks menendang burung puyuh preman itu. Si preman berguling-guling kesakitan sambil memegangi burung puyuhnya. Shevi dan Reni kembali berlari.