
Hari berikutnya,
Setelah selesai kuliah, kini Shevi tak punya kegiatan apapun. Dia lebih sering berada di rumah. Kadang, dia ke rumah Ibunya untuk menghilangkan rasa bosannya. Kadang juga dia ke kantor suaminya.
"Mbak Shevi, kenapa wajahnya pucat? Kalau tidak enak badan, Mbak Shevi istirahat saja dulu." kata Bi Sumi.
"Tidak, Bi. Aku sehat kok." jawab Shevi sambil terus menyirami tanaman anggreknya. Dia membeli beberapa tanaman anggrek untuk mengisi waktu luangnya. Setelah selesai, dia lalu ke kamar. Shevi baru ingat kalau ia belum haid. Shevi lalu melihat kalender.
"Aku sudah telat sembilan hari? Kenapa aku baru sadar sekarang?" ucapnya.
Dia bergegas ke apotek terdekat untuk membeli test pack. Setelah mendapatkannya, Shevi lalu pulang.
"Mbak Shevi dari mana?" tanya Bi Sumi.
"Dari minimarket depan, Bi." jawab Shevi berbohong. Dia tak mau memberi tahu dulu kalau semua belum pasti.
Pagi hari,
________
Shevi bangun sangat pagi. Dengan hati-hati Shevi menyingkirkan tangan Byan yang melingkar di pinggangnya. Diam-diam Shevi masuk ke dalam kamar mandi.
Shevi mengeluarkan test pack dari sakunya dan mulai mengikuti petunjuk. Dia sudah tidak sabar untuk melihat hasilnya. Matanya terpejam beberapa saat. Dia agak takut dengan hasilnya nanti. Garis satu, atau dua?
Shevi sendiri sudah tiga kali ini menggunakan test pack. Sebelumnya dia pernah telat, tapi saat di test hasilnya negatif. Perlahan ia membuka sebelah matanya. Mulutnya menganga seakan tak percaya.
"Aaaaaaaaaaaa,,,,,," teriak Shevi.
"Aku hamil.... aku hamil.." tanpa sadar Shevi loncat-loncat di dalam kamar mandi.
Mendengar teriakan istrinya dari dalam kamar mandi, Byan dengan cepat turun dari ranjang. Dia panik, takut terjadi apa-apa pada Shevi.
"Sayang,,,, sayang." panggil Byan.
"Kamu kenapa? Buka pintunya." Byan menggedor-gedor pintu kamar mandi karena dikunci dari dalam.
Shevi membuka pintu kamar mandi. Dia melihat Byan yang begitu paniknya karena teriakannya.
"Kamu kenapa teriak, yang? Tidak jatuhkan?" tanya Byan sambil memegang kedua pundak Shevi dan mengamati seluruh badan Shevi.
__ADS_1
"Tidak. Tadi,,, tadi hanya ada kecoak." jawab Shevi.
"Masa sih?" tanya Byan sambil melihat ke dalam kamar mandi apakah benar ada kecoak atau tidak.
Shevi sengaja tidak memberitahu kabar gembira ini pada suaminya. Dia ingin memberi kejutan untuk suaminya nanti.
Karena Shevi baik-baik saja. Bukannya mandi, Byan kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
"Ihhhhh, Kak Byan! Buruan mandi!" perintah Shevi sambil menarik lengan Byan. Dengan mata yang masih terasa berat, Byan masuk ke dalam kamar mandi.
Siang hari,
_________
Sebelum jam makan siang, Shevi sengaja datang ke kantor Byan dengan membawa bekal untuk suaminya. Di dalam mobil, dia senyum-senyum sendiri membayangkan reaksi suaminya nanti.
Shevi sudah sampai di kantor suaminya. Dia memarkirkan mobilnya lalu masuk melewati lobby. Semua karyawan yang berpapasan dengannya menyapa ramah. Shevi pun membalasnya.
"Mbak Mia, Kak Byan ada?" tanya Shevi yang berdiri di depan meja Mia.
"Pak Byan sedang rapat. Mungkin tepat jam makan siang nanti selesai. Anda tunggu saja di dalam." kata Mia.
Shevi duduk di sofa sambil membaca majalah. Setelah menunggu hampir setengah jam, pintu ruangan dibuka dari luar. Byan dan Revan masuk bersamaan.
"Ehhhh,, Bu bos datang." sapa Revan lalu duduk di sofa. Shevi hanya tersenyum.
Setelah menaruh laptop di meja kerja, Byan lalu berjalan mendekati istrinya sambil merentangkan tangannya ingin memeluk Shevi. Shevi berdiri dan menyambut pelukan hangat suaminya.
"Ahhhh,,, lo kalau mesra-mesraan jangan di depan gue dong, By. Tega banget! Gue keluar saja." ucap Revan lalu keluar.
"Kok tidak bilang kalau mau ke sini, yang?" tanya Byan lalu mecium kening istrinya.
"Aku ada kejutan buat kamu." kata Shevi yang membuat Byan penasaran.
"Apa?" tanya Byan sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Nanti setelah kamu makan." jawab Shevi.
Byan lalu melepaskan pelukannya. Dia lalu membuka bekal yang dibawakan istrinya. Byan makan dengan cepatnya karena tak sabar ingin tahu kejutan apa yang ingin diberikan istrinya.
__ADS_1
"Cepat sekali." kata Shevi.
"Sudah selesai. Mana kejutannya?" tagih Byan.
"Kamu tutup mata dulu!" suruh Shevi.
"Yaaangggg....." protes Byan.
"Ya sudah kalau nggak mau." ucap Shevi.
"Iya,,,, iya..." jawab Byan sambil menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan ngintip, nanti bintitan lho!" kata Shevi saat melihat Byan mengintip dari sela-sela jarinya. Dia lalu mengambil test pack di dalam tasnya. Dia mengarahkan test pack itu tepat di depan wajah Byan.
"Udah belum, yang?" tanya Byan.
"Udah." jawab Shevi.
"Apa ini?" tanya Byan setelah membuka matanya. Byan lalu mengambilnya dari tangan Shevi. Dia amati lagi benda yang dipegangnya. Walaupun dia laki-laki, dia sedikit tahulah tentang benda itu.
"Garis dua? Kamu hamil, yang??" tanya Byan dengan semangatnya.
Shevi menganggukkan kepalanya dengan senyuman mengembang di wajahnya. Byan kembali memeluk Shevi sangat erat karena terlalu gembira. Inilah yang ditunggu-tunggunya. Setelah menanti beberapa bulan, akhirnya istrinya hamil.
"Terima kasih, sayang." kata Byan sambil memciumi pucuk kepala Shevi.
"Aku,,, aku tidak bisa bernafas!" Shevi mencoba melonggarkan pelukan suaminya.
"Maaf, sayang." Byan lalu melepaskan pelukannya.
"Kita pulang bersama saja. Sekalian ke rumah sakit periksa kandunganmu, yang." ucap Byan.
"Tapi aku bawa mobil sendiri. Kalau nunggu kamu juga kelamaan. Besok saja ya ke Dokternya?" kata Shevi.
"Tidak! Pokoknya sekarang! Mobil akan ada yang urus. Mulai sekarang, kamu tidak aku perbolehkan bawa mobil sendiri. Kalau mau kemana-mana harus diantar supir." jelas Byan yang mulai overprotektif. Dia tidak mau terjadi apa-apa dengan calon anaknya.
"Iya-iya. Yang hamil aku, situ yang bawel banget!" gerutu Shevi.
Byan berdiri sambil mengelus kepala Shevi. Dia melanjutkan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal karena akan mengantar Shevi ke Dokter.
__ADS_1