Kisah Cinta Shevi Dan Byan

Kisah Cinta Shevi Dan Byan
67. Ep 67


__ADS_3

Rumah sakit,


____________


Dian, Sofyan dan kedua orang tua Revan menyusul Byan kerumah sakit. Mereka melihat Byan yang duduk di lantai dengan kepala tertunduk. Wajahnya sembab dan lesu. Sofyan mendekatinya lalu merangkul cucu menantunya itu.


"Kamu harus sabar, kuat!!!! Shevi akan baik-baik saja. Dia gadis yang kuat." ucap Sofyan memberi dukungan pada Byan. Sebenarnya dia sendiri sangat sedih. Tapi Sofyan tidak mau menunjukkannya.


Dian tak henti-hentinya menangis. Dia takut kalau sesuatu akan terjadi pada putrinya.


Revan dan Reni pun tiba di sana. Revan mendekati sahabatnya.


"Bro...!! Sory gue telat. Gue tadi harus mengejar Keysa. Lo tenang, dia sudah diamankan polisi.." kata Revan. Dengan wajah penuh amarah, Byan bangkit dari duduknya.


"Lo mau kemana???" tanya Revan saat Byan akan melangkahkan kakinya.


"Gue mau beri dia perhitungan!!!!" jawab Byan.


"By, dengarkan gue!!! Shevi lebih membutuhkan lo!!! Masalah Keysa, serahkan pada yang berwajib. Dia pasti akan medapat hukuman yang sesuai." ucap Revan sambil mencegah Byan.


"Tapi gue nggak terima, Van!!! Dia harus gue beri pelajaran!! Dia harus merasakan seperti yang dialami Shevi." bentak Byan.


"Gue tahu!!! Tapi tidak untuk saat ini!!!" balas Revan.


"Ini semua karena gue, Van!!! Gue yang ceroboh!!! Gue teledor!!! Gue nggak bisa melindungi istri gue!!!! Kalau gue menyadari dari awal, semua nggak akan seperti ini, Van!!!" ucap Byan. Tangannya mengepal memukuli dinding sambil menangis.


"By, berhenti menyalahkan diri lo!!!! Ini bukan salah siapa-siapa!" kata Revan sambil memegangi tangan Byan yang masih memukuli dinding.


"Byan, benar kata Revan. Kita do'akan Shevi, supaya operasinya lancar." tambah Sofyan menepuk-nepuk bahu Byan.


Pintu ruang operasi terbuka. Dokter keluar masih dengan pakaian hijau. Byan berlari mendekati Dokter itu dan diikuti oleh lainnya.


"Dokter, bagaimana kondisi istri saya???" tanya Byan.


"Pisaunya sudah diangkat. Beruntung, pisau itu tidak mengenai organ dalam pasien. Tapi kami masih membutuhkan darah. Stok darah AB di sini hanya ada dua kantong. Apa ada yang golongan darahnya sama???" tanya Dokter itu.


"Saya, Dok! Kebetulan golongan darah kami sama. Ambil darah saya...!!" kata Reni.

__ADS_1


"Mari ikut saya, Mbak." ajak perawat yang ada di samping Dokter itu. Dia membawa Reni untuk diambil darahnya yang akan didonorkan pada Shevi.


"Dok, gawat!!! Detak jantung pasien semakin melemah!!!" kata perawat yang tiba-tiba keluar dari ruang operasi. Dokter itu lalu bergegas masuk ke dalam.


Dian terkulai lemas mendengarnya. Dia dipapah oleh Mamanya Revan kemudian didudukkan di kursi tunggu.


"Dok...!!! Biarkan saya masuk. Istri saya membutuhkan saya!!! Izinkan saya masuk, Dok!!!" teriak Byan sambil menggedor-gedor pintu ruang operasi.


"By, lo tenang!!!! Percayakan pada Dokter!!!" Revan menenangkan Byan lalu membawanya ke tempat duduk.


Air mata Byan kembali mengalir. Dia kembali teringat kata-kata Shevi saat mereka sedang telfonan sebelum acara perikahan. Seakan kata-kata itu sebuah pertanda. Dia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Shevi.


Sofyan yang tadinya tegar, kini tak bisa lagi menahan kesedihannya. Air matanya tak terasa mulai berjatuhan.


Revan duduk di samping Byan lalu merangkul sahabatnya itu. Dia tak pernah mengira, hari yang seharusnya menjadi hari yang sangat membahagikan untuk sahabatnya, kini berubah menjadi kesedihan. Revan bisa merasakan apa yang dirasakan sahabatnya saat ini.


"Shevi akan baik-baik saja!! Lo harus yakin itu, By!!" ucap Revan.


Setelah satu jam, Dokter pun keluar dan berjalan mendekati keluarga Shevi yang masih setia menunggu.


"Dokter, bagaimana istri saya?? Dia selamat kan????? Dia baik-baik saja kan???" tanya Byan.


Semua mengucapkan rasa syukur mendengar penuturan dari Dokter. Byan merasa sedikit lega.


"Tolong pindahkan ke kamar VVIP, Sus." kata Byan pada perawat yang berada di samping Dokter.


"Baik, Pak." jawab perawat itu.


"Dok, boleh saya masuk????" tanya Byan yang sudah tak sabar ingin melihat istrinya.


"Iya, Dok. Saya ingin melihat putri saya." imbuh Dian.


"Boleh saja. Tapi bergantian ya!!! Saya permisi dulu." kata Dokter yang berlalu meninggalkan mereka.


Byan masuk ke dalam. Dia mendekati istrinya yang terbaring lemah. Dikecupnya kening Shevi. Byan lalu duduk di samping Shevi. Dia menggenggam erat jemari tangan istrinya. Berkali-kali Byan menciuminya.


"Sayang, aku di sini. Kamu cepat sadar ya. Kalau kamu sembuh nanti, aku akan mengajakmu bulan madu. Aku janj!!" air matanya membasahi tangan Shevi.

__ADS_1


"Aku minta maaf tidak bisa menjagamu. Kalau bisa ditukar, lebih baik aku yang berbaring di sini. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini."


"Aku mohon, buka matamu." Byan terus berbicara pada Shevi walaupun dia tahu tidak akan ada jawaban dari istrinya.


Keesokan harinya,


_________________


Shevi sudah di pindahkan ke kamar yang Byan pesan. Byan duduk di samping Shevi sambil menggenggam tangan istrinya. Dipandangnya wajah cantik Shevi.


Karena sudah semalam menginap di rumah sakit, Mama dan Papanya Revan pamit pulang.


"Ma, Pa, hati-hati di jalan. Kalau sudah sampai rumah, kabari Revan." ucap Revan yang mengantar Mama dan Papanya sampai depan pintu kamar Shevi.


"Iya. Kamu pulang jam berapa??" tanya Mamanya.


"Revan mungkin tidak pulang, Ma. Kasihan Byan. Aku akan menemani Byan di sini." jawab Revan.


"Bilang saja karena ada Reni." goda Mamanya.


"Ahhhhhh, Mama. Sudah, cepetan pulang!!" kata Revan lalu masuk ke dalam kamar yang di tempati Shevi. Revan duduk di sofa bersama dengan Dian, Kakek Sofyan dan Reni.


"Ren, terima kasih kamu sudah menolong anak Ibu." ucap Dian pada Reni yang duduk di sampingnya.


"Tante, jangan berterima kasih. Shevi sudah aku anggap seperti saudara." kata Reni sambil memegang tangan Dian yang berada di atas pahanya.


"Ren, kamu mendingan pulang! Kamu butuh istirahat. Tubuhmu pasti lemah karena mendonorkan darahmu untuk Shevi. Dari semalam kamu belum tidur kan???" ucap Dian. Dia kasihan melihat Reni.


"Tidak, Tan. Sebelum Shevi sadar, Reni belum mau pulang." kata Reni.


"Ren, apa yang dibilang Tante Dian ada benarnya. Kamu pulang dan istirahat. Nanti bisa ke sini lagi." ujar Revan. Reni sejenak berfikir.


"Baik kalau begitu Reni pulang dulu, Tan. Kak Byan, aku pulang dulu." kata Reni.


"Ya." jawab Byan singkat. Reni mengambil tasnya lalu pulang.


"By, kamu mandi dulu sana!! Lihat, panampilanmu kusut banget." kata Revan yang berada di samping Byan. Byan menggelengkan kepalanya. Memang saat ini Byan terlihat acak-acakan. Dia belum mandi dan belum ganti baju sama sekali. Kemeja putih yang dipakainya terlihat sedikit lusuh.

__ADS_1


"Kalau Shevi sadar dan melihat kamu seperti ini gimana???" Revan merayu Byan tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya dia menyerah dan kembali duduk di sofa.


__ADS_2