
Sudah jam pulang kerja tapi Byan masih betah berada di dalam ruang kerjanya. Di luar, Revan sedang menunggunya begitu lama. Karena tak kunjung keluar, Revan memutuskan masuk ke dalam ruangan Byan.
Dia melihat Byan yang duduk menghadap jendela kaca sambil melamun. Pemandangan yang indah terlihat dari lantai teratas gedung itu.
"By, hari sudah mulai gelap. Lo nggak pulang??" tanya Revan yang berdiri di samping Byan sambil menikmati indahnya lampu-lampu yang mulai menerangi gelapnya kota.
"Kalau lo mau pulang, lo duluan saja. Gue masih mau di sini." jawab Byan tanpa melihat Revan sedikitpun.
"Ya sudah, gue pulang dulu ya??? Jangan pulang terlalu malam. Kasihan Shevi menunggumu di rumah." ucap Revan menepuk bahu Byan lalu meninggalkannya di sana sendiri.
Rumah Byan,
___________
Shevi mondar-mandir di ruang tengah. Dia menanti Byan pulang kerja. Tak biasanya Byan seperti ini. Sudah jam 7malam tapi belum juga sampai rumah. Shevi pun merasa khawatir dengan suaminya karena berkali-kali dihubungi tapi ponselnya tidak aktif.
"Kak Byan kemana sih??? Kalau pulang telat, kenapa tidak memberitahuku??" gumamnya.
Shevi naik ke lantai dua. Dia masuk ke dalam kamar. Shevi duduk di tepi ranjang sambil terus mencoba menelfon suaminya dan mengirim pesan.
Setelah menunggu begitu lama, pintu kamarnya dibuka dari luar. Yang dinantikannya akhirnya pulang juga.
"Kak Byan?? Tumben pulang malam??? Kok aku telfon, handphonemu nggak aktiv??" tanya Shevi lalu bangkit dari duduknya lalu mrnghambur memeluk suaminya.
"Aku khawatir tahu....." lanjut Shevi melepaskan pelukannya. Byan tak membalas pelukannya sama sekali.
__ADS_1
"Ohhhh,,,, kamu bisa mengkhawatirkan aku juga??" tanya Byan sinis sambil berjalan ke depan. Shevi perlahan melangkahkan kakinya mundur.
"Kak Byan kok bertanya seperti itu?? Ya jelas khawatirlah! Kamu kan suamiku," jawab Shevi. Dia merasakan ada keanehan dengan suaminya. Shevi tidak bisa melangkah mundur lagi karena sudah mentok di belakangnya tempat tidur.
"Kalau begitu sebagai seorang suami, aku mau meminta jatahku yang belum terpenuhi!" ujar Byan. Byan berdiri tepat di depan Shevi, sangat dekat.
"Mak,,, maksud Kak Byan apa??" tanya Shevi sambil mencoba mendorong badan Byan agar sedikit memberi jarak dengannya. Dia tahu dengan apa yang dimaksud jatah oleh Byan.
Shevi mencoba tetap tenang. Shevi mengangkat tangannya hendak membantu melepaskan dasi yang masih melingkar di leher Byan. Tiba-tiba saja Byan menciumnya.
Shevi yang tidak siap karena serangan mendadak dari Byan akhirnya jatuh di atas ranjang dengan posisi Byan menindihnya. Byan mencumbu Shevi dengan ganasnya.
Shevi merasakan kalau ini bukanlah seperti suaminya. Karena biasanya Byan memperlakukannya dengan lembut. Shevi mencoba mendorong badan Byan, tapi tak bisa.
"Mmmm,,,,, mmmmm,, mmmm.....!!!" Shevi meronta agar Byan melepaskan ciumannya.
"Apa di matamu aku semenjijikkan itu, sampai-sampai kamu tidak mau melayaniku??" tanya Byan dengan menatap tajam Shevi.
"Bu,,,, bukan seperti itu......" jawab Shevi gemetar. Belum sempat melanjutkan ucapannya, tapi sudah dipotong oleh Byan.
"Bukan apa????" tanya Byan dengan nada tinggi yang membuat Shevi kaget dan memejamkan matanya. Shevi sangat ketakutan. Dia tidak mengira kalau Byan sedang marah bisa semenakutkan itu.
"Kenapa kamu berbohong? Jelas-jelas lukamu sudah sembuh, tapi kamu menutup-nutupinya. Kamu menjadikan lukamu sebuah alasan agar aku tidak menyentuhmu. Aku jadi ragu, sebenarnya kamu itu mencintaiku atau tidak!!" ujar Byan. Dia lalu berdiri dan membalikkan badannya. Byan berjalan meninggalkan Shevi yang masih berbaring di ranjang.
"Kak Byan..." panggil Shevi lalu bangkit dan berdiri.
__ADS_1
"Aku bisa jelaskan semuanya." ucap Shevi.
"Kak Byan mau kemana??" tanya Shevi. Byan berhenti di ambang pintu. Dia menoleh ke arah Shevi.
"Mau mencari pelampiasan." jawab Byan.
BAANNGGGG..!!!!!!! Byan menutup pintu kamar dengan keras sampai Shevi berjingkat kaget karenanya.
Shevi yang mendengar jawaban Byan tadi hanya bisa berdiri terpaku. Mau melangkahkan, tapi kaki terasa sangat berat.
"Kak Byan, maafkan aku." air matanya mulai membasahi pipi. Dia merasa sangat bersalah telah berbohong pada suaminya.
Shevi menghapus air matanya. Dia membuka pintu kamar lalu berlari menuruni tangga mengejar Byan.
"Bi, lihat Kak Byan??" tanya Shevi pada Bi Sumi saat berpapasan di lantai bawah.
"Tadi Bibi lihat keluar Mbak," jawab Bi Sumi. Shevi lalu berlari keluar rumah. Dia melihat mobil Byan yang sudah tidak ada di garasi.
"Kak Byan......" Shevi jongkok di halaman rumah dan merasa putus asa.
Dia berjalan masuk ke dalam rumah. Shevi langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mau kalau Bi Sumi melihatnya menangis.
Shevi menutup pintunya pelan. Dia bersandar di balik pintu sambil menangis. Shevi kembali mengingat ucapan Byan yang mau mencari pelampiasan. Dia berpikir yang tidak-tidak tentang suaminya. Shevi membayangkan kalau Byan mencari wanita lain dan menyalurkan hasratnya yang tertunda selama sebulan lebih itu.
Shevi berjalan dan mengambil ponselnya di atas nakas. Dia lalu naik ke atas tempat tidurnya. Shevi mencoba menelfon Byan tapi masih saja tidak aktif. Dia juga mencoba menelfon Revan dan bertanya padanya, tapi Revan juga tidak tahu kemana Byan.
__ADS_1
Terlintas lagi dalam benaknya kalau saat ini suaminya sedang bermain-main dengan wanita di luar sana. Ini memang salahnya. Salahnya yang berbohong. Shevi tidak mengira akan menjadi seperti ini.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.30 malam. Shevi menahan kantuknya demi menunggu Byan pulang. Sampai tak terasa dia ketiduran.