
Revan merasa sangat bosan menunggu Byan di ruang tamu.
"Ini si Byan lagi ngapain sih?? Lama banget! Pantat gue sampai panas duduk sejam di sini," gerutunya.
Karena sudah terbiasa keluar masuk rumah Byan, Revan menyusulnya ke kamar dan langsung nyelonong masuk karena pintu kamar yang tidak ditutup.
"By, lo ngapain........." Revan belum melanjutkan ucapannya langsung didorong keluar oleh Byan.
"Sembarangan main masuk ke kamar orang lo!!!" kata Byan sambil menutup pintu kamarnya. Untung saja tubuh Shevi tertutupi selimut. Kalau tidak, bisa gawat!!
"Habisnya, lo gue tunggu lama banget!!" ujar Revan. Matanya tertuju pada punggung Byan yang hanya bertelanjang dada.
"Waaahh...hhhh...!!!! Pagi-pagi rambut sudah basah. Sepertinya semalam ada pertempuran sengit! Punggung lo dicakar macan betina ya, By?????" goda Revan saat melihat ada bekas cakaran di punggung Byan.
Byan baru menyadari kalau dia belum memakai baju. Dia lalu kembali masuk ke dalam kamar mengambil kaos hitam lalu memakainya.
"Ngapain ditutupi?? Telat!! Gue udah lihat, By." ledek Revan saat melihat Byan keluar sudah memakai kaos.
"Takutnya lo ngiler." balas Byan.
"Ayo turun!!" ajak Byan. Revan mengikutinya dari belakang. Mereka duduk di ruang tengah dan duduk santai di sana.
"Ngapain pagi-pagi ke sini??" tanya Byan.
"Gaya lo, By!! Mentang-mentang sudah menikah. Dulu saja gue ke sini lebih pagian, lo nggak protes!" ujar Revan.
Di halaman depan,
_________________
Mobil Reni memasuki halaman rumah Byan. Dia melihat mobil milik Revan yang terparkir di sana. Entah kenapa, tanpa disengaja dia selalu datang diwaktu yang bersamaan dengan Revan.
"Turun enggak ya? Gimana bisa melupakan perasaan ini kalau malah sering bertemu." Reni merasa bingung karena dia sedang berusaha menghindari Revan.
"Ahhh, turun sajalah. Lagian sudah sampai sini juga." ujar Reni lalu turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu utama rumah Byan.
Hatinya berdegup kencang saat akan sampai di pintu. Dia bingung harus bagaimana menghadapi Revan nantinya. Matanya melihat ke dalam.
__ADS_1
"Huffttttt,,,,! Untung nggak ada." Reni mengelus dadanya merasa lega karena Revan tidak ada di ruang tamu.
Reni berjingkat kaget saat ada seseorang menepuk bahunya dari belakang.
"Mbak Reni kenapa hanya berdiri di sini? Mari masuk!" ajak Bi Sumi.
"Bi Sumi. Kiraian siapa. Bikin kaget saja.." ujar Reni. Dia mengira itu adalah Revan. Tapi ternyata Bi Sumi.
"Ada Kak Revan ya, Bi??" tanya Reni.
"Iya. Tadi sih duduk di situ, Mbak." jawab Bi Sumi sambil menunjuk sofa yang diduduki Revan tadi.
"Mungkin sekarang ke dalam sama Den Byan." lanjut Bi Sumi.
"Shevinya ada?" tanya Reni.
"Ada Mbak. Sepertinya masih tidur." jawab Bi Sumi.
"Jam segini masih tidur?" Reni merasa heran.
"Iya, Mbak." jawab Bi Sumi.
"Duduk dulu Mbak. Saya buatkan minum dulu." pamit Bi Sumi meninggalkan Reni dan berjalan ke dapur.
Saat Bi Sumi akan ke dapur, dia melihat Byan dan Revan duduk di ruang tengah. Bi Sumi pun mendatangi Byan.
"Den," panggil Bi Sumi.
"Iya, ada apa Bi?" tanya Byan.
"Ada Mbak Reni mencari Mbak Shevi, Den." kata Bi Sumi memberitahu Byan.
"Ya, Bi." ucap Byan.
"Van, gue nemuin Reni dulu. Gue tinggal bentar ya," Byan bangkit dari duduknya hendak menemui Reni.
"Ok." jawab Revan.
__ADS_1
Byan berjalan menuju ruang tamu. Dia melihat Reni yang terlihat agak gelisah.
"Sudah lama, Ren?" tanya Byan lalu duduk di sofa.
"Baru saja, Kak. Shevi mana, Kak?" tanya Reni.
"Masih tidur. Kamu langsung ke kamar saja, sekalian bangunin Shevi." kata Byan.
"Ahhh, aku tidak enak, Kak. Itukan kamar pribadi Kak Byan dan Shevi. Mana boleh aku sembarangan masuk." ujar Reni yang menurutnya tidak sopan. Padahal dia sudah pernah masuk tapi saat itu diajak oleh Shevi sendiri.
"Santai saja. Lagian kamu sudah seperti saudara sendiri." ucap Byan.
"Ayo,," ajak Byan. Reni pun akhirnya mengikuti Byan dari belakang. Dia tidak bisa menolaknya.
Saat menuju ke kamar Shevi, dia melewati ruang tengah dimana ada seseorang yang sedang duduk dan memperhatikannya. Pandangannya yang semula lurus ke depan, langsung beralih menatap orang itu.
Deg.... Deg... Deg, jantung Reni berdetak tak karuan saat pandangan matanya bertemu dengan mata Revan yang juga sedang menatapnya.
"Aduh,,,,,,,," Reni merintih kesakitan karena kakinya tersandung tangga yang akan dinaikinya menuju kamar Shevi.
"Kamu kenapa, Ren?" tanya Byan yang melihat Reni jongkok mengelus jemari kakinya.
"He,,he,,heee....! Enggak apa-apa, Kak. Aku jalannya kurang hati-hati." jawab Reni. Dia merasa sangat malu. Pasti Revan juga melihat dan sedang menertawakannya. Reni kembali berdiri dan menaiki tangga. Byan membukakan pintu kamarnya dan menyuruh Reni masuk.
"Sayang, bangun! Itu ada Reni." bisik Byan di telinga istrinya.
"Hmmmm,,,, jangan bercanda. Mana mungkin Reni ke sini." ucap Shevi sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Byan dengan mata yang masih tertutup.
"Ehmmm,,,, ehhmmmm,,,," Reni merasa canggung.
Shevi langsung membuka matanya dan melihat ke arah suara Reni. Dia melihat Reni yang berdiri di samping ranjangnya. Shevi segera menarik tangannya yang masih melingkar di leher suaminya.
"Reni.." panggil Shevi.
"Udah mesra-mesraannya??" tanya Reni.
"Lo pasti irikan??" ejek Shevi.
__ADS_1
"Siapa yang iri?" sanggah Reni.
"Aku tinggal ke bawah dulu. Ada Revan juga," pamit Byan lalu keluar dari kamarnya meninggalkan Shevi dan Reni.