
Saat diperjalanan pulang, Reni melihat restoran yang membuatnya tergiur untuk mencicipi masakan di sana. Restoran yang sudah lama ingin ia datangi, tapi sampai sekarang belum kesampaian. Reni langsung masuk ke area parkir di restoran itu.
"Mau apa lagi, Ren?? Katanya mau pulang?" tanya Shevi.
"Kamu tahu? Dengar-dengar, di sini makananya enak-enak. Daripada penasaran, mendingan kita coba. Mumpung sekalian lewat, Shev..." jawab Reni.
Mereka berdua turun dari mobil lalu memasuki restoran itu. Setelah duduk, pelayan datang membawa buku menu untuknya. Tanpa melihat buku menu, Reni langsung memesan makanan yang terenak di sana.
"Yakin, kamu sanggup menghabiskan makanan ini?" tanya Shevi yang heran dengan makanan yang dipesan oleh Reni karena saking banyaknya.
"Semua bisa ditampung di sini." jawab Reni sambil mengelus-elus perutnya.
"Rakus..." ledek Shevi.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka datang. Reni sudah tidak sabar untuk mencicipinya. Dia makan dengan lahapnya. Sedangkan Shevi tidak selera makan. Dia malah asyik melihat Reni yang rakus menyambar makanan di depannya.
"Pelan-pelan makannya, Ren," tegur Shevi yang melihat Reni memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa jeda.
"Sumpah, Shev!!!! Ini enak banget!!" kata Reni dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.
"Apa sih yang nggak enak buat lo???" Shevi menggelengkan kepalanya.
Reni menghentikan makannya saat melihat dua sosok laki-laki yang dikenalnya juga masuk ke dalam restoran itu bersama satu orang perempuan dengan penampilan menarik.
"Shev,, Shev. Lihat itu!" Reni menepuk-nepuk bahu Shevi yang berada di sampingnya.
"Apa???" tanya Shevi.
"Itu, lihat!" pandangan Reni melihat ke pintu masuk restoran itu. Shevi mengikuti arah mata Reni.
"Kak Byan, Kak Revan. Mereka kenapa ke sini juga??" ucap Shevi.
"Sialan,,,, sialan,,,!!!! Lihat Ren! Wanita itu nempel-nempel suami gue. Gimana, Ren???" rengek Shevi pada Reni.
Revan menyapa mereka berdua karena tak sengaja melihatnya. Sedangkan Byan berlalu saja tanpa menoleh ke arah Shevi. Mereka masuk ke dalam ruang VIP di restoran tersebut. Revan yang berada di belakang Byan melambaikan tangannya. Shevi membalas lambaian tangan Revan. Tidak dengan Reni. Dia memalingkan wajahnya.
"Kamu lihatkan?? Kak Byan benar-benar tidak mau melihatku. Aku sudah membuat kesalahan fatal, Ren." ujar Shevi. Dia mengigit-gigit garpunya karena rasa kesalnya.
Shevi pun bertanya-tanya. Dengan siapa suaminya tadi. Apa itu wanita yang dipakai Byan untuk pelampiasan? Shevi menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam. Gue yakin, Kak Byan bukan orang yang seperti itu." ucap Reni.
__ADS_1
"Pulang yuk!" ajak Shevi. Moodnya menjadi tidak baik.
"Sebentar, Shev. Sayang makannya. Gue habisin dulu!" Reni tak rela untuk menyisakan makanan yang sangatlah enak menurutnya. Shevi dengan sabar menunggu Reni.
"Maaf Mbak, mengganggu sebentar. Semua makanan ini sudah dibayar oleh Bapak Abyan Merva." kata pelayan yang sudah berdiri di depan mereka.
"Yang benar Mbak???" tanya Reni untuk memperjelas kalau dia tak salah dengar.
"Iya, Mbak. Saya permisi dulu," pamit pelayan itu.
"Suami lo emang baik, Shev!" ucap Reni. Reni benar-benar menghabiskan seluruh makanan. Tak ada yang tersisa sedikit pun.
Shevi berjalan duluan dan menunggu Reni di mobil.
"Ren, antar gue pulang ke rumah Ibu saja! Gue kangen banget sama Kakek dan Ibu." ujar Shevi yang baru beberapa hari tidak bertemu Ibunya sudah sangat rindu. Biasanya Dian yang akan menengok putrinya ke rumah Byan. Tapi sudah beberapa hari ini Ibunya tidak datang.
"Shev, jangan karena ini, lo jadi marah dan mau pisah rumah!" kata Reni yang sok tahu.
"Siapa yang mau pisah rumah??? Gue hanya kangen Ibu dan Kakek!" tegas Shevi.
"Ok,, ok...!! Gue akan antar lo! Tapi lo izin dulu sama Kak Byan!" perintah Reni ke Shevi.
"Iya, gue pasti akan izin." jawab Shevi.
Rumah Sofyan,
_____________
Setelah sampai, Shevi segera berlari masuk ke dalam rumahnya. Dia mendapati Ibunya yang berada di taman belakang.
"Bu, Shevi kangen," Shevi langsung memeluk Ibunya.
"Kamu sama siapa ke sini? Sama Byan?" tanya Dian. Shevi menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" tanya Dian.
"Diantar Reni. Tapi dia langsung pulang. Katanya sudah kesorean. Tadi dia titip salam untuk Ibu." jawab Shevi.
"Shevi..." panggil Kakeknya dari arah pintu. Shevi membalikkan badannya lalu berlari ke arah Kakeknya. Dia juga langsung memeluk Kakeknya.
"Shevi kangen dengan Kakek." ucap Shevi.
__ADS_1
"Mana suamimu?" tanya Sofyan.
"Eee, itu tadi lagi meeting dan katanya pulang malam. Jadi aku mau menginap di sini, Kek." jawab Shevi.
"Kakek senang kamu menginap di sini. Kapan-kapan ajak suamimu juga!" kata Kakeknya.
"Ok, Kek!" jawab Shevi.
"Shevi ke kamar dulu, Kek. Mau mandi.." ucap Shevi sambil melepaskan pelukannya.
Shevi berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang sudah satu bulan lebih ia tinggalkan. Setelah membuka pintu, dilihatnya isi kamar yang masih tak berubah dan tak kurang sedikitpun. Hanya sprei yang pastinya sudah diganti oleh Mbok Ami.
Shevi meletakkan tas dan paper bag yang dibawanya di atas meja. Dia lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah selesai, dia keluar dan ganti baju.
Shevi duduk di sofa dan penasaran dengan isi yang ada di dalam paper bag.
"Isinya apa sih??" Shevi yang penasaran lalu membukanya. Belum sempat membuka, ada pesan masuk di ponselnya. Shevi lalu membacanya.
"Reni : Shev, itu lingerie yang gue pilih buat lo. Jangan lupa dipakai ya!! Gue jamin!!! Kak Byan akan klepek-klepek..." pesan Reni lewat wa.
"Apa-apaan ini??? Seperti jaring laba-laba?? Yang benar saja! Gue harus pakai ini?? Bukannya sama saja dengan tidak memakai baju??" gerutu Shevi sambil mengangkat lingerie itu dan memandanginya.
"Dasar, Reni!!!" ucap Shevi kesal dengan sahabatnya.
Pintu kamarnya di buka dari luar. Terlihat Ibunya masuk dan dengan cepat Shevi memasukkan lingerie tadi ke dalam paoer bag lagi.
"Apa itu??" tanya Ibunya.
"Bukan apa-apa, Bu." jawab Shevi.
"Ayo turun! Sebentar lagi makan malam." ajak Dian.
"Iya, Bu. Ibu duluan, nanti Shevi menyusul." ucap Shevi. Dian lalu keluar dari kamar Shevi.
Shevi hampir lupa kalau dia belum mengabari suaminya kalau mau menginap di rumah Ibunya.
"Kak, malam ini aku menginap di rumah Ibu. Makasih, tadi sudah membayar semua makanan yang aku dan Reni pesan." isi pesan yang dikirim ke suaminya.
Shevi lalu turun ke lantai bawah. Dia duduk santai di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Ibunya dan Mbok Ami masik sibuk memasak untuk makan malam.
"Shev, daripada nonton tv, mendingan ke sini bantu Ibu masak!" perintah Ibunya.
__ADS_1
"Biarkan Shevi menemaniku di sini!" ucap Kakeknya membela Shevi.
"Papa, jangan terlalu memanjakannya. Biar Shevi belajar masak! Dia sekarang sudah menjadi seorang istri." ujar Dian.